Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 76 Mari seperti dulu lagi


__ADS_3

"Tapi apakah kalian benar-benar saudara kandung, wajah kalian tidak mirip sama sekali?" Ucap dokter Aditya setelah menuliskan resep obat untukku. Aku dan kak Ega saling menatap untuk sesaat.


" Pertanyaanmu sungguh luar biasa dokter Aditya." Jawab kak Ega tanpa membenarkan ataupun menyangkal pertanyaan dari dokter Aditya.


" Kita pulang sekarang?" Ajak kak Ega, kemudian mendorong kursi rodaku keluar dari ruangan dokter Aditya.


" Terimakasih Dit." Ucap kak Ega setelah kami berada di ambang pintu.


" Sudah kewajibanku Vin." Balas dokter Aditya ramah.


Kak Ega kembali mendorong kursi rodaku menuju apotek. Dia menyuruhku untuk menunggu, sementara dia pergi untuk mengambil obat milikku.


" Selera dokter Kevin ternyata bocah ABG, pantas saja dia tidak pernah melirik kita-kita yang sudah dewasa." Ucap salah seorang perawat yang lewat di depanku dan menatapku dengan tajam. Sementara temannya hanya diam, dia beberapakali menyikut lengan temannya, memberitahukan untuk berhenti membicarakanku karena sedang menatap mereka.


Aku hanya tersenyum dan menundukkan kepalaku sopan saat mereka berjalan melewatiku. Jika dulu, aku pasti akan sangat girang ketika orang-orang menganggapku kekasih kak Ega dan aku akan membumbuinya agar orang-orang tersebut semakin berfikir demikian, tapi sekarang mendengar kalimat itu rasanya ada yang berbeda, tak semenyenangkan dulu lagi, aku tak menyukainya.


" Apa yang kamu lihat?" Kata kak Ega menggagetkanku.


" Hanya melihat-lihat saja. Sudah dapat obatnya?"


" Sudah."


***


Setelah di parkiran kak Ega kembali akan menggendongku, niatnya baik karena igin membantuku untuk naik ke dalam mobil, tapi entah mengapa aku malah menolaknya.


" Nggak usah kak, aku masih bisa jalan sendiri." Aku melepaskan tangan kak Ega yang sudah berada diposisi untuk menggendongku.


" Aku bilang aku bisa sendiri kak." Ucapku lagi karena kak Ega kembali memposisikan tangannya di tempat tadi.


" Kakak hanya ingin membantu." Jawabnya pasrah saat tanggannya kembali aku tepis.

__ADS_1


" Aku tau, tapi aku masih bisa jalan sendiri, kakiku hanya terkilir bukan lumpuh kak."


Kak Ega hanya terdiam dan memperhatikanku bangun dari kursi roda dan naik ke dalam mobil. Dia lalu memutari mobilnya dan menyusulku masuk dan segera melajukan mobilnya untuk membawaku pulang.


Sepanjang jalan kak Ega hanya diam, beberapa kali aku meliriknya, dia hanya fokus ke jalanan di depannya, aku merasa sangat canggung sekarang, aku yang meminta kak Ega untuk tidak berubah dan tetap menjadi seperti dulu, tapi malah aku yang merasa aku yang berubah, kami tidak bisa seperti dulu lagi, pengakuan kak Ega benar-benar mempengaruhi hubungan kami.


Kak Ega memarkirkan mobilnya di halaman rumah ibu, dia turun lebih dulu lalu membukakan pintu untukku dan membantuku untuk turun.


" Kakak tau kamu bisa sendiri, tapi biarkan kakak membantumu berjalan sampai ke kamar, naik tangga dengan kaki pincang pasti akan membuatmu sedikit kesulitan." Ucap kak Ega sebelum aku sempat menolak bantuannya.


Kak Ega memapahku masuk ke dalam rumah. Saat berada di bawah tangga aku berhenti dan memandangi tangga dengan lekat, benar kata kak Ega aku pasti akan kesulitan untuk naik ke atas sana dengan kondisi kakiku yang seperti ini.


