Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 24 Apa yang aku inginkan


__ADS_3

" Dari mana saja kamu." Teriak ibu saat aku baru saja masuk ke dalam rumah.


" Pergi sama Arum bu."


" Bagus ya, bukannya belajar malah keluyuran terus kerjaan kamu sekarang." Bentak ibu.


" Siapa yang keluyuran bu, Indhi memang pergi sama Arum, tapi Indhi bukan pergi main, Indhi dateng ke acara wisudanya om Fajar, om-nya Arum bu."


" Mulai sekarang, ibu nggak izinin kamu buat pergi ke tempat Arum lagi, temen kamu itu cuma bawa pengaruh buruk buat kamu. Kamu jadi sering pulang telat, sering pergi main nggak jelas. Kamu itu udah mau ujian, harus fokus belajar biar bisa kaya kakak kamu jadi dokter nantinya." Suara ibu mulai meninggi.


" Kenapa si ibu selalu kaya gini sama Indhi, selalu maksain kehendak ibu. Apa ibu pernah sedikit aja mikirin apa yang pengin Indhi lakuin di masa depan?".


Aku mulai terpancing emosi, biasanya aku hanya akan menuruti perintah ibu, mungkin karena kejadian di jalan tadi membuat perasaanku tidak stabil dan tidak bisa menahan kejolak kemarahan lagi dengan ibu.


" Ibu itu cuma mau yang terbaik buat kamu, buat masa depan kamu Ndi."


" Terbaik menurut ibu belum tentu baik buat Indhi bu."


" Ada apa ini?"Suara kak Ega terdengar parau.


Kak Ega turun dari tangga dan menghampiri kami yang masih berdiri di ruang keluarga. Wajahnya terlihat sayu dan rambutnya sedikit berantakan, mungkin kak Ega baru bangun tidur atau terbangun karena suara gaduh yang di timbulkan oleh ibu dan juga aku.


" Ini nih adik kamu Ega, sekarang sukanya pergi-pergi terus." Ucap ibu sambil menunjuk ke Arahku.

__ADS_1


" Indhi pergi sama Arum bu, tadi udah pamit kok sama Ega."


" Kamu itu terlalu memanjakan Indhi, sekarang Indhi jadi kurang ajar dan berani ngelawan ibu."


" Siapa yang memanjakan Indhi bu, Ega cuma ngasih ruang Indhi buat main di luar, pergi sama temen-temennya. Indhi bukan anak kecil lagi bu, dia mulai tumbuh remaja dan sikap ibu ke Indhi nggak baik sama sekali buat mentalnya bu." Bela kak Ega.


" Pokoknya ibu nggak mau tau, mulai sekarang kamu nggak boleh pergi ke tempat temen kamu lagi. Sepulang sekolah kamu harus langsung pulang ke rumah, selama ini ibu terlalu ngebebasin kamu!"


" Apa ibu bakal nemenin Indhi di rumah?" Tanyaku lirih sambil menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin keluar.


" Kenapa ibu diam? Indhi bakal nurutin semua keinginan ibu, Indhi nggak akan main kemana-mana lagi, tapi apa ibu bakal nemenin Indhi di rumah?"


" Jawab bu!"


" Apa ibu tau, Indhi selalu iri sama temen-temen Indhi di sekolah. Iri dengan tas bekal mereka, iri dengan kepangan rambut mereka, iri dengan hal-hal kecil yang mereka sebutkan tentang ibu mereka."


Aku menjeda kalimatku, mengambil nafas perlahan.


" Apa ibu tau kapan pertama kalinya Indhi menstruasi?"


" Kamu sudah menstruasi?"Tanya ibu kaget.


Aku tersenyum mendengar jawaban dari ibu, senyum penuh kesedihan lebih tepatnya.

