Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 106 Kesempatan kedua


__ADS_3

Aku masih menatap lekat wajah kak Zean yang masih bersimpuh dihadapanku, sorot matanya begitu tulus sehingga membuatku luluh, aku tidak bisa membohongi hatiku, akupun sangat merindunya dan ingin kembali bersamanya.


"Hem." Ucapku lirih, aku tersenyum kepadanya.


Mata kak Zean seketika berbinar, senyum berkembang diwajah bulenya, dia berdiri dan membungkukkan badannya agar bisa memelukku. "Terimakasih untuk kesempatan ini, aku janji tidak akan melukai hatimu lagi." Ucap kak Zean, dia semakin mempererat pelukannya.


Akupun tak luput dari rasa bahagian ini, aku membalas pelukan kak Zean dengan erat, hari ini dengan sedikit keberanianku melawan ketakutan akan sakit hati, akhirnya aku menemukan kembali cintaku, kalian tau, sejauh apapun cintamu pergi meninggalkamnu, pada akhirnya dia akan tetap kembali bersamamu.


Pengunjung lain ikut bergemuruh, mereka bertepuk tangan dan saling berbisik satu sama lain.


"Mereka cocok sekali ya."


"Wah aku mau punya cowok kaya gitu, sosweet banget."


"Romantisnya mereka."


Aku tersipu saat kak Zean melepaskan pelukannya, wajahku memerah karena gugup bercampur malu karena menjadi pusat perhatian didalam restoran itu.


Kak Zean kembali duduk, dia kini berada dihadapanku, wajahnya begitu berseri dan senyuman tak lepas dari wajah tampannya.


"Kamu sudah makan?" Tanya kak Zean dengan begitu lembut, saking lembutnya aku hampir saja tidak mendengarnya, suaranya kalah keras dengan suara musik yang tengah dipurar didalam restoran.


Aku hanya menggeleng, kami sudah pernah menajalin hubungan sekitar 2 tahun lamanya, kenapa sekarang rasanya aku malu dan juga canggung, sama seperti awal kita pacaran dulu.


Tanpa bertanya padaku kak Zean segera memesan, dia sudah hafal menu favoritku direstoran ini dan dia tidak melupakannya.


Tak lama pesanan kami datang, mataku berbinar melihat menu kesukaanku tersaji dihadapannku, kuraih sendok dan segera memindahkan makanan itu kedalam mulutku.


Aku memejamkan mataku dan menikmati kunyahan demi kunyahan didalam mulutku, kenapa rasanya berbeda, rasanya begitu nikmat, apa karena aku makan bersama kak Zean, sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati makanan seperti ini, cinta benar-benar membauat orang kehilangan jati dirinya, aku situkang makan saja sampai kehilangan nafsu makan dan melupakan motto hidupku gara-gara patah hati.


Selesai makan aku masih memesan ice cream sebagai hidangan penutup. Aku melahapnya dengan rakus, hawa dingin dari ice cream begitu menyejukkan rongga mulutku. Kak Zean hanya terkekeh melihatku tengah menikmati ice cream.


Aku menepis tangan kak Zean saat dia hendak mengelap sisa ice cream disudut bibirku, aku menggeleng memberinya kode untuk tidak melakukannya. Saat tangan kak Zena menjauh, aku mulai menjulurkan lidahku dan menyeka sisa ice cream yang menempel di sudut bibirku, tak rela rasanya jika makanan manis ini terbuang sia-sia.


"Kamu sedang menggodaku?" Tanya kak Zean seraya menatapku yang masih sibuk menjilati bibirku.

__ADS_1


"Tidak, apa kamu tergoda?" Balasku meledek.


"Ti..dak." Aku tersenyum mengengar suara kak Zean yang terbata.


"Sayang sekali, aku fikir kamu akan tergoda."


"Sudah habiskan ice creammu."


Aku menyeringai dan kembali menghabiskan ice creamku, kak Zean kembali menatapku, kedua tangannya dia gunakan untuk menopang dagunya, sementara sikunya bersandar pada meja.


**


Kak Zean meraih tanganku dan menggandengnya dengan erat, kami berkeliling mall dengan bergandengan tangan sehingga menarik perhatian pengunjung yang lainnya.


