Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 84 Amarah Ega


__ADS_3

POV AUTHOR


Sudah hampir setengah jam namun Indhi belum juga keluar dari ruang Radiologi, Zean yang sedari tadi menunggu semakin merasa gelisah, apalagi Ega juga belum datang, padahal perawat sudah memanggilnya beberapa waktu yang lalu.


Zean yang sedah mondar-mandir di depan pintu segera menghentikan pergerakan kakinya saat pintu ruang Radiologi terbuka dan dokter Aditya keluar dari sana.


" Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Zean setelah bertatap muka dengan dokter Aditya.


" Apa keluarganya belum datang?" Ucap dokter Aditya dan Zean hanya menggeleng lemah.


"Pasien harus segera di operasi karena adanya pendarahan di otak pasien." Jelas dokter Aditya.


" Lakukan apapun dok, tolong selamatkan Indhi." Pinta Zean dengan wajah melasnya.


" Masalahnya kami harus menunggu keluarga pasien untuk menandatangani formulir persetuajuan operasi."


" Tapi keluarganya belum datang, tidak bisakah dia segera di operasi, bagaimana jika kondisinya memburuk, apa pihak rumahsakit akan bertanggung jawab?" Seru Zean yang mulai kehilangan kendali.


" Rumahsakit juga memiliki prosedur, kami tidak bisa melakukan operasi tanpa persetujuan keluarga pasien."


" Bukankah kata dokter Indhi harus segera di operasi, kenapa harus menunggu, operasi dia segera!" Teriak Zean.


Dokter Aditya hanya menggeleng dan menyesal karena tidak bisa menyalai prosedur rumah sakit.


" Saya mohon dok, keluarganya juga pasti setuju, selamatkan dia dok, saya tidak ingin kehilangan dia." Pinta Zean dengan pasrah, dia sampai berlutut di depan dokter Aditya dan air matanya kembali menetes.


" Bangunlah, jangan seperti ini." Dokter Aditya meraih kedua lengan Zean dan membantunya berdiri.


" Bagaimana kondisinya Dit?" Tanya Ega, nafasnya tersenggal-senggal karena berlarian menuju ruang Radiologi.


" Syukurlah kamu sudah datang Vin, dia harus segera di operasi, ada pendarahan di otaknya."


" Tolong hubungi dokter bedah saraf yang bisa melakukan operasi dengan segera, operasi dia sekarang juga Dit."


" Iya vin, sebelumnya kamu harus menandatangani surat persetujuan operasi terlebih dahulu." Ucap dokter Aditya mengingatkan temannya yang masih mengenakan baju operasi, dia pasti baru selesai operasi dan tidak sempat mengganti bajunya setelah mendengar kabar tentang adiknya.


Ega hanya mengangguk dan pergi untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan, namun dia menghentikan langkahnya saat mengingat Zean masih berdiri didepan ruang Radiologi, dia berbalik dan menghampiri Zean.


" Tunggu disini, aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Ega lalu pergi.


**


Setelah selesai mengurus surat persetujuan, Ega melihat ibunya dan kedua teman Indhi datang, Ega segera menghampiri ibunya yang nampak panik dan kebingungan.

__ADS_1


" Ega, dimana adikmu, bagaimana keadaanya?" Ibu segera menodong pertanyaan begitu Ega menghampirinya.


" Dia akan di operasi bu."


" Operasi, apa kondisinya sangat parah?" Tanya ibu lagi dengan suara bergetar.


" Ada pendarahan di otaknya bu, tapi Ega yakin Indhi akan baik-baik saja." Ucap Ega menenangkan ibunya, dia lalu memeluk ibunya yang mulai menangis.


Ega melepas pelukannya saat ponselnya berdering, dia segera meraih ponselnya.


" Adikmu sudah masuk ruang operasi, Profesor Hilman yang akan melakukan operasi." Ucap dokter Aditya dari seberang sana.


" Profesor Hilman?" Tanya Ega tak percaya.


" Ya, kebetulan hanya beliau yang sedang tidak ada jadwal dan beliau mengajukan diri begitu tau dia adikmu."


" Syukurlah, terimaksih Dit."


" Sudah kewajibanku Vin. Oh ya apa kamu membawa pakaian ganti, kasihan pacar adikmu, bajunya penuh darah."


" Hem, akan aku ambilkan di mobil nanti."


