Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 83 Buka matamu


__ADS_3

Indhi yang kehilangan keseimbangannya akhirnya terjatuh dengan posisi kepala belakang membentur salah satu anak tangga, Indhi yang masih sadar berusaha untuk berdiri namun badannya limbung dan kemudian terjatuh lagi hingga ke lantai bawah.


Anak-anak lain yang menyaksikan kejadian itu berteriak histeris, mereka mengejar Indhi yang sudah terkulai lemah di lantai dengan darah segar keluar dari kepalanya.


Sementara Zean yang tengah berbincang dengan salah seorang rekan gurunya tiba-tiba terkejut mendengar teriakan murid-muridnya. Dia bergegas menuju tangga yang kini tengah dikerumuni oleh muridnya. Matanya membelalak saat dia melihat tubuh orang terkasihnya tergeletak dengan bersimbah darah. Dengan tubuh gemetar Zean menjatuhkan raport yang masih ada di tangannya, dia mendekati tubuh Indhi dan segera meraih tubuh yang bersimbah darah itu ke dalam pangkuannya. Matanya mulai memanas dan dadanya terasa sesak, dengan tangan yang semakin gemetaran dia mengelus wajah Indhi dan tanpa dia sadari air mata telah menetes dan menghujani wajah orang terkasihnya.


" Sweety." Teriak Zean dengan suara bergetar.


" Bangun, aku mohon bangunlah." Kini suaranya di selingi dengan isak tangisnya.


" Sayang, buka matamu, ah aku mohon buka matamu, jangan begini, jangan hukum aku begini, aku mohon buka matamu." Zean mulai merancau, dia sudah tidak peduli dengan sekelilingnya, dikepalanya di penuhi dengan ketakutan akan kehilangan gadis kecilnya.


" Indhi." Teriak Arum dan Dita bersamaan, mereka kemudian duduk mensejajari tubuh sahabatnya itu.


" Rum, tolong Indhi, kepalanya berdarah, bagaiman jika terjadi sesuatu dengannya." Ucap Zean dengan terbata, wajahnya sudah di penuhi dengan air mata, tangannyapun kini penuh dengan noda darah.


" Tenang kak, Arum akan menelfon ambulan." Ucap Arum menoba menenangkan Zean, dia kemudian merogoh ponsel di saku bajunya dan menghubungi ambulan.


Zean sadar darah terus keluar dari kepala Indhi, dia lalu meletakan kepala Indhi di pahanya dan dia melepas kemeja batik yang dia kenakan lalu meletakkannya di belakang kepala Indhi, hanya tersisa kaos putih tipis yang melekat di tubuhnya, tapi dia tidak peduli, yang terpenting baginya sekarang adalah menghentikan pendarahan di kepala Indhi.


" Sayang aku mohon bertahanlah, ah aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mohon buka matamu." Zean terus saja memohon namun tak juga mendapat respon dari Indhi, dia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.


" Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya rekan Zean yang tadi tengah berbincang dengannya.


" Naura mendorong Indhi pak." Ungkap salah seorang siswi yang melihat kejadian naas itu.


" Benar begitu Naura?" Cecar guru itu pada Naura yang kini tengah berdiri di tengah kerumunan. Anak-anak yang sadar Naura berada di belakang mereka segera menggeser tubuh mereka sehingga Naura kini menjadi pusat perhatian.


" Jawab Naura, apa kamu yang mendorong Indhi?" Tanya guru itu lagi.


" Ti..ti. tidak pak, Indhi jatuh sendiri, bukan aku yang mendorongnya, mereka juga melihatnya pak, aku tidak mendorong Indhi." Bantah Naura dengan gugup, wajahnya kini mulai memucat.


" Bohong, jelas-jelas kami melihat semuanya, kamu yang menghentikan Indhi saat dia akan turun ke bawah dan mengajaknya berdebat, tapi Indhi tidak mau meladenimu dan kamu malah mendorongnya, kami semua melihat itu." Ucap siswi lain yang juga berada di tempat kejadian.

__ADS_1


Zean menatap nanar ke arah Naura, kesedihan dimatanya kini berubah menjadi sebuah kebencian, saat dia hendak berdiri menghampiri Naura, Arum segera mencegahnya.


" Tenang kak, kakak tidak boleh emosi." Ucap Arum mencoba menahan Zean yang mulai terpancing emosinya.


" Dasar penjahat, belum puas kamu melukai Indhi beberapa bulan yang lalu dan sekarang kamu mendorongnya, kamu ingin membunuhnya hanya karena kamu merasa tersaingi oleh Indhi kan." Teriak Dita lantang, dia berdiri lalu menghampiri Naura dengan wajah merah padam.


" Lihatlah sekarang, apa kamu puas, dasar pembunuh." Maki Dita lagi.


" Aku bukan pembunuh, Indhi jatuh sendiri, bukan aku yang mendorongnya." Kilah Naura dengan suara bergetar.


" Kamu masih tidak mau mengaku, apa kepalau perlu aku buat seperti Indhi agar kamu mengaku dan menyesali perbuatanmu."


