
Aku masuk ke kamarku setelah membantu kak Ega membereskan peralatan makan kami. Aku membuka satu per satu kado yang aku terima hari ini. Pertama aku membuka kado pemberian kak Ega. Sebuah kalung dengan liontin bulan dan bintang, aku mebuka kartu ucapan yang terselip di dalam kotak.
"Sebenarnya ini sepasang dengan gelang tapi seseorang telah merebutnya dari kakak, semoga kamu suka ya."
Aku tersenyum membaca kartu ucapan kak Ega. Aku kemudian membuka hadiah dari kak Zean, aku terkejut melihat isinya, sebuah gelang dengan bentuk yang hampir serupa dengan kalung pemberian kak Ega.
" Sebenarnya ini sepasang dengan kalung tapi aku hanya bisa membelikan gelangnya saja, kerena kalungnya sudah terjual lebih dulu, pasti akan cantik di tanganmu, selamat ulang tahun dan maafin aku".
Aku tertawa setelah membaca kartu ucapan kak Zean, bagaimana mereka bisa menulis ucapan yang hampir sama, mereka benar-benar sehati.
Aku segera memakai keduanya, aku berdiri dan melihatnya di cermin, mereka terlihat sangat cantik melekat di leher dan tanganku. Aku sangat bahagia hari ini, kedua orang yang aku sayangi memindahkan bulan dan bintang di leher dan tanganku.
Aku mengetuk kamar kak Ega dan dia mempersilahkan-ku untuk masuk. Sore ini kami akan ke rumah ibu untuk mengambil anjing peliharaanku yang sudah sebulan ini berpisan denganku. Di rumah ibu kak Ega menitipkan Cleo ke asisten rumah tangga kami.
" Udah siap?" Tanya kak Ega setelah melihatku masuk ke dalam kamarnya.
" Udah."
" Kalungnya cantik di leher kamu." Puji kak Ega.
" Makasih. Hmmm aku juga punya pasangannya." Aku menganggkat tanganku dan memamerkan gelang pemberian kak Zean.
" Dari Zean." Tebak kak Ega
" Kok kakak bisa tau."
" Kakak ketemu sama dia di toko perhiasan waktu itu."
" Ohh jadi kak Zean yang udah ngambil gelang ini dari kakak." Aku meledek kak Ega yang terlihat tidak suka melihatku memakai gelang pemberian kak Zean.
" Hmm, ayo pergi sekarang."
Aku membuka pagar rumah dan tak sengaja melihat kak Zean keluar dari rumah kak Dion lalu dia naik taxi yang sudah menunggu di depan rumah kak Dion. Bukannya tadi mereka pergi bertiga, kenapa sekarang dia malah pulang sendirian.
" Tutup lagi pagarnya." Teriak kak Ega dari dalam mobil.
" Iya." Aku mengalihkan pandanganku dari taxi yang membawa kak Zean lalu menutup pagar dan masuk ke dalam mobil.
Waktu berlalu, kak Ega sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah ibu. Aku ragu untuk masuk ke dalam rumah ibu, apa yang harus aku katakan jika bertemu dengan ibu, apa lebih baik aku di sini saja biar kak Ega yang masuk dan mengambil Cleo.
__ADS_1
" Ayo turun." Ajak kak Ega.
" Aku tunggu di sini aja ya, kakak aja yang masuk, Indhi takut ketemu ibu." Aku menolak untuk turun.
" Ada kakak, nggak papa ayo turun." Kak Ega menggenggam tanganku dan meyakinkanku untuk turun.
Aku menuruti perkataan kak Ega, aku turun dari mobil dan berjalan di belakang kak Ega. Kak Ega mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. Kak Ega mendorong pintu dan terbuka, tidak di kunci rupanya.
Kami masuk dan mengamati sekeliling tapi tak menemukan siapapun di dalam rumah, aku dan kak Ega naik ke atas untuk mengambil Cleo. Saat sedang menaiki tangga tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, kami menoleh dan melihat ibu keluar dari kamarnya.
" Masih ingat pulang kalian?" Pertanyaan ibu terdengar sangat dingin.
Aku menaiki satu anak tangga dan bersembunyi di belakang kak Ega, ibu sama sekali tak menoleh ke arah kami saat ibu berjalan melewati kami dan menuju dapur.
" Kami hanya akan mengambil Cleo." Jawaban kak Ega terdengar sama dinginnya.
Kak Ega menuntun-ku menaiki tangga, aku bernafas lega saat tiba di depan kamarku. Aku masuk ke dalam kamar lalu segera di sambut oleh Cleo. Aku menggendong anjing kecil itu dan membawanya duduk di atas kasurku.
" Aku sangat merindukanmu Cleo, maafin aku ya ninggalin kamu sendirian."
