Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 113 Tunggu Aku


__ADS_3

"Kak."Ucapku dengan mulut bergetar. "Zee buka matamu, aku mohon buka matamu sayang. Jangan begini, jangan menakutiku begini"


"Akhh, seseorang tolong panggilkan ambulans."Teriakku dengan terisak. Orang-orang mulai berkerumum mengelilingiku dan tubuh kak Zean yang bersimbah darah.


"Indhi."Teriak kak Ega, dia berlari dan diikuti ibu dibelakangnya.


"Kak, bagaimana ini, kak Zean tidak mau membuka matanya, darahnya begitu banyak, aku mohon tolong dia kak."


Aku semakin terisak, dadaku terasa penuh sesak, aku memukulnya berulangkali, namun ketika melihat wajah kak Zean, sesak itu semakin menghimpit dadaku.


"Tenanglah." Kak Ega mulai memeriksa tanda vital milik kak Zean, lalu dia menatapku sendu.


Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak akan mempercayai kak Ega kali ini, kupaksakan tanganku untuk memeriksa tanda vitalnya, berulang-ulang aku memindahkan tanganku, namun tak juga aku merasakan denyut nadinya.


"Ahh aku mohon jangan seperti ini, bangunlah." Tangisku semakin pecah.


Tak lama kemudian ambulans datang, harapanku masih belum hilang, aku percaya kak Zean akan baik-baik saja, dia akan sadar dan kami akan segera menikah.


Ambulan berhenti didepan UGD, mereka segera membawa tubuh kak Zean masuk dan memberinya pertolongan pertama. Kak Ega yang merupakan salah satu dokter dirumahsakit itupun turut masuk dan mengupayakan yang terbaik untuk kak Zean.


Hampir sepuluh menit lamanya, ibu terus memegangi bahuku dan mencoba menenangkanku.


Kak Ega dan salah seorang dokter keluar dari ruangan itu. Aku segera menghampiri kak Ega dan bertanya kepadanya. Namun kak Ega hanya diam, dia menatapku sedih, tangannya kini memegang kedua bahuku. "Maafkan kakak, kakak tidak bisa menyelamatkannya, Zean sudah pergi untuk selamanya."


Tubuhku terkulai lemas, rasanya begitu menyakitkan, bagaikan puluhan anak panah menghujam dijangtungku, aku tak bisa berkata-kata lagi, bagaimana bisa dia meninggalkanku seperti ini, teganya dia pergi setelah semua yang telah kita lewati selama ini. Aku berusaha kuat, aku mengusap air mataku dengan kasar, dengan sempoyongan aku berjalan menerobos masuk kedalam ruangan itu. Aku menghampiri tubuh yang kini tertutup kain putih itu, aku berusaha menahan air mataku, kudekati tubuh itu, perlahan namun pasti, dengan tangan yang bergetar hebat kuberanikan diri untuk membuka kain penutup itu.


Aku meraung-raung menangisi tubuh kak Zean yang sudah tidak bernyawa itu. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya dingin, aku menggenggam tangannya, masih berharap bisa merasakan kehangatan dari tangan itu, namun percumah, tubuh yang sudah terbujur kaku itu tidak mungkin akan memberiku kehangatan lagi.


"Ini tidak mungkin, kalian pasti sedang membohongiku kan." Ucapku kepada kak Ega dan dokter yang berada disana.


Aku mendekati kak Ega dan kutarik kerah bajunya. "Kakak sedang berbohong kan, jawab kak, jawab."Teriakku histeris sehingga mengundang perhatian orang-orang yang berada diluar ruangan.

__ADS_1


"Maafkan kakak, kakak sudah berusaha.."


"Lakukan lagi kak, bangunkan dia kak, aku mohon lakukan lagi, tolong dia, selamatkan dia kak."


"Indhi, sadarlah, kau juga tau kakak tidak mungkin membangunkannya lagi."


"Kalau begitu biar aku yang melakukannya, aku akan membangunkannya." Aku meninggalkan kak Ega dan kembali mendekati tubuh kak Zean.


"Sadarlah, Zean sudah pergi."


"Aku mohon kak, biarkan aku mencobanya, aku pasti bisa membangunkanya, aku mohon kak." Aku mengiba dibawah kaki kak Ega, apapun akan aku lakukan demi bisa mengembalikan kak Zean kedalam pelukanku.


"Oke, tapi kakak mohon bangun sekarang." Seru kak Ega menyetujui permintaanku.


"Tapi dok." Ucap dokter jaga itu keberatan namun kalimatnya segera dipotong oleh kak Ega. "Aku yang akan bertanggung jawab."


Kak Ega membantuku memasang kembali kabel-kabel pada mesin EKG dan menempelkan Electrode Ekstremitas didada kak Zean. Saat EKG menyala hanya ada garis lurus yang terpampang dilayar itu.


