Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 70 Wajah Nenek Sihir


__ADS_3

" Kak Natasha." Ucap Naura lalu memeluk wanita itu.


" Kamu lagi ngapain di sini?"


" Mau nonton kak sama temen."


" Hay Indhi, hay Arum." Sapa kak Natasha dan melewatkan Dita begitu saja.


" Hay kak." Jawabku malas. Kenapa aku harus bertemu dengan nenek sihir ini sekarang sih, tadi moodku sudah membaik dan sekarang mulai berantakan lagi gara-gara bertemu dengan kak Natasha.


" Kok kalian bisa kenal?" Tanya Arum penasaran.


" Kak Natasha follow Intagram aku waktu itu, terus kita sering chat dan kami sering bertemu. Kak Natasha juga yang ngerubah penampilan aku." Jawab Naura dengan polosnya.


" Ya ampun kamu cantik banget, aku sampe nggak ngenalin kamu lo, aku pikir tadi bukan kamu." Puji kak Natasha yang membuat Naura salah tingkah.


" Kakak yang nyaranin Naura buat merubah penampilannya?" Celetuk Arum.


" Iya, lihat dia sekarang cantik banget kan."


" Terus kakak sengaja merubah Naura mirip seperti Indhi, maksud kakak apa ya?"


" Memangnya dia mirip Indhi, enggak kok Rum, Naura terlihat lebih cantik." Kilah kak Natasha dengan wajah liciknya.


" Apaan sih kak muji-muji terus, Naura jadi malu."


" Kenapa harus malu Nau, kamu memang cantik kok, yang harusnya malu itu orang yang udah ngambil sesuatu yang bukan miliknya." Sindir kak Natasha kasar dan dia menatapku penuh kebencian.


" Lebih malu-maluin lagi kalau ada perempuan yang selingkuh terus hamil tapi malah minta pertanggungjawaban dari pacarnya." Balasku tak kalah kasar, kali ini aku tidak akan mudah di tindas oleh kak Natasha.


Kak Natasha menatapku geram, matanya di penuhi oleh kebencian. Aku mengakat sudut bibirku dan menunjukan senyum smrik di wajahku.


" Lanjutin jalan-jalannya Nau, aku mau pulang dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi ya."


Kak Natasha berjalan melewatiku dan dia sengaja membenturkan pundaknya ke tubuhku. Untung saja aku bisa menjaga keseimbangan tubuhku, jika tidak mungkin aku akan limbung dan terjatuh karena ulah kak Natasha.


" Itu mantannya kak Z yang kamu maksud Ndi?" Tanya Dita setengah berbisik dan aku hanya mengangguk.


" Nakutin banget mukanya, kaya nenek sihir." Imbuh Dita sambil bergidik ngeri, aku hanya tersenyum melihat tingkah Dita yang nampang sangat tidak suka dengan kak Natasha."


" Kalian masuk aja dulu, aku mau ke toilet." Kata Naura saat kami sudah akan masuk ke dalam studio.

__ADS_1


" Jangan lama-lama Nau." Ucapku lalu kami bertiga masuk ke dalam studio karena filmnya akan segera di putar.


Hampir setengah jam lamanya dan Naura belum juga menyusul kami ke dalam studio padahal filmnya sudah mulai di putar.


" Naura lama banget." Bisikku pada Arum.


" Mules kali." Jawab Arum singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada layar besar di depan sana.


Aku kembali fokus pada film yang tengah di putar, beberpa adegan romantis di film membuatku teringat akan kak Zean, dia juga begitu manis dan romantis seperti tokoh pada film yang tengah aku tonton dan tiba-tiba aku begitu merindukannya.


Tanpa terasa dua jam berlalu, pintu keluar studio telah terbuka dan para penonton meninggalkan studio satu persatu.


" Naura kemana si, kok nggak nyusulin kita?" Seru Dita yang sepertinya baru menyadari ketidakhadiran Naura di antara kami.


" Coba liat ponsel kamu Ndi, siapa tau dia ngirim pesan!" Saran Arum padaku, aku segera merogoh tas sekolahku dan mangambil benda pipih dari dalamnya.


" Dia pulang duluan, katanya nggak enak badan." Ucapku setelah memeriksa ponsel dan menerima pesan dari Naura.


" Bukannya tadi dia baik-baik aja." Imbuh Dita dengan nada meragukan.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan kembali memasukan ponsel ke dalam tas.


