
Mengandung unsur 17+
Aku segera menghapus air mataku, kak Ega pasti sudah menungguku karena aku sudah cukup lama pergi. Aku membuka pintu toilet dan melihat kak Zean sedang menungguku.
Aku berjalan melewatinya,berusaha untuk tidak menoleh ke arahnya dan sebisa mungkin menghidarinya. Tapi terlambat kak Zean sudah mencekal pergelangan tanganku dan menarik-ku masuk ke dalam ruangan yang tadi dia gunakan untuk berdebat dengan kak Natasha.
" Lepasin". Aku berontak dan berusaha melepas tangan kak Zean.
" Dengerin penjelasan aku dulu baru aku lepaskan tangan kamu." Seru kak Ega.
" Sakit kak". Aku menangis tapi bukan karena sakit di pergelangan tanganku.
Kak Zean melepaskan tangannya dan memeriksa pergelangan tanganku yang memerah.
" Maaf, sakit ya, maaf." Sesalnya sambil mengusap tanganku.
" Soal yang tadi kamu cuma salah pahan Pril."
" Salah paham, Aku. Kenapa aku harus salah paham. Kita tidak dalam hubungan yang bisa terjadi kesalah pahaman kak."
Aku menjeda kalimatku dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
" Aku hanya anak kecil yang kebetulan kakak tolong saat aku akan jatuh dan kebetulan lainnya adalah kakak teman dari om Fajar."
" Aku nggak bermaksud buat ngatain kamu anak kecil Pril, itu cuma cara aku biar Natasha nggak gangguin kamu."
" Tapi faktanya aku memang anak kecil kak."
" Pril tolong mengertilah, aku...." Kalimatnya menggantung.
" Sudahlah kak, sudah ngga ada yang perlu di bahas lagi, maaf sudah hadir di hidupmu, aku permisi."
Aku melangkah pergi meninggalkan kak Zean, namun lagi-lagi kak Zean menahan-ku, kali ini dia meneluk-ku dari belakang. Aku terkejut dengan perlakuan kak Zean. Hembusan nafas kak Zean mengenai leher-ku membuat darahku berdesir, jantung-ku mempercepat detakannya, dadaku sesak dan aku kesulitan untuk bernafas.
__ADS_1
" Lepasin kak." Aku mencoba melepas tangannya yang melingkar di pinggang-ku.
" Aku bakal lakuin apa aja asal kamu mau memaafkan-ku."
" Benarkah?".
" Hmmm.."
" Bisa tolong lepaskan aku."
Kak Ega melepas pelukannya lalu memutar tubuh-ku agar kami saling berhadapan.
" Tolong menjauh dari hidup-ku kak, aku nggak punya waktu untuk ikut dalam permainan kak Zean dan kak Natasha. Hidup-ku sudah cukup menyedihkan sejauh ini, tolong jangan menambahnya lagi."
Kak Zean tertegun mendengar permohonanku, matanya memerah dan tak lama kemudian dia meneteskan air matanya.
Aku kaget melihat seorang laki-laki menangis di hadapan-ku, aku bingung harus bagaimana menghadapinya.
" Bisakah kakak memenuhi keinginanku, aku berjanji akan memaafkan kakak dan aku juga akan menjauh dari kakak, selamanya."
" Aku akan anggap kakak menyetujuinya."
Aku berbalik, kali ini aku benar-benar harus pergi menjauh dari kak Zean, aku mendekat ke arah pintu, memutar handle pintu dan membukanya. Pintu belum terbuka sepenuhnya saat tangan-ku kembali di tarik oleh kak Zean, aku kehilangan keseimbangan-ku dan aku berakhir di dalam pelukan kak Zean lagi, seperti saat pertama kali bertemu. Kak Zean memeluk-ku dengan erat hingga aku tak bisa melepaskan diri lagi.
" Aku menyayangimu. Sungguh, aku sudah tak bisa menahannya lagi, aku mau kamu tau kalau aku juga menyukaimu, jauh dari sebelum kamu mengatakan-nya padaku, aku sudah merasakan-nya lebih dulu. Maafkkan aku yang sempat ragu, aku hanya takut akan menyakitimu jika kita bersama, tapi ternyata kebodohanku lebih menyakitimu hari ini."
