Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 111 Gaun Pengantin


__ADS_3

Hari ini kak Zean akan menemaniku mengambil kebaya yang akan aku gunakan untuk wisuda besok, akhirnya setelah perjuangan yang panjang aku bisa menyelesaikan sekolah kedokteranku, ya meskipun untuk menjadi dokter yang sesungguhnya aku masih harus menunggu sekitar 2.5 sampai 3 tahun lagi. Malamnya kami akan pergi ke acara pertunangan om Fajar dan juga kak Vio yang digelar dirumah orangtua Arum.


"Pagi sayang." Ucapan selamat pagi yang tidak ada bosannya aku dengar meskipun setiap pagi kak Zean selalu mengucapkannya.


"Pagi kak." Balasku dibarengi dengan kecupan dibibir kak Zean.


Kak Zean manangkup kedua bibirnya, dia menatapku sambil tersenyum dan membuatku semakin gemas. "Kau ini semakin hari semakin berani saja ya."


"Kakak yang mengajariku, wleeek." Jawabku sambil menjulurkan lidahku ke arah kak Zean lalu aku segera masuk kedalam mobil dan segera disusul oleh kak Zean.


Perjalanan kali ini sedikit berbeda karena kak Zean mengizinkanku untuk mengemudikan mobilnya sementara kak Zean duduk dikursi penumpang. Sepanjang perjalanan kak Zean tak ada hentinya menatap wajahku sambil tersenyum, aku beberapa kali memegang wajahku karena kufikir ada yang salah dengan wajahku.


"Apa make upku berantakan?" Tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku.


"Tidak."


"Lalu kenapa kakak memandangiku seperti itu, aku jadi malu."


"Entahlah, aku hanya ingin melihat wajahmu sampai puas, beberapa hari terakhir aku sangat sibuk dan jarang menemuimu, aku ingin menebusnya hari ini dengan memandangi wajahmu."


"Nanti kakak bosan?"


"Mana mungkin, aku tidak akan pernah bosan melihat wajah cantik ini."Tangan kak Zean kini membelai lembut wajahku. "Pril." Panggil kak Zean dengan lembut dan penuh cinta.


"Ya."


"Sudah berapa lama kita bersama?"


"Entah, kakak hitung saja. Kita berpacaran saat aku masih kelas 3 SMP dan sekarang aku sudah mau lulus kuliah."


Kak Zean diam sejenak, mungkin dia sedang menghitung berapa lama kami bersama. "Hampir 8 tahun ternyata. Hemm, rasanya baru kemarin kamu mengungkapkan perasaanmu dipinggir jalan sambil berteriak." Ucap kak Zean mengenang masa lalu.


"Jangan bahas itu lagi, sungguh memalukan." Wajahku memerah begitu mengingat kelakuan konyolku dahulu.


"Kenapa memalukan, kamu sangat menggemaskan waktu itu."


"Jangan lupa kalau kakak menolakku dulu." Aku melirik kak Zean sekilas lalu kembali fokus pada kemudiku.


"Dan aku menyesalinya sampai sekarang, andai saja aku lebih berani waktu itu, harusnya aku lebih cepat memilikimu." Ucap kak Zean penuh sesal.

__ADS_1


"Kenapa harus mengingat masa lalu kak, kita punya lebih banyak waktu kedepannya, lebih baik kita fikirkan bagaiaman caranya agar hubungan ini bertahan selamanya."


"Gadis kecilku sudah tumbuh menjadi wanita yang bijak sekarang." Ucap kak Zean seraya mengelus kepalaku. "Kau tau, aku sangat bahagia karena bisa menyaksikanmu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan baik, aku berdoa semoga Tuhan memberiku kesempatan untuk melihatmu menua bersamaku."


Dalam hati aku mengaminkan doa kak Zean, harapanku juga sama semoga aku bisa hidup bersamanya dan melihatnya menua.


Kami sudah sampai didalam butik langgananku. Pemilik butik menyambut kami dengan ramah, beliau segera menunjukan kebaya pesananku dan menyuruhku untuk mencobanya.


"Gimana kak?" Tanyaku setelah keluar dari kamar ganti.


Kak Zean mengamati kebaya berwarna ungu lilac dengan bawahan bermotif batik yang kini melekat ditubuhku. Dia mengacungkan kedua jempolnya. "Sangat cocok untukmu. Kamu tidak ingin mencoba yang lain?" Tanya kak Zean dengan seringai diwajahnya. "Aku ingin melihatmu memakai itu." Kak Zean menunjuk sebuah gaun pengantin. "Please, aku hanya ingin melihatnya." Pinta kak Zean dengan wajah mengiba.