"Mau kemana lagi, aku akan menemanimu sampai malam?"Tanya kak Zean setelah kami lelah berkeliling.


"Bagaimana kalau nonton, aku sudah lama sekali tidak pergi ke bioskop kak."


"Kak. Ah Aku merindukan kata itu terucap dari bibirmu, lama sekali kamu tidak menganggilku kakak."


Kami berbagi tugas hari ini, kak Zean akan membeli popcorn dan minuman sementara aku bertugas membeli tiket.


Setelah pintu teather terbuaka kami beriringan masuk kedalam dan mencari tempat duduk kami.


Selama film diputar tangan kak Zean tak lepas sedetikpun dari tanganku, kami sudah seperti dimabukan oleh cinta.


Acara menonton selesai, aku memutuskan untuk pulang dan belajar materi untuk besok, kak Zeanpun sependapat dengan pemikiranku.


"Apa aku boleh ikut denganmu?" Ucap kak Zena setelah kami sampai diparkiran.


Mobil kakak bagaimana?"


"Aku tidak membawanya."


"Oh ya sudah." Aku memberikan kunci motor itu kepada kak Zean, dia tersinyum simpul lalu Kak Zean maraih helm cadangan yang selalu aku bawa dan memasangnya dikepalaku dengan hati-hati. Tak lupa juga dia mengenakan helm yang biasa aku pakai.

__ADS_1


Kak Zean segera menaiki memotor sport milikku dan disusul olehku yang memboncengnya dibelakang.


"Kamu sudah bertambah tinggi rupanya, sekarang sudah bisa naik ke kursi belakang tanpa bantuan." Ucap kak Zean mencoba mengingat kenangan tahun baru saat dia mengantarku pulang dan aku kesusahan naik keatas motornya.


"Pegangan." Kak Zean kembali meraih tangku dan melingkarkannya di pinggang.


Merasa aku sudah diposisi aman, kak Zean melajutkan motor dengan hati-hati, rasanya aku seperri dejavu, aku teringat kembali kenangan saat bertemu kak Zean dimall beberapa tahun silam.


Kak Zean menghentikan motor saat berada dilampu merah, kedua tangannya kini berpindah pada lututku, kak Zean mengelusnya berkali-kali dan aku merasakan sensasi yang bebeda dari dalam tubuh ini.


Selama perjalanan kami hanya diam, percuma saja berbincang, suara kami jelas akan terbawa oleh angin.


Kami berhenti tepat didepan rumah kak Zean, rumah yang dulu hampir aku kunjungi setiap hari. Kak Zean kembali membantuku melepaskan helm, tangannya mulai bergerak diatas kepalaku, dia merapikan rambutku yang acak-acakan bekas memakai helm.


"Kenapa dia begitu manis sekarang." Gumamku dalam hati.


"Mau masuk dulu?" Tawar kak Zean.


" Lain kali saja, aku harus pulang sekarang kak, sampaikan salamku untuk mamy, Sam dan juga mbok Yem kak."


"Hem, akan kusampaikan. Pril.."


" Ya."


"Boleh aku memelukmu lagi." Pinta kak Zean ragu.


Kali ini aku yang memeluk kak Zean, aku berjinjit dan melingkarkan tanganku dileher kak Zean, tangan kak Zeanpun kini dia lingkarkan dipinggangku. Lama kami saling memeluk, melepas semua kerinduan yang selama ini tertahan.


"Terimakasih, karena kembali memelukku, mulai sekarang jangan pernah melepaskanku, karena aku juga tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku." Bisik kak Zean ditelingaku.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan kak Zean, kami kembali larut dalam dekapan masing-masing, aku semakin membenamkan wajahku didada kak Zean, aku begitu merindukan wangi tubuh kak Zean, aroma vanila yang begitu menenangkan.


Dengan sangat berat aku melepaskan pelukanku, namun tangan kak Zean masih erat mendekap pingganku. Aku menatap wajah kak Zean, kubelai dengan lembut rahang miliknya yang begitu tegas. "Jangan membuatku kehilangan sabar lagi, karena jika kamu membuatku terluka lagi aku akan benar-benar pergi dan tidak akan kembali padamu, selamanya."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2