Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 79 Pertemuan terakhir


__ADS_3

" Ini dia bintang kelas kita yang cantik." Puji Arum sembari merangkulku dan aku tersipu karena pujian sahabatku ini.


Setelah beberapa hari yang lalu kami disibukkan dengan ulangan kenaikan kelas akhirnya hari ini kami menerima hasil dari kerja keras kami, aku bersyukur karena aku masih bisa mempertahankan peringkatku, hanya saja hari ini tidak ada kak Ega yang berbagi suka denganku, juga tak ada ibu yang mengambilkan raport untukku, untung saja mama Arum bisa datang ke sekolah dan aku merepotkannya untuk menjadi waliku.


" Selamat ya Ndi, kamu emang the best, rasain tuh Naura kalah lagi dari kamu." Imbuh Dita yang kini ikut merangkulku juga.


" Makasih Dit."


" Tapi aku khawatir."


" Kenapa?" Arum melepaskan tangannya dari pundakku dan kini berbalik menatapku.


" Gimana kalau Naura masih berfikir kak Zean curang?"


" Tenang aja Ndi, teman sekelas kita juga tau kan kalau kamu memang pintar, kamu nggak perlu khawatir, memangnya apa yang bisa Naura lakukan?" Ucap Arum mencoba untuk menenangkanku.


" Iya Ndi, dia tuh cuma iri sama kamu, biarin aja, biarkan anjing menggonggong." Imbuh Dita.


" Guk Guk Guk."


Aku terkekeh mendengar kedua temanku menirukan suara anjing. Benar apa yang mereka berdua katakan, aku tidak perlu terlalu khawatir, aku yakin kak Zean tidak melakukan hal curang, aku mendapatkan peringkat satu atas dasar kerja kerasku selama ini.


"Gimana kalau hari ini kita jalan?" Ajak Dita dengan semangatnya.


" Aku nggak bisa, kalian tau nilaiku turun dan mama marah padaku, aku harus pulang." Ucap Arum sembari menunduk lemas .


" Aku juga harus ke rumahsakit, aku mau nemuin kak Ega."


Aku merangkuk pundak Arum sekedar untuk memberinya semangat.


" Kak Ega belum pulang juga?"


" Belum Dit."


" Astaga, berarti kak Ega begitu mencintai wanita itu sampai-sampai dia harus bekerja keras untuk melupakan wanita itu, aku yakin kak Ega menjadikan kerja sebagai alasan, sebenarnya dia hanya ingin menyibukkan diri supaya lupa sama wanita itu."


" Sebenarnya siapa si wanita gila itu, aku penasaran, wanita bodoh mana coba yang berani menolak kak Ega, sudah ganteng, dokter, baik hati pula." Imbuh Dita mengakhiri kutbah panjangnya.


" Aku juga tidak tau." Jawabku lemas. Aku tidak mungkin bilang pada kalian bahwa aku wanita bodoh itu.


Salahku juga karena tidak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya bercerita kepada mereka bahwa kak Ega sudah 5 bulan sibuk dan tidak pulang, alasannya karena dia di tolak oleh wanita yang di sukainya, jadi sekarang aku harus menerima mendengar umpatan dari teman-temanku, karena mereka tidak tahu akulah wanita itu.


***


" Dasar curang." Bisik Naura di telingaku lalu dia dengan sengaja menabrak bahuku saat dia memlewatiku.


" Kamu nggak punya mata ya, kacamata di pakai biar liat kalau ada orang berdiri di sini." Teriak Arum tak terima dengan perlakuan Naura padaku.


Naura menoleh dan hanya menganggat ujung bibirnya menciptakan sebuah senyum licik, wajah polosnya sudah tak nampak lagi, hanya ada raut kebencian di wajahnya kini.

__ADS_1


" Sudah Rum, biarkan saja. Ayo kita pulang." Aku melerai Arum yang mulai terpancing, aku tidak mau teman-temanku terkena imbas karena masalahku dan Naura


Saat Arum mulai tenang kami akhirnya pulang, kami berpisah di depan sekolah. Aku memutuskan untuk pergi ke rumahsakit lagi, siapa tau aku bisa bertemu dengan kak Ega sekarang.


Taxi yang aku tumpangi berhenti tepat di lobby rumahsakit, aku segera masuk dan menuju meja resepsionis.


" Mau ketemu sama dokter Kevin ya?" Tebak salah satu staf yang berada di meja resepsionis, dia mungkin sudah hafal dengan wajahku karena beberapa kali melihatku mencari kak Ega.


" Iya mbak."


" Kebetulan dokter Kevin tidak ada operasi hari ini, beliau ada di ruangan prakteknya, tapi beliau tidak menerima kunjungan selain pasien."


" Kebetulan saya memang mau konsultasi dengan dokter Kevin."


" Apa ada keluhan sebelumnya?" Tanya staf perempuan itu dengan ramah.