Seperti mengerti apa yang tengah aku fikirkan, kak Ega kembali menggendongku dan menaiki tangga, aku yang sudah tak enak hati untuk menolaknya lagi akhirnya pasrah menerima bantuan kak Ega.


" Lho non Indhi kenapa, kok di gendong?" Tanya bi Sumi, asisten rumahtanggaku saat melihat kak Ega mengendongku.


" Terkilir bi. Oh iya bi bisa tolong bawakan es batu dan kain ke kamar Indhi, kakinya harus di kompres lagi." Perintah kak Ega, bi Sumi hanya mengangguk dan pergi ke dapur untuk mengambil es batu, lalu kak Ega kembali menaiki tangga menuju kamarku.


" Bukan begitu, hanya saja.." Aku menggantung kalimatku, bingung harus menjawab apa, karena yang di katakan oleh kak Ega adalah benar adanya.


" Hanya saja kamu sudah tidak menganggapku kakak lagi, begitu?"


" Bukan kak, aku tidak ingin merepotkan kakak."


" Dengarkan kakak." Seru kak Ega, dia duduk di sebelahku dan memegang kedua bahuku agar aku menghadap kearahnya.


" Kakak tau kakak salah karena mempunyai perasaan lain kepadamu, tapi kakak sudah berjanji akan mengakhirinya, kakak tidak ingin kehilangan adik kecil kakak hanya karena perasaan bodoh ini, jadi mari bersikap seperti dulu lagi. Manjalah lagi, butuhkan kakak lagi, jangan pernah bangun tembok pemisah di hatimu lagi, hanya kamu dan ibu yang kakak punya dan kakak tidak ingin kehilangan kalian berdua."


" Kakak sudah memikirkannya, kakak rasa apa yang kamu katakan itu benar, kakak hanya salah mengartikan perasaan kakak."


" Maaf." Ucapku lirih, aku menunduk karena tidak berani memandang wajah kak Ega, malu rasanya mengingkari perkataanku sendiri.

__ADS_1


" Istirahatlah, kakak harus kembali ke rumahsakit, biar bi Sumi yang mengompres kakimu nanti. Ingat apa kata dokter, jangan terlalu banyak bergerak." Pamit kak Ega, dia mengelus kepalaku sebum dia bangun dan beranjak pergi.


" Kak." Ucapku saat kak Ega sudah berada dekat pintu.


" Kenapa?" Tanya kak Ega, dia berbalik dan menghampiriku lagi.


" Terimakasih untuk hari ini. Maaf karena menghindari kakak, aku akan melupakan semuanya kak, mari seperti dulu lagi, tetap sayangi aku sebagai adik kandungmu."


" Tentu. Sebenarnya kakak masih ingin menemanimu tapi kakak harus pergi sekarang, baik-baik di rumah ya, minta tolong bi Sumi jika membutuhkan sesuatu." Ucap kak Ega lagi , lalu dia pergi meninggalkanku.


" Ibu." Seru kak Ega kaget, aku tak kalah kaget saat melihat ibu berada di balik pintu kamarku.


" Sejak kapan ibu di sini, kenapa nggak langsung masuk aja bu."Imbuh kak Ega dengan terbata.


Aku yang menyadari kedatangan ibu merasa khawatir dan takut, bagaimana jika ibu mendengar percakapan kami tadi, apa yang akan ibu fikirkan jika beliau tau bahwa kak Ega menyayangiku bukan sebagai adiknya.


" Baru saja, kamu sudah mau pergi?" Tanya ibu dengan wajah datarnya.


" Ega harus ke rumahsakit bu."


" Nanti malam bisakah kamu pulang untuk makan malam bersama, ada yang ingin ibu bicarakan padamu."


" Akan Ega usahakan bu."


"Hemm pergilah, biar ibu yang merawat adikmu."


Kak Ega meraih tangan Ibu dan menyalaminya sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kamarku.


Aku yang masih duduk, terus saja meremas kedua tanganku sembari memikirkan hal apa yang akan ibu bicarakan kepada kak Ega, fikiranku menjadi tak karuan sampai aku tidak menyadari jika ibu sudah berada di depanku dan tengah menatap wajahku.


" Apakah yang kak Ega katakan itu benar?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2