Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 82 Dipecat


__ADS_3

POV AUTHOR


Hari ini seperti biasa Indhi pergi ke sekolah di antarkan ojek langganannya, sebenarnya dia sangat enggan berangkat pagi ini, tapi dia harus mengembalikan raport miliknya, jadi mau tidak mau dia harus bertemu dengan Zean hari ini setelah perpisahan mereka kemarin.


Sesampainya di sekolah, Indhi merasa ada yang aneh, sedari dia masuk gerbang sekolah tadi, hapir semua siswa yang dia temui menatapnya dengan aneh lalu mereka saling berbisik satu sama lain.


" Oh jadi ini, cewek murahan yang mau ngelakuin apapun demi nilai." Ucap seorang siswi yang Indhi temui ketika dia hendak naik tangga menuju kelasnya.


Indhi yang masih bingung dengan apa yang terjadi segera berlari ke kelasnya, ketika sampai di depan pintu, dia mendengar keributan dari dalam kelas dan ternyata Arum dan Dita yang tengah berdebat dengan beberapa teman yang lainnya.


" Nah itu dia orangnya, hey Indhi sini kamu." Teriak salah satu teman perempuan Indhi ketika mereka melihat Indhi berada di depan pintu.


Dengan gusar akhirnya Indhi masuk dan mendekati mereka yang tengah berkumpul di depan meja miliknya


" Ada apa?" Tanya Indhi ragu.


" Kamu beneran pacaran sama pak Zean?" Tanya Anita yang mewakili teman yang lainnya.


" Apa maksudnya?"Meskipun Indhi tau apa maksud temannya itu, tapi dia masih berusaha untuk menyangkalnya.


" Nggak usah pura-pura deh, kita semua udah tau kalau kamu itu pacaran sama pak Zean kan, ini buktinya." Gadis itu menunjukan beberapa lembar foto kepadanya.


Indhi terkejut saat melihat foto-foto yang kini berada di tangannya, foto yang telah di ambil oleh seseorang secara diam-diam saat Indhi dan Zean tengah bersama, bahkan ada salah satu foto ketika mereka sedang mengajak Sam jalan-jalan di taman dekat rumah Zean.


" Apa ini anak kalian?" Tuduh Anita lagi.


" Sudah aku bilang bukan." Teriak Arum menepis tuduhan Anita.


" Tau dari mana kamu Rum?" Tanya Anita lagi.


" Dari tadi bukannya sudah aku jelaskan, dia itu adik pak Zean dan aku tau itu karena omku berteman baik dengan pak Zean!" Jelas Arum lantang sembari berkacak pinggang.


" Tapi benarkan kalau Indhi dan pak Zean itu pacaran?" Ucap seseorang dari arah pintu, Indhi memutar tubuhnya dan melihat Naura yang berada di sana.


" Udah lah ngaku aja, semuanya udah tau kok." Ucap Naura lagi, dia masuk ke dalam kelas dengan wajah sumringahnya, sehingga Indhi bisa menyimpulkan Nauralah dalang di balik ini semua.


" Oh jadi kamu yang udah nyebarin foto ini." Seru Arum tak terima lalu dia menjambak rambut Naura yang teruarai.


" Lepas." Teriak Naura menahan sakit.


" Tidak usah membela teman jal*ngmu lagi, dia sudah ketahuan menggoda pak Zean demi nilainya." Imbuh Naura yang semakin membuat Arum emosi, Arum kembali menarik dengan keras rambut Naura.

__ADS_1


" Sakit Rum, lepas."


" Sakit? Hahah ini tidak sebanding dengan semua yang kamu lakukan terhadap Indhi."


" Apa kalian tau sifat asli Naura ?" Tanya Arum, dia mengedarkan pandanganya kepada teman-temannya.


" Dia tidak sekalem yang kalian lihat, dia pernah menyakiti Indhi sampai Indhi masuk rumahsakit, kalian ingat waktu Indhi ke sekolah menggunakan tongkat karena kakinya pincang dan wajahnya terluka?" Arum menjeda kakimatnya, dia menunggu jawaban dari teman-temannya dan mereka mengangguk ketika mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


" Naura yang melakukannya, dia mengajak teman-temannya untuk menyerang Indhi, bahkan dia sendiri yang menggores cutter di wajah Indhi dan beraninya kamu mengatai sahabatku *******." Teriak Arum lagi, dia semakin keras menarik rambut Naura sehingga Naura meringis kesakitan.


" Naura jahat sekali, aku tidak menyangka dia bisa berbuat begitu." Ucap beberapa siswi yang tengah berkerumun itu.


" Lepaskan Rum." Indhi meraih tangan Arum agar dia melepaskan rambut Naura.


" Tapi Ndi." Tolak Arum.


" Tanganmu terlalu berharga untuk menyentuh rambut ini, lepaskan, jangan kotori tanganmu." Ucap Indhi dengan tenang.


Dengan terpaksa Arum menuruti kemauan Indhi dan melepaskan rambut Naura.


" Kamu sudah puas?" Tanya Indhi dengan santainya.


" Apa?" Jawab Naura kecewa karena reaksi Indhi tak sesuai keinginannya, dia berharap indhi akan melakukan hal-hal yang dapat memperburuk situasinya.