" Akhir-akhir ini perut saya sering sakit, saya baca di Google kemungkinan besar gejala usus buntu, makannya saya kemari dan ingin berkonsultasi." Maafkan aku Tuhan, semoga Engkau tidak memberiku penyakit, aku hanya ingin menemui kak Ega dan ini jalan satu-satunya, aku harus berbohong.


" Boleh saya pinjam KTP atau Kartu Keluarganya untuk registrasi."


Aku mengeluarkan Kartu Keluarga dari dalam tasku, untung saja aku sudah mempersiapkan semua ini sebelumnya, karena belum mempunyai KTP aku hanya melampirkan fotokopi KTP ibu sebagai gantinya.


" Apa tidak ada keluarga yang mendampingi?"


" Kakak dan ibu saya sedang bekerja mbak."


" Jadi adek ini adiknya dokter Kevin?"


Adek, sejak kapan dia memanggilku adek, aku sangat risih dengan panggilan itu ,tapi aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.


" Ini kartu registrasinya, Adek bisa langsung ke ruangan dokter Kevin sekarang." Ucap staf itu dengan senyum lebar, lalu dia memberiku kartu registrasi.


Aku menundukan kepalku sopan lalu bergegas menuju ruangan kak Ega. Di depan ruangannya masih ada beberapa antrian pasien, aku duduk dan menunggu giliranku di panggil.


Setelah hampir satu jam, seorang perawat memanggilku dan mempersilahkanku masuk, di dalam kak Ega terlihat sibuk merapikan beberapa dokumen.


Ada kelegaan di hatiku saat melihat kakak baik-baik saja, rasa rindu yang beberapa bulan ini tertahan rasanya terobati sudah.


" Silahkan duduk." Ucap perawat itu, lalu dia membantuku menarik kursi sehingga aku lebih leluasa untuk duduk.


" Ada yang bi....." Kak Ega menghentikan kalimatnya saat dia menyadari aku ada di depannya sebagai pasien.


" Kamu ngapain disini?" Tanya kak Ega setengah berbisik.


" Saya mau konsultasi dok, akhir-akhir ini perut saya sakit." Jawabku seolah-olah aku pasien yang membutuhkan bantuan dokter.


" Perut bagian mana yang sakit? Apa sakit sekali? kenapa tidak memberi tahu kakak kalau sakit." Tanya kak Ega, dia nampak mulai khawatir.


" Saya pikir dokter Kevin sangat sibuk, jadi saya tidak ingin mengganggu." Jawabku sopan, sebenarnya aku hanya ingin menunjukan kemarahanku.

__ADS_1


" Berbaring dulu, biar kakak periksa." Perintah kak Ega tanpa memperdulikan kata-kataku, dia mungkin tau aku sedang marah, tapi dia lebih memilih untuk memeriksaku terlebih dahulu.


" Tidak perlu, aku tidak sakit." Jawabku ketus.


" Sus, ada berapa lagi pasien hari ini?"


" Adek ini pasien terakhir dok."


" Kamu boleh istirahat dulu, biar saya yang memeriksa pasien ini.


" Tapi dok."


" Nggak papa."


" Baik dok, kalau begitu saya permisi."


Setelah perawat itu pergi, kak Ega memindahkan kursinya dan mendekatiku. Dia duduk lalu menatapku lekat.


" Kenapa kesini?" Tanya kak Ega lembut.


" Ingin memastikan apakah dokter Kevin masih hidup." Jawabku ketus, meskipun lega bisa melihat kak Ega baik-baik saja, tapi rasa kesal di hatiku masih menggebu, rasanya aku ingin meneriaki kak Ega.


" Kenapa bicara begitu sama kakak?"


" Saya fikir dokter Kevin sudah lupa kalau punya adik."


" Maaf." Ucapnya lembut, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


" Untuk?"


" Semuanya. Kakak benar-benar sibuk, kakak bahkan tidak sempat pulang ke rumah, kakak juga sudah minta maaf sama ibu, jadi kakak harap kamu mengerti dan memaafkan kakak."


" Dulu juga kakak sibuk, tetapi masih sempat pulang, hari ini pembagian raport dan tidak ada satupun dari kalian yang datang ke sekolah, aku berasa tidak punya keluarga." Keluhku pada kak Ega hingga tanpa ku sadari mataku mulai berkaca-kaca.


" Maaf, kakak fikir Zean akan mewakilinya."


Aku hanya menggeleng lemah.


" Kapan kakak akan pulang, setengah tahun rasanya sudah cukup untuk menenangkan diri kak?"


" Entahlah, kakak belum yakin, kakak masih banyak pekerjaan."


" Kakak hanya menghindariku kan?"


" Kalau begitu ini akan jadi pertemuan terakhir kita, kakak tidak perlu repot-repot lagi menghindariku. Aku permisi." Aku melepaskan tangan kak Ega lalu meninggalkannya.


" Indhi." Panggil kak Ega dengan keras saat aku sudah keluar dari ruangannya, aku tak menghiraukan panggilan kak Ega. Aku berlari meninggalkan ruangan kak Ega, rasanya begitu sesak ketika seseorang yang berarti di hidupmu tiba-tiba menghindarimu.


...Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2