Setelah mengakhiri panggilan dari dokter Aditya, Ega mengajak ibu dan kedua teman Indhi menuju ruang operasi.


Ega pamit kepada ibunya untuk pergi sebentar, sementara ibu beserta Arum dan Dita menghampiri Zean.


" Zean, bagaimana kondisi Indhi?" Tanya ibu, Zean yang tengah menunduk segera mengangkat kepalanya lalu dia berdiri untuk menyalami ibu dari kekasihnya.


" Zean juga masih belum tau bu, mereka membawa Indhi masuk beberapa menit yang lalu."


" Indhi akan baik-baik saja, dia pasti kuat." Gumam ibu yang kemudian duduk.


Zean dan kedua teman Indhi mengamini doa ibu, mereka juga berharap Indhi bisa melewati semua ini.


" Bagaimana keadaan disekolah?" Tanya Zean lirih, dia tidak ingin ibu mendengar percakapan mereka.


" Naura sudah di bawa ke ruang BK, guru BK juga sudah memanggil orangtua Naura kak." Ucap Arum setengah berbisik, dia tidak ingin menambah beban fikiran ibu sahabatnya itu.


" Kali ini aku tidak akan memaafkannya." Ancam Zean dengan wajah marahnya.


****


" Pakai ini, bajumu sangat kotor." Ega menyodorkan paper bag yang berisi sebuah kemeja kepada Zean.

__ADS_1


" Terimaksih kak." Zean meraih paper bag itu lalu membawanya ke kamar mandi, dia baru menyadari jika pakaian dan tangannya penuh dengan noda darah.


" Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ega, dia memandangi Arum dan Dita secara bergantian setelah Zean pergi.


" Jawablah, kakak dan ibu juga ingin tau kenapa Indhi bisa begini." Ulang Ega karena mereka berdua belum juga menjawab.


Arum akhirnya menceritakan secara detail semua yang terjadi di sekolah, ibu beberapa kali menutup mulutnya saat mendengar cerita Arum, sementara Ega wajahnya mulai memerah karena menahan amarah.


" Jadi pelakunya gadis itu lagi?" Tanya ibu setelah Arum selesai menceritakan kronologinya.


" Iya bu."


" Dari awal seharusnya kita memang melaporkan anak itu ke sekolah." Seru ibu dengan amarah di wajah lelahnya.


" Bu tunggulah disini, operasinya mungkin sekitar tiga sampai empat jam, Ega akan kesekolah sebentar ." Pamit Ega setelah mendengar cerita dari Arum.


" Tapi Ega..." Ucap ibu keberatan.


" Sebelum operasinya selesai Ega pasti sudah kembali bu."


" Kalian temani ibu, kakak akan segera kembali." Titah Ega kepada Arum dan Dita, lalu tanpa persetujuan ibu dia segera pergi ke sekolah.


Ega berpapasan dengan Zean yang baru selesai mengganti pakaiannya, Ega hanya melewati Zean begitu saja, Zean menatap punggung Ega dengan heran.


" Kak Ega mau kemana, kenapa dia begitu emosi?" Tanya Zean setelah bergabung dengan ibu dan kedua muridnya.


" Mau ke sekolah kak." Ucap Arum sedikit ragu.


" Kamu menceritakan semuanya?" Tanya Zean lagi.


" Maaf kak."


" Bu, Zean akan menyusul kak Ega ke sekolah, Zean khawatir..." Zean tidak melanjutkan kalimatnya.


" Biar ibu saja, kalian tunggulah disini, ibu juga khawatir dia akan kehilangan kendalinya."


" Ibu yakin." Tanya Zean.


" Iya, setidaknya jika ibu yang menyusulnya, ibu bisa sedikit meredakan amarahnya."


Ibu kemudian meraih tasnya dan pergi meninggalkan rumahsakit untuk menyusul Ega. Dia tau benar bagaimana anak laki-lakinya itu, Ega begitu menyayangi adiknya, apalagi setelah ibu tidak sengaja mengetahui tentang perasaan Ega terhadap putri kecilnya itu, ibu yakin Ega tidak akan bisa mengontrol emosinya, ibu menyesal tidak menghentikan Ega untuk pergi ke sekolah, di sepanjang jalan ibu terus berdoa semoga putrinya baik-baik saja dan anak lelakinya tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan hidupnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2