Aku meminta tolong kepada pelayan butik untuk mengambilkan gaun itu dan mencobanya.


Kak Zean menatapku takjub, mulutnya membulat begitu melihatku mengenakan gaun pengantin yang sangat ingin dilihatnya.


"Bagaimana?"


"Beautyfull. Sayang kau cantik sekali."


"Sudah ya, aku tidak nyaman memakainya."


Aku menuruti permintaan kak Zean dan mengambil beberapa foto dengan mengenakan gaun pengantin ini.



Setelah selesai dengan urusan batik, aku dan kak Zean memutuskan untuk pulang kerumah mamy, kak Zean perlu berganti pakaian untuk datang ke acara pertunangan om Fajar.


Setibanya dirumah mamy, Sam langsung berlari dan memelukku, bayi gembul itu kini telah berusia 7 tahun dan sudah masuk disekolah dasar. Semakin besar wajah Sam semakin mirip dengan kakaknya, matanya berwarna biru membuat mereka terlihat seperti kembar indentik namun beda generasi.


"Miss you so much kak." Ucap Sam dengan wajah gemasnya.


"Kakak juga sangat merindukan Sam, sangat, sangat,sangat.."


"Lama sekali tidak datang, mamy sangat merindukanmu, bagaiamana kabarmu sayang?" Mamy segera memelukku dan memberikan kecupan dipipiku sehingga membuat Sam jengkel karena harus melepas pelukannya dariku.


"Aku baik my, mamy apa kabar?"


"Mamy juga baik. Ayo duduk."

__ADS_1


Aku dan mamy duduk di sofa sementara Sam kembali bermain. Kak Zean pergi kedapur untuk mengambilkan minum untukku dan ikut bergabung bersamaku dan mamy.


"Sayang, ada yang ingin mamy bicarakan padamu." Ucap mamy dengan wajah serius membuatku sedikit cemas.


"Apa my, jangan membiat Indhi tegang begini?"


"Ini mengenai hubungan kalian. Apa ibumu sudah mengizinkan kalian menikah setelah kamu lulus?


Aku hanya menggeleng lemah, ibu masih belum mengizinkanku untuk menikah muda, apalagi jalanku untuk menjadi dokter masih sangatlah lama, ibu ingin aku menjadi seorang dokter terlebih dahulu dan kali ini aku bisa mengerti kenapa ibu belum memberi kami izin.


"Mamy sendiri tidak masalah, hanya saja kalian sudah berpacaran begitu lama, mamy hanya takut kalian melewati batas."


"Mamy tenang saja, Zee masih bisa menahan diri untuk memberi mamy cucu." Imbuh kak Zean dengan banyolannya.


"Kalau mamy jadi ibumu mamy pasti tidak akan mengizinkan kamu menikah dengan bule mesum itu." Jawab mamy tak mau kalah dari ananya.


"Mesum begini juga hasil keringat mamy dan dady."


Kami semua tertawa mendengar jawaban dari kak Zean.


***


Aku sudah berada didalam kamar kak Zean untuk menumpang mandi dan juga berganti pakaian. Saat keluar dari kamar mandi aku melihat kak Zean tengah bersiap.


"Kenapa jenggotnya tidak dipotong."


"Kau tidak suka?"


"Bukan begitu, tapi kakak terlihat begitu dewasa dengan brewok ini.:


"Aku bukan lagi dewasa tapi tua, usiaku sudah 30 tahun sekarang, dan teganya kamu masih menolak menikahi laki-laki tua ini."


Aku hanya terkekeh mendengar keluhan kak Zean, aku sengaja tidak menanggapinya agar tidak terlalu panjang keluhannya nanti.


Aku memoles wajahku dengan make up, kak Zean rupanya sudah berdiri dibelakangku, dia membungkukkan tubuhnya dan meletakan dagunya di pundakku.


"Jangan terlalu cantik, aku takut kamu curi orang." Bisik kak Zean sembari mengecup leherku. "Kamu harum sekali, aku jadi ingin memakanmu." Tiba-tiba dia memutar kursiku sehingga kami saling berhadapan. Tanpa menunggu aba-aba kak Zean segera mencium bibirku, ciuman yang begitu lembut tanpa menuntut lebih, kak Zean masih memegang teguh janjinya untuk tidak menyentuhku sebelum kami menikah.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2