
" Ini rumah siapa kak?"Tanyaku setelah kak Ega memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua.
Kak Ega belum menjawabnya, dia malah meninggalkan-ku sendiri di dalam mobil sementara dia turun dan membuka rumah itu.
" Kak ini rumah siapa?" Aku mengulangi pertanyaanku karena kak Ega tak kunjung menjawabnya.
" Rumah kita." Jawabnya singkat.
" Kita?"Aku semakin penasaran.
" Hmmm, mulai sekarang kita tinggal di sini?"
" Tapi kenapa kak, terus ibu gimana?"
" Biar ibu tau rasanya kesepian seperti apa".
" Tapi kak...."
" Kali ini aja, kakak mohon dengerin kakak, kakak cuma nggak mau kejadian kemarin terulang lagi, perselisihan antara kita dan ibu udah bikin suasana rumah jadi nggak sehat buat kamu, jadi kakak mutusin sementara kita tinggal di sini."
" Tapi baju-bajuku?"
" Kakak udah bawa semuanya."
" Mau lihat kamar kamu?" Tawar kak Ega.
Aku mengangguk, aku mengikuti kak Ega naik ke lantai dua dengan girang karena penasaran dengan kamarku yang sudah di siapkan oleh kak Ega. Kali ini aku tidak banyak bertanya mengenai keputusan kak Ega meninggalkan rumah dan memilih untuk hidup berdua saja dengan-ku di rumah baru ini. Tapi dari yang ku tau tentang kak Ega, mungkin saja sikap ibu sudah benar-benar melukai kak Ega sehingga dia mengambil keputusan ini. Tapi bukankah ibu hanya marah kepadaku, kenapa kak Ega jadi ikutan marah sama ibu. Ah mungkin setelah aku pergi kemarin ibu dan kak Ega berdebat lagi dan mungkin ibu mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati kak Ega.
Kak Ega membuka pintu kamarku, aku tak bisa berkata-kata melihat kamar yang kak Ega siapkan untuku. Sebuah kamar dengan tema galaxy Bimaskati, sembilan lampu gantung yang berbeda berbentuk planet di tata surya menghiasi langit-langit kamarku, belum lagi saat lampu utama di matikan, jutaan bintang seperti berpendar indah di langit kamarku. Rasanya seperti kak Ega memindahkan semesta ke dalam kamar-ku. Aku masih tak percaya dengan yang aku lihat, aku masuk ke dalam kamar dan memeriksa interior yang sudah kak Siapka. Kasur dengan ukuran singgle bed berada di tengah kamar yang di apit oleh meja rias di sebelah kanan dan meja belajar di sebelah kirinya. Sebuah lemari tiga pintu serta sebuah sofa juga ikut mengisi kamar-ku.
" Kakak." Aku berlari dan memeluk kak Ega saking bahagianya.
__ADS_1
" Kapan kakak menyiapkannya?".Aku mendongakkan kepalaku karena posisiku masih memeluk kak Ega.
" Sekitar beberapa bulan yang lalu, niat awal kakak mau ngajakin kamu pindah pas kamu masuk SMA nanti."
" Suka?" Tanya kak Ega sambil mengelus rambutku.
Aku hanya mengangguk dan makin mempererat pelukanku. Aku sangat beruntung memiliki kak Ega yang begitu mengerti aku.
" Tapi nggak sebesar kamar kamu sebelumnya, kamar mandinya juga kecil, jadi kakak nggak bisa masukin bathtube ke kamar mandinya." Suara kak Ega terdengar sedih.
" Ini sudah lebih dari cukup kak, lagian kakak kan tau aku tidak terlalu suka berendam. Makasih banyak ya kak, kakak adalah kakak paling baik seduniaaaa, muach, muach." Aku melepaskan pelukan kak Ega lalu mencium pipi kak Ega dua kali.
" Apapun akan kakak lakuin buat kamu, asal kamu bahagia, kamu adalah hidup kakak."
