
" Indhi mencuri? Apa yang dia curi nak?" Suara ibu semakin terdengar khawatir.
" Hati Zean bu." Kak Zean tersenyum sementara aku masih tidak percaya dengan apa yang kak Zean bicarakan.
" Apa maksudnya nak, kalian..?"
" Hmmm, dia gadis yang pernah Zean ceritakan kepada ibu."
Ibu menatapku tak percaya lalu beliau kembali menatap kak Zean.
" Maksud awal kedatangan saya sebenarnya untuk membahas tentang pekerjaan bersama ibu, berhubung ada Indhi di sini, ada yang ingin saya sampaikan kepada ibu."
" Bicaralah."
" Saya sangat menyayangi Indhi bu." Ucap kak Zean lantang.
Mendengar pengakuan kak Zean aku reflek menendang kaki kak Zean dan melotot kepadanya sementara dia hanya tersenyum.
" Lalu." Jawaban ibu terdengar menantang.
" Saya ingin meminta izin ibu untuk menajadi kekasih Indhi."
" Sejak kapan kalian bersama?" Tanya ibu dengan tatapan yang menusuk ke arah kak Zean.
" Hampir satu tahun bu." Balas kak Zean.
" Nak Zean benar menyayangi Indhi?"
" Sangat bu."
" Janji tidak akan mengganggu masa depan Indhi?" Ibu terus bertanya dengan kepada kak Zean.
" Janji bu. Saya juga menginginkan masa depan yang baik untuk Indhi."
" Kak Ega tau tentang ini?"
" Iya bu." Jawabku hati-hati.
" Ibu pegang janji kalian."
" Ibu mengizinkan?" Tanyaku tak percaya.
" Selama tidak mengganggu sekolahmu dan karena kak Ega juga tidak melarangmu, itu tandanya kakakmu mempercayai nak Zean. Jadi ibu akan mengizinkannya. Tapi...."
" Tapi apa bu." Jawab kami bersamaan.
" No *** before married."
" Tentu bu, saya akan menjaga Indhi sebaik mungkin."
" Baiklah, mari kita makan sebelum semuanya dingin."
Aku dan kak Zean saling melempar senyum. Aku benar-benar tidak menyangka ibu akan memberi izin kepada kami semudah itu, padahal sebelumnya ibu selalu menasehatiku untuk tidak berpacaran terlebih dahulu. Aku bersyukur karena tidak perlu berdebat dengan ibu mengenai hubunganku dengan kak Zean dan aku berharap semoga ini menjadi awal yang baik untuk memperbaiki hubunganku dengan ibu.
Setelah makan ibu dan kak Zean sibuk membahas tentang pekerjaan, sementara aku hanya duduk dan menyaksikan mereka.
" Happy birthaday, maaf telat ngucapinnya, aku baru bangun." Aku membuka ponselku dan membaca pesan dari Arum.
" Terimakasih."
__ADS_1
" Kamu tidak merayakannya bersama kak Zean?"
Aku tersenyum membaca pesan Arum, kemudian aku mengambil gambar ibu dan kak Zean yang sedang duduk bersebelahan lalu mengirimkannya kepada Arum.
" Itu kak Zean ?" Balas Arum tak percaya.
" Hmmm."
" Apa yang dia lakukan di rumah kak Ega bersama ibu?"
" Merayakan ulang tahunku. Kami di rumah ibu karena aku pindah kesini lagi?"
" Pindah? Kapan? Kenapa?" Detektive Arum mulai beraksi memberondongku dengan begitu banyak pertanyaan.
" Nanti aku jelaskan."
" Sekarang saja aku penasaran."
Aku meletakkan ponselku dan kembali mengamati kak Zean dan ibu yang masih serius dengan pekerjaan mereka.
Selang beberapa waktu kak Zean keluar rumah dan kembali lagi dengan buket bunga mawar merah dan dua buan kotak yang lumayan besar.
" Untukmu." Kak Zean meletakan semua yang ada di tangannya ke atas meja.
" Terimaksih kak."
Aku membuka hadian dari kak Zean, di kotak pertama ada kue tart berbentuk hati dengan lilin angka 16 di atasnya dan kotak kedua berisi sebuah sepatu sneakers bewarna putih.
" Suka?" Tanya kak Zean setelah melihatku membuka semua hadiahnya
" Suka, terimakasih ya kak."
" Ibu permisi ke kamar dulu. Nak Zean masih punya waktu setengah jam lagi di sini, jangan lupa Indhi punya jam malam."
" Baik bu."
Setelah ibu masuk ke dalam kamar aku dan kak Zean duduk bersebelahan dan kak Zean menyalakan lilin yang berada di atas kue tart bawaannya.
