
"Lalu seperti apa kebenarannya kak?" Tanyaku setelah tidak tahan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Mereka berdua terkejut melihat kedatanganku, kak Zean menatapku pasrah semantara aku masih menunggu jawaban dari kak Zean.
Aku berjalan mendekati mereka berdua, mataku menatap nanar kedua lelaki yang sangat ku percaya ini. Aku berhenti tepat di hadapan kak Zean, mataku mulai berair namun aku mencoba untuk menahannya.
" Siapa yang hamil kak? Lalu apa maksud kak Dion kakak pergi meninggalkan dia?"
Kak Zean masih terdiam, dia beberapa kali membasahi bibirnya dan menggigit bibir atasnya.
" Kakak yang akan jelasin atau aku akan bertanya kepada kak Dion?" Aku mengancam kak Zean karena tak kunjung mendengar penjelasannya.
" Siapa yang hamil kak?"Aku bertanya lagi dengan suara serak karena menahan air mata.
" Natasha." Jawab kak Zean.
Duaarr,, bagai di sambar petir di siang bolong, jawaban kak Zean benar benar membuatku terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi. Natasha, dia menyebut nama Natasha mantan kekasihnya. Aku benar benar sudah tidak bisa berfikir jernih lagi, mengingat semua perkataan kak Dion tentang kak Zean yang pergi meninggalkan Natasha dalam keadaan hamil.
" Kakak menghamilinya?" Dengan suara bergetar aku bertanya kepada kak Zean dan berharap semua yang aku dengar adalah kesalahpahaman.
" Jawab." Aku berteriak dan air mataku akhirnya lolos dari bendungannya.
" Tenang Ndi, biar Zean jelaskan semuanya." Kak Dion mencoba menenangkanku tapi aku tak menanggapi kak Dion sama sekali.
" Ze, jawab. Semua yang kak Dion katakan nggak bener kan, kak Dion bohong kan?"Aku memegang kedua lengan kak Zean dan mengguncang tubuhnya.
__ADS_1
Aku mundur beberapa langkah menjauhi kak Zean yang masih terdiam, matanya terlihat mulai memerah.
Aku memutar tubuhku dan menghapus air mata yang sudah berderai di wajahku. Aku melangkahkan kakiku berniat untuk meninggalkan kak Zean dan menganggap diamnya kak Zean adalah jawaban kalau semua yang kak Dion katakan adalah benar.
" Ikut aku, aku akan jelaskan semuanya." Tiba tiba kak Zean mencekal pergelangan tanganku dan menarikku keluar dari rumah kak Dion.
" Lepas." Aku menolak untuk mengikuti kak Zean.
" Aku akan menjelaskan semuanya, semua yang ingin kamu tau, aku akan menceritakan semuanya, tapi nggak di sini, jadi tolong jangan keras kepala dan ikut aku."
Aku akhirnya menyerah dan mengikuti kak Zean masuk ke dalam mobilnya. Kak Zean melajukan mobilnya, aku hanya terdiam, tak berani membayangkan apa yang akan kak Zean katakan nanti, meski demikian aku masih berharap kak Zean tak melakukan hal sejahat itu.
Kak Zean menghentikan mobilnya di tepi danau buatan yang letaknya berada di pusat kota.
" Kejadian itu terjadi sekitar 3 tahun yang lalu saat kami masih berada di tahun pertama di universitas. Aku mengenal Natasha jauh sebelum kami masuk Univertisas. Kami bertemu saat kami masih duduk dibangku sekolah dasar. Natasha baru datang dari luar negeri dan kebetulan hanya aku yang bisa berkomunikasi dengannya karena teman-teman yang lain belum fasih berbahasa asing. Sejak saat itu kami berteman, kami selalu masuk di sekolah yang sama dan hubungan kami semakin dekat. Kami mulai berpacaran saat kami naik kelas 2 SMA. Awalnya semuanya baik-baik saja, kami berpacaran selayaknya muda-mudi yang sedang kasmaran, kemana-kemana kami selalu bersama tapi demi Tuhan aku tak pernah menyentuhnya sampai kejadian mengerikan itu terjadi."
Kak Zean menghentikan ucapannya, dia menarik nafas dalam, seperti mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kalimatnya.
" Hari itu adalah hari terakhir ospek di kampus kami dan sebagai salah satu panitia aku dan Natasha memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman yang lainya untuk makan malam bersama. Kami pulang larut malam, saat aku mengantar Natasha ke rumahnya dia menawariku untuk masuk, kebetulan aku sedang menahan untuk buang air sehingga aku menerima tawaran Natasha. Malam itu kedua orangtua Natasha tidak ada di rumah, aku merasa tidak enak dan berniat pulang namun tiba-tiba di luar nampak ramai karena ada maling yang tertangkap. Natasha sangat ketakutan waktu itu dan karena khawatir aku memutuskan untuk menginap di rumahnya, aku tidur di kamar tamu dan Natasha tidur di kamarnya."
