
Dua hari setelah ciuman itu kak Zean sama sekali tidak bisa aku hubungi. Karena khawatir aku berencana untuk mengunjunginya di rumah.
Pagi ini aku bangun lebih awal, saat aku turun ke dapur aku melihat ibu yang tengah sibuk memasak di dapur, pemandangan yang sudah lama sekali aku rindukan.
" Sudah bangun?" Tanya ibu setelah menyadari kehadiranku di dapur.
" Sudah. Ibu masak?" Aku balik bertanya.
" Hmmm. Duduklah, kita sarapan bersama?"
Aku mengangguk dan duduk, sementara ibu terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk kami.
" Ibu memasak semuanya sendiri?" Aku menatap semua menu sarapan pagi ini.
" Ya, cobalah. Sudah lama ibu tidak memasak, mungkin rasanya akan sedikit tidak enak."
Melihat masakan ibu yang menggiurkan aku segera mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piringku, aku sangat merindukan sarapan buatan ibu, setahun terakhir ini aku selalu makan sarapan yang di buat kak Ega. Ah aku jadi merindukan kak Ega, padahal baru dua hari tidak bertemu, kenapa aku sangat merindukannya.
"Enak?" Tanya ibu setelah melihatku mulai makan.
" Masakan ibu tidak pernah salah." Jawabku sambil mengacungkan kedua jempol tanganku kepada ibu.
Ibu tersenyum melihatku menikmati masakannya. Aku menatap ibu sambil tersenyum, sudah lama sekali rasanya kami tidak pernah makan bersama seperti ini, seandainya ada kak Ega, pasti kebahagiaan ini akan lebih sempurna.
" Kak Ega belum mengabarimu?" Tanya ibu setelah beliau menyelesaikan makannya.
" Belum bu."
" Hmmm, mungkin kak Ega perlu lebih banyak waktu. Ibu harap Indhi mengerti karena ini semua bukan hal yang mudah untuk kak Ega."
Aku hanya mengangguk mendengar ucapan ibu. Benar kata ibu, aku harus lebih mengerti kak Ega. Bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan itu, aku saja masih tidak percaya jika kak Ega bukanlah kakak kandungku, pasti sangat berat untuk kak Ega mengetahui fakta dia pernah di terlantarkan oleh kedua orang tuanya.
" Ini untukmu." Ibu memberiku sebuah kotak kado yang lumayan besar.
" Apa ini bu?" Aku meraih kotak itu dari tangan ibu.
" Bukalah. Itu hadiah ulang tahunmu. Maaf ibu terlambat memberikannya."
Aku membuka kotak kado itu dan tak percaya dengan apa yang aku lihat, sebuah laptop keluaran terbaru yang sempat kak Ega janjikan akan membelikannya untukku.
" Kamu pasti sangat membutuhkannya untuk sekolah nanti."
" Terimakasih bu, Indhi memang sangat membutuhkannya, laptop lama Indhi sering sekali rusak, kak Zean sampai bosan memperbaikinya."
" Zean."
" Hmm, kak Zean sangat mahir dalam bidang ini." Jelasku.
" Kamu sangat menyukainya?" Tanya ibu penasaran.
Aku hanya menunduk kerena malu dengan pertanyaan ibu.
" Sepertinya dia anak yang baik. Ibu tidak akan melarang Indhi untuk berhubungan dengan Zean, tapi ingat pesan ibu, jangan sampai hubungan kalian mempengaruhi sekolah Indhi dan mengecewakan ibu."
" Iya bu."
" Ya sudah ibu harus ke kantor dan mungkin hari ini ibu akan pulang malam, kamu tidak apa-apa kan di rumah sendirian?"
" Tentu, lagi pula Indhi sudah terbiasa sendiri bu." Gumamku dalam hati.
Setelah kepergian ibu aku kembali ke kamarku, aku harus segera mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah kak Zean untuk memastikan keadaanya.
***
Matahari sudah mulai meninggi saat aku sampai di depan rumah kak Zean. Mobil dan motornya terparkir di garasi menandakan si pemilik berada di rumahnya.
Aku mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya seorang ibu hamil keluar dari rumah itu dan tersenyum ketika melihatku.
" Siapa mam?" Aku mendengar suara kak Zean dari dalam rumah.
" Your girlfriend." Jawab mamy kak Zean yang membuatku semakin terkejut.
" Masuk sayang, Zean ada di dalam." Ucap mami kak Zean mempersilahkanku untuk masuk.
" Terimakasih tante."
" Sweety." Sapa kak Zean saat melihatku berjalan di belakang mamynya.
" Mamy tinggal ya." Ucap mamy kak Zean sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada kak Zean.
