Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 77 Aku laki laki normal


__ADS_3

" Apakah yang kak Ega katakan itu benar?" Tanya ibu sembari menyentuh luka di wajahku.


" Luka ini, apa benar temanmu yang melakukannya dan kakakmu bilang kamu tidak ingin melaporkannya kepada pihak sekolah." Tambah ibu yang membuatku akhirnya bisa bernafas lega, aku fikir maksud ibu adalah hal yang lainnya, syukurlah artinya ibu tidak mendengar pembicaraan kami tadi.


" Ini kriminal Ndi, apa temanmu preman?"


" Dia hanya salah paham bu, dia fikir aku mendapat nilai bagus karena kak Zean curang."


" Astaga, itu dengki namanya, jauhi anak-anak seperti itu, mereka hanya akan membawa dampak negatif pada hidupmu."


" Bagaimana dengan kakimu."


" Kata dokter nggak papa bu, Indhi cuma tidak boleh terlalu banyak bergerak."


" Ibu tumben jam segini sudah pulang?"


" Ada dokumen ibu yang ketinggalan. Ibu akan berangkat lagi, kamu istirahatlah, panggil bi Sumi kalau butuh apa-apa."


" Iya bu, hati-hati."


Sepeninggal ibu aku merebahkan tubuhku di atas kasur, mataku terpejam namun fikiranku melayang, mengingat kembali kejadian tadi. Aku masih tidak menyangka jika Naura bisa melakukan hal semacam itu, aku fikir dia gadis yang manis dan juga pendiam, aku sempat berharap akan berteman baik dengannya, tapi sekarang, aku fikir harus lebih berhati-hati lagi perihal memilih teman, tidak semua orang yang terlihat baik adalah orang yang baik.


Aku meraih ponselku begitu mengingat kak Zean, aku sudah berjanji akan mengabarinya.


* Aku sudah di rumah kak, kata dokter kakiku baik-baik saja, aku hanya perlu istirahat. Mampirlah sepulang sekolah nanti. *


Aku juga mengirim pesan kepada Arum agar dia tidak terlalu khawatir, aku menyuruhnya untuk datang ke rumahku sepulang sekolah nanti, aku penasaran bagaimana sikap Naura di kelas setelah melukaiku.


Ponselku bergetar, ternyata pesan masuk dari kak Zean.


* Syukurlah kalau begitu, istirahatlah, aku masih mengajar, setengah jam lagi baru pulang*


Setelah membaca pesan kak Zean aku kembali merebahkan tubuhku, rasanya sekujur tubuhku sakit semua, belum lagi beberapa luka gores dan memar di tanganku yang kini mulai berasa ngilu, padahal tadi masih baik baik saja.


Tok tok tok


" Permisi non, ini bibi bawakan air es sama kainnya." Ucap bi Sumi di balik pintu.


" Masuk aja bi." Ucapku, lalu aku bangun dan duduk di tepi ranjang.


" Taruh di atas meja aja bi, nanti aku yang kompres sendiri?"

__ADS_1


" Tapi bibi di suruh mas Ega buat ngompresin non Indhi."


" Nggak papa bi, Indhi bisa sendiri kok."


" Oh ya bi, ada bahan masakan nggak?"


" Ada non, bibi juga mau masak makan siang, tadi mas Ega bilang non Indhi belum makan siang."


" Tolong tambahin masaknya ya bi, nanti teman-teman Indhi mau kesini soalnya."


" Iya non, kalau begitu bibi permisi dulu non."


Setelah bi Sumi pergi, aku meraih baskom berisi es batu dan mengompres pergelangan kakiku yang masih membiru, aku beberapa kali meringis menahan sakit saat aku tak sengaja menekannya terlalu keras.


Sebentar lagi jam pulang sekolah, lebih baik aku mandi sebelum Arum dan kak Zean sampai disini, badanku terasa sangat lengket, meskipun tidak terlalu suka mandi air hangat, tapi sepertinya hari ini aku akan berendam dengan air hangat untuk mengurangi pegal-pegal di sekujur tubuhku.


" Bi nanti kalau temanku datang, suruh langsung ke kamar ya, Indhi mau mandi soalnya." Teriakku dari ujung tangga.


" Iya non." Balas bi Sumi dari arah dapur.


Aku kembali ke kamar dengan kaki pincangku, aku segera ke kamar mandi yang berendam.


