Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 110 Orang iseng


__ADS_3

Setahun sudah setelah kepulangan kak Ega ke tanah air, kini kak Ega sudah disibukkan dengan aktivitasnya menjadi seorang dokter Subspesialis bedah Vaskular dan Endovaskular.


Aku dan Arum telah selesai menyusun skripsi dan juga sidang akhir, kini kami hanya tinggal menunggu waktu untuk diwisuda. Sementara Dita kini sudah bekerja dirumahsakit yang sama dengan kak Ega sebagai seorang perawat, Dita sengaja mengambil program pendidikan D3 sehingga dia lulus satu tahun lebih awal dari aku dan Arum.


Hari ini aku dan kak Zean berencana untuk membeli beberapa perabotan rumah agar rumah tidak terlalu kosong karena sampai saat ini hanya ada satu kasur yang mengisi rumah itu. Sebenarnya mamy memaksa kak Zean untuk ikut andil dalam membeli perabotan rumah, namun kak Zean menolaknya.


"Pagi sayang." Sapa kak Zean begitu aku keluar rumah.


"Ini sudah siang kak." Protesku karena memang sudah jam 11 siang.


Aku dan kak Zean segera pergi ke toko perlengkapan perabot rumah tangga, aku terheran saat melihat ukuran toko yang begitu besar, didalam toko aku lebih heran lagi karena semua perlengkapan rumah tangga ada ditoko ini.


Kami berjalan beriringan seperti layaknya pasangan suami istri, tangan kak Zean menggenggam erat tanganku, akhir-akhir ini dia begitu menempel padaku.


"Mana yang kamu suka." Ucap kak Zean seraya menunjuk beberapa sofa.


"Terserah kakak saja, aku bingung."


"Coba lihat lebih dekat, jangan terserah aku, nantinya kan kita berdua yang akan memakainya."


Aku menghembuskan nafas dengan kasar dan mengikuti titah kak Zean untuk melihat sofa-sofa itu lebih dekat. Menurutku semua sofa sama saja, hanya bentuk dan warna mereka yang berbeda-beda. "Aku mau yang ini."Aku menunjuk salah satu diantara lima sofa yang ada. "Warnanya paling cocok untuk ruang tamu kita." Imbuhku sambil menatap kak Zean. Dia hanya manggut-manggut dan setuju dengan pilihanku.


"Ayo kita cari yang lain." Kata kak Zean setelah selesai dengan urusan sofa.


"Apa lagi kak?"


"Meja makan mungkin atau tempat tidur yang lebih besar?"


"Kita kan sudah punya tempat tidur."


"Iya tapi ukurannya kurang besar, nanti aku tidak leluasa saat anu-anu." Ucap kak Zean begitu ambigu.


"Anu-anu?" Aku menatapnya bingung.


"Bikin anak." Bisik kak Zean seraya meniup telingaku sehingga bulu kudukku meremang.

__ADS_1


"Kakak."


Aku mengejar kak Zean yang sudah lari terlebih dahulu. Aku menabrak punggung kak Zean yang tiba-tiba berhenti. "Auw." Pekikku sambil memegangi kepala. "Kenapa berhenti mendadak, kepalaku sakit menabrak punggungmu yang begitu keras." Protesku jengkel.


"Aku mau beli itu." Ucap kak Zean seraya menunjuk box bayi berwarna putih dengan kelambu berwarna senada, dia bahkan tidak mempedulikan kepalaku yang terbentur punggungnya.


"Kakak sudah gila,untuk apa membeli box bayi sekarang, aku memang setuju untuk menikah tapi aku belum siap untuk mempunyai bayi, setidaknya belum sampai aku mendapat gelar dokter didepan namaku kak." Ocehku panjang lebar. "Kita bahkam belum mendapat resti dari ibu." Imbuhku dengan wajah sedih.


"Kita bisa menyimpannya dirumah kan, bisa untuk menaruh bonekamu mungkin."


"Kakak fikir aku anak kecil main bayi-bayian?" Aku berkacang pinggang dan menatap kak Zean dengan jengkel, bisa-bisanya dia berfikiran untuk membeli box bayi bahkan sebelum kita menikah.