" Kamu ingat aku punya kebiasaan tidur sambil berjalan?". Kak Zean menatapku dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
" Dan entah apa yang terjadi saat aku bangun aku sudah berada di atas ranjang Natasha dalam keadaan telanj*ng dan aku melihat Natasha duduk di tepi ranjang sambil menangis. Aku benar-benar bingung waktu itu, aku tak ingat sama sekali apa yang telah aku lakukan. Aku belum sempat berpakaian saat tiba-tiba orang tua Natasha masuk ke dalam kamar dan mendapati aku yang masih belum berpakaian sementara Natasha masih menangis. Keributan besar terjadi pagi itu, aku di hajar habis-habisan oleh dady Natasha, aku hanya diam dan pasrah mendapat perlakuan itu. Kemudian kedua orang tua Natasha menghubungi orang tuaku menceritakan semua kejadian yang aku sendiri tak tau seperti apa kebenarannya. Hampir dua jam berlalu akhirnya orangtuaku datang, sementara aku sama sekali tidak mendapat jawaban dari Natasha perihal kejadian tadi malam dan apa yang telah aku lakukan kepadanya."
" Aku terkejut ketika mendengar Natasha menceritakan kejadian semalam kepada orang tua kami, dia bilang aku masuk ke kamarnya dan tiba-tiba memaksanya untuk berhubungan badan dan karena aku terlalu kuat akhirnya dia pasrah dan kami melakukannya, lebih tepatnya aku memaksanya untuk melakukannya. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku dengar, meskipun aku bukan orang yang baik tapi aku tak akan perah meniduri wanita secara paksa, terlebih lagi selama tiga tahun kami berpacaran aku juga tak pernah macam-macam kepadanya."
__ADS_1
Kak Zean menghentikan kalimatnya, dia menunduk dan meremas kedua tangannya.
" Setelah mendengar penjelasan Natasha, aku memutuskan untuk bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahi Natasha setelah kami lulus nanti dan aku berjanji untuk tidak meninggalkannya, toh kami juga saling mencintai waktu itu."
" Satu bulan berlalu, Natasha mengabariku, dia bilang dia hamil anakku. Aku memberitahu orangtuaku dan berencana untuk menikahi Natasha segera. Kedua orangtua kami setuju untuk menikahkan kami dan setelah merundingkan tentang rencana pernikahan aku menemani Natasha ke dokter, mamyku dan mamy Natasha juga ikut menemani kami. Lagi-lagi aku di buat terkejut ketika dokter bilang usia kandungan Natasha sudah menginjak usia 3 bulan padahal kejadian waktu itu baru sebulan berlalu. Kami semua syok dan bertanya siapa ayah dari janin yang di kandung Natasha."
" Kakak tau siapa orangnya?". Tanyaku penasaran.
" Nggak. Nggak ada yang tau sampai hari ini siapa yang menghamili dia. Natasha bungkam, sepulang dari pemeriksaan dokter Natasha menghindariku dan sempat menghilang selama dua bulan. Aku sempat mencari ke rumahnya tapi tidak ada satu orangpun di rumah itu. Dua bulan berlalu, dia kembali ke kampus dan kembali kepadaku, tapi sayangnya aku sudah tidak bisa menerima dia lagi. Tiga tahun aku menjaganya dan apa yang dia lakukan padaku benar-benar menyakitiku Pril, dia menghianatiku."
" Lalu kenapa kak Dion menuduh kakak yang meninggalkan kak Natasha?"
" Meskipun aku sakit hati dengan Natasha tapi bukan berarti aku harus mengumbar aibnya, aku memilih diam dan menyembunyikan kebenaran tentang Natasha, bagaimanapun dia pernah menjadi yang terindah di hidupku."
" Tapi aku rasa kalian masih sangat dekat sekarang, apa kakak masih mencintainya?"
Bersambung...
Halo teman-teman semua terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca Lara Cintaku sampai di episode ini, aku harap kalian akan tetap menemaniku sampai cerita ini berakhir ya..
jadi gimana episode kali ini, apakah sedikit membuat kalian ikut sedih juga?
Jangan lupa tinggalkan komentar, agar aku semakin semangat melanjutkan kisah Indhi dan Zean..
Salam sayang semuanya ❤❤❤
__ADS_1