" Dengarkan semuanya. Ya benar, aku memang memiliki hubungan dengan kak Zean, kami memulainya jauh sebelum aku masuk di sekolah ini, Kak Zean menjadi guru disini karena waktu itu aku sedang marah dan dia tidak bisa menemuiku, jadi jalan satu-satunya agar bisa menemuiku adalah dengan mengajar disini." Jelas Indhi dengan tenang.


" Dan untuk nilai, aku tidak pernah curang sama sekali, aku mendapatkan nilai bagus dengan usahaku, tapi kalau Naura masih ragu kita bisa melakukan ujian ulang, biarkan guru lain yang menilainya, apakah aku curang atau tidak." Tantang Indhi yang membuat Naura tersudut.


Naura dan teman yang lainnya hanya terdiam, hingga bel sekolah berbunyi dan mereka membubarkan kerumunan mereka dan kembali ke tempat duduk masing-masing, Indhi menatap Naura mengintimidasi lalu beranjak ke kursinya dan duduk.


***


Sementara di waktu yang sama Zean tengah berada di ruang kepala sekolah, rupanya kabar tentang dirinya dan juga Indhi telah sampai di telinga kepala sekolah.


" Jadi semuanya benar pak Zean?" Tanya ibu kepala sekolah dengan lembut.


" Benar bu." Jawab Zean jujur.


" Sejak kapan kalian memulainya?"


" Jauh sebelum saya mengajar disini."

__ADS_1


" Apakah ini juga alasan pak Zean mengajukan surat pengundurkan diri?"


" Iya bu, saya tidak ingin kejadian seperti ini terjadi, tapi saya terlambat semuanya sudah terjadi."


" Sebenarnya saya sangat menyayangkan jika pak Zean harus berhenti mengajar di sekolah ini, tapi kesalahan pak Zean tidak main-main, bapak menjalin hubungan dengan murid bapak dan itu melanggar kode etik seorang guru, jadi dengan terpaksa saya harus menerima surat pengunduran diri dari pak Zean."


" Saya menerima semua keputusan ibu, tapi bisakah ibu membiarkan Indhi tetap bersekolah disini, semua salah saya bu, saya yang menyusulnya ke sekolah ini." Ucap Zean mencoba memohon agar Indhi tidak di keluarkan dari sekolah.


" Indhi adalah siswa yang berprestasi dan kami sedang mempersiapkan dia untuk mengikuti Olimpiade Sains tahun depan, jadi kami tidak akan mengeluarkannya."


" Terimaksih bu, terimakasih banyak." Zean menghela nafas penuh kelegaan, meskipun mereka kini tidak lagi bersama, setidaknya dia masih bisa melindungi Indhi.


*****


Zean masuk ke dalam kelas untuk mengumpulkan raport, dia juga menggunakan momen ini untuk meminta maaf atas keributan yang dia perbuat serta berpamitan kepada anak didiknya karena hari ini adalah hari terakhir Zean berada di sekolah ini sebagai guru.


" Baiklah anak-anak hari ini adalah hari terakhir bapak mengajar di sekolah ini, bapak sangat bersukur mempunyai murid seperti kalian."


" Sebelum pergi bapak ingin meminta maaf kepada kalian mengenai keributan yang bapak timbulkan, bapak harap kalian tidak mencontohnya, bapak juga berharap kalian semakin rajin belajar."


Zean meninggalkan ruangan kelas dengan setumpuk raport di tangannya, sepeninggal Zean, Indhi keluar dari kelas, dia berencana menemui Zean, dia sudah tidak peduli lagi dengan teman-temanya, toh mereka sudah tau semuanya.


" Heh kamu mau kemana, urusan kita belum selesai." Ucap Naura yang ternyata mengikuti Indhi keluar. Indhi yang sudah berada di ujung tangga menghentikan langkahnya.


" Apa lagi Nau." Kata Indhi, dia sedikit kesal karena Naura masih saja mengganggunya.


Melihat Indhi berada di luar para siswa yang lain juga ikut keluar, mereka menatap tajam ke arah Indhi.


" Teman-teman lihatlah gadis cantik ini, dia yang sudah menyebabkan pak Zean di pecat." Teriak Naura memutar balikan fakta, sehingga segerombolan siswi yang berada di sana menatap Indhi penuh kebencian.


" Kak Zean mengundurkan diri bukan di pecat Nau." Ucap Indhi lirih.


" Sama saja, dia keluar dari sekolah ini gara-gara kamu."


" Terserah apa katamu Nau, aku lelah menghadapi tingkah kekanakanmu, kamu hanya iri denganku kan." Ucap Indhi lagi, lalu dia berbalik dan meninggalkan Naura.


Naura yang merasa tidak terima merasa sangat jengkel, dia menarik kasar tangan Indhi sehingga Indhi memutar tubuhnya kembali, namun sayang Indhi kehilangan keseimbangannya, kakinya tergelincir, Naura yang sadar indhi akan terjatuh dengan sengaja melepaskan tangannya sehingga Indhi tak berpegang kepada apapun lagi dan dia terjatuh.


Suara teriakan anak-anak yang menyaksikan kejadian itu begitu histeris, mereka berlari dan menghampiri Indhi yang kini terkulai lemah dengan darah segar keluar dari kepalanya.


" Sweety." Teriak seseorang.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2