
Kak Zean masih menggenggam tanganku dengan erat, padahal pertunjukan kembang api telah lama usai dan aku sama sekali tak memberikan penolakan. Entah kenapa tangan hangat kak Zean selalu membuatku nyaman di genggam olehnya.
Aku beberapa kali menghubungi kak Dion tapi kak tak ada jawaban dari-nya, mungkin urusannya belum selesai.
" Biar aku antar, Dion mungkin masih sibuk!" Tawar kak Zean yang melihatku gelisah tak dapat menghubungi kak Dion.
" Bukannya kakak kesini sama pacar kakak!"
" Pacar, who?"
Aku tak menjawab pertanyaan kak Zean, aku hanya melirik kak Natasha sesaat dan kak Zean menyadarinya.
" Oh, Natasha. She is just ex-girlfriend, are you jealous?"
" Siapa.. Aku.. aku cemburu hahahaha." Elakku.
" Jadi mau di antar sama aku?"Tanya kak Zean lagi.
" Kalau tidak merepotkan."
Setelah berpamitan dengan semuanya aku pulang di antar oleh kak Zean, aku mengirim pesan kepada kak Dion agar dia tidak perlu menjemputku.
" Pake motor, serius?" Tanyaku kaget melihat kak Zean sudah menaiki motornya.
" Kenapa, nggak suka?"
" Bukan. Hari ini aku pake rok kak, susah naiknya."
" Pelan-pelan naiknya, pegang pundak-ku saat naik." Perintah kak Zean
Aku menghela nafas dan pasrah mengikuti arahan kak Zean, aku sedikit mengangkat rok panjangku, tanganku bertumpu pada pundak kak Zean dan aku berhasil menaiki motor kak Zean dengan penuh perjuangan. Tau begini aku pake celana saja, gumamku dalam hati.
" Pegangan." Seru kak Zean lalu melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam, beberpaa kali kak Zean menyuruhku untuk pegangan tapi tak kunjung aku lakukan dan tiba-tiba tubuh bagian depanku menabrak punggung kak Zean dengan keras, reflek aku langsung melingkarkan tanganku di pinggang kak Zean.
" Kak ati-ati dong, sakit tau." Protesku
Mendengar aku mengeluh sakit kak Zean langsung menepikan motornya di bahu jalan. Dia turun dari motornya sementara aku masih duduk di atas motor dengan posisi tangan menyilang di atas dada.
" Mana, mana yang sakit?" Tanya kak Zean panik.
Aku tak menjawab pertanyaan kak Zean, tapi kak Zean menyadari bagian mana yang sakit saat melihat tanganku menyilang di atas dada.
" Ouh yang itu, maaf. Tadi ada kucing lewat makannya aku nge-rem mendadak." Kak Zean tersenyum.
" Masih sakit?" Tanyanya lagi.
" Mau aku periksa." Ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa.
" Apaan sih kak, udah ayo jalan lagi, takutnya kak Ega udah di rumah."
Aku milihat sisi baru lagi dari kak Zean, dia sedikit humoris, tapi kenapa dia selalu menampakan wajah dingin-nya sih.
Kak Zean menghentikan motornya di depan rumahku dan di sana sudah ada kak Dion yang sepertinya sedang menungguku. Melihat aku kesusahan turun dari motor kak Zean, kak Dion segera mengulurkan tangannya dan membantuku turun.
__ADS_1
" Maaf ya, kakak baru selesai urusannya." Ucap kak Dion penuh penyesalan.
" Nggak papa kak!"
" Zean, makasih ya sudah mau nganterin Indhi."
" Sama-sama Yon!"
" Ini jaketnya kak, makasih." Aku melepas jaket kak Zean dan memberikan kepadanya.
Kak Zean memakai jaketnya dan pamit untuk pulang. Aku menahannya karena tiba-tiba teringat sesuatu.
" Tunggu kak, jaket kakak masih ada yang di sini, biar aku ambil sebentar."
Aku masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarku untuk mengambil jaket milik kak Zean. Setelah ketemu aku memasukan jaket itu ke dalam paper bag dan segera turun untuk mengembalikan-nya kepada kak Zean.
Kak Zean pamit pulang dan kali ini aku tak punya alasan lagi untuk menahan-nya. Sebenarnya aku sangat menikmati momen bersama kak Zean tadi, tapi aku malu untuk mengatakannya, teringat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dengan gampangnya aku mengungkapkan perasaanku kepada kak Zean, aku tidak akan pernah pelupakan momen paling memalukan di hidupku itu.
