Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 21 Maaf


__ADS_3

" Kakak kuliah di sini?" Aku menunjuk gedung kampus dari dalam mobil.


Dia hanya mengangguk dan menatapku dengan mata birunya yang membuatku semakin salah tingkah.


" Kamu laper nggak?" Tanya kak Zean.


" Lumayan." Sahutku. Sebenarnnya sih sangat lapar karna kami melewatkan makan siang tadi.


" Mau makan dulu?"


" Boleh. Mau makan apa?"


" Gimana kalau makanan Jepang, mau?"


" Iya." Aku mengangguk setuju.


Kak Zean menghidupkan mobil dan melajukannya, menyusuri jalanan yang nampak padat. Mungkin karena ini akhir pekan. Selang beberapa menit kak Zean memarkirkan mobil di depan restoran Jepang.


Kami masuk ke dalam restoran yang kental akan nuansa negeri sakura tersebut. Aku melihat menu dan memesan beef katshu dan lemon tea hangat sedangkan kak Zean memilih yakiniku dan es lemon tea. Sebenarnya aku ingin memesan yang lain, tapi karena kak Zean bilang dia yang traktir aku mengurungkan niatku. Rasanya tak nyaman, karena terakhir kali kami makan bersama kak Zean juga yang membayarnya.


" Mau nambah?" Tanya kak Zean sambil tersenyum


" Ini saja belum habis." Aku tergelak.


Kak Zean tersenyum lagi sambil menatapku, aku pura-pura tak menyadarinya dan lanjut menghabiskan makananku.


" Hmm, boleh aku nanya sesuatu?" Ucap kak Zean sedikit ragu.


" Nama kamu sebenernya siapa si?"


" Kan waktu itu udah nanya. Prilatia kak."


" Terus kenapa kemarin Fajar ngenalinnya nama lain. Indhi?"


" Itu nama tengah aku, sebenarnya Lindhi, cuma entah di mulai dari siapa lebih banyak yang memanggilku Indhi."


Kak Zean membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasannku. Aku hampir saja tertawa melihat tingkahnya, untung saja aku bisa menahannya.


" Boleh aku nanya sesuatu kak?" Aku balik meminta.


"Hmmm." Menatapku sambil menahan kepalanya dengan dua tangan di pipinya.


" Kakak bukan asli sini?"


" Why?" Tersenyum.


" Bola mata kakak berwarna biru dan bahasa Indonesia kakak juga masih belum fasih." Ucapku akhirnya menuntaskan rasa penasarannku.


" Mataku. Ah mungkin karena menurun dari Dady-ku. Dia dari California." Dia menjawab sambil menyentuh matanya.


" Mamy-ku asli sini, aku juga lahir di sini, jadi bisa di bilang asli sini kan? Karena di rumah, orangtuaku lebih sering berkomunikasi dengan bahasa asing, jadi ya begini akhirnya, bercampur bahasanya." Jelasnya sambil tersenyum lagi.


" Oh." Rasa penasaranku terobati sudah.

__ADS_1


" Sudah?" Tanyanya yang sedikit ambigu.


Aku bingung harus menjawab apa. Bagian mana yang dia maksud. Sudah dengan makananku atau sudah tentang pertanyaanku mengenai asalnya.


" Sudah tidak penasaran lagi kan?" Jelasnya, sepertinya dia paham aku bingung dengan pertanyaannya.


Aku tersenyum.


" Pulang sekarang?"


" Ayo."


Kami keluar restoran saat langit sudah mulai petang. Aku masuk mobil lalu di susul oleh kak Zean, kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan mataku terasa berat, aku mengantuk, sebisa mungkin aku menahanya, namun gagal. Aku tertidur sampai sebuah suara yang tak asing menyeru memanggil namaku.


" Pril, April. Prilia." Kak Zean memanggilku, namun salah mengucap namaku. Mungkin benar apa kata kak Zean namaku sedikit susah untuk di ingat.


" Hmm, sudah sampai?" Ucapku sambil mengucek mata.


" Maaf ya kak, aku ketiduran." Aku sangat malu rasanya dan ingin segera keluar dari mobil.


" It's okay. Hmm, By the way mobilnya aku masukin ke garasi sekalian nggak?"


Aku melihat sekeliling dan memastikan dimana kak Zean menghentikan mobil dan ternyata sudah ada di halaman rumah.