Dita yang tak bisa menahan emosinya akhirnya menarik rambut Naura dan menyeretnya ke arah tembok, dia berniat membenturkan kepala Naura. Arum hanya diam dan mengamati sahabatnya itu, dia tidak ingin mengentikan Dita, karena dia juga akan melakukan hal yang sama jika terjadi sesuatu terhadap Indhi.


Beberapa guru yang baru datang dan melihat Dita segera mengahampirinya, mereka mencoba untuk melepaskan rambut Naura dari tangan Dita.


Di tengah keributan itu, terdengar sirene ambulan yang semakin dekat, Zean segera menggendong Indhi dan Arum membantu menahan baju di kepala belakang Indhi, mereka bergegas menghampiri ambulan yang sudah terparkir di halaman sekolah.


Dengan di bantu petugas kesehatan, Zean memindahkan tubuh Indhi ke dalam ambulan, dia menjelaskan beberapa hal mengenai kondisi Indhi dan mereka semua bergegas membawa Indhi ke rumahsakit terdekat.


Arum hanya mengangguk lalu ambulan itu bergegas pergi menuju rumah sakit terdekat.


" Untung saja anda berhasil menghentikan pendarahan di kepalanya." Ucap petugas kesehatan itu saat mereka sudah berada di jalan.


Zean hanya diam menunduk, tangannya yang penuh noda darah tak pernah lepas dari tangan Indhi, dia juga beberapa kali mencium tangan Indhi yang mulai dingin.


Air matanya tidak berhenti menetes setiap kali melihat wajah Indhi yang memucat, didalam hatinya dia terus merapalkan doa-doa untuk keselamatan gadis kecilnya, dia sangat menyesal tidak bisa melindungi orang terkasihnya walaupun dia begitu dekat dengannya.


" Maaf aku tidak bisa menghentikan air mataku." Gumam Zean, lalu dia kembali menyeka air matanya sehingga meninggalkan noda darah di wajah putihnya.


****


Ambulan berhenti didepan UGD rumahsakit terdekat yang kebetulan adalah rumahsakit tempat Ega bekerja. Mereka bergegas mengeluarkan Indhi dari dalam ambulan dan membawanya masuk kedalam perawatan.

__ADS_1


" Maaf anda tidak diperbolehkan masuk, silahkan tunggu di luar, dokter akan menangani pasien sebaik mungkin." Larang salah seorang perawat ketika Zean akan masuk kedalam ruang perawatan.


Zean hanya pasrah ketika pintu ruangan itu di tutup, wajahnya yang layu dan penampilannya yang sudah berantakan tak dia hiraukan lagi, dia duduk di lantai dan menunduk, mengingat banyaknya darah yang keluar dari kepala gadis kesayangannya dia hanya bisa berdoa semoga Tuhan tidak mengambil sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


" Permisi, apa anda kerabat dari pasien yang ada didalam?" Tanya seorang perawat.


" Saya pacarnya sus, apa dia sudah sadar, dia baik-baik saja kan sus?" Tanya Zean gugup.


" Untuk saat ini pasien masih belum sadar. Apa anda bisa menghubungi keluarganya, dokter akan melakukan pemeriksaan radiologi untuk memastikan apakah ada cidera lain di kepalanya." Jelas perawat itu dengan sopan.


" Saya sudah menghubungi ibunya, tapi beliau belum datang." Ucap Zean lemah


" Tolong lakukan yang terbaik sus. lakukan apapun untuk menyelamatkan dia." Pinta Zean dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


" Dokter akan melakukan yang terbaik untuk pasien." Ujar perawat itu lalu dia kembali masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Tak selang lama beberapa perawat keluar, mereka mendorong brankar dan tubuh lemah Indhi tergeletak diatasnya. Mereka akan melakukakan pemeriksaan Radiologi, Zean yang sudah diberi tahu sebelumnya segera mengikuti mereka dari belakang.


Zean kembali menunggu saat Indhi masuk ke dalam ruang Radiologi.


Didalam ruang Radiologi, dokter Aditya yang yang kebetulan sedang bertugas terkejut melihat pasiennya, meskipun sudah hampir setengah tahun yang lalu tapi dia masih mengingat wajah Indhi yang pernah menjadi pasiennya.


" Apa keluarganya yang membawanya kemari?" Tanya dokter Aditya.


" Bukan dok, pasien datang bersama pacarnya, keluarga pasien sudah di hubungi tapi belum ada satupun yang datang."


" Bisa tolong hubungi bagian bedah, beritahu dokter Kevin adiknya berada di sini."


" Pasien adik dokter Kevin?" Tanya perawat seolah tak percaya.


Dokter Aditya hanya mengangguk lalu dia segera melakukan pemeriksaan, sementara perawat tadi keluar dan bergegas menuju ruangan dokter Kevin untuk menyampaikan berita ini.


" Pasien harus segera di operasi karena adanya pendarahan di otak pasien."

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2