Aku pamit kepada kak Dion untuk masuk ke dalam rumah tapi kak Dion menahanku.
" Aku akan berangkat ke London enam bulan lagi, maukah kamu...." Kak Dion terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
Aku masih menunggu kak Dion yang tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
" Kak, kenapa nggak di lanjutin."
" Muakah kamu nemenin aku membeli beberapa perlengkapan sebelum pergi."
" Oh, oke kak, dengan senang hati".
Aku mematikan lampu dan menghempaskan tubuh-ku ke atas kasur setelah masuk ke dalam kamar. Aku menatap langit-langit kamarku yang di penuhi dengan jutaan bintang yang membuatku tak pernah merasa jenuh meski seharian berada di dalam kamar.
" Sudah tidur?" Kak Zean mengirim pesan singkat kepadaku
" Belum."
" Lagi apa sekarang?"
" Liatin bintang."
" Dimana, boleh aku ikut."
" Di kamar." Aku memotres langit-langit kamarku dan mengirimkannya kepada kak Zean.
" Beautiful." Jawabnya setelah melihat gambar yang aku kirimkan.
" Hemm, cantik. kak Ega yang membuatnya."
" Maksudku kamu." Balas kak Zean.
" Aku, kenapa?" Merasa bingung dengan balasan kak Zean.
" Kamu yang cantik, bintang-bintang itu tidak bisa menandingi kecantikan kamu."
Aku tersenyum membaca pesan dari kak Zean, wajahku mulai memanas lagi, mungkin pipiku sudah memerah sepeti tomat .
__ADS_1
" Sudah tidur?"
" Kenapa diam saja?"
" Tidur ya?"
" Baiklah, nice dream Pril."
Aku sengaja tak membalas pesan dari kak Zean lagi , aku takut berharap lagi dengan kak Zean, di tolak satu kali sudah cukup rasanya dan aku tak ingin mengulanginya lagi.
" Besok bisa ketemu, ada yang ingin aku bicarakan."
" Aku tunggu di deket kampus, jam 1."
Aku penasaran dengan apa yang akan kak Zean bicarakan, kenapa harus besok, kenapa tidak tadi saja saat kami bertemu. Lalu kenapa harus di dekat kampus-nya, apa dia akan mengajak-ku melihat bunga matahari lagi.
Entahlah, rasa penasaranku akhirnya berganti dengan rasa kantuk. Sudah jam 3 dini hari dan kak Ega belum juga pulang. Aku benci sendirian.
Mataku membelalak saat mendengar ponselku berbunyi, aku mengangkatnya tanpa tau siapa yang menelfonku pagi buta begini.
" Buka pintunya Ndi, kakak lupa bawa kunci."
Aku melompat dari tempat tidurku, berjalan senggoyongan menuruni tangga dan berhasil membukakan pintu untuk kak Ega meskipun mataku sangat berat rasanya.
" Sudah tidur ya, maaf, kakak lupa nggak bawa kunci". Ucap kak Ega sambil mengelus rambutku yang berantakan.
" Kakak udah mandi?"Tanyaku keluar jalur.
" Udah tadi di rumahsakit, kenapa?." Jawab kak Ega penasaran.
Aku tersenyum licik, berjalan ke belakang kak Ega dan melompat ke punggungnya, untuk saja kak Ega cepat tanggap dan segera menahan badanku dengan kedua tangan-nya.
" Kakak baru pulang masa minta gendong, kaya anak kecil aja." Protes kak Ega.
" Aku sudah nggak kuat naik tangga kak, tolong antar aku ke kamar, salah siapa kakak bangunin aku."
Kak Ega hanya menggeleng lalu dia benar-benar menggendongku dan mengantarku ke kamar.
" Beruntungnya yang menjadi istri kakak nanti." Ucaku sambil meletakan kepalaku di pundak kak Ega
" Kenapa?"
" Punya suami yang super baik kaya kakak."
" Kenapa nggak kamu aja yang jadi wanita beruntung itu." Canda kak Ega
" Harusnga kakak jangan terlahir jadi kakak-ku, jadinya aku bisa jadi wanita beruntung itu kan." Aku balas meledeknya.
" Haruskah?"
" Dasar orang aneh." Aku mencubit pinggang kak Ega.
Kak Ega tertawa mendengar jawabanku, akupun ikut tertawa melihat kak Ega tertawa, akhirnya malam ini kami mengakhirinya dengan penuh tawa. Malam tahun baru penuh kegembiraan.
Bersambung.....
__ADS_1