Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 74 Kamu sakit Nau


__ADS_3

Aku menahan nafasku saat Naura benar-benar menempelkan cutter itu diwajahku, dia menggoreskan cutter itu di wajahku sampai sebuah suara menghentikan kegilaannya.


" Apa yang kalian lakukan."Seru seseorang dari balik dinding kantin.


" Kak Awan." Teriak salah satu teman Naura yang tengah memegang tanganku.


Aku mengibaskan kepalaku berharap Naura akan menjauhkan cutter dari wajahku, tapi sayang cutter itu malah berhasil menggores wajahku, aku meringis menahan sakit dan merasa sesuatu mengalir dari pipiku.


" Nau, dia berdarah." Seru siswi yang memegang tanganku.


Naura yang tadi sempat teralihkan perhatiannya kini dia kembali menatapku, namun kali ini raut wajahnya berubah, dia terlihat ketakutan setelah melihat luka gores di pipiku dan keluar darah segar dari sana.


" Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya laki-laki bernama Awan yang ternyata si ketua Osis.


Si ketua osis berjalan mendekati kami dan dia melihatku yang sedang di jagal oleh teman-teman Naura.


" Apa kalian preman? Lepaskan dia!" Teriak si ketua Osis lagi saat dia melihat wajahku berdarah.


Perlahan mereka mulai melepaskan tanganku, mereka mundur menjauh ketika si ketua Osis berlajan mendekati mereka dengan wajah seramnya.


" Kalian tau kalau ini tindakan kriminal?"


" Kaa.ka. kami hanya mengikuti perintah Naura kak" Jawab teman Naura gagap.


" Naura, mana yang bernama Naura?" Ucap ketua Osis sembari mencari-cari siapa di antara mereka yang bernama Naura.


" Itu kak." Ucap teman Naura lagi sambil menunjuk Naura.


" Jadi kamu ketua premannya. Kamu bisa di keluarkan dari sekolah karena tindakan bodohmu ini." Ancam si ketua osis, lalu dia merebut cutter dari tangan Naura.


" Kamu menyakitinya dengan ini?"


" Aku tidak bermaksud kak, aku tidak sengaja, aku hanya mengancamnya saja, tapi dia malah menggerak-gerakan kepalanya dan cutter ini tidak sengaja menggores wajahnya." Elak Naura sambil menunduk.


" Mengancam? Wah kamu benar-benar luar biasa Naura. Kamu bukan hanya akan dikeluarkan dari sekolah tapi kamu juga akan di penjara karena mengancam dan melakukan kekerasan kepada temanmu sendiri."


" Aku benar-benar tidak sengaja kak. Indhi bilang padanya aku tidak sengaja melakukannya, bilang kita hanya main-main." Ucap Naura memohon, wajahnya sudah pucat pasi setelah mendengar perkataan si ketua osis.


" Main-main katamu." Ucapku geram, aku memegang wajahku yang tergores setelah aku berhasil berdiri.


" Lihat ini, karena permainanmu aku terluka begini, aku tidak menyangka kamu ternyata sangat jahat Nau." Teriakku di depan wajah Naura sambil menunjukkan darah di telapak tanganku.

__ADS_1


" Kamu yang melukai wajahmu sendiri, kamu sengaja mengibaskan kepalamu agar kamu terluka lalu semua orang akan menyalahkanku kan, itu rencanamu kan?" Naura malah menyalahkanku dan dia seperti tidak menyesali perbuatannya.


" Kamu benar-benar sakit Nau, sepertinya kamu perlu ke dokter, fikiranmu sudah tidak waras, bisa-bisanya kamu mempunyai fikiran seperti itu, apa untungnya bagiku melukai wajahku sendiri."


" Indhi, wajahmu." Teriak Arum histeris, dia berlari menghampiriku dan di susul oleh Dita di belakangnya.


" Wajahmu berdarah, apa yang terjadi, siapa yang menyakitimu?"Tanya Arum penuh kekhawatiran, dia memutar tubuhku untuk memastikan apakah ada luka lain ditubuhku.


" Naura yang melakukannya." Celetuk si ketua Osis.


" Kak Ketos, ngapain kakak disini? Ah tidak-tidak, lupakan tidak perlu di jawab. Kakak bilang Naura yang melakukannya?" Imbuh Arum dengan wajahnya yang mulai kesal, dia berjalan mendekati Naura dan tiba tiba menarik rambutnya ke belakang.


" Auuwww, sakit, kamu sudah gila." Teriak Naura tak terima dengan perlakuan Arum.


" Ya aku memang sudah gila, kita akan ke rumahsakit jiwa bersama-sama, tapi sebelumnya biarkan aku membalas perbuatanmu kepada Indhi?"


" Apa yang dia gunakan untuk melukai wajah Indhi?" Teriak Arum geram, tatapannya menyapu semua wajah teman-teman Naura dan mereka semua hanya menunduk, mereka sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu yang dengan sombongnya menghakimiku.


