
"Zee." Ucap Indhi lembut, tangannya mengelus batu nisan diatas pusara Zean.
"Aku akan menjadi dokter yang baik seperti harapanmu, tapi aku tidak yakin jika hatiku akan membaik seperti dulu lagi, maaf karena belum juga merelakan kepergianmu."
Hampir setiap minggu Indhi selalu datang menemui Zean, dia akan menceritakan semua hal yang dialaminya, Indhi percaya jika Zean juga senang mendengar semua ceritanya dari atas sana.
Setelah mengunjungi Zean, Indhi tidak langsung pulang ke rumahnya, dia pergi kerumah mamy karena mamy akan pindah ke California menyusul suaminya.
Berat rasanya melepas mereka namun Indhi juga tidak berhak melarang mereka untuk pindah, selama ini mereka telah berbaik hati membantu Indhi melewati masa-masa tersulitnya.
Indhi memarkirkan mobilnya didepan rumah mamy, dia tidak langsung keluar, matanya menelisik sudut demi sudut rumah yang syarat akan kenangan itu. Indhi menarif nafas perlahan, lalu dia keluar dari mobil dan segera masuk kerumah mamy.
"Sayang, kau sudah datang." Sapa mamy begitu melihat Indhi masuk, keduanya segera memeluk satu sama lain.
"Sudah siap semua my?"
"Sudah. Oh ya mamy punya sesuatu untukmu." Ucap mamy seraya mengeluarkan sebuah dokumen yang tersimpan didalam laci. Mamy menyerahkan dokumen itu kepada Indhi dan gadis itu segera meraihnya.
Mata Indhi memanas seketika, matanya mulai berkaca-kaca setelah melihat isi dokumen itu. Dia tidak menyangka jika rumah yang dibeli oleh Zean sudah berganti nama menjadi miliknya.
"My ini, bagaiaman bisa?" Tanya Indhi dengan bibir bergetar.
Mamy menghampiri Indhi yang mulai menangis lalu memeluknya. "Mamy juga tidak tau, kemarin mamy datang ke pihak pemasaran untuk menanyakan sisa tunggakan rumah Zean, dari pihak pemasaran mamy segera mengurus ke bank untuk melunasi kekurangannya dan mengambil sertifikat ini, dan ternyata Zean memang membelikan rumah itu untukmu sayang."
"Tidak my, lebih baik mamy yang simpan sertifikat ini, Indhi tidak berhak."
"No, ini milikmu, simpan ini dan jadikan kenang-kenangan."
"Tapi my..."
Mamy hanya menggeleng dan bersikeras menolak sertifikat rumah yang beratas namakan Indhi itu. Indhi terpaksa menerima sertifikat itu, dia juga tidak tau apa yang akan dia lakukan dengan rumah peninggalan Zean.
Setelah makan siang bersama, Indhi mengantarkan Mamy, Sam dan mbok Yem kebandara. Mbok Yem memutuskan untuk ikut ke California karena disini dia sudah tidak mempunyai siapapun, apalagi sepeninggal Zean kesehatannya menurun dan mamy tidak tega membiarkannya sendirian disini.
Setengah jam lagi perawat mereka akan lepas landas, Sam sedari tadi tidak melepaskan tangan Indhi, bocah itu enggan berpisah dengan kakak perempuanya.
"Sam ayo, nanti kita ketinggalan pesawat."
"Sam mau sama kak Indhi aja."
Indhi membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh Sam, Indhi tersenyum seraya mengelus kepala Sam. "Kakak akan menyusul Sam kalau kakak ada waktu."
"Janji."
"Janji. Tapi Sam juga harus janji sama kakak ya."
"Apa?"
"Sam harus nurut sama mamy."
Bocah yang wajahnya sangat menyerupai Zean itu mengangguk dan segera memeluk Indhi dengan erat. Indhi menahan tangisnya, dia juga sangat berat untuk berpisah dari Sam, selama ini Sam-lah yang membuatnya bertahan.
Indhi melepaskan pelukan Sam dan berganti memeluk mamy. "Hati-hati ya my, jangan lupakan Indhi." Ucap Indhi sedih.
"Bagaimana mamy bisa melupakan anak perempuan mamy. Datanglah saat waktumu luang, pintu rumah mamy akan selalu terbuka untukmu."
