Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 90 Pergilah


__ADS_3

Setelah hampir satu minggu dirawat dirumah sakit akhirnya hari ini aku di perbolehkan untuk pulang.


Kak Zean dan kedua sahabatku sudah datang untuk menjemputku. ibu tengah sibuk mengemasi barang-barangku yang akan dibawa pulang, sementara kak Ega tidak bisa mengantarku pulang karena dia ada jadwal operasi siang ini.


Setelah semua selesai kak Zean mengantarku dan ibu pulang, sementara Arum dan Dita mengikuti mobil kak Zean dengan mobil Dita.


Disepanjang jalan aku hanya diam, aku masih merasa kepalaku sedikit pusing, ibu yang menemaniku duduk di bangku belakang beberapa kali menatapku cemas.


Akh akhirnya sampai di rumah juga, gumamku dalam hati saat mobil kak Zean memasuki halaman rumah ibu.


Kak Zean membantu menurunkan barang-barangku dan ibu membantuku untuk masuk kedalam rumah. Di dalam rumah sudah ada bi Sumi yang menyambut kedatanganku, beliau bahkan sudah memasakkan makanan kesukaanku begitu tau aku akan pulang hari ini.


" Indhi mau duduk disini aja bu." Ucapku ketika kami sampai di ruang keluarga, aku duduk di sofa lalu disusul oleh kedua sahabatku, sementara kak Zean dan ibu masih sibuk dengan barang bawaan dari rumahsakit.


" Syukurlah non Indhi sudah sehat." Ucap bi Sumi ketika beliau mengantarkan minuman untuk kami.


" Iya bi, terimakasih minumannya."


Setelah menaruh minuman diatas meja, bi Sumi kembali ke belakang.


" Kamu tidak ingin istirahat dikamar?" Tanya kak Zean begitu dia duduk disebelahku.


" Aku masih mau disini." Jawabku pelan.


" Kamu yakin udah sehat, wajahmu masih pucat." Kak Zean menatapku penuh kekhawatiran.


" Aku udah sehat kak."


" Ehem, ehem." Arum berdehem.


" Kita pulang aja Rum dari pada jadi obat nyamuk disini." Celetuk Dita yang membuatku tersenyum kearah mereka.


" Ndi kamu yakin mau maafin Naura begitu aja." Dita menatapku tajam, mungkin dia masih berharap aku akan melaporkan Naura kepolisi.


" Bukannya sudah aku bilangin, dia itu ibu peri, sudah pasti dia akan memaafkan Naura, kamu nggak percaya sih sama aku." Ucap Arum sembari menyesap minumannya.


Lama kami saling berbincang dan aku mulai merasa lelah, semenjak dioperasi aku merasa gampang sekali lelah.


Kedua sahabatku pamit untuk pulang setelah kami makan siang bersama. Kak Zean membantuku naik kekamar sementara ibu sudah beristirahat dikamarnya. Mungkin ibu kelelahan karena seminggu terkahir ini menemaniku dirumahsakit.


" Istirahatlah." Ucap kak Zean sembari membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.


" Temani aku." Pintaku dengan halus.


" Hem.


Aku menggeser posisi tidurku sehingga kak Zean bisa leluasa duduk di sebelahku.


" Kakak tidak ilfeel padaku."


" Kenapa aku harus begitu." Kak Zean menatapku lembut, mata birunya teduh seperti biasa dan membuatku tenang.

__ADS_1


" Aku sekarang botak begini, sangat mengerikan melihat kepalaku tanpa rambut." Ujarku sembari mengelus kepalaku yang mulai kasar karena rambut baru mulai tumbuh.


" Aku malah lebih suka kamu begini." Ucapnya lalu dia mengecup pucuk kepalaku.


" Kenapa?" Tanyaku penasaran.


" Pasti tidak akan ada yang melirikmu diluar sana, aku tidak perlu repot-repot cemburu kan."


" Dasar pecemburu." Aku mencubit hidung kak Zean hingga memerah.


" Auw." Pekiknya.


" Itu karena aku begitu menyayangimu." Ucapnya kemudian dia kembali mencium pucuk kepalaku.


" Kak."


" Apa?"


" Kakak benar-benar akan melanjutkan kuliah?" Tanyaku sedikit ragu.


" Hem."


" Kenapa tidak bilang padaku." Ucapku lemah.


" Hari itu aku berencana untuk memberi tahumu, maaf aku begitu cemburu melihat kalian berpelukan, aku emosi dan segera menerima tawaran itu." Kak Zean menunduk, dari nada suaranya dia pasti sangat menyesali kejadian waktu itu.