" Disini aja kak."


" Terus kakak pulangnya gimana?" Tanyaku tak enak hati karena merepotkan kak Zean.


" Aku bisa nyari taxi atau ojek, belum terlalu malam juga, masih banyak kendaraan di jalan utama." Jawabnya santai.


" Serius. Naik apa?" Tanyanya ragu.


" Mobil."


" Kamu bisa nyetir?" Kak Zean menatapku dengan tatapan tak percaya.


" Bisa!"


" Kamu punya SIM?"


Aku menggeleng lelah.


" Bisa-bisa aku di hajar kakakmu nanti and aku bisa pulang sendiri, kamu nggak usah khawatir."


" Pril."


Aku menoleh.


" Hmm, good night. Thanks buat hari ini." Ucapnya lalu keluar dari mobil


Aku menyusulnya keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan ke arahku sambil berjalan mundur menjauh dariku.


" Makasih juga buat hari ini kak." Aku sedikit berteriak.

__ADS_1


Kak Zean mengangguk dan tersenyum lalu berbalik dan setengah berlari meninggalkan komplek perumahanku. Aku mengamati dari belakang dan masuk ke dalam rumah saat kak Zean sudah tak terlihat lagi.


" Aku pulang." Ucapku setelah membuka pintu dan berhasil masuk ke dalam rumah.


Tak ada yang menimpali ucapanku, tak ada yang menyambut kepulangannku. Kesepian kembali menyusup ke hatiku, membuatku pilu dan membenci kesunyian ini.


Aku naik ke kamarku, melempar barang-barangku ke lantai, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi aku mengambil ponselku dan mengabari kak Ega kalau aku sudah di rumah. Aku juga mengirim pesan kepada kak Zean, menanyakan apakah dia sudah sampai di rumah. Sudah beberapa menit namun tak ada satupun yang membalas. Aku melempar ponselku ke kasur lalu aku menysulnya dan merebahkan tubuhku di atas kasur.


Terdengar bunyi notifikasi pesan masuk, aku bergegas meraih ponsel dan membukanya, aku sedikit kecewa karena bukan pesan yang aku harapkan.


" Sudah sampai? Kalian kemana dulu tadi, kenapa kalian hilang dari rombongan?.".Aku membuaka pesan dari Arum.


" Sudah dari tadi." Aku mengirim balasan.


" Terus kalian kemana, aku penasaran?"


" Besok aku ceritain semuanya."


Aku kembali menaruh ponselku dan memejamkan mataku. Mungkin karena kelelahan aku akhirnya tertidur dan melupakan balasan pesan yang sedari tadi aku harapkan.


POV ZEAN


Aku baru selesai mandi saat mendengar suara dari ponselku. Aku mengambilnya dari atas meja. Aku duduk di tepi ranjang dan membuka satu persatu pesan yang aku terima.


Fajar


"Kamu bawa kemana anak orang? Awas kalo nggak di balikin."


Natasha


" Hey, kalian kemana?"


" Kamu sudah sampai?"


" kenapa nggak bales."


Little girl


" Kak, sudah sampai?"


" Balas pesanku kalau kakak melihatnya!"


" Aku hanya sedikit khawatir."


Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Meraih ponselku dan membuka galeri, aku tersenyum saat melihat foto gadis kecil itu, aku mengambil fotonya saat berada di bukit tadi dan tentunya tanpa sepengetahuannya. Dia terlihat sangat cantik di usianya yang masih remaja, aku tak bisa membayangkan betapa cantiknya dia setelah dia tumbuh dewasa nanti. Aku kembali melihat pesan darinya, aku ragu untuk membalasnya atau tidak. Aku takut, takut tak bisa menghentikan rasa ketertarikanku kepada gadis kecil itu. Aku menaruh ponseku lagi, meraihnya lagi, dan akhirnya aku benar-benar menaruhnya dan tak membalas pesan dari gadis itu.


Aku megutuk diriku dalam hati, merasa bersalah kepadanya. Seharusnya setelah mengembalikan ponselnya, aku tak lagi menemuinya. Tapi pada kenyataannya dia terus menarikku datang menghampirinya. Maaf Pril, maafkan atas sikap pengecutku yang memilih menjauhimu setelah semua yang telah kita lewati hari ini. Semoga kamu tidak membenciku dan semoga kamu bahagia selalu.


Mas Zean


__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2