
Sesampainya di jalan utama aku dan kak Zean menjadi bahan tontonan orang. Bagaimana tidak pakaian kami basah kuyup dengan noda bekas tanah di mana-mana.
" Motornya di parkir dimana?" Tanya kak Zean setelah kami sampai di depan kampus.
" Di parkiran kampus."
" Tunggu sini, biar aku ambil dulu. Mana kuncinya?" Kak Zean menjulurkan tangannya.
Aku merogoh saku celanaku dan memberikan kunci motorku kepada kak Zean. Aku menunggu kak Zean di pinggir jalan dan menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Aku merasa sangat kedinginan dan melipat kedua tanganku di depan dada berharap sedikit menangkal hawa dingin yang sedang aku rasakan. Tak lama kemudian kak Zean sudah berada di depan-ku. Tunggu, tunggu sebentar, dari mana dia tau kalau aku ke sini naik motor, lalu bagaimana dia dengan mudahnya menemukan motorku di parkiran.
" Ayo naik." Perintah kak Zean.
Aku menurut dan naik ke atas motor.
" Pegangan, nanti jatuh." Kak Ega meraih kedua tanganku dan melingkarkan-nya di pinggang.
Aku tersipu, perasaanku tak karuan, antara senang dan juga malu bercampur menjadi satu. Padahal ini bukan kali pertama aku di bonceng oleh kak Zean, tapi rasanya aku sangat gugup.
Kak Zean menghentikan motornya di depan sebuah butik yang cukup besar. Kami turun dan kak Zean lagi-lagi menggandeng tangan-ku untuk masuk ke dalam butik.
" Kak." Aku menghentikan langkahku.
" Kenapa?" Tanya kak Zean penasaran.
" Gimana kalau beli bajunya di toko yang di seberang aja." Tawarku sambil menunjuk toko baju yang berada di seberang butik.
" Aku takut uang-ku nggak cukup". Jawabku jujur.
Kak Zean tersenyum dan menatapku lalu dia mengelus rambutku yang sudah mulai mengering.
" Aku yang beliin, ayo masuk, nanti kamu masuk angin kalau kelamaan pakai baju basah."
Aku merasa tidak enak hati, di hari pertama kami bersama aku sudah merepotkan dia. Bagaimana cara mengatakan kepadan-nya ya kalau butik ini terkenal dengan harganya yang lumayan mahal sedangkan kak Zean baru saja lulus kuliah dan belum bekerja, aku takut akan menghabiskan uangnya jika kami membeli baju di sini.
" Nggak usah khawatir, aku punya uang kok. Selain kuliah aku juga kerja di restoran orangtua-ku." Ucap kak Zean sambil tersenyum.
Aku akhirnya pasrah dan mengikuti kak Zean masuk ke dalam butik. Apa dia punya kekuatan super ya, bagaimana dia bisa tau apa yang aku pikirkan.
Sampai di dalam butik aku bingung memilih baju yang sesuai dengan seleraku, kebanyakan dari mereka adalah gaun dan juga mini dres. Kak Zean seperti menyadari kebingungan-ku, dia meninggalkan-ku sebentar dan kembali dengan salah seorang pegawai butik yang membawakan beberapa potong pakaian untuk-ku.
Aku mengambil celana jeans panjang dan juga hoodie berwarna moca dari tangan pegawai butik.
" Mbak boleh numpang ke kamar mandi nggak?"Aku bertanya kepada pegawai tadi.
" Boleh mbak, mari saya antar ."
Aku masuk ke dalam kamar mandi, melepas satu persatu pakaianku yang masih basah dan mengganti dengan dengan yang baru.
Aku tersenyum saat melihat kak Zean sedang duduk menungguku dengan menggunakan hoodie yang sama persis dengan yang aku kenakan. Menyadari kedatanganku, kak Zean menyuruhku untuk duduk. Aku duduk di sebelah kak Zean tapi dia malah merubah posisinya dan berlutut di depanku. Dia meraih kaki-ku, melepas sepatu kets milik-ku dan menggantinya dengan sebuah flat shoes yang warnanya senada dengan warna hoodie-ku. Astaga, bagaimana aku tak menyukainya, dia sangat perhatian kepadaku.
Setelah keluar dari butik, kak Zean mengajak-ku ke dalam sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari butik.
" Salut sama yang punya restoran." Ucapku setelah kami duduk di dalam restoran.
" Kenapa?" Jawab kak Zean.
" Pintar memilih tempat yang strategis, mendirikan restoran di daerah pertokoan yang hampir seluruhnya menjual pakaian."
" Oh ya, kenapa begitu." Kak Zean terlihat antusias
__ADS_1
" Kebanyakan orang setelah selesai belanja pasti lapar dan di area pertokoan ini cuma ada restoran ini."
" Desain interiornya juga bagus banget, nyaman tempatnya, kita bisa makan dengan tenang jadinya." Pujiku lagi.
" Kalau yang punya restoran masih muda terus ganteng, kira-kira kamu mau nggak jadi pacarnya?"
" Hmm pasti maulah, aku suka pria tampan". Jawabku mantap.
" Baru beberapa jam kamu bilang menyukaiku dan sekarang kamu sudah mau berpaling." Rengek kak Zean.
" Hehehe, tapi biasanya yang punya restoran pasti udah tua, masa aku naksir sama om-om si."
Percakapan kami terhenti, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan milik kami, sebelum pergi si pelayan menunduk hormat kepada kami, sopan sekali mereka, batinku.
" Kamu kapan ujian". Tanya kak Ega setelah menyelesaikan makan-nya.