" Duduk Pril."
__ADS_1
" Kakak baik-baik saja?" Aku bertanya kepada kak Zean setelah duduk.
" Tentu."
" Kenapa kakak tidak bisa dihubungi?"
" Maaf. Aku takut kamu marah padaku karena menciummu waktu itu."
" Jadi kakak sengaja menghindariku?."
" Bukan. Aku hanya sedang merenungi kesalahanku, aku pernah berjanji untuk tidak melakukannya tanpa persetujuanmu, tapi aku malah menciummu dan menuntut lebih malam itu."
" Menuntut lebih?"
" Hmmm. Aku hampir tidak bisa menahannya malam itu. Jadi jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa membuatku kehilangan kendaliku lagi."
" Hmm, untuk ciuman kemarin aku juga tidak menolaknya, jadi kakak tidak perlu merasa bersalah, kita melakukannya karena aku juga menginginkannya." Aku sedikit berbohong kepada kak Zean agar dia tidak terlalu merasa bersalah padaku.
" Thanks sweety, kedepannya aku harus lebih berhati-hati padamu. kamu berbahaya."
" Kapan mamy kak Zean pulang?"
" Seminggu yang lalu."
" Kenapa kakak tidak memberitauku kalau mamy kak Zean ada di rumah, aku sangat malu."
" Kenapa harus malu, mamy sudah tau semuanya."
" Semuanya."
" Hmm, sepertinya mamy sangat menyukaimu." Bisik kak Zean di telingaku.
" Dari mana kakak tau?"
" Mamy sangat antusias saat aku bercerita tentangmu, apalagi saat aku bilang aku pernah menangkapmu jatuh dari angkot."
" Kakak menceritakan hal itu juga?"
" Tentu, kejadian itu yang akhirnya membuat kita bisa bersama sekarang."
Aku dan kak Zean larut dalam cerita tentang pertemuan awal kami, beberapa kali aku terbahak saat mengingat kejadian-kejadian yang pernah kami lewati sebelum akhirnya kami sampai di titik ini. Tawa kami terhenti saat terdengar suara ketukan pintu, kak Zean pergi untuk membukakan pintu sementara aku masih menunggunya duduk di sofa.
Aku meremas tangaku saat melihat kak Natasha sedang mencium pipi kak Zean di depan pintu. Aku berusaha menahan amarahku saat pandanganku teralihkan ke tangan kak Natasha yang membawa sebuah kue ulangtahun.
" Sayang, apa yang sedang kamu lakukan disini?." Suara mamy kak Zean mengagetkanku.
Mamy kak Zean berjalan mendekatiku dan melihat adegan mesra anaknya bersama mantan pacarnya di depan rumah mereka.
" Ada apa lagi kamu kesini?." Teriak mamy kak Zean.
Kak Natasha melepas ciumannya dan mereka berdua menoleh ke arah kami. Mamy kak Zean menarik tanganku dan membawaku keluar menemui mereka.
" Sweety, ini tidak seperti apa yang kamu lihat." Jelas kak Zean setelah melihatku memergoki mereka.
" Kamu." Tunjuk mamy kak Zean ke wajah kak Natasha.
" Sudah berapa kali saya bilang untuk tidak menemui Zean lagi."
" Aku tidak bisa melupakan Zean tante." Jawab kak Natasha dengan wajah sedih yang sepertinya sengaja di buatnya.
"Setelah semua yang kamu lakukan kepada Zean, kamu masih berani bilang tidak bisa melupalannya?." Mamy berteriak semakin kencang.
" Aku khilaf waktu itu tan."
" Khilaf katamu. Kamu melakukannya bersama orang lain dan kamu meminta Zean untuk menangggungnya karena kamu berfikir Zean bodoh kan?."
" Bukan begitu tante. Aku sangat mencintai Zean, jadi aku tidak ingin kehilangnnya."
" Kamu mencintai Zean tapi kamu bercinta dengan orang lain, cuih perempuan macam apa kamu ini."
" Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah ganggu anak saya lagi." Mamy kak Zean mengusir kak Natasha dengan kasar.
" Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap kak Natasha sebelum dia pergi.
" Zean kenapa kamu hanya diam saja saat Natasha menciummu." Bentak mamy kak Zean.
" Maaf mam, aku pikir niatnya hanya ingin mengucapkan selamat ulangtahun."
" Kakak ulangtahun hari ini?." Tanyaku dengan suara parau.
" Ayo masuk dulu, kita bicarakan di dalam." Ucap mamy kak Zean.
