Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 114 Kantor polisi


__ADS_3

Tanpa menunggu mamy, aku,ibu dan Kak Ega segera pergi ke kantor polisi. Kami meninggalkan Arum di rumah sakit agar dia bisa menyusul bersama mamy ke kantor polisi, sementara Dita tidak bisa ikut karena dia masih harus bekerja.


Aku tak sempat memikirkan penampilanku, mataku begitu sembab dan make up diwajahku sudah luntur tergerus derasnya air mataku. Kebaya ungu lilac yang begitu indahpun kini telah berubah warna menjadi ungu kemerahan, begitupun noda darah yang menempel ditanganku tak sempat aku bersihkan. Sekarang yang ada didalam fikiranku hanyalah pengemudi mobil itu, pembunuh kak Zean, aku tidak yakin akan bisa menahan emosiku saat melihatnya nanti.


Setelah sampai dikantor polisi kami segera diarahkan oleh salah satu petugas menuju ruang pemeriksaan.


Kak Ega membuka pintu itu, aku sempat berhenti beberapa detik untuk mengatur nafasku, belum juga bertemu dengannya emosiku mulai membuncah. "Perempuan" Desisku saat aku melihat seorang perempuan yang tengah duduk didepan petugas polisi.


Aku dan ibu mengikuti kak Ega yang telah masuk terlebih dahulu, menyadari kedatangan kami perempuan itu menoleh dan menyeringai kearah kami, tatapannya begitu menakutkan.


"Kamu."Seru ibu seraya menunjuk wanita itu.


"Hallo Tika, bagaimana perasaanmu melihat putrimu hancur hahahha."


Aku dan kak Ega menatap ibu bersamaan, bagaimana ibu bisa mengenal perempuan itu.


"Ibu mengenalnya?"Tanya kak Ega.


Ibu hanya menunduk lemah membuatku dan kak Ega semakin bingung, sementara perempuan yang usianya hampir seumuran dengan ibu terus saja tertawa.


"Kenapa ibu hanya diam, jawab bu, apa ibu mengenalnya?" Desakku tak sabar menunggu jawaban ibu, aku sangat penasaran bagaimana ibu mengenal perempuan gila itu.


"Jelaskan pada anak-anakmu Tika, ceritakan kepada mereka siapa aku." Ucap perempuan itu dengan tatapan yang masih begitu mengerikan.


"Dia, dia.."Jawab ibu ragu.


"Dia siapa bu?" Kak Ega menekan kalimatnya.


"Dia istri muda ayah kalian."


"Apa?" Ucapku dan kak Ega bersamaan.


"Maaf pak polisi, bisakah memberi waktu keluarga kami untuk membicarakn sesuatu, kami janji tidak akan lama pak." Pinta kak Ega pada petugas yang tengah mengamati kami itu, kak Ega butuh penjelasan ibu mengenai ayah.


"Jangan menimbulkan kegaduhan." Ucap polisi itu menyetujui, polisi itu segera meninggalkan ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Setelah petugas itu pergi aku dan kak Ega menatap ibu bersamaan, kami butuh penjelaskan ibu sekarang. "Katakan bu, apa maksud ibu barusan." Ucapku tak sabar.


"Maafkan ibu karena menutupi ini dari kalian. Semuanya berawal sejak perempuan itu mulai bekerja dikantor kami dan menjadi asisten ayah kalian. Awalnya ibu tak mencurigai apapun karena dia juga sudah berumah tangga, namun sikap ayah kalian mulai berubah, meskipun sudah memiliki Ega, ayah kalian tetap menuntut anak yang lahir dari rahim ibu, dan saat ibu tau bahwa ayah kalian bermain gila dengan perempuan itu, ternyata ibu tengah mengandung. Ayah kalian menyesal dan meminta maaf kepada ibu, dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan ibu mempercayainya." Ibu menjeda kalimatnya, beliau menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Namun ibu salah, ayah kalian memang berjanji tidak akan mengulanginya, tapi dia tidak berjanji akan meninggalkan perempuan itu, ibu mengetahui itu saat kamu baru saja masuk SMP, ibu tidak sengaja melihat ayah kalian dan perempuan itu berada dipusat perbelanjaan dengan seorang gadis yang sepantaran denganmu."


