Lara Cintaku

Lara Cintaku
BAB 28 Sleepwalking


__ADS_3

Aku merasa sangat nyaman saat aku merasakan seseorang memeluk-ku dari belakang dan salah satu tangan-nya aku jadikan bantal. Aku berbalik dan ikut memeluk orang tersebut, dia menekan tubuh-ku dan mempererat pelukannya, wajahku terbenam di dada-nya sehingga aku bisa meresakan aroma tubuhnya yang membuatku semakin nyaman. Mimpi macam apa ini, aku enggan membuka mataku karena masih ingin menikmati mimpi yang indah ini.


Aku mendongakkan kepalaku saat dia mencium pucuk kepalaku, aku membuka mataku dan aku tersenyum melihat wajah Ze yang tengah terlelap. Apa aku begitu menyukainya sampai aku memimpikannya seperti ini.


Aku memenyentuh hidungnya dengan jari telunjuk-ku, kemudian aku menyusuri setiap inci wajahnya. Sangat tampan, bagaimana seorang pria memiliki kulit sehalus ini.


Aku menghentikan aktivitasku, dia memegang tanganku dan mengarahkan ke dadanya, aku bisa merasakan detang jantungnya yang begitu cepat. Dia membuka matanya, melihat ke arahku, mata kami saling bertemu dan dia tersenyum kepadaku , ahh rasanya aku tidak ingin terbangun dari mimpiku.


Lama kami saling menatap, aku tak menyangka mimpi bisa senyata ini, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Tunggu, mungkinkan ini bukan mimpi. Aku melempaskan tanganku dari genggaman tangannya lalu mencubit pipiku sediri dan Auuw sakit. Ini nyata, ini bukan mimpi, tapi bagaimana bisa Zean ada di tempat tidurku. Aku melihat sekeliling dan aku baru ingat kalau aku menginap di rumah Zean.


" Aaaaaaaaaaaaaaaaa....." Aku menjerit sejadinya saat menyadari bahwa ini bukan mimpi."


" Apa, kenapa, ada apa?" Tanya kak Zean kaget mendengar jeritanku.


" Kenapa kakak di sini?".Tanyaku


" Aku..". Melihat sekeliling seperti orang yang linglung.


" Ngapain kakak di sini?" Tanyaku lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari kak Zean.


Kak Zean masih terlihat seperti orang yang linglung, dia celingukan, melihat ke segala arah dengan tatapan yang kosong.


" Kak, kak, Kak Zean." Aku menggoyang-goyangkan badannya tapi dia belum merespon.


" Non , non, non kenapa? " Terdengar suara dari mbok Yem dari balik pintu.


Karena tak kunjung aku buka mbok Yem masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat kami berada di atas kasur yang sama. Aku lebih terkejut lagi saat melihat kak Ega berada di belakang mbok Yem. Kak Ega berjalan mendekat dan segera menghampiri kak Zean.


" Apa yang sudah kamu lakuin ke Indhi?" Teriak kak Ega sambil memegang kerah baju kak Zean.


" Jawab.!" Kak Ega terlihat begitu marah.


Karena tak juga mendengar jawaban dari kak Zean, akhirnya kak Ega melayangkan tinjunya ke arah wajah kak Zean.


" Kak, cukup kak cukup?" Aku melompat dari kasur dan memeluk kak Ega dari belakang berusaha menghentikan amarah kak Ega yang meluap.


" Kamu nggak papa kan, kamu nggak di apa-apain sama dia kan?" Ucap kak Ega seraya membolak balikan badanku.


" Nggak kak, aku nggak papa." Aku berusaha menenangkan kak Ega.

__ADS_1


" Syukurlah." Kak Ega menarik-ku ke dalam pelukannya. Matanya masih memerah karena menahan amarah.


Mbok Yem berjalan melewati kami dan menghampiri Kak Zean yang wajahnya sudah membiru bekas pukulan kak Ega.


" Den, aden tidur sambil jalan lagi to?" Tanya mbok Yem sambil mengelus kepala kak Zean.


" Apa mbok, tidur sambil jalan?". Ucapku serentak dengan kak Ega saat mendengar ucapan mbok Yem.


