Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 87 Amnesia


__ADS_3

POV AUTHOR


" Dia siapa kak?" Tanya Indhi sontak membuat semua orang yang berada diruangan itu terkejut.


" Ini aku, Zee, kamu sedang bercanda kan?"


" Kamu tidak benar-benar melupakanku kan?" Ucap Zean dengan panik.


" Kamu tidak mengingatnya?" Tanya Ega memastikan.


" Tidak kak, memangnya dia siapa?" Ucap Indhi yang membuat Zean semakin frustasi, baru saja dia merasa lega karena kekasihnya sadar dan dia kini di buat terkejut lagi karena tidak dikenali oleh kekasihnya


" Tapi kamu ingat kakak dan ibu?"


" Hem." Jawab Indhi singkat.


" Kamu ingat Arum dan Dita?" Ega masih melanjutkan pertanyaannya, dia ingin memastikan kondisi adiknya, apakah sama seperti yang ada dalam fikirannya.


" Tentu saja, mereka sahabatku."


" Kalau Naura?"


" Ingat kak, dia teman sekelasku kan."


" Apa kamu ingat kenapa kamu bisa terluka?"


" Aku jatuh dari tangga."


" Kenapa kamu bisa jatuh?"


" Entah, aku lupa."


" Kamu benar-benar tidak mengingatnya?" Ulang Ega sembari menunjuk Zean.


Indhi hanya menggeleng lemah.


" Dia pacarmu." Ungkap Ega mencoba mengingatkan Indhi.


" Pacar, aku?" Indhi menunjuk wajahnya sendiri.


" Kak aku masih kecil, mana mungkin aku punya pacar." Idhi menahan senyumnya, seolah dia sedang mentertawakan sesuatu didalam hatinya.


" Kak tolong beri tau dia untuk pergi, Indhi tidak suka ada orang asing disini." Ujar Indhi yang membuat Zean menelan ludahnya beberapa kali, dia bukan hanya di lupakan, dia juga sudah menjadi orang asing sekarang.


" Ndi, tapi dia pacarmu, dia yang membawamu kerumahsakit." Ibu ikut membuka suara, mencoba untuk membantu Indhi mengingat Zean.


" Indhi tidak punya pacar bu."


" Terimakasih karena sudah menolong saya." Indhi melirik Zean sekilas, lalu dia kembali membuang mukanya.

__ADS_1


Ega yang mulai memahami situasi ini segera menarik lengan Zean dan membawanya keluar.


" Aku rasa ada yang salah dengan kepalanya, bersabarlah, dia pasti akan mengingatmu lagi."


" Tapi kenapa hanya aku kak?" Ucap Zean lemah, dia merasa tak berarti di hidup Indhi karena hanya dia yang dilupakan.


" Aku juga tidak tau, otak manusia sangat rumit, aku akan bertanya kepada profesor yang mengoperasinya besok. Sekarang pulanglah dulu, istirahatlah." Ega yang juga tidak tau kenapa Indhi melupakan Zean hanya bisa menenangkan Zean, dia tahu betul perasaan yang tengah Zean rasakan saat ini, dilupakan.


" Kabari aku jika ada sesuatu kak."


" Ya."


Zean meninggalkan rumahsakit dengan langkah gontai. Perasaannya berkecamuk, senang dan sedih bercampur manjadi satu, dia senang karena Indhi sudah sadar dan baik-baik saja, tapi dia sedih karena Indhi tak mengingatnya.


Zean duduk di pelataran rumahsakit, dia baru mengingat jika mobilnya dia tinggal disekolah, dia berharap ada taxi yang lewat tengah malam begini.


" Bawa mobilku."


" Taxi jarang yang lewat tengah malam begini." Ucap Ega yang membuat Zean kaget. Dia duduk disebelah Zean dan menyodorkan kunci mobil miliknya.


" Bagaiamana kalau kakak membutuhkannya?"


" Aku punya banyak teman disini, aku bisa meminjam mobil mereka jika aku butuh."


" Terimaksih kak." Zean meraih kunci mobil dari tangan Ega, dia lalu berdiri dan berniat untuk pulang, namun kakinya tertahan saat Ega kembali memanggilnya.


" Soal Indhi memelukku waktu itu, aku harap kamu tidak salah faham, dia sedang menenangkanku, ibu kandungku tiba-tiba datang saat Indhi sedang bersamaku, dia hanya sedang menghibur kakaknya, aku harap kamu tidak cemburu padaku." Terang Ega mencoba menjelaskan kejadian waktu itu, Zean tertegun mendengar penjelasan Ega.


semuanya."


Zean merasa sangat bersalah kepada Indhi karena tidak menpercayainya, dia bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Indhi untuk menjelaskan semuanya, dia terlalu cemburu, untuk itu dia berbohong kepada Ega untuk menutupi kebodohannya.