"Ya sudah kalau tidak mau, aku juga tidak memaksa." Jawab kak Zean culas, dia pasti sedikit kesal karena aku memarahinya tadi, dia berlalu begitu saja dan meninggalkanku yang masih berdiri didekat bok bayi.


Aku mengejar kak Zean dan mengaitkan taganku dilengannya. "Jangan marah, nanti kita beli saat aku sudah hamil, lebih baik sekarang uangnya untuk membeli yang lain." Ucapku lembut seraya menggesekan kepalaku dilengannya.


"Kapan hamilnya." Ucap kak Zean bersemangat.


"tiga atau empat tahun lagi."


Kami kembali memilih beberapa perabotan untuk mengisi rumah, meskipun sempat jengkel akhirnya aku bisa membuat kak Zean ceria lagi hanya dengan satu kecupan dibibirnya.


Setelah selesai aku dan kak Zean mampir kesebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari toko, kak Zean memilih membungkus makananya karena karyawan toko akan mengantar perabotan yang sudah kami beli tadi.


Didalam mobil perhatianku kembali tertuju pada mobil sedan bewarna putih yang dua tahun terakhir ini selalu membuntutiku, aku sengaja tidak memberi tahu kak Zean karena aku fikir hanya orang iseng saja, tapi hari ini aku rasa sipemilik mobil bukan hanya sekedar iseng, bayangkan saja dua tahun ini dia terus saja mengikutiku kemanapun aku pergi.


"Kak." Ucapku berniat memberi tahu kak Zean.


"Hemm."


"Aku rasa mobil dibelakang sedang mengikuti kita."


Kak Zean memeriksa dari kaca spionnya. "Sedan putih?" Tanya kak Zean memastikan.


"Hem."

__ADS_1


"Dari mana kamu tau?" Ucap kak Zean yang masih belum menpercayaiku.


"Itu mobil yang sama dengan yang mengikutiku selama dua tahun terkahir."


Kak Zean membanting setirnya kesebelah kiri, dia menepikan mobilnya dan karena rem mendadak sehingga menimbulkan bunyi gesekan antara ban mobil dan aspal.


"Apa maksudmu, kamu diikuti selama dua tahun, dan kamu tidak bicara padaku." Ucap kak Zean penuh penekanan.


"Maaf, aku fikir hanya orang iseng."


"Orang iseng katamu, apa otakmu bodoh karena menghirup formalin setiap hari, orang iseng macam apa yang mengikutimu selama dua tahun, itu kriminal namanya, kita harus melaporkannya kepada polisi."


"Lagi pula dia hanya mengikutiku kak, dia tidak pernah keluar dari mobilnya."


"Kamu akan melaporkannya sampai orang itu mencelakaimu maksudnya, astaga sayangku, apa yang harus aku lakukan kepadamu." Kak Zean terlihat frustasi, dia mengacak-acak rambutnya sendiri.


Kak Zean melirik kaca spionnya sekilas, lalu dia kembali melajukam mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Apa mobil itu masih mengikuti kita?" Tanya kak Zean yang tengah fokus dengan jalanan didepannya.


"Hem." Jawabku singkat, jantungku masih berdebar-debar karena dibentak kak Zean tadi.


Kak Zean memacu mobilnya diatas kecepatan rata-rata, kemudian kak Zean memarkirkan mobilnya didepan kantor polisi sehingga mobil itu melewati mobil kami.


"Kakak akan melaporkannya?"Tanyaku sedikit khawatir.


"Tidak, kita tidak memiliki bukti." Jawab kak Zean dengan amarah masih tertinggal diwajahnya.


"Jangan marah." Ucapku lirih, aku mendunduk dan tidak berani menatap kak Zean.


"Aku tidak marah, aku hanya terkejut, aku khawatir, bagaimana kalau sipemilik mobil berniat jahat padamu, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku tidak bisa melihatmu terluka." Ucap kak Zean lembut, dia mengelus kepalaku lalu mencium punggung tanganku. "Berjanjilah untuk selalu waspada." Imbuhnya lagi.


"Hem aku janji, aku akan memberi tahu kakak kalau mobil itu mengikutiku lagi."


Kak Zean tersenyum dan kembali mengusap rambutku. Setelah itu kami kembali kerumah masa depan kami.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2