" Iya, dari kecil aden suka tidur sambil berjalan kalau lagi stres sama punya banyak pikiran."


" Kenapa kalian semua di sini?" Tanya kak Zean setelah sadar dari tidur berjalannya.


" Aku yang harusnya nanya ke kakak, ngapain kakak tidur di sini?" Aku balik bertanya kepada kak Zean.


" Mbok, aku..." Ucap kak Zean menggantung.


" Iya den." Jawab mbok Yem tanpa harus menunggu kalimat kak Zean selesai.


Kak Zean terlihat frustasi, dia mengacak-acak rambutnya sendiri sambil bergumam tak jelas.


" Maaf pril, maafin aku, aku nggak tau, aku bener-bener minta maaf pril." Kak Zean bangun dan berdiri di depanku dan kak Ega.


" Maafin aku juga kak, aku nggak sadar sama sekali, sungguh." Ucapnya penuh penyesalan.


Kak Zean menoleh ke arah mbok Yem, mencari tau kenapa kak Ega mengetahui tentang tidur berjalannya. Mbok Yem hanya mengangguk, memberi jawaban kalau dia yang memberi tau kami.


" Pernah." Jawab kak Zean singkat.


" Kapan?"


" Sekitar 2 atau tiga tahun yang lalu. Aku lupa. Karena sudah lama aku tak mengalaminya lagi."


" Terus kenapa sekarang terjadi lagi?"


" Aku juga nggak tau kak."


" Lebih baik kamu segera menemui dokter lagi, bahaya jika terus berlanjut." Saran kak Ega.


" Iya.

__ADS_1


" Aku akan membawa Indhi pergi dari sini, terimakasih karena sudah menampungnya malam ini. Tapi aku masih belum memaafkan perbuatan kamu ini meskipun kamu dalam kondisi tidak sadar."


" Tapi kalian mau kemana, ini sudah hampir subuh." Tanya kak Zean, nadanya terdengar sedikit sedih.


" Bukan urusan kamu. Indhi ganti baju kamu dan ikut kakak!"


" Biar aku obatin kak Zean dulu ya kak, wajahnya memar karena kakak.!


" Ada mbok Yem di sini, biar dia yang mengobatinya." Kak Ega menolak.


Aku segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku sebelum amarah kak Ega tersulut lagi.


" Ayo kak."


" Makasih kak Zean sudah mengizinkan aku menginap, maafin juga atas perlakuan kak Ega, dia hanya khawatir kepadaku."


" Hmm,, aku bisa mengerti, aku yang salah di sini, aku yang minta maaf." Ucap kak Zean.


Setelah aku berpamitan kepada kak Zean, kak Ega meraih tanganku dan menggandeng-ku keluar dari rumah kak Zean lalu membawaku ke dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan dekat rumah kak Zean.


" Dari mana kakak tau aku di sini? Terus kenapa kakak bisa masuk ke rumah itu?" Tanyaku penasaran setelah aku tahan sedari tadi.


" Kakak denger kamu teriak, terus kakak kesana dan mengetuk pintu dan di bukakkan sama mbok Yem."


" Kakak denger aku teriak?"


" Hmm."


" Sejak kapan kakak berada di sini. Ah tidak maksudku sejak kapan kakak tau aku di sini?"


" Kak."


Kak Ega menghela nafasnya .


" Kakak tau kamu disini karena Zean menelfon kakak, kakak langsung kesini setelah Zean mengirim alamat, tapi kata Zean kamu sedang ingin sendiri, jadi kakak memilih untuk menunggu kamu di sini."


" Maafin aku kak, aku bikin kakak khawatir."


" Kakak juga minta maaf, kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu."

__ADS_1


Mendengar jawaban kak Ega aku langsung menghambur ke pelukannya, kak Ega mengusap rambutku dan mengecup pucuk kepalaku. Aku berharap suatu hari nanti aku mendapatkan pasangan hidup seperti kak Ega. Orang yang akan selalu mencintaiku dan menjagaku dengan hidupnya.


Bersambung......


__ADS_2