"Satu dua tiga." Aku menekan-nekan dada kak Zean. "Kembalilah, aku mohon." Aku menghentikkan tanganku, kupandangi layar EKG yang tak juga berubah bentuknya. "Sekali lagi, aku mohon, kali ini aku mohon bangunlah, atau aku akan membencimu." Aku kembali menekan dada kak Zean, namun tetap saja tidak ada respon darinya.


Saat aku akan melakukannya lagi, kedua tanganku dicekal oleh kak Ega. "Sudah hentikan, kamu menyakiti Zean jika terus begini, ikhlaskan dia pergi."


Aku menatap sendu wajah pucat itu dan air mataku kembali berderai. "Apa aku menyakitimu? Tapi kau juga menyakitiku jika pergi meninggalkanku seperti ini, bangunlah aku mohon. Kau bilang akan menikahiku kan, buka matamu dan menikahlah denganku." Aku melepas cekalan tangan kak Ega dan memeluk tubuh kak Zean, aroma vanila masih melekat ditubuhnya hanya saja aku tak merasakan lagi hangatnya pelukannya.


Aku kembali terisak, air mataku membanjiri leher kak Zean, aku enggan untuk melepaskan pelukanku. "Tunggu aku."Bisikku lirih ditelinganya.


Kak Ega membantuku turun dari atas tubuh kak Zean, ibu segera memelukku dengan erat, tanpa kata-kata, beliau hanya mengelus kepalaku penuh kasih sayang.


Aku menyaksikan kak Ega melepaskan kembali alat-alat yang melekat ditubuh kak Zean, badanku begitu lemas ketika wajah kak Zean telah tertutup oleh kain putih lagi, bagaimana hidupku selanjutnya, bagaimana aku bisa terus hidup tanpa ada kamu disisiku.


Ibu dan kak Ega memapahku keluar dari ruangan itu karena tubuh kak Zean akan segera dipindahan kekamar jenazah.

__ADS_1


"Indhi."Teriak Arum dan Dita bersamaan, mereka menghampiriku dan segera memelukku.


"Dia pergi, dia meninggalkanku, dia kembali mengingkari janjinya untuk selalu bersamaku." Ucapku dan aku kembali menangis dipelukam kedua sahabatku.


"Duduklah dulu, tenangkan dirimu." Ucap Arum, lalu dia mendudukanku dikursi tunggu.


Mereka berdua berlutut didepanku, masing-masing dari mereka memegangi tanganku dengan erat seolah sedang mentransfer energi kepadaku.


"Astaga kakimu." Pekik Dita begitu melihat kakiku tanpa alas kaki dan terluka. Aku lupa dimana aku meninggalakn alas kakiku. Dita berdiri dan berlari masuk kedalam ruangan dimana kak Zean berada didalamnya, dia keluar dengan menenteng kotak obat. Dengan telaten dia membersihkan kakiku dan mengobati bagian yang terluka. Dita lalu melepaskan sepatunya dan memakaikannya dikakiku, aku menatapnya dalam, dia hanya tersenyum kepadaku. "Pakailah, aku membawa sepatu lain dilokerku." Aku begitu terharu dengan sikap sahabatku, melihat mataku yang mulai berair lagi, keduanya kembali memelukku dengan erat.


Setengah jam kemudian, tubuh kak Zean sudah dipindahkan keruang jenazah, kami menunggu mamy untuk membawa jenazah kak Zean pulang dan menguburnya.


Aku, ibu, kak Ega dan kedua sahabatku menunggu kedatangan mamy didepan kamar jenazah, tak lama kemudian mamy datang beserta mbok Yem dengan tergopoh-gopoh.


"Mana Zean, dimana dia, kalian sedang bermain-main kan, Zean tidak mungkin pergi kak." Ucap mamy sembari mengguncang tubuhku.


Aku hanya membisu, leherku seakan tercekik sehingga aku tidak bisa menjawab pertanyaan mamy. Mamy mulai menangis sesegukan, kak Ega menuntunya masuk kedalam kamar jenazah dan diikuti oleh mbok Yem. Aku tidak mengikuti mereka masuk, karena aku tak mampu melihat kesedihan mamy yang ditinggal oleh putra terkasihnya.


Kak Ega keluar setelah mengantarkan mamy masuk dan tak lama kemudian datang dua orang berseragam polisi.


"Selamat siang, dengan keluarga pak Arzean Wijaya?"Tanya salah seorang petugas itu.


"Kami kerabatnya, mamy-nya masih didalam." Jawab kak Ega. "Apa ada yang bisa kami bantu?" Imbuh kak Ega menanyakan maksud kedatangan kedua polisi itu.


"Kami sudah menangkap pelaku dan sekarang berada dikantor kami. Mohon kesediannya untuk datang sebagai saksi."


BERSAMBUNG...


Note..


EKG adalah tes untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung menggunakan mesin pendeteksi impuls listrik (elektrokardiograf). Alat ini menerjemahkan impuls listrik menjadi grafik yang ditampilkan pada layar pemantau.

__ADS_1


__ADS_2