Aku keluar dari kamar mandi untuk mengambil pakaian gantiku dan aku hanya membalut tubuhku dengan handuk saja. Aku merutuki diriku sendiri yang sering sekali lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


" Waow." Seru sebuah suara saat aku keluar, sebuah suara yang sangat aku kenali. Aku menghentikan langkahku saat menyadari seseorang telah masuk ke kamarku dan kini tengah menatapku yang hanya memakai handuk yang memamerkan kukit sawo matangku.


" Kak Zean, kenapa kakak ada di kamarku?" Ucapku terbata, aku kembali masuk ke kamar mandi dan bersembunyi di balik pintu.


" Tadi kata asisten rumah tanggamu aku di suruh langsung ke kamar, katanya kamu yang menyuruhnya."Jawab kak Zean dengan suara yang terdengar seperti sedang gugup.


Aku mengetuk dahiku beberapa kali, lagi-lagi aku begitu ceroboh, seharusnya aku memberi tahu bi Sumi lebih detail, teman yan aku maksud adalah Arum, bukan kak Zean.


" Aku akan menunggu di luar, maaf karena tidak sopan masuk ke kamarmu." Ucap kak Zean, kemudian aku mendengar langkah kak Zean menjauh dan keluar dari kamarku.


Aku bernafas lega, aku segera keluar dari balik pintu, bergegas mengambil pakaian di dalam lemari dan membawanya ke kamar mandi lagi.


Setelah selesai aku keluar dari kamarku dan mendapati kak Zean tengah berdiri di depan pintu. Setelah kejadian tadi, rasa canggung tiba-tib hadir di antara kami, kak Zean beberapa kali mengelus tengkuknya, terlihat sekali dia sedang gelisah.


" Ayo turun kak." Ajakku setelah per sekian detik kami hanya diam.


" Oke."

__ADS_1


Kak Zean memapahku turun dari tangga dan membawaku ke sofa ruang keluarga.


" Soal di kamar tadi, aku, aku tidak bermaksud untuk lancang." Ucap kak Zean mengakhiri keheningan di antara kami.


" Aku yang salah, aku menyuruh bi Sumi membiarkan temanku masuk ke kamarku, tapi yang aku maksud adalah Arum."


" Kenapa kamu tidak membawa pakaian ganti ke kamar mandi?"


" Aku lupa kak."


" Dasar ceroboh. Bagaimana jika orang lain yang melihatnya, itu sangat berbahaya."


" Tidak ada orang lain di rumahku kak, lagi pula kakak yang lebih berbahaya dari orang lain, kakak saja sampai tidak berkedip saat melihatku tadi."


" Karena aku laki-laki normal sweety. Bersyukur saja aku tidak menerkammu tadi."


" Dasar mesum." Ucapku menahan tawa, namun kak Zean malah terbahak dengan ejekanku.


" Bagaimana lukamu, masih sakit?"


" Sudah lebih baik kak."


" Maaf." Ucap kak Zean yang membuatku bingung, kenapa dia harus meminta maaf.


" Benar kata kak Ega, hubungan kita akan menjadi boomerang jika ada yang mengetahuinya."


" Setelah kenaikan kelas aku akan berhenti mengajar, aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi." Ucap kak Zean penuh sesal, dia mengelus luka di wajahku berulang kali dan matanya berkaca-kaca.


" Kenapa harus meminta maaf, ini bukan salah kakak."


" Dan untuk berhenti mengajar, aku akan menghormati keputusan kakak, aku yakin kakak sudah mempertimbangkannya."


" Terimakasih sweety. Aku benar-benar ketakutan tadi. Saat seorang siswi memberi tahuku kamu terluka, aku panik dan hampir menggila, aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepadamu, berjanjilah hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Ungkap kak Zean yang kini tengah menatapku dengan mata birunya yang mampu menghanyutkanku setiap kali aku menatapnya.


" Maaf, sudah membuat kakak khawatir."


" Kamu yakin tidak akan melaporkan Naura ke sekolah?"


Aku hanya menggeleng, meskipun sikap Naura tidak bisa di maafkan, tapi setidaknya aku masih mempunya hati nurani, aku masih memikirkan bagaiman nasib Naura jika aku mengadukannya. Aku juga berfikir setiap orang memiliki kesempatan kedua dan aku berharap Naura akan berubah setelahnya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2