" Dengan ini." Si ketua Osis kembali menimpali pertanyaan Arum, dia juga menunjukkan cutter di tangannya.


" Cutter." Ucap Arum tak percaya, dia kemudian berjalan ke arah ketua Osis dan merebut cutter dari tangannya,setelah itu dia kembali mendekati Naura.


" Dit, pegang tangannya." Perintah Arum dan Dita segera meraih kedua tangan Naura dan menguncinya kebelakang.


" Aku, hahahah aku akan melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan pada wajah sahabatku. Bukankah kamu sangat terobsesi agar mirip dengan Indhi, tenang saja aku akan membuatmu semakin mirip dengannya!" Ancam Arum, dia mulai mendekatkan cutter ke wajah Naura, aku bisa melihat wajah Naura yang semakin pucat.


" Rum jangan lakukan ini, aku mohon." Pinta Naura dengan air mata yang mulai menetes diwajahnya.


" Kenapa, bukannya kamu ingin terlihat sama seperti Indhi?"


" Aku akan mengabulkannya Nau, tahanlah sebentar, aku akan melakukannya dengan cepat." Ancam Arum lagi, dia kini benar-benar menempelkan ujung cutter itu di wajah Naura.


Aku hendak menghentikan Arum, namun Dita melarangku, dia menggelengkan kepalanya dari balik tubuh Naura. Kemudian dia mengangguk dan tersenyum, seolah-olah sedang berbicara padaku jika semuanya baik-baik saja, Arum tidak akan melakukan hal gila itu, dia hanya sedang memberi peringatan kepada Naura.


" Rum, kak Awan bilang ini adalah tindakan kriminal, jangan lakukan itu Rum, aku mohon." Pinta Naura lagi.


" Wah berarti kita akan kerumahsakit jiwa bersama lalu setelah itu kita akan ke kantor polisi bersama juga." Seru Arum, tangannya masih memegang cutter yang menempel di wajah Naura.


" Hentikan Rum, tidak usah mengotori tanganmu, tanganmu terlalu berharga untuk melukai wajahnya." Ucapku berusaha menghentikan Arum, aku benar-benar takut Arum akan melukai wajah Naura, mengingat tempramen Arum yang lumayan buruk, aku takut dia tidak bisa menahan amarahnya.


" Lebih baik kita pergi sekarang, lukaku harus segera di obati." Bujukku lagi, saat Arum mulai lengah, aku merebut cutter itu dan memberikannya kepada si ketua kelas.

__ADS_1


" Lepaskan dia Dit." Perintahku lagi, aku tak ingin kedua temanku terlibat dalam masalah ini.


" Ayo ke UKS sekarang." Dita meraih tanganku setelah dia melepas tangan Naura.


" Ayo Rum." Aku meraih tangan Arum dan menggandengnya.


" Tunggu sebentar." Aku menahan langkahku dan berbalik.


" Terimakasih kak sudah menolongku, kami permisi." Ucapku, lalu aku menundukan kepalaku sopan sebelum pergi meninggalkan tempat ini.


" Auw." Aku mengaduh saat merasakan ngilu di pergelangan kakiku.


" Kenapa, mana yang sakit?" Tanya Arum panik.


" Sepertinya kakiku terkir." Jawabku lalu aku memutar pergelangan kakiku dan benar saja ngilunya semakin terasa.


" Bantu aku berjalan ke UKS ya." Pintaku lagi, kemudian kedua temanku memapahku berjalan.


" Duduklah dulu, aku akan mencari kotak obatnya dulu." Perintah Arum saat kami sudah berada di dalam UKS.


Tak lama kemudian Arum kembali dengan membawa kotak P3K di tangannya, dia duduk di depanku lalu mulai mengobati luka di wajahku.


" Pelan-pelan Rum" Rintihku karena merasa perih saat Arum membersihkan luka gores di wajahku.


" Salahmu sendiri, siapa suruh pergi sendirian, jadi begini kan." Oceh Arum, layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.


" Maaf, aku tidak berfikir akan seperti ini jadinya." Sesalku.


" Dit, kamu ke kelas saja dulu, mintakan izin untukku dan juga Indhi, karena telat masuk ke kalas." Kata Arum, Dita hanya mengangguk dan bergegas pergi ke kelas karena memang jam istirahat sudah berakhir sedari tadi.


" Mana lagi yang luka?"


" Ini dan ini." Aku menunjuk kedua sikuku yang tergores tembok tadi.


" Hufffh." Arum menghela nafasnya dengan kasar, lalu kembali mengobatiku.


Setengah jam berlalu, aku dan Arum masih berada di UKS, kami saling diam, aku melihat Arum yang masih nampak kesal.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan pintu UKS terbuka, aku terkejut melihat dua orang yang muncul dari balik pintu.


" Kakak.."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2