Kak Zean menyangga wajahnya dengan kedua tangan dan mengamatiku yang masih sibuk mengunyah makanan.
" Mei". Jawabku singkat.
Mendengar kata ujian, aku jadi teringat tentang rencana kepergian kak Zean lusa.
" Kak."
" Hmm." Jawabnya singkat.
"Kak.." Aku ragu untuk bertanya.
" Ya sweety, what happened?"
Sweety, apa aku salah dengar, apa tadi dia benar memanggiku sweety. Astaga kak Zean tolong hentikan sebelum hatiku benar benar meleleh.
" No." Jawabnya singkat dan masih sibuk memandangiku.
Aku terkejut mendengar jawaban kak Zean, aku begitu bahagia, rasanya aku ingin melomopat saking senangnya, tapi aku menahan diriku agar tak terlihat konyol di depan kak Zean.
" Apa alasannya?" Tanyaku sambil menahan senyum bahagia.
" Kamu."
" Aku." Menunjuk diriku sendiri
" Ya. Untuk apa aku pergi kalau kamu ada di sini dan akan selalu menemaniku."
" Apa orangtua kakak tidak keberatan?"
" Tentu saja tidak. Aku sudah dewasa dan mereka tidak pernah memaksaku untuk tinggal dengan mereka."
" Kak." Panggilku lagi.
" Bisakah kita merahasiakan hubungan kita untuk sementara." Pintaku dengan ragu.
" Why?"
" Aku sekarang sedang fokus untuk ujian, kalau sampai kak Ega tau tentang kita, dia pasti akan memarahiku, jadi untuk sementara bisakan kita merahasiakannya?"
" Tentu, jika itu untuk kebaikanmu, mari kita lakukan, pacaran diam-diam, ah pasti seru."
Mendengar jawaban kak Zean aku sedikit lega karena awalnya aku pikir kak Zean akan menolaknya.
__ADS_1
" Pril." Kini giliran kak Zean yang memanggilku.
" Ya kak."
" Apa biasanya kamu memang seceria ini?"
" Memangnya kenapa kak?"
" Aku seperti melihat kamu yang lain, dulu sepertinya kamu pendiam dan jarang sekali melihatmu tersenyum. Tapi hari ini aku melihat kamu banyak tersenyum."
" Kakak tidak suka?"
" Suka, sangat suka. Aku berharap kamu akan terus seperti ini padaku. Banyak bicara padaku, banyak senyum padaku, tapi jangan lakukan kepada orang lain ya!"
" Kenapa, egois namanya, masa aku hanya boleh tersenyum kepada kakak." Ledekku.
" Aku takut mereka akan jatuh cinta kepadamu."
" Pril, bisakah kita berbicara dalam bahasa manusia?"
" Memanya selama ini kita pakai bahasa apa kak?" Aku tersenyum menjawab pertanyaan kak Zean yang aneh.
" Maksudku, kita selalu bicara dengan formal, kalau begini terus kita tidak seperti sedang berpacaran kan."
" Akan aku coba."
Aku menyesap lemon tea hangat yang tadi di pesan olehku. Aku terdiam dan memikirkan kembali perkataan kak Zean barusan. Apa aku terlalu keras dengan diriku sendiri, apakah aku terlalu tinggi membangun tembok di hatiku. Bersama kak Zean mungkin aku bisa sedikit demi sedikit meruntuhkan tembok di hatiku, belajar menerima kehadiaran orang baru dan menikmati masa remajaku. Mungkin aku sudah terlalu lama mengurung diriku dalam kesedihan.
" Mas Zean, kenapa tidak bilang kalau datang hari ini".
Seorang laki-laki paruh baya dengan setelan kemeja dan jas datang menghampiri kami.
" Saya hanya lewat dan kebetulan saya lapar, jadi mampir kesini." Jawab kak Zean.
" Kebetulan ada yang mau saya bicarakan mengenai pembukaan restoran baru, apakah mas Zean punya waktu sebentar untuk mampir ke ruangan saya." Pinta si bapak yang sepertinya manager restoran ini.
Aku terkejut mendengar pembicaraan mereka. Jadi ini restoran milik keluarga kak Zean, pantas saja dia begitu antusian saat aku memuji pemilik restoran ini.
Dasar Narsis, gumamku dalam hati.
Setelah urusan kak Zean selasai, kami akhirnya pulang dan kak Zean mengantarku tapi hanya sampai di depan komplek rumahku saja karena aku khawatir kak Ega sudah pulang dan curiga melihat kami berdua.
" Kak, dari mana kakak tau aku ada di sana tadi?"
Pertanyaan yang sedari tadi sudah sangat ingin aku ucapkan dan mengobati rasa penasaranku.
" Aku mengikutimu."
" Maksud kakak?"
" Saat aku sampai dirumah, aku melihat kamu sedang berbicara dengan mbok Yem, setelah kamu pergi dan aku melihat kamu mengendarai motor besar ini aku sengaja mengikuti mu karena aku khawatir, untung saja ada ojek lewat depan rumahku"
" Kenapa kakak nggak langsung nemuin aku sih, kenapa malah ngikutin aku."
" Kalau aku langsung menemui mu mungkin kita nggak akan pacaran sekarang." Goda kak Zean
Aku tersenyum lagi mendengar jawaban kak Zean. Benar apa kata kak Zean, aku banyak tersenyum hari ini. Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku sekarang, aku belum bisa memimpikan akhir yang bahagia, tapi semoga awal kisah ini juga menjadi awal baru untuk hidupku.
Bersambung...
__ADS_1