"Ibu menghampiri mereka dan menuntut penjelasan ayah kalian. Dunia ibu seakan runtuh saat mengetahui mereka telah menikah tanpa sepengetahuan ibu dan gadis itu adalah anak mereka."


"Segera setelah itu ibu meminta cerai dari ayah kalian dan ibu mengancam akan membawa kalian pergi jauh, ibu meninggalkan mereka dan ayah kalian mengejar ibu, dan saat itu pulalah kejadian itu terjadi, kecelakaan yang merenggut nyawa ayah kalian." Jelas ibu panjang lebar, wajahnya yang mulai menua kini berlinang air mata.


"Karen itulah ibu melarangmu menjadi arsitek seperti kami, bukan karena ibu membenci pekerjaannya, ibu hanya marah saat kamu begitu memuja ayahmu dan ingin menjadi arsitek hebat sepertinya. Maafkan ibu karena menghalangi cita-citamu." Imbuh ibu seraya menatapku.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, pepatah itulah yang mungkin cocok dengan keadaanku saat ini, luka baru yang masih menganga sepeninggal kak Zean kini harus ditaburi garam diatasnya, aku harus menerima kenyataan pahit mengenai kedua orangtuaku.


Aku begitu menyesal karena menyalahkan ibu waktu itu, aku bahkan sempat membenci ibu karena melarangku mengikuti jejak mereka, seandainya aku tau, ibu menyimpan luka seorang diri dan tetap bertahan hanya demi kami, anak-anaknya yang begitu tidak tau diri.


Prok prok prok. "Sangat mengharukan bukan?" Ucap perempuan itu seraya bertepuk tangan, ibu memajukan langkahnya sehingga aku dan kak Ega berada dibalik punggungnya, seolah-olah ibu tengah melindungi kami berdua dari marabahaya.


"Lalu untuk apa kamu datang lagi dan mengganggu keluargaku, kamu bahkan merenggut nyawa orang yang tidak bersalah."


"Anakku harus bekerja demi bisa kuliah dan mengejar cita-citanya, setelah aku dipecat tidak ada lagi perusahaan arsitektur yang menerimaku bekerja dan itu semua gara-gara kamu, aku tau kamu meminta bantuan pemilik perusahaan untuk memblacklist namaku sehingga aku tersingkir dari dunia arsitektur."


"Semua itu pantas kamu dapatkan, bukan karena aku, tapi karena perilaku burukmu dimasa lalu yang membuatmu menderita." Ujar ibu sembari menatap perempuan yang pernah menjadi madunya.


"Tapi sekarang aku berhasil membuatmu menderita juga. haha. Kau tau sudah begitu lama aku ingin melihat momen kehancuranmu, aku fikir dengan melenyapkan putrimu akan membuatmu menderita, awalnya aku kesal karena pemuda itu menyelamatkan putrimu dan mati, tapi aku berubah fikiran, sepertinya kematian pemuda itu menarik juga, putrimu pasti akan hancur karena ditinggal calon suaminya, dan kamu pasti akan menderita melihat kehancuran putri kesayanganmu itu. menarik bukan, hahahahaha."


"Dari mana kamu tau dia adalah calon suamiku."Ucapku geram, aku berusaha menahan emosiku setelah mendengar pengakuannya, bagaimana mungkin dia berfikir kematian adalah sebuah hal yang menarik.


"Bukan hanya itu, aku bahkan tau siapa namanya, dimana rumahnya dan dimana dia bekerja." Balasnya dengan begitu angkuh.


"Jadi kamulah yang selama dua tahun ini mengikutiku?"


Perempuan itu mengangguk dan tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar didalam ruangan sempit itu.


