Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 45 Kebenaran part 2


__ADS_3

" Tapi aku rasa kalian masih sangat dekat sekarang, apa kakak masih mencintainya?"


Dengan ragu aku memberanikan diri untuk menanyakan hal ini kepada kak Zean, bukan tanpa alasan, aku masih ingat bagaimana kedekatan mereka saat kami liburan bersama di pantai waktu itu.


" Tentu saja tidak, aku sudah melupakannya jauh sebelum aku bertemu denganmu, hanya saja untuk mengakhiri persahabatan yang sudah kita lewati selama bertahun-tahun ternyata tak semudah itu Pril."


" Sahabat." Aku tersenyum getir.


" Apa kamu membenciku sekarang?" Tanya kak Zean sambil menatapku.


" Seandainya aku tidak mendengar percakapan kalian, apa kakak berniat untuk memberitahuku?" Aku balik menatap kak Zean, matanya birunya yang teduh kini di selimuti kesedihan.


" Ya." Jawabnya singkat.


" Kapan?"


" Aku selalu ingin memberitahu Pril, tapi setiap kita bersama lidahku menjadi kelu, aku ketakutan, takut kebahagiaan ini akan berakhir, takut kamu akan meninggalkanku setelah aku memberi tahumu tentang semua ini dan hal ini juga yang membuatku menjauhimu waktu itu, aku takut akan menyakitimu suatu hari nanti dan lihat sekarang apa yang aku takutkan terjadi, aku menyakitimu. Seharusnya dulu aku bisa menahan diri untuk tidak menyukaimu. Maaf karena terlalu egois, aku begitu menyukaimu sampai aku lupa dengan masa laluku."


Aku hanya diam mendengar permintaan maaf kak Zean. Aku sama sekali tak keberatan dengan masa lalu kak Zean, hanya saja aku kecewa karena aku mengetahui masalah ini secara tidak sengaja, seandainya aku tak ke rumah kak Dion tadi apakah kak Zean benar-benar akan memberitahuku atau malah dia akan menyembunyikannya dariku selamanya.


" Kak aku capek, bisa antar aku pulang!"


Kak Zean mengangguk lalu melajukan mobilnya. Aku masih terdiam, rasanya aku tak punya tenanga untuk berbicara lagi. Aku memalingkan pandanganku ke luar jendela, mengamati jalanan yang mulai basah tersiram air hujan. Aku menarik ujung bibirku, menciptakan senyum penuh kesedihan. Bahkan langit ikut bersedih bersamaku hari ini.


" Pril." Panggil kak Zean setelah kami sampai di depan rumah.


Aku menoleh, tapi kali ini aku tak menampilkan senyum seperti biasanya.


" Bicaralah, jangan diam seperti ini. Maki aku Pril, pukul aku kalau perlu, tapi aku mohon jangan diam begini." Kak Zean terlihat frustasi.


" Kak aku sangat lelah hari ini, bisakah kakak memberi waktu beberapa hari, aku ingin menenangkan diriku, hari ini terlalu berat untukku kak." Pintaku pada kak Zean.


"Maaf. Maaf karena membuatmu menangis hari ini. Aku nggak berharap kamu akan mengerti aku, tapi aku mohon maafin aku. Aku akan menunggu sampai kamu memaafkan aku."

__ADS_1


" Hati-hati di jalan."


Aku keluar dari mobil kak Zean dan melihat kak Ega sudah berada di depan pintu rumah, wajahnya terlihat khawatir. Aku berlari dan menghambur ke dalam pelukan kak Ega.


Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan kak Ega, mengingat semua kejadian yang ku alami hari ini, aku ingin melepaskan semua kesedihan yang aku rasakan dan saat ini kak Ega-lah yang sangat aku butuhkan.


Kak Ega menuntunku masuk dan mendudukanku di sofa ruang keluarga, dia pergi sebentar lalu kembali lagi membawakan segelas air untukku. Aku kembali memeluk kak Ega, dia hanya diam dan mengelus rambutku seperti biasanya dan entah kenapa aku selalu merasa tenang di dekat kak Ega.


