Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 112 Wisuda


__ADS_3

Aku dan kak Zean sampai dirumah Arum sebelum acara pertunangan om Fajar dan kak Vio dimulai. Arum memelukku saat aku datang, lalu dia mempersilahkan kami untuk masuk kedalam rumah. Didalam rumah, kami terlebih dulu menyapa kedua orang tua Arum dan juga orang tua kak Vio, setelah itu kami menghampiri kedua pasangan yang tengah berbahagia itu.


"Selamat kak Vio." Aku menyalami kak Vio lalu kami saling memeluk satu sama lain.


"Selamat om." Ucapku pada om Fajar.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga lancar sampai pelaminan" Ucap kak Zean.


"Terimaksih doanya." Balas kak Vio dengan senyum merekah diwajahnya.


"Terus kalian kapan, nggak bosen pacaran kelamaan, apa sibule nggak punya nyali buat ngajakin kamu nikah Ndi??" Celoteh om Fajar menggoda sahabatnya itu.


"Aku sudah berulangkali kali ditolak Jar, sepertinya aku akan menua sebelum beristri." Keluh kak Zean sembari melirikku, dia memang paling pintar membuatku merasa tidak enak hati karena belum menyetujui ajakannya untuk menikah.


"Sabar saja, dia pasti akan menerima lamaranmu suatu hari nanti." Ucap om Fajar menasehati kak Zean.


Setelah saling menggoda satu sama lain, aku dan kak Zean keluar dari rumah Arum dan duduk dikursi yang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara karena acara pertunangan mereka digelar dihalaman rumah orangtua Arum.


Aku ikut terharu saat om Fajar dan kak Vio bertukar cincin, aku juga ikut merasakan kebahagian yang tengah mereka rasakan.


"Kamu ingin acara pertunangan yang seperti apa nanti?" Bisik kak Zean ditelingaku.


"Yang sederhana saja kak, cukup orang-orang terdekat kita saja yang kita undang." Balasku lirih.


Acara tukar cincin itupun selesai, kini kami tengah menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh sipemilik hajat. Dari kejauhan samar- samar aku seperti melihat sosok yang sudah lama tidak aku jumpai, aku tersenyum saat sosok itu mendekat ke arahku dan aku pun segera berlari menghampiri sosok itu.


"Kak Dion." Seruku bersemangat, akupun segera memeluk kak Dion. Sudah lama sekali kami tidak bertemu karena kak Dion memilih menetap diLondon. Biasanya kami hanya berhubungan melalui vidio call, kak Dion adalah pendengar terbaik saat aku tengah bermasalah dengan kak Zean.


"Indhi, astaga kamu cantik sekali, kakak tidak menyangka kamu sudah sebesar itu." Ucap kak Dion seraya membalas pelukanku.


Tiba-tiba kak Zean datang menghampiri kami dan menarikku dari pelukan kak Dion. Kak Zean lalu menggantikanku memeluk kak Dion, kak Dion hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu dan mereka saling berpelukan untuk melepas rindu.

__ADS_1


"Kau ini betah sekali di London?" Tanya kak Zean setelah melepas pelukan mereka.


"Aku akan menetap disini sekarang."


"Kakak serius." Ucapku begitu bersemangat dan berakhir dengan tatapan cemburu dari kak Zean.


"Ya aku serius, aku sudah mengakhiri kontrak kerjaku diLondon, aku akan mencari pekerjaan disini."


Ditengah obrolan kami, tiba-tiba saja datang kak Natasha, aku memutar bola mataku jengah saat melihatnya menghampiri kak Zean dan tersenyum genit padanya, untung saja kak Zean menolak saat kak Natasha mengajaknya berpelukan, jika tidak sudah dipastikan perang dunia akan segera terjadi.


"Hye Ndi, apa kabar?" Tanya kak Natasha dengan senyuman diwajahnya.


"Baik."Jawabku singkat. Aku segera mengaitkan tanganku dilengan kak Zean dan mengajaknya pergi. "Kak Dion, kapan-kapan main kerumah ya, kak Ega juga sudah pulang."Imbuhku pada kak Dion sebelum aku pergi.


Aku mengajak kak Zean untuk duduk ditaman yang letaknya tidak jauh dari rumah Arum. Aku menyenderkan kepalaku dibahu kak Zean dan tangan kami saling bertautan.


"Malam ini aku akan berbicara lagi dengan ibu mengenai rencana kita kak."


"Bicarakan dengan baik-baik, sisanya biar aku yang akan meyakinkan ibu."


"Ya." Kak Zean menoleh dan mengecup pucuk kepalaku.


"Apa kakak sudah yakin ingin menikah denganku?"