" Dit, aku pulang sendiri aja ya soalnya mau mampir ke tempat kak Zean dulu, dari pagi dia cuek banget sama aku."


" Aku anterin aja nggak papa, biar sekalian nganterin Arum juga."


" Yakin nggak ngrepotin kamu?"


" Enggak lah."


" Makasih ya Dit." Ucapku lalu memeluk gadis bermata bulat itu.


" Aku mau di peluk juga." Protes Arum. Aku tersenyum lalu meraih Arum dan membawanya berpelukan bersama.


****


Dita kembali melajukan mobilnya untuk mengantarkanku ke rumah kak Zean, sesekali aku memperhatikan wajah Dita yang tengah fokus pada jalanan di depannya, sementara Arum, suaranya tak terdengar lagi karena dia sudah terlelap di kursi belakang.


Dita memperlambat laju mobilnya saat kami sudah masuk ke dalam komplek perumahan kak Zean, dari kejauhan aku melihat kak Zean berada di depan rumahnya dengan seseorang.


" Stop Dit." Perintahku pada Dita dan dia menurut, dia menepikan mobilnya di bahu jalan.

__ADS_1


" Liat Dit, itu bukannya Naura." Aku menunjuk seseorang yang tengah bersama kak Zean. Dita mempertajam pandangannya lalu dia menoleh ke arahku.


" Lagi ngapain dia di sana, bukannya tadi bilang mau pulang?"


" Rum bangun, liat itu." Seru Dita membangunkan Arum.


" Udah sampai ya, huaaammm ." Ucap Arum sambil menguap.


" Belom, kita di depan rumah pak Zean dan coba kamu lihat siapa yang lagi sama pak Zean di depan rumahnya."


Arum menuruti Dita, dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat ke depan.


" Naura, ngapain dia di sana, bukannya tadi bilang lagi nggak enak badan." Ucap Arum seperti mengulang kalimat Dita sebelumnya.


Aku hanya terdiam, aku fokus memperhatikan mereka yang sepertinya tengah asik berbincang, beberapa kali aku melihat kak Zean tersenyum kepada Naura. Kemudian Naura memberikan sebuah bingkisan kepada kak Zean sebelum akhirnya dia menjabat tangan kak Zean dan pergi.


" Ndi bingkisan itu..." Dita tak melanjutkan kalimatnya.


" Hemm, bingkisan dari toko jam yang tadi." Jawabku melanjutkan kalimat Dita.


" Jadi dia bohongin kita. Astaga, aku semakin yakin kalau Naura menyukai pak Zean." Terang Dita yang membuatku semakin gundah.


" Ndi mending sekarang kamu turun dan minta penjelasan sama kak Zean, apa maksud Naura memberi hadiah." Saran Arum, sambil menepuk bahuku.


" Kalau gitu kalian pulang duluan, biar aku ke rumah kak Zean dulu."


"Semangat Ndi, jangan sampai Naura merebut pak Zean dari kamu." Tambah Dita yang membuatku semakin yakin untuk turun.


" Kalian hati-hati ya." Ucapku setelah aku turun dari mobil. Arum berpindah ke kursi depan lalu Dita kembali melajukan mobilnya meninggalkanku yang masih sedikit ragu untuk pergi menemui kak Zean.


Setelah berdiri lumayan lama di pinggir jalan, akhirnya aku mempunyai keberanian penuh untuk menemui kak Zean. Bukan untuk meminta penjelasan mengenai Naura, tapi untuk meminta maaf mengenai kejadian kemarin.


Aku sengaja tidak memberi tahu teman-temanku mengenai masalah kemarin, aku tidak ingin mereka tau mengenai aku dan kak Ega, aku lebih tenang jika orang lain tetap mengira kami saudara kandung.


Beberapa kali aku mengetuk pintu tapi tak kunjung ada yang membukanya. Aku merasa putus asa dan mengurungkan niatku untuk menemui kak Zean. Aku berbalik dan berniat untuk meninggalkan rumah kak Zean namun suara deritan pintu menghentikan langkahku.


" Naura, ada apa lagi." Seru sebuah suara yang ku yakini milik kak Zean. Senyum yang tadi sudah mengembang di wajahmu kini telah hilang berganti raut kecewa, bagaimana bisa dia tidak mengenaliku dan malah menyebutkan nama orang lain.


" Sweety." Ucap kak Zean panik saat aku sudah memutar tubuhku dan kami saling berhadapan.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2