Aku kembali menyesali tindakanku, seandainya waktu itu aku mendengarkan kak Zean untuk melaporkannya kekantor polisi, mungkin saja kejadian ini tidak pernah terjadi dan kak Zean masih bersamaku sekarang. Jadi akulah yang membunuh kak Zean, akulah pembunuhnya.

__ADS_1


"Kalian tau, aku juga yang memberi tahu ibu kandungmu dimana kamu bekerja dan dimana kamu tinggal. Seharusnya kamu berterimakasih padaku karena telah mempertemukan kalian."


"Apa, jadi kamulah penyebab semua kekacauan ini."Seru kak Ega dengan suara beratnya, wajahnya merah padam karena menahan amarah.


Mendengar ucapan perempuan itu membuaku kehilangan sabar, aku mendekati wanita itu dan meludah didepannya. Perempuan itu mendelik tak terima mendapat penghinaan dariku, tangannya melayang diudara, namun sebelum tangan itu mendarat diwajahku aku lebih dulu menahan dan menepisnya.


Plaaak, aku menampar wajahnya dengan keras. "Ini hadiah karena sudah menghancurkan keluargaku."


Plaaak, satu tamparan lagi mendarat diwajahnya. "Ini untuk penderitaan ibuku selama ini."


Plaaaak. "Ini karena kamu berani mengusik hidup kakakku."


Plaaaak, Plaaaak, dua tamparan sekigus aku berikan kepadanya. "Hadiah terakhir karena sudah mencoba mencelakaiku."


Aku mendorong perempuan itu hingga tubuhnya membentur tembok, kedua tanganku kini mencengkeram lehernya dengan kuat, mataku memanas dan gigiku saling bergemelatukan, kulihat perempuan itu mulai gelagapan karena cekikanku semakin kuat, aku mengangkat ujung bibirku, senyum penuh kebencian mengembang diwajah layuku saat aku melihat wajahnya mulai mengiba, aku semakin menekan tanganku dilehernya. "Dan ini, hadiah terakhir dariku karena telah membunuh kekasihku, matilah kamu dan membusuk dineraka."Teriakku histeris hingga mengundang beberapa petugas polisi masuk kedalam ruangan ini.


Kak Ega dan salah seorang petugas mencoba melepaskan tanganku dari leher perempuan itu, namun usaha mereka gagal, cengkeramanku begitu kuat, amarah telah mengusai tubuhku dan menutup mataku.


"Indhi, kamu bisa membunuhnya, lepaskan Ndi, lepas." Seru kak Ega sambil terus berusaha melepas tanganku.


"Anda bisa dipenjara atas tuduhan pembunuhan." Ancam salah seorang petugas polisi.


"Lepaskan nak, ibu tidak mau kamu juga seperti dia, apa kamu juga mau menjadi seorang pembunuh." Ucap ibu namun tak aku hiraukan.


"Bagaiaman rasanya, apa menyakitkan? Tanyaku pada perempuan itu. "Ini tidak sebanding dengan semua rasa sakit yang aku rasakan." Aku kembali mempererat cengkeramanku dilehernya.


"Lepaskan sayang, Zean pasti sedih melihatmu begini, lepaskan nak, mamy tidak mau anak perempuan mamy menjadi pembunuh, Zean pasti akan menyalahkan mamy jika melihatmu begini."


Aku mengendurkan tanganku ketika nama kak Zean keluar dari mulut mamy, aku mundur dan melepaskan tanganku dari leher perempuan yang telah merenggut nyawa kak Zean, aku memandangi kedua tanganku yang kini gemetaran, air mataku menetes diatas kedua tanganku sehinggaa noda darah yang telah mengering kini basah kembali.


Aku menatap wajah orang yang kusayangi secara bergantian, mataku mulai meremang dan tubuhku seakan melayang.


"Indhi." Suara teriakan mereka mengantarku kedalam mimpi panjangku.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2