" Kak aku nggak bisa nafas". Aku mendorong tubuh kak Zean agar melepas pelukannya karena aku benar-benar sudah kekurangan oksigen.
Kak Zean melepas pelukan-nya lalu salah satu tangannya menutup pintu yang sempat aku buka tadi.
" Ndi, Indhi, kamu nggak papa kan?" Terdengar suara kak Ega berteriak memanggil namaku di depan toilet.
" Aa......"
__ADS_1
Cup, sebuah kecupan mendarat di bibirku dan mampu membungkam mulutku agar tidak berbicara lagi. Bukan hanya ucapanku yang berhenti, jantungku juga sepertinya ikut berhenti, aku mencoba untuk mengembalikan akal sehat-ku lagi, namun kak Zean sudah lebih dulu menarik tengkuk-ku, bibirnya kembali menempel dengan bibirku, kali ini bukan hanya sebuah kecupan, aku merasakan kak Zean mulai ******* bibirku dan memaksa memasukan lidahnya ke dalam rongga mulutku. Aku yang masih terkejut dengan apa yang sedang aku alami hanya pasrah mendapat perlakuan nakal dari kak Zean.
Aku mendorong tubuh kak Zean sekuat tenaga, kak Zean menghentikan aksi nakalnya dan mengusap bibir-ku yang basah dengan jempol-nya.
Plaakk, aku menampar pipi kak Zean dengan keras sehingga meninggalkan bekas merah di pipinya.
Kak Zean hanya tediam seakan pasrah dengan tamparan-ku. Aku berlari meninggalkan kak Zean dan menghampiri kak Ega dan kak Dion. Aku mengatur nafasku, mengembangkan senyum-ku seolah-olah kejadian yang baru saja aku alami tidak pernah terjadi.
" Kok lama banget sih, makanan-nya udah dingin nih." Ucap kak Ega setelah melihat kedatanganku.
" Tadi kakak cariin di toilet kok kamu nggak ada." Tambah kam Ega lagi.
" Ada kok, aku denger suara kakak, cuma aku lagi fokus aja, perutku sakit banget." Aku berbohong kepada kak Ega.
" Bibir kamu kenapa, kok bengkak?" Tanya kak Dion yang menyadari perubahan pada bibirku.
" Aku nyobain lipstik baru kayanya nggak cocok deh kak, makannya bengkak begini." Aku berbohong lagi.
" Lain kali harus teliti kalau mau beli kaya gituan." Kak Ega menimpali.
Aku hanya mengangguk dan segera memakan pesananku. Aku kelaparan, mungkin karena menangis aku jadi kebahisan tenagaku. Jika kejadian tadi terjadi pada orang lain pasti mereka suda tak berselera untuk makan lagi, tapi hal itu tidak berlaku untuk-ku, motto hidupku adalah sesakit apa luka hatimu, makan tetaplah nomor satu.
" Aku mencintaimu." Tulis kak Zean dan mengirimnya melalui pesan singkat.
Aku mematikan ponselku dan memasukannya ke dalam saku celanaku.
Setelah makan, kami melanjutkan niat kami untuk pergi ke Mall. Mungkin karena libur tahun baru hari ini Mall penuhi dengan pengunjung.
Kami naik ke lantai atas menuju gedung bioskop. Sepanjang jalan semua mata tertuju kepada kami, mungkin mereka heran kok bisa gadis sebiasa aku bisa di apit oleh dua pria tampan dan menawan.
Aku mengaitkan tanganku di lengan kak Ega dan kak Dion, membuat semua mata iri melihat-ku. Aku sudah seperti seorang anak yang di apit oleh kedua orangtuanya.
Kedua lelaki yang tengah ku gandeng ini tak ada satupun dari mereka yang protes dengan perlakuanku, kak Dion malah terlihat bersemangat dan kak Ega hanya tersenyum pasrah.
__ADS_1
Menghabiskan waktu bersama dengan mereka nyatanya tak mampu membuatku melupakan kejadian di restoran tadi. Siapa sangka ciuman pertama-ku di renggut secara paksa oleh seorang lelaki yang sangat aku sukai.
Bersambung....