__ADS_1


" Malam hari, seminggu setelah ayah pergi, Indhi mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya, Indhi ketakutan bu, Indhi bingung harus bagaimana. Indhi mengetuk kamar ibu tapi ibu tak kunjung membukanya. Sambil menangis Indhi pergi ke kamar kakak. Kakak melompat dari tempat tidurnya setelah mendapati Indhi menangis, kakal terus bertanya kenapa Indhi nangis, tapi Indhi masih malu untuk memberi tahu kakak. Hampir setengah jam Indhi menangis, akhirnya Indhi memberi tahu kakak dan kakak malah mentertawakan Indhi. Kakak bilang itu adalah hal yang wajar bagi seorang perempuan. Apa ibu tahu setelah itu apa yang kak Ega lakukan? Kak Ega pergi ke luar dan kembali dengan membawa plastik besar yang bersisi semua jenis pembalut bu. Esok harinya Indhi tidak pergi ke sekolah karena nyeri menstruasi, Indhi lagi-lagi pergi ke kamar ibu tapi Indhi tak menemukan ibu di kamar, ibu sudah pergi bekerja. Kak Ega dengan telatennya merawat Indhi bu, membuatkan Indhi teh jahe dan membawakan botol kompres air panas. Hal yang seharusnya ibu lakukan ke Indhi malah kak Ega yang melakukannya."


Aku menangis sesegukan, karena akhirnya aku mempunyai keberanian untuk mengeluarkan semua isi hatiku kepada ibu.


" Tapi ibu kerja itu buat kamu, buat masa depan kamu Indhi." Suara ibu mulai melemah.


" Indhi tau bu, ibu bekerja keras untuk Indhi, untuk kita semua dan Indhi sangat berterimakasih untuk itu. Tapi bu, Indhi juga butuh ibu di sini, di rumah ini. Indhi berharap ibu bisa menemani Indhi belajar, menanyakan apa yang Indhi lakukan di sekolah, apa yang sedang Indhi rasakan dan apa yang Indhi butuhkan. Indhi juga sangat berharap ibu tidak memaksa Indhi untuk menjadi dokter, Indhi punya mimpi sendiri bu, Indhi pengin jadi ars.....


Belum sempat menyelesaikan kalimatku ibu sudah memotongnya.


" Cukup Indhi. Apa yang ibu lakukan adalah yang terbaik buat kamu. Ibu sudah bekerja dengan sangat keras untuk masa depan kamu, jadi kamu hanya perlu menurut dengan perintah ibu. Lupakan tentang mimpi kamu, selamanya ibu tidak akan mengizinkan kamu mengikuti jejak kami."


" Tapi kenapa bu, apa alasannya?" Kali ini kak Ega yang bertanya kepada ibu.


" Karena ibu yang menginginkannya dan ibu tidak suka Indhi membantahnya. Dan kamu Ega, ibu tidak suka kamu terlalu memanjakkan adik kamu itu!".


" Ibu jahat." Teriakku.


Aku berlari ke luar rumah meninggalkan ibu yang dan kak Ega yang masih berdiri di ruang keluarga. Beberapa kali kak Ega memanggil namaku dan mengejarku, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku marah dan aku kecewa dengan sikap ibu yang begitu egois. Aku berlari sambil menangis, beberapa orang terlihat memperhatikan-ku tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku mencegat taxi di tepi jalan dan menaikinya. Beberapa kali supir taxi menanyakan kemana tujuanku, aku tak menjawabnya karena aku sendiri juga tidak tau harus kemana. Akhirnya aku terfikirkan sebuah tempat, tampat yang sepi dan juga damai, tampat yang tidak banyak orang mengetahuinya.


Aku turun setelah sampai di tempat yang menjadi tujuanku. Aku berjalan menyusuri jalanan kecil yang sangat sepi. Mungkin karena sudah sore jadi tidak ada orang lewat di sekitar sini. Aku sempat ragu untuk melangkahkan kakiku lagi, tapi amarahku kepada ibu menyulut keberanianku untuk terus melangkah. Setelah hampir beberapa waktu akhirnya aku sampai di tempat ini lagi, bukit bunga matahari.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2