Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 35 Hanya anak kecil


__ADS_3

Aku memaksakan diri untuk membuka mata saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, rupanya Cleo yang tengah menjilati pipiku. Melihat anjing kecil-ku membuat rasa kantuk-ku perlahan menghilang. Aku bangun dan duduk di tepi ranjang sambil memangku Cleo. Aku menggelengkan kepalaku saat melihat kak Ega meringkuk tertidur di atas sofa di kamar-ku. Dasar orang aneh, jelas-jelas kasurnya lebih nyaman kenapa hobi sekali tidur di atas sofa.


Aku meletakan Cleo di lantai, lalu aku pergi ke kamar mandi. Selesai mandi aku berjalan mendekati kak Ega, wajah tampan-nya terlihat lesu, kelihatan sekali dia sangat kecapean.


Aku turun untuk membuat kopi dan mencari sesuatu yang bisa di makan. Hanya ada roti tawar dan telur. Aku memanggang roti tawar tersebut lalu menumpuknya dengan telor ceplok, ku beri sedikit saos sambal dan mayonise dan di atasnya aku tutup lagi dengan roti tawar.


Aku membawa sandwich abal-abal dan kopi ke dalam kamar. Aroma kopi langsung menyeruak memenuhi kamarku.


" Mau kopi." Suara kak Ega serak khas orang bangun tidur.


" Udah bangun?"


"Hemmm, mana kopinya?" Kak Ega bangkit dari tidurnya, duduk sambil mengucek matanya.


Aku menyerahkan kopi-ku kepada kak Ega, dan duduk di sebelahnya sambil melahap sandwich buatanku.


Kak Ega menyesap kopi-nya perlahan, lalu dia melihat ke arahku dan memperhatikan aku yang sedang makan, seperti dugaanku kak Ega merebut sandwich dari tanganku dan melahapnya tanpa dosa.


" Kak, itu kan bekas gigitan aku, jorok tau." Tak terima sandwich yang baru aku makan sedikit sudah di lahap habis oleh kak Ega.


" Salah siapa bikin cuma satu."


" Aku pikir kakak belum bangun, makannya aku cuma bikin untuk diriku sendiri"


" Belajar masak dong, biar nggak bosen makan roti sama telur tiap pagi." Ejek kak Ega kepadaku.


" Males, warung aja banyak ngapain belajar masak segala, jajan aja lebih praktis."


Kak Ega hanya tersenyum mendengar jawaban-ku, dia kembali menyesap kopi-nya dan menghabiskan-nya.


" Jadi nonton?"Tanya kak Ega.


" Jadi lah, kakak kan udah janji."


" Ini baru jam 10, kakak tidur bentar lagi ya." Kak Ega menaruh gelas kopinya dan merebahkan kepalanya di pundak-ku.


" Berat kak." Protesku lalu menyingkirkan kepalanya.


" Mandi sana, bau tau. Berangkat sekarang aja, sekalian cari makan kak." Rengek-ku manja.

__ADS_1


Kak Ega membuang nafasnya dengan kasar, lalu berdiri dan meninggalkan kamarku. Tak mau ketinggalan aku pun mengganti pakaianku dan bersiap-siap untuk pergi nonton bersama kak Ega.


Kami bersiap untuk berangkat ke Mall, tiba-tiba kak Dion muncul di depan pagar rumahku.


" Kalian mau pergi?. " Tanya kak Dion setelah melihatku keluar dari rumah.


" Iya kak, ada apa?"


" Rencananya mau ngajak kamu buat nemenin aku beli beberapa kebutuhan yang akan aku bawa ke London, tapi ya sudahlan kapan-kapan aja."


" Kenapa nggak ikut kita aja?" Tawar kak Ega yang entah kapan datangnya tiba-tiba sudah ada di belakangku.


" Boleh kak?"


" Tentu, bawa mobilku saja, tapi kamu yang mengemudi ya, aku masih ngantuk."


" Siap kak."


Akhirnya kami pergi bertiga, sebelum menuju ke Mall, aku menyuruh kak Dion untuk mencari rumah makan karena aku dan kak Ega belum sempat makan.


