
Setelah kembali bersekolah aku benar-benar menghabiskan waktuku hanya di sekolah dan juga tempat les. Ibu kembali mendaftarkanku di tempat les yang dulu. Saking sibuknya aku bahkan sudah tidak punya waktu untuk sekedar bertemu kak Zean di luar sekolah, ditambah dua minggu terakhir ini aku menolak ajakan kak Zean untuk berangkat bersama karena aku merasa khawatir akan ada yang melihat kami bersama.
Hari ini aku memelih utuk naik ojek ke sekolah. Sesampainya di kelas aku melihat Dita sudah berada disana sendirian dan sedang sibuk dengan ponselnya.
" Yang lain belum datang Dit?" Aku menghampiri Dita dan duduk di sebelahnya.
" Belom. Ndi lihat ini deh." Dita menunjukan sebuah foto dari ponselnya.
" Kak Natasha." Aku terkejut melihat foto yang aku lihat.
" Kamu kenal sama yang orang ini?" Dita menunjuk foto kak Natasha.
" Hmm, dia mantan pacar kak Zean." Aku berbisik di telinga Dita.
" Kok Naura bisa kenal ya?"
" Entahlah mungkin mereka bersaudara Dit."
" Jangan-jangan Naura juga tau kalau kalian pacaran."
" Lagi pada ngomongin apa sih?" Imbuh Arum yang baru datang.
" Nih liat." Dita menunjukan ponselnya.
" Kak Natasha. Ngapain dia foto sama Naura?." Arum juga terkejut melihat foto kak Natasha dan Naura di akun sosial media milik Naura.
" Kata Indhi mungkin mereka saudaraan Rum."
" Nggak mungkin deh, kata om aku keluarga Natasha itu asli orang luar negeri, di sini mereka nggak punya saudara dekat. Setahuku juga cuma ada kak Dion, mereka saudara jauh katanya tapi kan wajah kak Dion juga bule, kalau Naura lokal banget wajahnya jadi nggak mungkin mereka bersaudara."
" Kayanya kamu harus hati-hati deh sama Naura." Imbuh Dita dengan wajah serius yang jarang dia perlihatkan.
Aku hanya mengangguk mendengar nasihat dari kedua temanku ini. Sebenarnya aku tak pernah masalah dengan Naura yang menyukai kak Zean diam-diam, hanya saja setelah melihat foto Naura bersama kak Natasha aku merasa khawatir.
Bel tanda masuk telah berbunyi tapi Naura belum juga datang membuat kami terheran, padahal dia tidak pernah telat sebelumnya. Pagi ini seharusnya kak Zean mengajar di kelas kami, tapi 15 menit telah berlalu dan dia belum juga masuk kelas.
Naura masuk kedalam kelas dengan nafas tersenggal-senggal, sepertinya dia berlari menuju kelas. Aku menganga melihat penampilan Naura hari ini, dia merubah semua penampilannya. Rambutnya yang semula panjang dan ikal sekarang sudah lurus dan di potong pendek sebahu, rambut yang biasanya selalu dia ikat kini di biarkan terurai, baju seragamnya dia kecilkan sehingga bentuk badannya lebih terlihat dan yang paling membuatku syok adalah rok yang awalnya selalu panjang selutut sekarang telah berubah menjadi rok mini.
Setelah Naura, kini giliran kak Zean yang masuk ke dalam kelas dengan wajah penuh keringat.
" Maaf anak-anak bapak terlambat, ada suatu hal yang tidak bisa bapak tinggal." Ucap kak Zean sambil berdiri di tengah kelas.
__ADS_1
" Indhi bisa tolong ambilkan laptop bapak di mobil, bapak lupa membawanya. Bapak menaruhnya di kursi belakang." Kak Zean mengahampiriku dan memberikan kunci mobilnya kepadaku.
Aku meraih kunci itu dari tangan kak Zean dan segera pergi mengambil laptop di mobilnya.
Aku membuka pintu mobil dan memasukan sebagian tubuhku ke dalamnya. Setelah mengambil tas laptop, perhatianku teralihkan pada sebuah benda kecil berwarna merah muda di kursi depan. Aku meraihnya dan ternyata sebuah lipstik. Aku memasukannya ke saku dan segera keluar dari mobil.
Aku berjalan ke kelas dengan penuh tanya. Siapa pemilik lipstik ini? Sudah dua minggu aku tak pernah masuk mobil kak Zean dan aku juga tidak memiliki lipstik seperti ini. Apa mungkin punya mamy, tapi warna ini sepertinya tidak cocok untuk mamy, warnanya lebih cocok untuk gadis seumuranku.
Aku menyerahkan tas laptop itu kepada kak Zean, dia mematapku tapi aku segera kembali ke tempat dudukku.