Mamy melepas pelukan Indhi, kini mamy menatap Indhi dan kedua tangannya meraih tangan Indhi. "Berjanjilah satu hal, lanjutkan hidupmu dan hilangkan semua rasa bersalahmu. Semua ini sudah digariskan oleh Tuhan, kamu tidak boleh terus menyalahkan dirimu sendiri, ikhlaskan Zean pergi dan mulailah hidup baru, kamu masih muda sayang, buka hatimu perlahan, jangan terjebak dalam kenangan Zean, dia pasti akan sangat sedih melihatmu begini."
Indhi hanya mengangguk dan air matanya mulai menetes. mamy kembali memeluk Indhi dan mengusap punggung gadis yang sudah dianggap putri olehnya.
__ADS_1
Lama mereka saling memeluk, kini Indhi menatap wajah layu mbok Yem lalu memeluknya. "Hati-hati mbok, Indhi pasti akan merindukan masakan mbok Yem."
"Baik-baik disini non Indhi, jangan lupakan kami." Ucap mbok Yem sembari mengelus punggung Indhi.
Mbok Yem mengeluarkan catatan dari tasnya dan menyerahkannya kepada Indhi. "Semua resep makanan kesukaan non Indhi sudah mbok tulis, sesibuk apapun non tidak boleh melupakan makan, harus jaga kesehatan."
Kali ini mereka harus berpisah, Indhi menatap kepergian tiga orang yang disayanginya, air mata mengiringi keberangkatan mereka. Indhi tak henti-hentinya meneteskan air mata, Indhi tersadar jika waktu sangat cepat berlalu, namun dia tidak yakin bisa melupakan Zean dari hatinya.
**
Indhi mengayunkan kedua kakinya meninggalakan bandara, namun tak sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap Indhi sambil membantu memunguti barang-barang milik orang yang bertabrakan dengannya.
"Indhi / Dokter Ilham." Ujar mereka bersamaan setelah mereka selesai memunguti barang-barang milik dokter Ilham.
"Are you okay?" Tanya dokter Ilham.
Indhi tak bergeming, mendengar kalimat dokter Ilham membuatnya merasa dejavu, ia kembali mengingat Zean, kalimat itu adalah kalimat pertama yang Indhi dengar saat pertama kali mereka bertemu.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya dokter Ilham lagi karena tak juga mendapatkan jawaban dari Indhi.
"Saya baik-baik saja." Ucap Indhi lemah. "Maafin saya dok, saya nggak sengaja tadi."
"It's okay, aku juga salah kok karena kurang hati-hati. Oh ya kamu mau kemana atau darimana?"
"Saya baru saja mengantar sodara dok, dokter sendiri?"
"Aku baru pulang dari seminar."
"Oh, kalau begitu saya duluan dok." Indhi menganggukan kepalanya sopan, lalu dia meninggalkan dokter Ilham yang masih berdiri ditempatnya.
"Ndi." Panggil dokter Ilham membuat Indhi menghentikan langkahnya.
"Bawa dok."
"Bisa memberiku tumpangan?"
Indhi tak langsung menjawabnya, dia merasa tidak enak hati jika menolaknya.
"Tentu, mari dok."
Indhi akhirnya menyerujui pemintaan dokter Ilham, mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.
"Boleh aku yang mengendarainya?" Tanya dokter Ilham begitu mereka tiba didepan mobil, Indhi hanya mengangguk dan memberikan kunci mobilnya kepada dokter Ilham lalu dia masuk kedalam mobil, tak berselang lama dokter Ilham menyusulnya masuk.
Dokter Ilham menghidupkan mesin mobil lalu mengendarainya keluar dari area bandara. Suasana hening Indhi memilih menatap keluar jendela, semenjak kepergian Zean mulutnya lebih banyak terkunci, dia menjadi sangat pendiam. Dokter Ilham melirik Indhi dari ekor matanya, dia membasahi bibirnya berulang kali, dia juga bingung apa yang harus dilakukan untuk mengusir kecanggungan ini.
"Bagaimana rasanya coass didepartemen Obgyn?" Tanya dokter Ilham memecah keheningan didalam mobil itu.
"Lumayan."Jawab Indhi singkat.
"Kau betah disana?"
"Hemm?"
"Alasannya?"
Indhi menatap sekilas dokter Ilham. "Karena aku haru melihat perjuangan seorang ibu untuk melahirkan kehidupan baru."
__ADS_1
Indhi kembali melihat keluar jendela dan dokter Ilham fokus pada kemudinya, mereka kembali larut dalam fikiran masing-masing hingga tanpa dirasa dokter Ilham sudah menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah.