" Kapan kakak akan berangkat?"


" Akhir Agustus." Jawab kak Zean lemas.


" Sekitar dua tahun. Akan aku usahakan setiap libur semester untuk pulang."


" Kamu mendukungku kan?" Tanyanya lagi.


" Tentu, aku akan selalu mendukung kakak. Hanya saja aku sedih, waktu kita bersama tinggal dua bulan lagi."


" Setelah aku lulus nanti, aku akan menetap disini bersamamu, aku janji."


Kak Zean memelukku dan aku menyambut pelukannya, dua bulan adalah waktu yang singkat untuk kami habiskan bersama sebelum kak Zean berangkat ke luar negeri.


Kak Zean pamit untuk pulang saat hari sudah beranjak sore, saat kak Zean akan keluar dari kamarku kebetulan kak Ega juga akan masuk, mereka berpapasan.


" Sudah mau pulang?" Tanya kak Ega.


" Iya kak, sudah sore. Aku permisi kak." Pamit kak Zean.


" Hati-hati." Ucap kak Ega.


Setelah kak Zean pergi, kak Ega menghampiriku dengan senyum merekah diwajahnya, senyum yang sudah sangat lama tidak aku lihat dari wajah tampannya.


" Kenapa melihat kakak begitu." Tanyanya setelah duduk di tepi ranjangku.

__ADS_1


" Aku senang bisa melihat senyum kakak lagi."


" Oh ya, kalau begitu kakak akan terus tersenyum untukmu."


Ceklek..


Suara pintu terbuka dan ibu muncul dari balik pintu, beliau membawakan air dan buah-buahan untukku lalu menaruhnya di atas meja yang berada si sebelah tempat tidurku.


Ibu menarik kursi yang berada di depan meja lalu membawanya kedekat tempat tidurku.


" Apa kepalamu masih pusing?" Tanya ibu setelah beliau duduk.


" Sudah mendingan bu."


" Baguslah kalau begitu, perbanyak istirahat agar kondisimu cepat pulih." Ucap ibu memberi nasihat.


" Bu, sebenarnya ada yang ingin Ega bicarakan pada kalian?" Ucap kak Ega ragu.


" Bicaralah." Ujar ibu.


" Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu kalian, tapi aku harus menyampaikan ini sekarang."


" Memangnya apa yang ingin kakak bicarakan, kenapa membuatku takut begini?" Tanyaku tak sabar.


" Sebenarnya aku sudah mendaftar untuk program Sub-spesialis di Amerika dan aku diterima."


" Oh ya, baguslah, ibu senang mendengarnya, kamu memang hebat." Puji ibu, beliau menepuk pundak kak Ega beberapa kali.


" Kapan kamu akan berangkat?" Tanya ibu lagi.


" Akhir Agustus nanti."


" Apa." Seru aku dan ibu bersamaan.


" Secepat itu?"


" Iya bu, maaf karena membuat kalian terkejut."


" Tapi adikmu belum sembuh benar, siapa yang akan membantu ibu untuk merawatnya." Ucap ibu mulai menunjukkan keberatannya.


" Maaf bu, tapi Ega tidak tau kejadiannya akan seperti ini."


" Pergilah, jangan buat Indhi sebagai kerikil penghalang kesuksesan kakak, Indhi akan baik-baik saja, Indhi justru bangga karena memiliki kakak sehebat kak Ega."


" Maafin kakak, kakak tidak bermakud untuk meninggalkan kamu disaat kondisimu seperti ini, tapi kakak yakin Zean akan me jagamu dengan baik."


" Kak Zean juga akan pergi." Ucapku dengan sedih, aku tak menyangka dua orang uang aku sayang akan pergi secara bersamaan.


" Pergi, kemana Zean akan pergi." Tanya ibu sembari menatap lekat wajahku.


" Dia akan melanjutkan kuliahnya di California, harusnya dia berangkat satu tahun yang lalu, tapi dia menundanya, jadi tahun ini dia harus pergi."

__ADS_1


Ibu dan kak Ega saling menatap setelah mendengar perkataanku, kak Ega lalu memijat pangkal hidungnya, mungkin dia tengah dilema sekarang, dia mantap untuk pergi karena dia fikir akan ada kak Zean yang menjagaku, setelah mengetahui tentang rencana kak Zean, aku berharap kak Ega tidak merubah keputusannya untuk pergi, meskipun berat, tapi aku tidak ingin menghalangi kesuksesan orang-orang terdekatku, aku tidak ingin jadi penggalang bagi orang -orang terkasihku.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2