Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 108 Rumah kita


__ADS_3

"Rumah kita." Ucap kak Zean yang membuatku terkejut mendengarnya.


"Kita." Ulangku tak percaya.


"Hem, Aku sedang mencicil salah satu syarat agar bisa menikahimu."


"Apa maksudmu kak?"


"Kau lupa, dulu kamu menolak lamaranku, kamu bilang aku harus mempunyai pekerjaan dan tidak bergantung pada orang tuaku, kamu juga mau aku membeli rumah untuk tempat tinggal kita setelah menikah nanti." Jelas kak Zean untuk menyegarkan ingatanku.


"Kakak masih mengingatnya?" Tanyaku masih tak percaya.


"Tentu saja. Tapi maaf, aku belum bisa membelinya secara cash, aku mencicilnya selama lima tahun, jika dihitung-hitung mungkin masih kurang 3 tahun lagi sampai rumah ini lunas. "


"Kenapa harus minta maaf, aku justu bangga padamu kak. Kapan kakak mulai mencicil, kenapa aku tidak tahu."


"Setelah dua bulan mengajar, tidak lama sebelum kita bertemu lagi, diawal semestermu mungkin, kau sekarang semester 4, berarti sudah hampir berjalan dua tahun aku mencicil rumah ini."


"Aku sengaja memilih rumah yang dekat dengan kampus dan rumah sakit kampus."


"Oh ya, satu lagi." Kak Zean mengeluarkan sesuatu dari tas kerja yang dibawanya tadi. "Simpan ini?" Dia menyerahkan buku tabungan kepadaku.


"Apa ini kak."


"Tabungan kita untuk menikah nanti, aku menyisihkan sedikit gajiku setiap bulan, aku ingin menggunakan uang hasil kerja kerasku untuk menikahimu."


Aku kehilangan kata-kataku, aku tak mampu berucap lagi, aku begitu terharu, aku sungguh tidak menyangka kak Zean sudah menyiapkan segalanya untukku.


Aku segera memeluk kak Zean, aku merasa begitu beruntung memilikinya sekarang.


"Maaf, aku tidak bisa membelikan rumah yang besar untukmu." Ucap kak Zean yang membuatku menitikkan air mata.


" Kenapa meminta maaf terus, rumah ini sudah lebih dari cukup, asal bersamamu aku tidak keberatan tinggal dimanapun. Aku sudah tidak sabar untuk segera lulus dan menikah denganmu kak."


"Aku juga. Aku sudah tidak sabar untuk membuatmu hamil."


"Dasar mesum." Ucapku sambil mencubit pinggang kak Zean.


"Auww." Pekik kak Zean disertai tawa dari mulutnya.


Kami semakin mempererat pelukan kami, semua rasa bahagia ini tidak mampu aku ucapkan dengan kata-kata, aku hanya berdoa semoga Tuhan menyertai segala rencana yang sudah kami rangkai dengan indah.


" Tunggulan disana, aku masih ada perkerjaan yang harus aku selesaikan." Ujar kak Zean seraya menunjuk tempat tidur. "Tidak usah takut, aku tidak akan melakukan hal-hal yang bisa menyakitimu, hanya ada kasur diruangan ini, aku tidak mungkin menyuruhmu duduk dilantai kan." Tambah kak Zean.

__ADS_1


Aku menurut dan segera naik keatas tempat tidur, sementara kak Zean menarik satu-satunya bangku yang ada dikamar ini mendekat kearah tempat tidur, dia meletakkan laptopnya diatas kasur dan mulai bergelut dengan kesibukannya.


Aku duduk menyilangkan kakiku, kedua tanganku menyangga kepala, aku mengamati kak Zean yang tengah sibuk dengan laptopnya, aku tersenyum simpul manakala mengingat semua hal yang sudah kak Zean lakukan untukku.


"Jangan menatapku begitu, aku jadi tidak fokus." Ujar kak Zean yang ternyata menyadari aku tengah memperhatikannya.


"Siapa suruh kamu ganteng begitu."


"Kau senang punya pacar ganteng begini." Ujar kak Zean tanpa melihatku, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak, aku tidak suka pacarku terlalu ganteng, sainganku jadi terlalu banyak."


"Kenapa harus bersaing kalau kamu sendiri tau kamulah pemenangnya."


Senyumku kembali merekah mendengar ucapan manis dari kak Zean, aku merasa dia benar-benar memperbaiki segalanya, dua tahun terkahir ini dia memegang janjinya untuk tidak menyakitiku, dan hari ini aku semakin yakin untuk menjadikannya seorang suami.