__ADS_1
Aku menurut dan mengikuti mamy masuk ke dalam rumah. Mamy membawaku ke dapur dan menyuruhku untuk duduk di kursi meja makan kemudian beliau membawakan segelas air putih kepadaku sementara kak Zean berdiri di belakangku dan meperhatikan mamynya.
" Minum dulu, kamu pasti terkejut kan melihat tontonan tadi." Ucap mamy sambil menatap tajam kak Zean.
" Terimaksih tante."
" Kok tante sih, panggil mamy dong."
" Iya, terimaksih my." Jawabku sedikit ragu.
" Mamy tinggal dulu ya, sepertinya Zean akan menjelaskan sesuatu padamu. Pukul saja kepalanya kalau dia menyakitimu!" Terang mamy sebelum beliau meninggalkan kami.
Kak Zean menarim kursi di sebalahku dan duduk, kemudian dia memutar tubuhku agar kami saling berhadapan. Kak Zean meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
" Maaf karena membuatmu bersedih lagi, aku benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi barusan." Ucap kak Zean sambil menatapku.
" Kakak berulangtahun hari ini?"
" Hmm." Jawabnya singkat.
" Maaf."
" Kenapa kamu minta maaf?" Tanya kak Zean.
" Karena melewatkan momen spesial ini, aku tidak tahu hari ulangtahun kakak dan aku..."
" Sttt, kamu di sini menemaniku sekarang sudah lebih dari cukup." Ucap kak Zean memotong kalimatku.
" Hadiah apa yang kakak inginkan?"
" Maafmu." Pinta kak Zean.
" Baiklah, karena aku baik hati jadi aku akan memaafkan kak Zean, tapi berjanjilah tidak akan melakukannya lagi."
" Janji." Jawab kak Zean.
Aku berdiri dari dudukku dan berniat pamit pulang. Kak Zean metapku yang sudah berdiri. Aku membalas tatapannya yang hangat, aku mengigit bibir bawahku lalu mengumpulkan keberanianku sebelum akhirnya aku menundukan badanku dan aku mencium bibir kak Zean. Kak Zean terkejut mendapat ciuman dariku, dia menarik tanganku sehingga aku terjatuh di pangkuannya.
" Sudah aku bilang untuk tidak melakukan sesuatu yang membuatku tidak bisa menahan diri kan?" Ucap kak Zean sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku.
" Anggap saja ini hadiah dariku. Selamat ulangtahun kak, aku menyayangimu." Ucapku lalu aku memeluk tubuh kak Zean.
" Thanks Sweety, aku juga menyayangimu." Kak Zean membalas pelukanku.
Aku melepaskan pelukan kak Zean, aku menatap mata birunya yang begitu teduh. Mata kami saling bertemu, senyum yang indah berkembang di wajah kak Zean dan aku kembali mengecup bibir kak Zean.
Aku hendak bangun dari pangkuan kak Zean karena sudah terlalu lama aku dipangkunya, namun kak Zean malah melingkarkan tangannya di pinggangku yang membuatku tak bisa bergerak lagi.
" Sejak kapan kamu mempunyai keberanian untuk menciumku." Tanya kak Zean.
" Aku hanya ingin menghapus bekas ciuman wanita lain."
" Kamu cemburu?"
" Tentu saja. Apa kamu tidak akan marah jika melihatku di cium laki-laki lain?."
" Aku akan menghajarnya."
" Apa seharusnya tadi aku memukul kak Natasha?." Candaku.
" Tidak. Aku tidak ingin tanganmu ini menyakiti orang lain, tangan ini terlalu berharga." Kak Zean memegang tanganku lalu memciumnya.
" Bisa lepaskan aku sekarang kak, kalau mamy melihatnya bagaiamana?"
" Cium dulu baru aku akan melepaskanmu."
Cup, aku mencium bibir kak Zena lagi dan aku tertipu olehnya. Bukannya melelaskanku dia malah menekan tengkukku dan membalas ciumanku. Aku memejamkan mataku dan terhanyut dalam ciuman kak Zean. Lidah kami saling beradu, kami saling mengecap satu sama lain. Kak Zean melepas ciumannya, dia mengelap bibirku dengan tangannya.
" Terimaksih untuk kebahagiaan ini sweety."
BERSAMBUNG....
Hye semua apa kabar hari ini, semoga kalian dalam keadaan baik ya..
Maaf untuk hari ini aku hanya ups 1 eps dan itupun sangat telat..
aku harap kalian tidak bosan dengan ceritaku ya,
Aku sangat menghargai jika kalian mau meninggalkan saran di komentar, aku sangat membutuhkan saran dari kalian untuk memperbaiki karyaku ini..
❤❤❤
__ADS_1