Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 91 Menghitung Hari


__ADS_3

Sepulangku dari rumahsakit hampir setiap hari kak Zean datang mengunjungiku, ibu yang sudah harus bekerja merasa sedikit lega saat meninggalkanku, beliau begitu yakin kak Zean akan menjagaku dengan baik.


Sementara kak Ega masih sibuk dengan pekerjaannya di rumahsakit, dia sudah mengajukan surat pengunduran diri, namun kak Ega masih harus memenuhi tanggungjawabnya sebelum dia berhenti.


***


Hari-hari telah terlewati dan kondisiku semakin membaik, sakit dikepalaku sudah hampir tidak pernah aku rasakan lagi.


Hari ini, setelah tiga minggu menghabiskan libur semester dengan beristirahat, aku memutuskan untuk pergi ke sekolah. Awalnya ibu dan kak Ega melarangku, tapi aku bersikeras untuk pergi dan akhirnya mereka mengalah dan mengizinkanku untuk pergi kesekolah.


Pagi ini kak Zean datang untuk mengantarku kesekolah, kali ini kami tidak perlu bermain petak umpet lagi karena seluruh sekolah sudah mengetahui hubungan kami.


" Kamu yakin mau sekolah?" Tanya kak Zean, sekilas dia melirikku lalu dia kembali fokus pada jalanan didepannya.


" Yakin." Jawabku mantap.


Kak Zean menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolah, dia turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untukku.


Arum dan Dita yang sudah menungguku disana segera menghampiriku dan bersiap untuk membantuku.


" Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu berlebihan." Tolakku saat mereka akan menuntunku.


" Yakin?" Tanya Arum.


" Kakak titip dia ya Rum." Ucap kak Zean sembari mengelus kepalaku yang tertutup sebuah topi rajut, aku sengaja memakainya untuk menutupi kepalaku yang masih botak.


" Siap kak." Jawab Arum dan Dita bersamaan.


" Kalau kepalamu sakit lagi, segera hubungi aku, mengerti!" Titah kak Zean.


" Masuklah."


Aku mengangguk dan segera masuk kedalam sekolah. Disepanjang jalan menuju kelas, aku tak luput dari tatapan murid-murid disekolahku. Ada yang menatapku penuh kebencian, lalu ada juga yang menatapku dengan kasihan.


Aku mengabaikan mereka semua karena dari awal aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapi mereka, tidak mudah bagi mereka untuk menerimaku setelah apa yang aku lakukan, meskipun bukan dosa tetap saja mereka tidak akan semudah itu menerimaku.


Kami masih berada di kelas yang lama karena hari ini kami baru akan memilih jurusan sesuai keinginan kami. Aku berharap aku dan kedua sahabatku masih bisa bersama dalam satu kelas.


" Maafin kita ya Ndi, kita udah keterlaluan sama kamu waktu itu."


" Kamu udah sehat Ndi?"

__ADS_1


" Apa kamu baik-baik saja."


Pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulut teman-temanku begitu aku sampai dikelas dan aku hanya menjawab seperlunya saja, aku tau mereka tidak benar-benar peduli padaku, mereka hanya penasaran dengan hubunganku dan kak Zean.


" Kemana Naura, kok nggak kelihatan." Ucap Arum begitu kami duduk.


" Dia pindah sekolah." Jawab Bimo, ketua kelas kami yang ternyata mendengar percakapan kami.


" Serius Bim?" Tanya Dita penuh semangat.


" Ya, sebelum kalian datang, dia datang untuk berpamitan dan meminta maaf kepada kita semua, terutama kamu Ndi, dia juga bilang kalau kamu memang pintar, jadi kita tidak perlu meragukan kamu dan pak Zean." Jelas Bimo.


" Maaf ya Ndi waktu itu tidak membelamu, aku hanya berfikir yang kalian lakukan memang salah, aku harap ini bisa jadi pelajaran berharga buat kamu." Ucap Bimo dengan bijak.


" Iya Bim, kami memang salah." Jawabku mengakui kesalahanku.


*****


Setelah pembagian kelas aku segera pulang, kak Zean sudah menungguku di depan sekolah. Kami menjadi pusat perhatian tat kala kak Zean membukakan pintu mobil untukku, mereka saling berbisik satu sama lain, ada yang merasa iri dengan keromantisan kami, ada yang memuji kecocokan kami, serta ada pula yang memaki dan menghujat kami.


