
Aku kembali ke dalam mobil kak Ega dan memintanya untuk mengantarku ke rumah kak Zean, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kami, aku juga tidak suka jika kak Zean terus menerus cemburu terhadap kak Ega.
" Kak Zean melihat kita pelukan tadi, dia pasti salah paham, apa kakak bisa mengantarku ke rumahnya?" Pintaku setelah aku masuk ke dalam mobil.
" Tunggu disini sebentar, kakak akan mengambil barang-barang kakak." Ucap Kak Ega lalu dia keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumahsakit.
Sementara aku masih bingung kenapa kak Zean bisa ada disini, aku mengambil ponsel dari dalam tasku dan memeriksa apakah ada pesan dari kak Zean sebelumnya.
π©π Zee π
"Sweety, where are you?"
" kamu dimana?"
" Hye kenapa tidak balas, kamu sudah di rumah?"
" Angkat telefonku!!"
" Tunggu aku, aku akan menjemputmu di rumahsakit. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
π©Arum
" Kamu jadi ke rumahsakit, tadi kak Zean menelfonku dan menanyakan keberadaanmu, aku bilang kamu pergi ke rumahsakit menemui kak Ega."
Terjawab sudah rasa penasaranku dan aku segera menelfon kak Zean namun dia tidak mengangkatnya. Jadi sekarang yang harus aku lakukan hanyalah pergi menemui kak Zean dan menjelaskan semuanya lalu memohon padanya untuk berhenti cemburu kepada kak Ega.
****
" Kakak yang akan menjelaskan semuanya kepada Zean." Kata kak Ega setelah kami meninggalkan rumahsakit.
" Tidak perlu kak, aku tidak mau kakak terbawa-bawa dalam masalah kami." Tolakku secara halus.
" Kamu yakin?" Ucap kak Ega memastikan.
" Iya kak."
Kak Ega kembali fokus pada jalanan di depannya, aku hanya diam dan mengamati jalanan yang sedikit ramai dari balik jendela, aku menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Aku fikir jatuh cinta sudah repot, ternyata menghadapi pacar pecemburu lebih merepotkan.
Kak Ega menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kak Zean, aku membuka pintu mobil dan berniat untuk turun, namun kak Ega meraih pergelangan tanganku sehingga aku mengurungkan niatku untuk melangkah keluar.
" Kamu yakin kakak tidak perlu ikut masuk?"
" Iya kak. Lebih baik kakak pulang dan istirahat di rumah, kakak pasti lelah. Terimakasih sudah mengantarku kak."
" Kabari kakak kalau ada apa-apa!"
__ADS_1
" Iya kak, kakak hati-hati di jalan."
Aku keluar dari mobil lalu bergegas menuju rumah kak Zean setelah mobil kak Ega pergi. Aku beberapa kali mengetuk pintu lalu mbok Yem membukakan pintu untukku dan menyuruhku masuk.
Aku mengikuti mbok Yem masuk dan mendapati mami tengah memangku si kecil Sam di ruang keluarga.
" Lihatlah Sam siapa yang datang." Ucap mami setelah melihat kedatanganku.
" Apa kabar mi?" Aku mengulurkan tanganku dan mami meraihnya, aku segera mengecup punggung tangan mami.
" Mami baik sayang, kenapa lama sekali tidak kesini, mami kangen."
" Maaf mi, Indhi sibuk les dan belajar. Aku juga sangat merindukan mami dan si kecil."
" Hay Sam." Sapaku pada bocah kecil yang begitu mirip dengan kak Zean, matanya berwarna biru persis seperti milik kak Zean.
" Naik saja, Zean ada di kamarnya." Ucap mami yang paham akan kedatanganku.
" Boleh mi?" Tanyaku ragu, meskipun aku sempat beberapa kali masuk ke dalam kamar kak Zean, tapi kali ini suasananya berbeda, ada mami di rumah dan aku merasa tidak enak hati jika harus manyusul kak Zean ke kamarnya.
" Boleh dong sayang, yang penting jangan macam-macam didalam ya." Goda mami dengan senyum merekah di wajahnya.
" Kalau gitu Indhi naik ya mi."
Mami hanya mengangguk. Aku segera naik ke atas dan mengetuk kamar kak Zean. Beberapa kali mengetuk tapi kak Zean tak juga membukanya, aku memutar hendle pintu dan mendorongnya. Setelah pintu terbuka dengan sedikit ragu aku masuk ke dalam kamar kak Zean.
" Kakak." Panggilku lagi. Aku berjalan mendekati tempat tidur kak Zean dan melihat koper di atas tempat tidurnya.