" Hidup kakak?" Aku bingung dengan maksud kalimat terakhir kak Ega.
" Hmm, selain ibu tentunya."
" Tidur dulu, nanti lagi mainnya, ini sudah mau pagi." Kak Ega menghampiriku dan lagi lagi mengelus rambutku.
" Hmm, met bobo kak."
Kak Ega menatapku tak percaya, karna hampir setahun ini aku tak pernah berbicara begitu santai kepada kak Ega lagi. Setelah kepergian ayah dan perubahan sikap ibu aku lebih memilih menutup diriku, aku selalu berbicara dengan formal kepada siapapun, termasuk sahabatku Arum.
" Makasih sayang." Ucap kak Ega lalu meninggalkanku dan pergi ke kamarnya.
Aku merebahkan tubuhku, rasanya hari ini sangat melelahkan untuk-ku, untung saja ada kak Ega yang mengawali dini hariku dengan kebahagiaan. Aku berfikir sejenak, rasanya sudah cukup aku menutup diri kepada kak Ega, dia adalah kakak-ku orang yang mungkin mencintaiku lebih dari ibu, orang yang akan selalu ada untuk-ku, kepergian ayah juga pasti menyisikan luka di hidup kak Ega dan dengan aku yang lebih menjadi pendiam juga pasti menggores luka tersendiri di hati kak Ega. Maafin aku kak, maaf karena terlalu sibuk dengan luka-ku sendiri tanpa peduli dengan luka yang kakak rasakan juga.
Aku menggeliat dan memicingkan mataku saat merasakan sengatan matahari di kulitku. Aku mengumpulkan serpihan nyawaku yang masih berterbangan di alam mimpi dan merangkainya kembali agar segera bangun.
Aku turun ke dapur untuk mengambil air, saat melintasi meja makan aku melihat dua potong sandwich dan segera menghampirinya.
__ADS_1
Sandwich kesukaan kamu, kakak tambahin sedikit sayur, di makan sayurnya, awas aja kalau sampai di buang sayurnya 😊😊 kakak ada acara hari ini, nanti kita makan malam bersama.
Aku tersenyum melihat pesan kak Ega, aku segera duduk dan melahap sandwich yang di siapkan oleh kak Ega. Selesai makan aku kembali ke kamarku untuk mencuci muka dan aku turun kembali untuk melihat sekeliling rumah.
Aku keluar dari rumah, aku mengamati rumah dua lantai begaya minimalis modern itu, tak ada halaman yang luas seperti rumah sebelumnya, di depan hanya ada garasi, sebuah teras kecil yang berisi dua buah kursi dan di depannya hanya tersisa sekitar satu meter tanah yang di gunakan kak Ega untuk menanam berbagai macam bunga. ukurannya memang tak sebesar rumah ibu tapi aku rasa ini cukup untuk kami berdua.
Aku melangakah keluar membuka pintu gerbang untuk melihat sekeliling rumah. Perumahan yang cukup padat, sepertinya di sini aku bisa punya lebih banyak teman.
" Indhi." Sebuah suara memanggil namaku
" Kak Dion." Aku terkejut melihat kak Dion yang keluar dari rumah persis di sebelah rumah baru-ku.
" Kamu ngapai di sini?" Kak Dion mendekat ke arahku.
" Aku baru pindah di sini kak, kak Dion tinggal disini?" Tanyaku sambil menunjuk rumah kak Dion.
" Iya, ini rumah aku. Wah seneng banget aku ternyata kita tetanggaan sekarang."
" Iya kak, aku juga seneng ,aku pikir aku bakal nggak punya temen di sini."
" Aku lagi buru-buru mau pergi, nanti kita sambung lagi ya."
" Iya kak."
Astaga, aku lupa memberi tahu kak Dion untuk merahasiakan hal ini dari semua orang, apalagi dari kak Zean, rasanga aku sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertemu dan menatap wajahnya setelah kejadian semalam.
Kak Ega
Bersambung.....
__ADS_1