Ya begitulah manusia, akan selalu ada yang mencintai dan membenciku, oleh sebab itu aku hanya berusaha menjadi yang tebaik versi diriku, karena yang baik bagiku belum tentu baik untuk orang lain.


" Bagaiman hari ini, are you happy?" Tanya kak Zean antusias.


" Oh ya, baguslah kalau begitu, jadi mereka bisa terus menjagamu saat aku pergi nanti."


" Kakak pergi hanya dua tahun bukan untuk selamanya, jadi tidak usah terlalu berlebihan begitu." Aku jengkel begitu mendengar perkataan kak Zean yang seolah-olah akan meninggalkanku selamanya.


" Maaf, jangan cemberut begitu." Ucapnya sembari mengelus kepalaku dengan tangan kirinya.


Lama kami saling diam dan larut dalam fikiran masing-masing. Aku terfikirkan akan omongan kak Zean tadi, aku tidak bisa membayangkan jika kak Zean akan meninggalkanku selamanya suatu hari nanti. Aku tau jodoh sudah di atur oleh Tuhan, tapi untuk sekarang aku hanya berharap dialah jodohku.


" Kak aku lapar." Rengekku ditengah kepadatan lalu lintas siang ini.


" Mau makan apa?"


" Apa saja asal mengenyangkan."


Kak Zean hanya mengaguk dan mengendarai mobilnya membelah kepadatan lalu lintas.


Dia membawaku ke alun-alun kota, dimana di sepanjang jalan berdiri tenda-tenda penjual makanan, meskipun belum malam tapi tempat ini sudah lumayan ramai.

__ADS_1


" Mau bakso?" Tawar kak Zean, dimenunjuk warung tenda yang berada di seberang sana.


" Boleh."


Kak Zean meraih tanganku dan menuntunnya menuju warung tenda yang menjual bakso. Kami duduk di sebuah kursi plastik yang disediakan oleh penjual, aku merasa seperti Dejavu, aku ingat saat pertama kali kami makan bersama setelah nonton film lebih dari setahun yang lalu.


" Kenapa senyum sendiri?" Tanya kak Zean yang menyadari aku tengah tersenyum.


" Apa tempat ini mengingatkan kakak tentang sesuatu?" Jawabku sok misterius.


" Tentu saja, aku pernah mengajak gadis kecil untuk makan nasi goreng dipinggir jalan, lalu lihatlah sekarang, gadis kecilku sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dia menemaniku makan dipinggir jalan lagi."


Aku terkekeh mendengar ucapan kak Zean yang begitu manis.


" Pril." Panggil kak Zean dengan lembut dan entah mengapa aku begitu menyukainya ketika dia memanggil namaku.


" Ya."


" Saat aku pergi nanti, aku harap kak Ega akan menjagamu dengan baik." Ucap kak Zean, dia masih belum tau tentang rencana kak Ega.


" Kenapa memangnya, aku bisa menjaga diriku sendiri?"


" Kamu begitu ceroboh, itu yang aku khawatirkan."


" Kenapa bukan kakak saja yang menjagaku." Ujarku bercanda, namun sepertinya kak Zean mengganggapnya serius.


" Hem, aku akan membatalkannya, aku bisa mengambil S2 di sini kan." Jawabnya tanpa fikir panjang.


" Kak, aku hanya bercanda. Pergilah, aku janji akan menjaga diriku dengan baik, karena kak Ega tidak bisa menjagaku, dia juga akan belajar di luar negeri."


" What, serius?" Ujar Kak Zean terkejut.


" Hem, dia juga akan berangkat akhir Agustus nanti."


" Lalu siapa yang akan menjagamu?"


" Aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri, kenapa kalian begitu mengkhawatirkanku sih."


" Karena kami sangat peduli padamu."


Aku kehabisan kata-kataku, aku hanya bisa bersyukur karena memiliki mereka yang begitu peduli padaku. Ditengah kebersamaan kami yang tinggal menghitung hari lagi, aku tersadar, betapa berharganya setiap waktu yang telah kami habiskan bersama.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2