Kami berhenti di salah satu restoran yang cukup terkenal di kota kami. Kami masuk dan mencari meja kosong. Seorang pelayan datang membawa buku menu, aku sibuk membolak-balik buku menu itu mencari sesuatu yang bisa mengobati rasa laparku.


" Please jangan pernah ganggu Indhi." Terdengar suara seorang laki-laki.


Mendengar namaku di sebut aku penasaran dan menghentikan langkah-ku tepat di depan ruangan itu, padahal belum tentu Indhi yang laki-laki itu sebut adalah aku, tapi kenapa aku malah penasaran begini dengan urusan orang lain.


" Dia nggak tau apa-apa tentang kita, jadi aku mohon Nat jangan pernah ganggu dia."


Kenapa aku sepertinya mengenal suara laki-laki yang berada di dalam ruangan, aku semakin mempertajam pendengaran-ku.


" Tapi dia udah merebut kamu dari aku." Terdengar suara lantang seorang wanita.


" Heh, kamu lupa kalau kita udah lama putus." Jawab si laki-laki.


" I know, tapi aku juga tau kalau kamu masih mencintai-ku Arzean, hubungan kita nggak akan mudah untuk di akhiri. Kamu cuma jadiin dia sebagai pelampiasan kan, kamu deketin dia cuma untuk bikin aku marah dan cemburu kan."


Arzean, wanita itu menyebut nama kak Zean, apa benar kak Zean yang berada di dalam sana, dan Indhi yang mereka maksud adalah aku.


" Apa kamu sudah tidur dengan ****** kecil itu?" Kata si wanita lagi dengan kasarnya

__ADS_1


" Terserah apa kata kamu Nat, tapi tolong jangan ganggu dia, dia cuma anak kecil Nat dan dia nggak seburuk yang kamu kira."


Aku masih berdiri mematung di depan ruangan itu, masih berharap seseorang yang mereka maksud bukan aku.


Ceklek, terdengan suara seseorang membuka pintu dan deg, sosok yang tak ku harapkan keluar dari balik pintu itu. Jadi benar yang di dalam adalah kak Zean dan mungkin saja Indhi yang mereka maksud adalah aku.


Kak Zean terlihat terkejut dan panik setelah melihat-ku berdiri di depan pintu.


" Apa yang kalian maksud adalah aku." Tanyaku dengan suara bergetar.


" Indhi, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya kak Zean gugup.


" Apa yang kalian bicaran di dalam adalah aku." Suaraku meninggi setelah tak mendapatkan jawaban dari kak Zean.


" Yes, It's you gadis kecil." Jawab wanita itu.


" Kak Natasha." Gumamku.


Aku sebisa mungkin menahan air mataku untuk tidak jatuh di depan mereka, mataku memanas dan badanku gemetaran setelah mendengar jawaban dari kak Natasha.


" Aku bisa jelasin Pril!" Kak Zean meraih kedua tanganku dan aku segera menepisnya.


" Apa yang mau kakak jelasin, sepertinya malah aku yang akan jelasin ke kalian berdua. Aku sama kak Zean nggak ada hubungan apapun, jadi berhenti menatapku penuh kebencian setiap bertemu denganku, aku nggak ada hubungannya dengan kalian, dan jangan pernah menyebut nama-ku dengan mulut kotormu." Aku menunjuk kak Natasha dan segera pergi meninggalkan mereka sebelum air mataku jatuh di depan mereka.


" Pril, tunggu sebentar, please dengerin aku dulu sebentar." Kak Zean menahan tanganku


" Apa yang harus anak kecil ini dengar kak?"


Kak Zean terlihat frustasi dia mengacak rambutnya beberapa kali.


" Mulai sekarang tolong jangan ganggu aku lagi."


Aku melepas gelang pemberian kak Zean lalu meleparkan ke arahnya. Ini kedua kalinya aku mengembalikan barang pemberiannya, seharusnya dari awal aku tak perlu menerimanya.


Aku pergi meninggalkan mereka dan mengunci diri di dalam toilet. Air mataku mulai jatuh, aku sudah tidak bisa untuk menahannya lagi. Apa yang aku tangisi sebenarnya, di sebut merebut pacar orang atau di panggil ******, atau mungkin ucapan kak Ega yang menyebutku hanya seorang anak kecil.


Benar apa kata orang, cinta pertama tidak akan berhasil.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2