"Dokter tinggal disini?" Tanya Indhi lembut, gadis itu melihat sekeliling dan merasa tidak asing dengan tempat itu.
"Ya. Mau mampir dulu?" Tawar dokter Ilham.
"Tidak dok, terimakasih." Tolak Indhi, gadis itu keluar dari mobil bebarengan dengan dokter Ilham.
Indhi tercekat saat berada diluar mobil, matanya mulai berkaca-kaca dan tubuhnya lemas, pantas saja dia merasa tidak asing dengan tempat ini karena didepan sana, tepat 3 rumah setelah rumah dokter Ilham adalah rumah yang dibelikan Zean untuknya. Kepalanya mulai berdenyut, potongan ingatan demi ingatan kembali menyeruak dikepalanya, dadanya kembang kempis dan nafasnya mulai pendek.
Dokter Ilham yang melihat wajah Indhi memucat segera menghampiri gadis itu. "Are you okay?"
Indhi menatap dokter Ilham, kalimat are you okay seolah bergema dikepalanya, pandangan matanya mulai kabur dan sekilas dia seperti melihat Zean sebelum akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.
Dokter Ilham segera menggendong Indhi masuk kedalam rumahnya, dia membaringkan tubuh Indhi diatas sofa dan dia segera memeriksa keadaan Indhi.
"Maaf karena membuatmu seperti ini, aku berhutang banyak padamu dan aku akan menebusnya" Gumam dokter Ilham, dia menatap wajah Indhi sendu, dan wajahnya diliputi rasa bersalah akan sesuatu.
Setelah 10menit akhirnya Indhi sadar, gadis itu mengerjapkan matanya dan terkejut saat melihat dokter Ilham. Indhi memegangi kepalanya yang masih pusing dan dia berusaha untuk duduk.
"Minumlah." Dokter Ilham menyodorkan botil air mineral yang sudah terbuka, Indhi meraih botol itu dan segera meminumnya.
"Terimakasih dok, maaf karena merepotkan." Ucap Indhi masih dengan suara lemas.
"Kau kelelahan makannya pingsan, masa-masa coass begini harus benar-benar menjaga kesehatan dan banyak makan."
Indhi tersenyum simpul mendengar nasihat dokter Ilham.
"Dok, saya harus pulang sekarang, sekali lagi terimakasih karen dokter sudah menolong saya."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu dok." Tolak Indhi halus.
"Kau yakin akan mengendarai mobil dengan kondisi seperti ini, aku tidak yakin kau akan tiba dengan selamat dirumahmu. Aku akan mengantarmu, menurutlah." Ujar dokter Ilham penuh penekanan.
Indhi pasrah dan menuruti dokter Ilham yang bersikeras untuk mengantarnya. Setelah menunjukan alamat rumahnya, dokter Ilham segera mengendarai mobil dan menuju alamat rumah Indhi. Diperjalanan tak ada satu katapun yang terucap dari bibir mereka, hanya ada keheningan yang menemani mereka hingga mobil yang dikendarai dokter Ilham berhenti dihalam rumah Indhi.
Mereka berdua keluar bersamaan, Indhi memutari mobilnya dan menghampiri dokter Ilham. "Terimakasih dok, maaf merepotkan."
"Hem." Jawab dokter Ilham singkat.
"Dokter bisa membawa mobil saya, jam segini susah mencari taxi didekat sini."
"Kau yakin, kau tidak takut aku akan menjual mobilmu."
"Saya yakin dokter orang baik"
"Baiklah kalau begitu, aku pinjam mobilnya."
"Kalau begitu saya masuk dok, permisi."
Indhi menganggukan kepalanya dengan sopan, lalu kedua kakinya melangkah meninggalkan dokter Ilham.
"Ndi." Panggil dokter Ilham.
Indhi berhenti dan memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan meskipun jarak mereka sudah lumayan jauh. "Ya dok?"
Dokter Ilham berjalan mendekati Indhi dan mengikis jarak diantara keduanya. Dia menatap wajah Indhi lekat, sementara Indhi kebingungan melihat tingkat dokter yang pernah membimbingnya.
__ADS_1
"Dok." Ucap Indhi karena dokter Ilham hanya terdiap seraya memandangi wajahnya.
"Bolehkan aku mengenalmu lebih jauh, aku tertarik kepadamu sejak pertama kali aku melihatmu, dan setelah pertemuan kedua kita, kamu semakin menarik perhatianku. Bisakah memberiku kesempatan untuk masuk kedalam hidupmu?"