Lara Cintaku

Lara Cintaku
EXTRA PART


__ADS_3

"Bolehkan aku mengenalmu lebih jauh, aku tertarik kepadamu sejak pertama kali aku melihatmu, dan setelah pertemuan kedua kita, kamu semakin menarik perhatianku. Bisakah memberiku kesempatan untuk masuk kedalam hidupmu?"Ucap dokter Ilham penuh keyakinan.


Indhi mematung mendengar ungkapan hati dokter Ilham, namun dia segera sadar dan menatap lekat wajah dokter Ilham. "Maaf dok, saya sedang fokus dengan study saya, dan saya akan menganggap percakapan ini tidak pernah terjadi. Terimakasih sudah mengantar saya, permisi." Indhi berlalu meninggalakan dokter Ilham setelah dengan gamblang menolaknya, saat ini hatinya masih dipenuhi dengan Zean, dia tidak yakin hatinya akan terbuka untuk orang lain.


***


Namun sepertinya dokter Ilham belum menyerah, dia terus saja mendekati Indhi dan memberikan perhatian kepada dokter muda itu.


Seperti siang ini, Indhi sedang makan siang bersama keempat teman kelompoknya, namun tiba-tiba dokter Ilham bergabung bersama mereka membuat keempat dokter muda itu menatap dokter Ilham penuh tanya, namun tidak dengan Indhi dia tetap fokus dengan makanannya.


"Boleh aku bergabung dengan kalian?" Tanya dokter Ilham, padahal dia sudah duduk dan bergabung bersama mereka.


"Tentu saja dok." Jawab Rossa.


Dokter Ilham menatap lekat Indhi yang sama sekali tidak menanggapi kedatangannya, keempat dokter muda itu saling menyikut satu sama lain, mereka yakin sekarang jika dokter Ilham menaruh rasa terhadap Indhi.


"Aku sudah selesai." Ucap Indhi lalu dia berdiri dan mengangkat piringnya.


"Cepat sekali, kamu nggak nungguin kita." Protes Hana karena mereka belum menyelesaikan makananya.


"Maaf aku ada perlu, aku duluan ya." Jawab Indhi berbohong, dia hanya merasa tidak nyaman berdekatan dengan dokter Ilham. "Permisi dok." Indhi menunduk hormat lalu meninggalkan mereka.


Sementara diujung kantin, Ega dan dokter Aditya mengamati Indhi, dokter Aditya menatap Ega yang nampak kesal melihat dokter Ilham mencoba mendekati Indhi.


"Sepertinya dokter itu tertarik dengan adikmu." Tebak dokter Aditya, dia masih menatap Ega, ingin memastikan ekspresi apa yang ditunjukan oleh temannya.


"Kau kenal dokter itu?" Tanya Ega dengan suara datar.


"Tidak, tapi semua perawat didepartemenku mengenalnya, mereka menyebutnya malaikat tampan Bedah Saraf. Kau kan juga didepartemen bedah, masa tidak mengenalnya?"


"Aku sibuk, tidak sempat berkenalan dengan siapapun."


Akhirnya Ega melanjutkan makan siangnya dengan perasaan yang sulit diartikan atau mungkin dia cemburu melihat dokter Ilham berusaha mendekati Indhi.


**


Sore ini Indhi pulang lebih awal, dia sedang menunggu Ega karena mereka akan pulang bersama. Indhi terkejut karena tiba-tiba dokter Ilham sudah berada disebelahnya.

__ADS_1


"Mau pulang?" Tanya dokter Ilham seraya menatap Indhi.


"Ya." Jawab Indhi singkat.


"Mau ku antar?"


"Tidak dok terimaksih." Tolak Indhi.


Tak lama Ega datang dan dia kembali merasakan sesak didadanya melihat dokter Ilham kembali mendekati Indhi.


"Ayo pulang." Ucap Ega lalu meraih tangan Indhi dan menggandengnya.


Indhi terkejut karena tiba-tiba Ega menggandeng tangannya, namun dia hanya menurut dan mengikuti Ega keparkiran, sebelumnya dia hanya mendundukan kepala kepada dokter Ilham tanpa berpamitan kepadanya.


"Dia siapa?" Tanya Ega begitu mereka sampai diparkiran.


"Dokter pembimbingku kak. Kenapa?"


"Tidak, masuklah." Ega membukakan pintu untuk Indhi dan menyuruhnya masuk.


Didalam mobil mereka saling diam, Indhi lebih memilih memejamkan matanya meskipun ia tidak tidur dan Ega hanya fokus dengan jalanan didepannya.


***


Dan dokter Ilham masih belum menyerah untuk mendekatinya, padahal Indhi sudah menolaknya berulang kali, namun dokter Ilham begitu gigih untuk dekat dengan Indhi. Gadis itu sudah lelah menolak dan acuh padanya, dia mulai terbiasa saat dokter Ilham tiba-tiba bergabung bersamanya untuk makan atau tiba-tiba datang dan menawarinya tumpangan.