" Maafin kakak nggak bisa datang di acara kelulusan kamu." Kak Ega membuka suaranya setelah tak mendengar suara sesegukan dariku lagi.


" Kakak bangga sama kamu dan kakak sangat menyesal tidak ada di sana untuk nemenin kamu."


Aku melepas pelukan kak Ega dan menatapnya.


" Ibu juga tidak datang kak. Apa ibu sudah tidak peduli padaku lagi?".


" Mungkin ibu punya urusan."


" Kenapa jawaban kalian sama si. Kak Zean juga tadi bilang begitu. Aku bisa maklum kalau kakak nggak bisa datang, tapi ibu apa ibu tidak bisa minta izin satu atau dua jam untuk datang?" Aku mendegus kesal.


" Kalian menyebalkan."


Aku bangkit dari dudukku dan pergi ke kamar untuk mandi, keringat dan air mata rasanya telah membanjiri badanku hari ini.


Setelah mandi aku mengeringkan rambutku, aku mengamati pot bunga Lavender yang sengaja aku letakkan di atas meja riasku. Aku meletakkan pengering rambutku dan meraih pot bunga itu.


" Kapan kamu akan berbunga, aku sudah tidak sabar melihatmu berbunga. Kata kak Zean aku harus sering mengajakmu bicara karena itu aku akan bercerita sedikit hari ini, tapi ini adalah rahasia antara kita berdua ya. Aku sangat sedih hari ini, ibu dan kak Ega tidak datang di acara kelulusanku, seandainya kak Zean tidak datang aku pasti akan terlihat sangat menyedihkan. Tapi apa kamu tau apa yang membuatku lebih sedih, mendengar pengakuan kak Zean tadi. Padahal kak Zean bilang dia sama sekali tidak melakukannya, tapi aku merasa seperti di bohongi, aku kecewa karena kak Zean tak jujur padaku sejak awal. Sudah ya aku tidak ingin menularkan kesedihan kepadamu juga, aku lelah dan ingin istirahat. "


Aku meletakan pot bungaku di tempatnya lagi dan aku berpindah ke tempat tidurku, aku merebahkan badanku dan memejamkan mata, kejadian hari ini benar-benar menguras energiku.


" Ndi, kamu tidur?"Suara kak Ega terdengar di balik pintu.


" Belum, masuk aja kak."

__ADS_1


Kak Ega membuka pintu, berjalan menghampiriku dan duduk di tepi ranjangku.


" Makan dulu, kakak sudah pesan makanan, kamu pasti lapar kan?"


" Aku nggak punya tenaga untuk turun kak."


" Pasti karena kamu kelaparan, ayo turun isi tenagamu dulu."


" Gendong." Ucapku manja.


" Ayo naik". Kak Ega menyodorkan punggungnya.


Aku tersenyum jahil lalu menaiki punggung kak Ega.


" Tumben nggak protes, biasanya kakak menolakku kalau aku minta gendong". Ucapku saat Kak Ega sedang menuruni tangga dengan hati hati.


" Untuk hari ini saja, kakak akan mengabulkan semua permintaan kamu."


" Bener?" Aku girang mendengar ucapan kak Ega.


" Hmmm."


" Yeeee, tunggu saja aku akan menyusun daftar keinginanku hari ini dan akan ku pastikan tabungan kak Ega terkuras hari ini."


" Oh ya, lakukanlah. Hanya tersisa 4 jam untuk mengakhiri hari ini, pastikan kamu menulis daftar yang benar-benar kamu butuhkan ya."


" Kakak pasti sengaja kan, kenapa tidak memberi tahuku dari tadi si." Protesku.


" Salah siapa menangis."


" Salah kak Ega karena tidak datang."


" Kan kakak sudah minta maaf, jangan jadi pendendam dong."

__ADS_1


Dan begitulah seterusnya kami terus berdebat sampai di meja makan. Setelah makan aku sibuk menyusun daftar keinginanku sampai aku melupakan kejadian hari ini. Kak Ega selalu berhasil membuatku melupakan kesedihanku. Terimakasih kak, terimakasih karena telah menjadi semua hal yang aku butuhkan.


BERSAMBUNG


__ADS_2