**
Pelajaran telah usai dan kak Zean sudah pergi meninggalkan kelas. Aku memutar tubuhku ke belakang lalu mengeluarkan lipstik yang tadi ku temukan dan menaruhnya di meja Arum dan Dita.
" Lipstik siapa?" Tanya Dita.
" Entah, aku menemukannya di..."
" Ah itu kan lipstik aku, aku pikir hilang, terimakasih Ndi, dimana kamu menemukannya." Ucap Naura momotong kalimatku.
" Oh punya Naura, aku menemukannya di dalam mobil pak Zean."
" Oh ya, pantas saja aku tak menemumannya dimana-mana."
" Kok lipstik kamu bisa ada di mobil pak Zean Nau?" Tanya Dita mewakiliku.
" Aku tadi berangkat bersama pak Zean." Terang Naura yang membuatku sedikit gelisah.
" Kok bisa?" Arum menimpali.
" Tadi mobilku mogok, kebetulan pak Zean lewat dan dia memberiku tumpangan."
" Oh." Jawab Arum singkat.
" Nau kamu kok beda banget si hari ini, gaya kamu mirip kaya Indhi, kamu ngikutin gaya Indhi ya." Tanya dita dengan nada sinis.
" Memangnya yang penampilannya kaya gini cuma Indhi doang. Aku cuma ngikutin tren aja."
" Oh ya." Suara Arum tak kalah sinis dari Dita.
" Udah nggak usah di ributin. Lagian Naura juga cocok dengan penampilan barunya, Naura terlihat cantik." Pujiku dengan senyum penuh paksa di wajahku.
__ADS_1
" Makasih Ndi."
Seorang guru masuk ke kelas kami dan memberitahu bahwa guru yang seharusnya mengajar tidak datang karena sakit dan beliau hanya menitipkan tugas untuk kami kerjakan.
Aku memutuskan untuk ke perpustakaan setelah menyelesaikan tugasku, sementara ketiga temanku masih menyelesaikan tugas mereka.
Perpustakaan sangat sepi, hanya ada ibu penjaga di depan ruangan. Aku masuk ke dalam perpustakaan dan mencari buku yang bisa aku baca. Masih tersisa satu jam sampai mata pelajaran kosong ini berakhir dan aku ingin menghabiskannya dengan membaca sesuatu yang membuatku merasa tenang.
Jujur setelah melihat perubahan Naura aku merasa sedikit risih. Benar apa kata Dita penampilan Naura memang sangat mirip denganku, bahkan tas dan sepatu sekolahnya saja dia ganti menjadi seperti milikku.
Aku berjinjit dan berusaha mengambil buku di rak paling atas, namun sia-sia aku tak bisa meraihnya. Aku terdiam saat sebuah tangan memegang bahuku dan tangan yang lainnya mengambil buku yang akan aku ambil sehingga badanku seolah terkunci oleh si pemilik tangan.
Dari aroma parfumnya aku sudah bisa menebak siapa pemilik tangan itu, aku berbalik dan benar saja kak Zean yang berada di belakangku.
" Kakak ngapain di sini?" Ucapku dengan berbisik.
" Aku merindukanmu." Bisik kak Zean di telingaku.
" Aku juga, tapi aku harus pergi, bagaimana kalau ada yang melihat."
" Tidak ada orang di sini, sebentar saja, aku hanya ingin melihat wajahmu sebentar saja."
Kak Zean menatapku penuh kerinduan, aku balas menatapnya, mengamati mata birunya dan menyusuri setiap inci wajah tampannya.
" Aku sampai salah orang saking rindunya kepadamu." Ucap kak Zean setelah dia puas menatapku.
" Oh ya."
" Hmmm, tadi aku melihat seorang gadis di pinggir jalan, dari belakang dia sangat mirip denganmu, aku menepikan mobilku dan mendekatinya tapi ternyata dia teman sebangkumu dan dia minta tolong padaku agar memberinya tumpangan ke sekolah. Kenapa dia berpenampilan begitu sekarang, dia hampir saja menyerupaimu dan aku tidak menyukainya."
Ada kelegaan setelah mendengar cerita dari kak Zean, aku merasa bersalah karena sempat berfikiran buruk terhadapnya.
Aku meraih buku dari tangan kak Zean, aku berjinjit dan membisikan sesuatu di telingannya.
" Temui aku di cafe biasa, aku sangat merindukan kakak."
Aku berlalu meninggalkan kak Zean dengan senyuman di wajahku. Mulai sekarang aku harus lebih percaya kepada kak Zean agar aku tidak mudah terpancing oleh sesuatu yang kebenarannya masih belum tentu.
Bersambung...
Hye apa kabar hari ini, semoga kalian dalam keadaan sehat ya..
__ADS_1
Aku jadi rindu sekolah saat menulis bab ini, apa kalian merasakannya juga?
❤❤