" Make a wish." Perintah kak Zean setelah lilin menyala.
" Tuhan terimakasih untuk kebahagiaan ini, maafkan aku yang begitu tidak bersyukur tapi aku mohon lengkapi kebahagiaanku dengan melihat kak Ega bahagia, hilangkan kesedihan di hatinya sekarang dan segera kirim dia kesini untukku. Semoga kedepannya hubunganku dan ibu semakin membaik dan semoga hubunganku dengan kak Zean akan bertahan selamanya." Aku memejamkan mataku dan berdoa dalam hati.
Aku membuka mata lalu meniup lilin di depanku. Kak Zean tersenyum kepadaku lalu tanpa ragu dia mencium pipiku.
" Kalau ibu lihat bagaimana." Protesku dengan ciuman tiba-tiba kak Zean.
" Ibu tidak akan melihatnya." Balasnya penuh percaya diri.
" Apa isi dari doamu?" Tanya kak Zean penasaran.
" Rahasia."
" Dasar pelit."
" Mau kemana?" Tanya kak Zean setelah melihatku bangun dari dudukku.
" Ambil sendok, aku mau makan kue ini?"
" Kamu baru saja makan satu jam yang lalu sweety."
__ADS_1
" Tapi aku menginginkannya."
Aku berlari ke dapur dan mengambil sendok serta piring kecil dan membawanya kembali ke tempat dimana kak Zean berada.
Aku memotong kue dan meletakan sebuah potongan besar diatas piring lalu memakannya dengan lahap.
" Kamu tidak memberikan potongan pertama itu untukku dan malah memakannya sendiri?" Protes kak Zean.
" Aku pikir kak Zean tidak mau."
Aku kembali memasukkan kue kedalam mulutku dan sengaja memamerkannya di depan kak Zean.
" Astaga, kenapa makan kue saja berantakan begini si?" Ucap kak Zean sambil mengelap sisa cokelat di bibirku.
" Jangan di lap begitu." Protesku.
" Lalu harus aku apakan."
" Begini caranya." Aku menjulurkan lidahku lalu membersihkan sisa coklat yang menempel di pinggir bibirku.
" Itu bukan cara membersihkan noda coklat, itu caramu menggodaku kan?"
Dengan polosnya aku mengulangi hal itu lagi membersihkan sisa coklat dengan lidahku dan membuat kak Zean terlihat gelisah.
" Aku mohon hentikan atau.."
" Atau apa kak?" Tanyaku penasaran.
" Kamu yang memulai jadi jangan salahkan aku."
Kak Zean menggeser duduknya sehingga posisinya sangat dekat denganku, kemudian kak Zean mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku. Melihatku yang tidak bereaksi sama sekali membuat kak Zean melanjutkan aksi nakalnya, dia kembali mencium bibirku dan melu**tnya, tangan kanannya menekan tengkukku sehingga ciumannya semakin dalam. Aku memejamkan mataku dan pasrah menerima ciuman dari kak Zean.
" Bernafaslah." Ucap kak Zean setelah melepas ciumannya.
" Kamu tidak ingin membalas ciumanku?" Tanya kak Zean.
Aku bingung dengan maksud perkataan kak Zean dengan membalas ciumannya, bukankah tadi aku sudah membalasnya, aku bahkan memejamkan mataku, lalu balasan seperti apa yang kak Zean harapkan.
" Bagaimana cara membalasnya?" Aku dengan begitu bodohnya bertanya demikian.
Mendengar jawabanku kak Zean kembali mencium bibirku. Kali ini ciumannya sedikit kasar, Kak Zean menggigit bibir bawahku sehingga aku membuka mulutku dan seketika kak Zean memaksakan lidahnya masuk kedalam rongga mulutku. Entah mendapat ide dari mana aku membalas tautan lidah kak Zean. Ciuman kami semakin dalam, kak Zean mendorong tubuhku dan tangannya mulai masuk ke dalam bajuku sebelum akhirnya dia melepaskan ciumannya dan menjauh dariku.
" Maaf Pril, maafin aku." Sesal kak Ega setelah menciumku.
" Jangan pernh menggodaku lagi atau aku tidak bisa menahan diriku."
" Aku pamit ya."
Aku masih duduk dan terdiam saat kak Zean tiba-tiba pamit dan keluar dari rumahku. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja setelah menciumku.
BERSAMBUNG.......
*Hye semuanya apa kabar hari ini, semoga kalian sehat selalu ya..
Aku sungguh berterimakasih kepada kalian yang masih menemaniku sampai sejauh ini..
Terus support karya pertamaku ini ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran kalian di komentar..
❤❤*
__ADS_1