"Tentu saja. Jadi selama ini kamu meragukanku?"


"Tidak, kalau begitu setelah wisuda besok kita akan meminta izin kepada ibu dan kak Zean."


Kak Zean mengangguk dan tersenyum kepadaku, diciumnya beberapa kali pucuk kepalaku. Malam ini bukan hanya om Fajar dan kak Vio yang berbahagia, aku dan kak Zean ikut merasakan kebahagiaan dan tidak sabar menunggu hari esok.


__ADS_1



*****


Pagi ini aku sudah bersiap dengan setelan kebaya yang membalut tubuh kecilku. Ibu dan kak Ega juga tengah bersiap untuk menghadiri acara wisudaku, sementara kak Zean mungkin akan datang terlambat karena pekerjaannya tidak bisa dia tinggalkan.


Setelah melewari beberapa rangkaian acara, akhirnya wisuda hari ini berakhir juga, aku sangat bersyukur karena bisa lulus dengan IPK yang memuaskan, kak Ega dan ibu tak henti-hentinya memujiku, katanya mereka sangat bangga padaku.


Setelah mendapat gelar Sarjana Kedokteran, selanjutnya aku harus melewati tahap pendidikan profesi atau yang sering disebut co-***, lamanya beragam, antara 1.5 hingga dua tahun, saat menjadi co-***, aku akan kontak langsung dengan pasien di Rumah Sakit dan belajar skill Kedokteran seperti menyuntik, mengambil darah, hingga menjadi asisten saat operasi. Tidak sampai disitu, setelah menyelesaikan pendidikan profesi aku masih harus mengikuti ujian sertifikasi dan dilanjutkan dengan program Internship selama satu tahun. Setelah melewati itu semua barulah aku akan menyandang gelar dr. didepan namaku.


Kak Zean mengirimiku pesan singkat, katanya dia sedang berjalan menuju gedung tempatku diwisuda. Kak Zean memilih berjalan karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari gedung tempatnya mengajar, kak Zean hanya perlu menyebrangi jalan raya untuk sampai digedung tempatku diwisuda.


Aku sengaja menunggu kak Zean diluar gedung, aku memilih berdiri ditepi jalan raya dan menunggunya.


Aku tersenyum cerah saat melihat kak Zean diseberang jalan dengan membawa buket bunga mawar merah, dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Kak Zean nampak begitu berbeda hari ini, dia terlihat begitu bersinar, baju batik berlengan panjang dan celana kain berwarna hitam sangat cocok membalut tubuh atletisnya.


Saat lampu hijau sudah berganti merah, kak Zean berjalan dengan tergesa, akupun sudah tidak sabar ingin memberi tahu kak Zean bahwa ibu memberiku izin menikah setelah aku lulus.


"Minggir."Teriak kak Zean, tiba-tiba kak Zean berlari kearahku, dan tanpa aku sadari sebuah mobil tengah mengarah kepadaku, kak Zean mendorong tubuhku hingga aku terjungkal kebelakang. Braakk, aku terpaku dan tidak bisa berkata-kata saat menyaksikan kak Zean tertabrak mobil, tubuhnya terpentaling dan kini tergeletak diatas aspal panas. Aku berusaha untuk bendiri, namun karena sepatu yang kugunakan terlalu tinggi membuatku kesulitan, aku merangkak mendekati tubuh kak Zean, mataku mulai memanas dan air mataku tak bisa kutahan lagi. Dengan tangan yang bergetar hebat aku mencoba meraih kepala kak Zean dan memindahkannya keatas pangkuanku.


Aku sedikit bernafas lega saat kak Zean membuka matanya, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Are you okay?" Kalimat yang seharusnya terucap untuknya justru mengalun merdu dari mulutnya, kini tangannya ia gunakan untuk menyeka air mata diwajahku.


"hmm, aku baik-baik saja."Ucapku dengan suara bergetar.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, jangan mena-ngis, aku benci melihatmu menangis." Ucap kak Zean terbata, kalimat itu sepertinya kak Zean ucapkan dengan penuh perjuangan


Huekk,, hueekk,


Aku panik melihat kak Zean muntah, aku segera menyadari ada yang tidak beres dengan kepalnya.


Dibawah teriknya matahari aku merasakan sesuatu yang hangat membasahi tangan dan pahaku, mataku membelalak saat melihat cucuran darah keluar dari kepala kak Zean.

__ADS_1


Kak Zean melepaskan tangannya dari wajahku, tangannya kini terkulai lemas dan matanya mulai menutup. Dari sudut matanya aku melihat buliran bening keluar dari matanya yang terpejam.


BERSAMBUNG....


__ADS_2