Aku memalingkan pandangannku saat mendengar suara pintu terbuka, kak Zean keluar dari kamar mandi, sepertinya dia baru selesai mandi dilihat dari rambutnya yang masih basah.
Kak Zean berjalan melewatiku dan menuju lemari pakaiannya, dia mengeluarkan beberapa pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper yang berada di atas tempat tidur, beberapa kali kak Zean mengambil pakaiannya hingga memenuhi seisi koper.
" Kakak berkemas? Kakak mau kemana?" Tanyaku di sela kesibukan kak Zean mengemas barang- barangnya.
" Kakak mau kemana?" Ulangku lagi karena kak Zean tidak menjawab pertanyaanku.
" California." Jawabnya singkat.
" Holiday?"
" No."
" Lalu?"
" Aku akan melanjutkan kuliahku di sana." Ucap kak Zean yang membuatku terkejut.
__ADS_1
" Apa maksud kakak, kakak memang bilang akan berhenti mengajar tapi kakak tidak bilang akan melanjutkan study kakak?" Aku menarik tangan kak Zean yang masih sibuk mengemas barang-barang miliknya.
" Kenapa harus mendadak begini, kenapa tidak bicara padaku lebih dulu?"
" Kamu saja sedang sibuk dengan kakak kesayanganmu itu." Jawab kak Zean penuh penekanan.
" Kamu salah paham kak, aku sedang menenangkan kak Ega tadi." Aku mencoba menjelaskan tentang kejadian di parkiran rumah sakit tadi.
" Harus dengan memeluknya?"
" Atau kamu sebenarnya menyukainya?" Tanya kak Zean yang membuatku semakin kesal.
" Berhenti cemburu kepada kak Ega, he's my brother." Jawabku keras, aku bahkan sudah tidak berminat untuk menjelaskan yang sebenarnya.
" Tapi kenyataannya dia bukan kakakmu, bisa jadi kamu menyukainya setelah kamu tau dia bukan kakakmu kan?"
Plak, aku menampar pipi kak Zean setelah mendengar ucapannya yang begitu menyakitkan, bisa-bisanya dia mempunyai fikiran seperti itu. kak Zean memegang pipinya dan menatapku tak percaya.
" Apa sebenarnya maumu kak, aku kesini karena ingin meluruskan semuanya, aku tidak ingin ada salah faham lagi di antara kita, tapi apa yang aku dapat, hah kakak malah menuduhku yang tidak-tidak hanya karena melihatku memeluk kak Ega."
" Dan sekarang apa ini, kakak akan pergi begitu saja, apa kakak mau putus dariku." Teriakku dengan keras, mungkin saja mami bisa mendengar teriakanku dari bawah.
" Bukankah itu yang kamu inginkan, putus dariku sehingga kamu bisa leluasa bersama dengan kak Egamu itu?" Ucap kak Zean tak kalah keras dariku.
" Oke fine, percumah saja kita melanjutkan hubungan kalau kakak saja tak percaya padaku. Mari akhiri sampai disini, aku lelah dengan sikap kakak yang begitu kekanakan." Ucapku dengan mata berkaca-kaca, tanpa menunggu jawaban dari kak Zean aku segera keluar dari kamarnya.
Dibawah mami dan mbok Yem seperti sedang menungguku dan mami terlihat gusar.
" Ada apa sayang, kenapa kalian berteriak?" Tanya mami setelah melihatku turun.
" Nggak papa mi, kami cuma salah faham aja, Indhi pulang dulu ya mi."
" Kamu yakin?"
" Iya mi."
" Kamu pulang sama siapa, Zean tidak mengantarmu?" Tanya mami dengan raut wajah yang khawatir.
" Indhi bisa pulang sendiri kok mi, Indhi pamit ya mi, permisi." Ucapku lalu aku meraih tangan mami dan mencium punggung tangannya.
" Hati-hati ya sayang." Ucap mami melepas kepulanganku.
Aku segera keluar dari rumah kak Zean, air mata yang sedari tadi tertahan kini dengan leluasa keluar dan membasahi wajahku, rasa sesak kembali memenuhi dadaku. Aku memandang lekat tanganku yang tengah gemetar, tangan yang tadi ku gunakan untuk menampar kak Zean. Aku sungguh menyesal karena sudah memukulnya, namun semua ucapannya sungguh membuatku tak bisa menahan amarahku.
Namun dari hal ini aku belajar, cemburu memanglah tanda seseorang benar mencintaimu, tapi cemburu buta justru akan menghancurkan seseorang yang kamu cintai dan mencintaimu.
__ADS_1
Bersambung...