" Aku permisi kak." Pamit Zean.


Zean mengendarai mobil Ega dan meninggalkan rumahsakit, tak ada hentinya Zean memaki dirinya sendiri, karena kebodohannya dia harus putus dengan Indhi dan hari ini dia juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi Indhi.


Wajar saja dia melupakanku, aku memang pantas di lupakan, seseorang sepertiku tidak layak untuk dikenang, gumam Zean dalam hatinya.


***


Keesokan harinya Zean kembali kerumah sakit untuk menemui Indhi, dia mengurungkan langkahnya untuk masuk saat mendengar Ega tengah berbincang dengan profesor yang mengoperasi Indhi.


" Tapi kenapa dia hanya melupakan satu orang prof?"


" Apa ingatannya tentang orang itu akan kembali." Tanya Ega dari dalam sana.


" Seperti yang saya katakan tadi, pengidap Amnesia Lakunar akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak, jadi saya tidak bisa menjelaskan lebih detail kenapa adikmu hanya melupakan satu orang saja."


" Kita bisa melakukan terapi untuk membantunya mengembalikan ingatannya, jika beruntung dia akan mendapatkan kembali ingatannya tapi jika tidak dia akan melupakan orang itu selamanya." Jelas Profesor Hilman yang membuat sekujur tubuh Zean gemetar dan kakinya lemas seketika.

__ADS_1


Zean bergegas pergi saat Profesor Hilman akan keluar dari ruang perawatan Indhi. Zean tidak ingin Ega tau kalau dia mendengar percakapan mereka.


Setelah Profesor Hilman pergi, Zean kembali keruang perawatan Indhi dan mengetuk pintu , ibu membukakan pintu dan mempersilahkannya untuk masuk.


" Bagaimana kondisimu?" Tanya Zean setelah dia masuk.


" Baik." Jawab Indhi singkat.


" Terimaksih karena sudah datang, lain kali tidak perlu datang lagi, saya takut akan merepotkan anda." Ucap Indhi yang begitu menusuk hati Zean.


" Aku akan terus datang, bagaimanapun aku mantan wali kelasmu, anggap saja seorang guru yang sedang menjenguk muridnya."


Ibu yang mendengar percakapan mereka merasa iba, dia tidak menyangka putrinya akan melupakan laki-laki yang amat mencintainya.


****


Hari-hari berikutnya Zean tetap datang meskipun tidak mendapat respon yang baik dari Indhi. Hari ini hari kelima Indhi dirawat dan Zean kembali mengunjunginya, dia tidak peduli dengan sikap cuek Indhi yang tak mengenalinya, baginya melihatnya saja sudah lebih dari cukup. Dia sudah pasrah jika Indhi akan melupakannya selamanya.


Zean datang dengan membawa buket bunga matahari ditangannya, dia masuk dan meletakan bunga itu diatas nakas disebelah tempat tidur Indhi, saat Zean masuk tak ada seorangpun disana karena Ega sedang bekerja dan ibu sedang pulang.


" Are you okay?" Ucap Zean, kalimat itu seperti sudah menjadi kebiasaannya.


" Hem." Jawab Indhi lirih, saking lirihnya Zean hampir tak mendengarnya.


" Aku bawakan bunga matahari untukmu."


" Dulu kamu sangat menyukainya." Dengan canggung akhirnya Zean mengucapkan sesuatu dari mulutnya.


" Terimakasih, tapi aku tidak ingat."


" Iya sayang sekali kamu tidak mengingatnya." Ucap Zean sedih.


" Kenapa anda terus kemari, apa anda tidak lelah?"


" Tidak, aku tidak lelah, aku hanya sedih karena kamu tidak mengingatku."


" Kalau begitu, lupakan saja saya, seperti saya yang melupakan anda!"


" Itu tidak mungkin, aku akan terus mengingatmu meskipun kamu melupakanku, aku akan terus datang meskipun kamu terus mengabaikanku."


" Apa alasannya?"


" Karena aku mencintaimu." Seru Zean tanpa ragu, dia menatap wajah Indhi penuh cinta.


" Oh ya, sebesar apa anda mencintai saya?"


" Entahlah, aku tidak bisa mengukurnya, aku juga tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, hanya saja hari-hariku dipenuhi olehmu, kepalaku penuh sesak dengan bayanganmu dan hatiku begitu sakit ketika kamu melupakanku."


Hening, tidak ada balasan dari indhi, Zean yang mulai sedih beranjak pergi, dia tidak ingin menangis didepan Indhi.

__ADS_1


" Kalau begitu mencintaiku kenapa kamu berniat meninggalkanku ke California?"


Bersambung......


__ADS_2