
Setelah empat tahun lamanya belajar dinegara orang, hari ini akhirnya kak Ega kembali ke Indonesia. Kak Ega telah menyelesaikan program Sub-Spesialisnya dan dia akan kembali bekerja di rumah sakit lamanya.
Siang ini aku akan menjemput kak Ega kebandara, namun sayangnya ibu tidak bisa menemaniku untuk menjemput kak Ega karena ibu masih bekerja, begitupun kak Zean yang masih sibuk mengajar.
Sekitar setengah jam menunggu, dari kejauhan aku melihat sosok yang begitu aku rindukan. Aku mengangkat tinggi kedua tangannku dan melambaikannya, kak Ega tersenyum saat melihatku sudah menunggunya, kak Ega berlari dengan menyeret koper ditangannya, jarak kami semakin dekat dan kak Ega segera membawaku kedalam pelukannya. "Kakak sangat merindukanmu." Ucap kak Ega seraya mencium pucuk kepalaku.
Aku mendongakkan kepalaku sehingga aku bisa melihat wajah kak Ega dengan jelas. "Aku juga sangat merindukan kakak." Aku membalas pelukan kak Ega, kami menumpahkan semua kerinduan kami dibandara.
Kak Ega melepaskan pelukannya, salah satu tangannya merangkul pundakku"Kapan kamu jadi sebesar ini?"
"Aku sudah besar sejak dulu kak."
"Dimata kakak kamu tetap gadis kecil kakak."
Aku dan Kak Ega berjalan berangkulan meninggalkan bandara dan menuju tempat parkir.
"Kamu bawa mobil sendiri?" Tanya kak Ega kaget begitu kami sampai didepan mobil kak Ega.
"Kenapa, apa tidak boleh, aku 21 tahun sekarang."
" kamu punya SIM?" Kak Ega masih saja meragukanku, dia benar-benar mengganggapku masih anak-anak.
"Tentu saja." Aku mengambil SIM dari dalam dompetku dan menunjukannya kepada kak Ega. "Usiaku sudah legal untuk mengendarai mobil kak." Jelasku.
Kak Ega mengembalikan SIM-ku, dia memasukan kopernya kedalam bagasi lalu dia masuk kedalam mobilnya dan duduk dikursi penumpang. Aku berdecak dan segera menyusul kak Ega masuk kedalam mobil.
"Kakak Siap?"Tanyaku penuh semangat.
Kak Ega mengangguk, aku segera memutar kunci dan menginjak pedal gas, rasanya menyenangkan bisa berpindah posisi seperti ini, dulu biasanya aku yang selalu berada dikursi penumpang, namun sekarang aku bisa mengendarai mobil dengan sangat lincah.
"Pelan-pelan, kakak masih belum menikah." Protes kak Ega karena menurutnya aku terlalu cepat.
"Salah siapa terlalu betah menjomblo, emang di Marry Land nggak nemu cewek kak, nggak ketemu bule untuk diajak pacaran?"
Tuk, kak Zean mengetuk kepalaku. "Fokus menyetir saja."
Aku terkekeh dan kembali fokus membelah kepadatan jalan raya. Mulutku terus saja berkomat-kamit menceritakan semua hal yang aku alami selama kak Ega pergi. Kak Ega hanya tersiam mendengarkan ocehanku, sesekali dia tersenyum saat mendengar cerita konyolku.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak sanggup dengan tantangan kakak?" Ucap kak Ega, akhirnya dia membuka mulutnya juga.
"Tidak kak terimakasih, bisa gila kalau aku menerima tantangan dari kakak, aku bukan kakak yang bisa lulus hanya dalam waktu 3.5 tahun."
Kak Ega terkekeh mendengar jawabanku, sebelumnya kak Ega pernah menantangku, jika aku sanggup lulus dalam waktu 3.5 tahun makan kak Ega akan mebelikan mobil untukku.
"Jadi berapa lama lagi kamu lulus?"
"Setahun lagi." Jawabku mantap, sekarang aku sudah berada di semester 6, aku sangat yakin bisa menyelesaikan kuliahku setahun lagi.
Kak Ega mengacungkan jempolnya kepadaku, setelah itu kami saling diam dan tanpa kami sadari kami sudah sampai dihalaman rumah.
Kak Ega mengeluarkan kopernya sementara aku sudah masuk kedalam rumah. Aku menghampiri bi Sumi yang sedang berada didapur. "Kamar kak Ega sudah siap bi?" Tanyaku pada bi Sumi yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk kami.