Aku mengelus Cleo yang terlihat nyaman di pangkuanku. Mungkin dia juga merindukan-ku. Aku mengamati sekeliling, kamar-ku nampak bersih dan rapi, Cleo juga nampak terawat. Kak Ega menitipkan Cleo di tangan yang tepat, pikirku.
" Kami pergi bu, jaga kesehatan ibu. Kami akan pulang saat ibu sudah tidak egois lagi." Ucap kak Ega lalu ke luar dari rumah ibu.
Kami sempat mampir ke restoran untuk makan malam sebelum pulang ke rumah. Hari ini kak Ega benar benar menemaniku seharian, tak ada panggilan darurat dari rumahsakit sehingga kami bisa melewati hari ulang tahunku bersama. Sebenarnya aku merasa sedih saat ibu tak mengucapkan selamat ulang tahun untuk-ku tadi, aku masih berharap ibu akan mengirimkan pesan untuk-ku, tapi sampai malam berlalu, sampai aku tak lagi terjaga aku tak mendapatkan pesan yang aku harapkan. Mungkin ibu lupa, atau mungkin aku sudah tak penting lagi di hidup ibu. Tahun lalu aku melewati ulang tahunku tanpa ayah dan tahun ini di usiaku yang menginjak angka 15 aku harus melewatinya tanpa ibu. Akhirnya aku melewati hari ini dengan perasaan bahagia dan juga sedih yang menyelimutinya.
POV ZEAN
Hari ini adalah hari ulang tahun Indhi, aku sudah menyiapkan hadiah dari beberapa hari yang lalu tapi aku masih belum tau bagaimana cara untuk memberikan hadiah ini.
Aku sengaja pergi ke rumah Fajar, berharap dia ada di sana dan sedang merayakan ulang tahunnya dengan ponakan Fajar.
Aku kecewa karena tak menemukan dia di rumah Fajar. Aku bersemangat saat Arum mengajaku dan Fajar untuk pergi ke rumah Indhi dan memberi kejutan untuknya. Namun lagi lagi aku kecewa karena dia tak berada di rumahnya. Arum mencoba menghibunginya dan dia mengirim sebuah alamat, dia pindah rumah, pantas saja aku tak pernah melihat dia saat aku sengaja menunggu di dekat rumahnya.
Kami bertiga pergi ke rumah barunya. Aku sangat senang melihat dia setelah hampir sebulan ini kami tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi lewat ponsel. Dia terkejut melihat kedatanganku dan sepertinya tidak mengharapkan kehadiranku.
Kami masuk ke dalam, aku kaget melihat Dion berada di rumah ini dan terlihat akrab dengan kak Ega.
Selama di rumah Indhi aku hanya diam, perasaanku tak karuan, aku gelisah melihat kedekatan Indhi dan Dion, belum lagi sikap kak Ega yang nampak tak senang dengan keberadaanku.
__ADS_1
Aku memberikan kado untuknya, dia menolak tapi aku memaksanya.Aku sedih karena tak melihat dia tersenyum kepadaku, dia juga begitu acuh padaku. Kenapa aku begini, bukankah aku yang mendorongnya untuk menjauhiku, jadi ini adalah konsekuensi yang harus aku rasakan.
Aku memutuskan untuk tidak pulang bersama Fajar dan mampir ke rumah Dion terlebih dahulu. Aku ingin memastikan sedekat apa hubungan Dion dan Indhi. Aku mengetuk pintu rumah Dion, dia tekejut melihatku berada di depan rumahnya.
" Zean, ada apa. Ayo masuk!"
" Nggak usah Yon, di sini aja."
" Hmmm, kenapa kamu nggak bilang kalau dia tinggal di sebelah rumahmu?" Aku membuka percakapan.
" Dia melarangku."
" Benarkah. Lalu kenapa kamu begitu dekat dengan dia."
" Kenapa. Kamu keberatan?"
" Tidak. Hanya saja....." Ucapanku menggantung.
" Aku menyukai gadis itu. Aku akan mengejarnya. Kalian tidak dalam satu hubungan kan?"
Bagai tersambar petir, aku terkejut mendengar ucapan Dion, aku seperti terbakar, aku marah mendengar pengakuan Dion tapi aku berusaha untuk menahannya.
" Oh ya, sejak kapan kamu menyukainya?"
" Sejak pertama bertemu di pantai." Jawab Dion tanpa ragu.
" Kamu tidak menyukainya juga kan?" Tanya Dion.
Aku hanya terdiam, ragu akan menjawab apa.
" Aku anggap kamu tak menyukainya juga ya."
Aku masih diam dan memutuskan untuk meninggalkan rumah Dion. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
Jujur aku sangat marah, aku cemburu, tapi apa hak-ku melarang Dion untuk menyukainya juga. Aku hanya iri pada Dion, dia dengan mudahnya bisa mengungkapkan rasa sukanya, sedangkan aku, ketakutan di masa lalu membuatku tak bisa dengan mudahnya mengungkapkan perasaanku.
__ADS_1
Bersambung..