Kini mereka semakin dekat, Indhi tak terlalu menjaga jarak dengan dokter Ilham lagi, bukan karena Indhi sudah membuka hatinya, namun dia merasa sudah sangat keterlaluan dengan mengacuhkan dokter Ilham, Indhi tidak bisa melarang seseorang untuk menyukainya.


Setelah 1,5 tahun lamanya akhirnya Indhi dan kelompoknya berhasil mengakhiri masa coAss mereka, mereka harus berjuang 1 tahun lagi sebelum menyandang gelar dokter didepan nama mereka.


Setelah pulang dari rumahsakit mereka berlima pergi kesebuah restoran untuk merayakan perpisahan mereka, setelah ini mereka harus berpisah dan menjalani internship ditempat yang berbeda-beda.


"Aku pasti akan merindukan kalian." Ucap Rossa sedih, dia menatap keempat temannya yang masih sibuk mengunyah makanan mereka.


"Aku juga."Jawab Indhi dan Hana bersamaan dan akhirnya ketiga gadis itu berdiri dan saling memeluk.


"Kita boleh gabung ga?" Kelakar Alvaro yang melihat para gadis tengah berpelukan.

__ADS_1


Indhi melambaikan tangannya, Alvian dan Alvaro segera mendekati para gading, mereka saling merangkul dan membentuk sebuah lingkaran. 1,5 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi mereka, selama itu mereka berbagi suka maupun duka, konflik kadang terjadi diantara mereka namun karena konflik itulah hubungan mereka semakin dekat. Akhirnya malam ini mereka merayakan perpisahan mereka dengan penuh haru, mereka berharap dimanapun mereka nanti, mereka akan menjadi dokter yang terbaik.


Mereka melepaskan pelukan mereka saat melihat dokter Ilham datang dengan membawa bunga mawar merah ditangannya.


"Ekhem, ekhem." Alvaro berdehem dan memberi kode teman-temannya, mereka berempat mundur dan kembali duduk kekursi merekaa.


"Selamat sudah menyelesaikan coAssmu." Ucap dokter Ilham, dia memberikan bunga itu untuk Indhi.


"Terimakasih dok." Indhi tersenyum dan menerima bunga pemberian dokter Ilham.


"Apa kau sudah siap sekarang?" Tanya dokter Ilham membuat Indhi dan keempat dokter muda itu bingung.


"Maksud dokter?"


"Apa kau sudah siap untuk berpacaran sekarang. Apa kau sudah bisa menerimaku sekarang?"


Keempat dokter muda yang berada ditempat itu saling mengulum senyum, mereka tak menyangka akan menjadi saksi pengungkapan cinta dokter Ilham.


"Maaf dok, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya masih fokus dengan mimpi saya, permisi." Indhi meraih tasnya dan pergi dari restoran itu tanpa berpamitan dengan teman-temannya.


Dokter Ilham terpaku ditempatnya berdiri, dia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan lagi, dia menatap keempat dokter muda yang tengah menatapnya prihatin, dokter Ilham tersenyum getir, dia berusaha menyembunyikan rasa malunya karena kembali ditolak oleh Indhi.


***


2 tahun kemudian, Indhi sudah menyelesaikan magangnya dan sudah bekerja dirumahsakit yang sama dengan Ega sebagai dokter umum. Dia belum berencana untuk belajar spesialis seperti keinginan ibu, Indhi ingin mengistirahatkan otaknya sebentar.


Selama setahun magang dirumah sakit milik pemerintah, dokter Ilham tak pernah absen menemuinya, dokter Ilham begitu gigih untuk mendapatkan hati Indhi meskipun berkali-kali ditolak oleh Indhi.


Saat Indhi kembali bekerja dirumahsakit yang sama, tak seharipun dokter Ilham melewatkan Indhi, dia selalu menemui Indhi saat jam makan siang ataupun saat jam pulang kerja.


****


"Hy Zee, kau tak bosan melihatku datang kan?" Hari ini aku genap 26 tahun, aku sengaja membawa kue kesini, aku ingin merayakan ulangtahun denganmu."


"Waktu cepat sekali berputar Zee, rasanya baru kemarin kita merayakan ulang tahunku yang ke 14. Apa kau ingat waktu itu kau memberiku gelang yang sepasang dengan pemberian kak Ega, kalian lucu sekali waktu itu."


"Seandainya kamu masih ada, mungkin sekarang kamu sedang mengelus kepalaku dan merasa bangga karena aku sudah menjadi dokter sekarang."

__ADS_1


"Dokter Indhi, bagaimana menurutmu Zee, keren kan?


"Dan satu lagi, maafkan aku Zee, sepertinya hatiku mulai goyah."


__ADS_2