Bi Sumi menghentikan aktivitasnya, beliau menoleh dan tersenyum kepadaku. "Sudah non, bibi juga sedang memasak makanan kesukaan mas Ega seperti perintah non Indhi."
"Makasih ya bi." Aku berlalu meninggalkan bi Sumi dan naik ke atas.
Aku berdiri dipintu dan memeriksa kamar kak Ega , aku mengulum senyum melihat kamar yang sudah lama kosong ini akhirnya akan dihuni lagi oleh pemiliknya.
"Apa yang kau lihat." Seru kak Ega yang membuatku tersentak kaget, aku reflek menoleh dan tak sengaja bibirku menyentuh bibir kak Ega, aku tak menyadari jika kak Ega berada dibelakangku dengan jarak yang begitu dekat, ciuman nyasar itupun tidak bisa aku hindari.
*****
Tok tok tok.. "Non, dipanggil ibu." Panggil bi Sumi dari balik pintu kamarku.
Aku mengerjapkan mataku dan berusaha untuk mengumpulkan nyawaku yang tengah berkelana dialam mimpi. "Ya bi, sebentar."Jawabku dengan suara serak.
Setelah mencuci muka dan berganti pakaian aku segera turun dan menghampiri ibu yang tengah duduk bersama kak Ega diruang keluarga.
"Kamu ini bagaimana, kakakmu pulang malah ditinggal tidur." Omel ibu kepadaku karena tertidur setelah menjemput kak Ega.
Aku menyeringai lalu duduk ditengah-tengah mereka. "Ya maaf bu, aku ngantuk banget tadi. Ibu sudah pulang dari tadi?" Ucapku mencoba mengalihkan omelan ibu.
"Ibu baru saja sampai dan melihat kakakmu sedang bengong sendirian."
"Kakak bengong mikirin apa kak? Aku menatap kak Ega yang duduk disebelahku.
__ADS_1
"Kakak hanya sedang menyesuaikan waktu disini."
"Bohong. Pasti kakak lagi mikirin bule-bule cantik disana kan?"
"Kamu sudah punya pacar Ga, kenapa tidak dibawa pulang, ibu sudah ingin punya menantu." Ucap ibu begitu bersemangat.
"Belum bu, anak ini suka ngawur kalau ngomong." Kak Ega mencubit hidungku hingga memerah.
"Kalau begitu biar Indhi aja yang bawain ibu menantu, gimana menurut ibu?"
Plak plak, aku mendapat dua pukulan dikepalaku.
"Selesaikan dulu sekolahmu, setelah itu ibu akan mempertimbangkannya lagi, kamu fikir menikah itu gampang?"
"Ibu dan ayah juga dulu menikah muda dan kalian bisa melewatinya bersama hingga maut yang memisahkan kalian." Aku berusaha meyakinkan ibu untuk mengizinkanku menikah muda, aku belum memberi tahu mengenai rencanaku dan kak Zean kepada ibu.
"Ibu bertahan hanya demi kalian." Tegas ibu sebelum akhirnya beliau meninggalakan kami dan masuk kedalam kamar.
Sepertinya aku harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahu ibu mengenai rencana kami, mungkin kami bisa pelan-pelan membujuk ibu supaya mengizinkanku menikah muda, tidak baik juga berpacaran terlalu lama, jika dihitung-hitung aku dan kak Zean sudah perpacaran sekitar 6 tahun lamanya. Aku hanya takut kami akan melewati batas kami dan melakukan hal-hal yang dilarang sebelum menikah.
"Kamu yakin akan menikah muda?" Ujar kak Ega membuyarkan lamunanku.
"Hem."Jawabku singkat.
"Apa Zean sudah melamarmu?"
Aku menggeleng lemah. "Belum. Tapi kak Zean sudah membeli rumah untuk kami, dia juga sudah menabung untuk biaya pernikahan kami."
"Kamu sangat menyukainya." Tanya kak Ega dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kakak juga tidak setuju dengan rencana kami?"
"Kakak hanya... ." Kak Ega tidak melanjutkan kalimatnya, dia berdiri dan meninggalkanku diruang keluarga, sebelum pergi aku sempat melihat kak Ega menitikan air matanya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Hay semua kasih sarannya dong apa yang harus aku lakukan untuk kak Ega, sedih banget akutu, kak Ega masih belum melupakan perasaannya untuk Indhi..