"Sayang." Panggilku mesra, entah dari kapan aku sering memanggilnya sayang.


"Hem."


"Belum selesai?"


"Sebentar lagi, kenapa, lapar? Tebak kak Zean tepat sasaran.


"Kamu suka berisik kalau lapar. Tunggu sebentar lagi pesananku pasti datang."


Benar saja, tak lama kemudian bel rumah berbunyi, aku segera turun untuk mengambil makanan yang dipesan oleh kak Zean. Setelah membayar, aku segera naik, perutku sudah sangat lapar karena tak sempat sarapan tadi.


Aku mengeluarkan dua paket bento dari dalam plastik. Aku menghampiri kak Zean, aku sedikit membungkukkan tubuhku agar bisa memeluknya dari belakang, daguku aku sandarkan dibahunya yang kekar, sementara tanganku sudah melingkar dipinggangnya. "Makan dulu, nanti dikerjakan lagi." Bisikku pelan.


"Tanggung, sebentar lagi. Makanlah dulu, aku takut kamu pingsan karena kelaparan."


Melihat kak Zean yang masih sibuk, aku memilih makan terlebih dahulu, aku membuka makananku dan mulai memakannya, namun rasanya tidak begitu enak ketika aku harus makan sendirian sementara kak Zean juga pasti sedang menahan lapar.


"Buka mulutmu."


Kak Zean menghentikan aktivitasnya, dia menoleh dan tersenyum kepadaku, dia membuka mulut sesuai perintahku, aku segera menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Aku kembali membuka box bento setelah menghabiskan satu box yang lain. Setelah menghabiskan keduanya, aku masih merasa lapar.


"Kak."


"Apalagi, masih lapar?"


"Kenapa kakak selalu bisa membaca fikiranku, kakak dukun?"

__ADS_1


Kak Zean hanya terkekeh dengan ucapanku.


"Pinjam mobilnya bentar ya, aku mau beli cemilan, didekat sini ada supermarket kan?"


Kak Zean tidak menjawabnya, dia mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celananya, aku girang dan meraih kunci mobil itu. "Ada supermarket didepan komplek, hati-hati."


"Ya." Jawabku singkat lalu aku turun dan pergi kesupermarket.


Sesampainya disana, aku segera membeli beberapa cemilan dan minuman, aku mencari snack kesukaanku dan beberapa makanan kesukaan kak Zean. Aku juga membeli permen yang dikemas dalam karton kecil, aku tertarik karena melihat gambar strawberry dibalik kemasannya.


Saat keluar dari supermarket aku merasa ada seseorang yang tengah mengamatiku, ah mungkin hanya perasaanku saja, aku segera masuk kedalam mobil lalu meninggalkan tempat itu. Didalam mobil aku masih merasa seseorang sedang mengikutiku, aku memeriksa kaca spion dan memang ada sebuah mobil yang mengikuti dibelakang mobilku, aku sengaja memutari komplek perumahan kak Zean, aku ingin memastikan apakah mobil itu benar mengikutiku atau tidak. Persis seperti dugaanku, mobil jenis sedan berwarna putih itu masih saja mengekor dibelakang mobilku. Aku memarkirkan mobilku didepan sebuah rumah ibadah, sepuluh menit menunggu akhirnya mobil itu pergi.


Dirumah kak Zean ternyata sudah selesai dengan pekerjaannya, aku segera menghampirinya yang sedang rebahan diatas tempat tidur.


"Lama sekali, apa yang kamu beli?" Gerutu kak Zean.


"Tadi sempat macet." Jawabku bohong. "Kak." Panggilku sedikit ragu.


"Apa?"


"Tidak jadi." Aku mengurungkan niatku untuk memberitahu kak Zean mengenai mobil yang mengikutiku. Aku takut membuatnya khawatir.


"Apa yang kamu beli." Kak Zean membuka kantong belanjaanku.


"Snack dan minuman."


"Apa ini?" Kak Zean melototiku sambil memegang permen yang tadi kubeli.


"Permen." Jawabku enteng.


"Apa kamu tidak bisa membaca, ini bukan permen bodoh."


"Jahat sekali kakak mengataiku bodoh."


"Lihat ini." Kak Zean menunjuk tulisan berbahasa asing dibawah gambar stawberry.


"Astaga." Aku menepuk keningku sendiri.


"Ingin memakainya?" Goda kak Zean setelah aku menyadari apa yang aku beli.


"Dasar mesum."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2