
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan pintu UKS terbuka, aku terkejut melihat dua orang yang muncul dari balik pintu.
" Kakak." Ucapku kaget saat melihat kak Ega dan kak Zean muncul dari balik pintu dan mereka bergegas menghampiriku.
" Kamu baik-baik saja, ada yang luka." Ucap kak Ega panik.
" Wajahmu." Ucapnya lagi saat dia melihat luka gores di wajahku sementara kak Zean hanya mematung memperhatikan kami.
" Kak Zean tidak ada kelas?" Tanyaku gusar.
Kak Ega mundur beberapa langkah, memberi ruang kepada kak Zean, kekecewaan nampak jelas di wajahnya.
" Are you okay?" Tanya kak Zean dengan suara bergetar.
" Siapa yang berani menyakitimu?" Tanya kak Zean sembari mengelus wajahku, sementara kak Ega memilih membuang mukanya dan melihat ke arah lain.
" Aku nggak papa kak, kakak nggak perlu khawatir, hanya luka kecil."Kataku berusaha menenangkan kak Zean.
" Dia bohong kak, kakinya terkilir." Celoteh Arum dan membuat kak Ega kembali mendekat ke arahku.
" Kaki yang mana?" Tanya kak Ega lagi, kini dia sudah memegangi kakiku.
" Kaki yang dulu pernah terkilir kak." Jawabku pelan, kak Zean terlihat panik tapi dia berusaha menahannya karena sudah ada kak Ega yang sedang memeriksa kondisi kakiku.
Kak Ega melepaskan sepatu dan kaos kakiku, dia tercekat begitu melihat pergelangan kakiku.
" Astaga, lihat kakimu yang membiru ini dan kamu masih bilang kamu baik-baik saja." Seru kak Ega, kak Zean ikut memeriksa kakiku dan dia tak kalah terkejutnya dari kak Ega.
" Kita harus ke rumah sakit sekarang. Lukamu perlu di periksa secara mendalam untuk memastikan tidak adanya struktur dalam yang rusak atau sendi yang bergeser dan kita perlu foto X-Ray atau Rontgen untuk memastikannya." Jelas kak Ega.
"Rum tolong bantu kakak mengemas barang-barang Indhi dan Zean bisakah kamu memintakan izin kepada gurunya?" Imbuh kak Ega memerintah.
" Baik kak." Arum bergegas pergi, sementara kak Zean hanya mengangguk dan pergi meninggalkan kami.
" Siapa yang melakukan ini kepadamu?" Tanya kak Ega sembari membersihkan luka gores diwajahku lagi.
" Arum sudah mengobatinya kak."
" Kakak hanya memastikan kalau Arum melakukannya dengan benar atau tidak."
" Mana lagi yang luka."
" Ini." Aku kembali menunjuk sikuku.
" Kakak akan melaporkan kejadian ini ke sekolah, ini kriminal namanya." Tegas kak Ega setelah dia memihat luka lecet di tanganku dan ada beberapa memar di sana.
" Jangan kak." Larangku pada akhirnya, meskipun aku sangat membenci Naura tapi aku tidak tega jika dia sampai di keluarkan dari sekolah.
" Kenapa?" Tanya kak Ega penasaran.
" Temanku hanya salah paham kak, aku tidak mau urusan ini menjadi panjang."
__ADS_1
" Tapi dia menyakitimu, kakak tidak terima itu."
" Aku mohon kak, biarkan saja untuk kali ini ya, please."
" Baiklah, tapi tidak dengan lain waktu, jika dia berani menyakitimu lagi, kakak tidak akan segan-segan untuk melaporkannya kepada pihak sekolah."
" Makasih kak."
" Dari mana kakak tau kalau aku ada di UKS?"
" Arum mengabari kakak, dia bilang kamu terluka dan harus segera di obati, kakak panik dan segera kemari."
" Bagaimana dengan pasien kakak, kenapa kakak malah meninggalkan mereka?"
" Kakak sudah meminta tolong rekan kakak untuk menghandle semua pasien kakak hari ini."
Beberapa waktu kemudian Arum datang dengan membawa tasku, lalu di susul kak Zean di belakangnya.
" Terimakasih Rum, kakak akan membawa Indhi ke rumahsakit sekarang." Ucap kak Ega setelah meraih tas dari tangan Arum.
" Aku akan ikut." Imbuh kak Zean.
" Bukannya kakak harus mengajar kak?"
" Iya, tapi aku sangat mengkhawatirkanmu, aku akan izin pulang dan menemanimu ke rumah sakit."
" Tidak perlu kak, lagi pula ada kak Ega, kakak bisa menemuiku setelah pulang sekolah nanti, lebih baik kakak mengajar dulu, kasian murid-murid kakak, mereka pasti menunggu kakak."
" Heem." Aku mengganguk.
" Baiklah jika itu maumu, aku akan menemuimu setelah pulang sekolah nanti."
" Tolong jaga Indhi kak." Pinta kak Zean sembari menatap kak Ega.
" Ya, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."
" Hati-hati ya Ndi, sepulang sekolah nanti aku juga akan menemuimu." Ucap Arum.
" Iya Rum."
Kak Ega dan Arum membantu memapahku berjalan menuju parkiran, sementara kak Zean mengikuti kami di belakang, dia terlihat begitu khawatir namun dia tak bisa melakukan apapun karena kami berada di sekolah.
" Kakak akan menggendongmu." Ucap kak Ega membuatku terkejut.
" Aku masih bisa jalan kak." Tolakku, aku merasa tidak enak hati, aku juga berusaha menjaga perasaan kak Zean, aku menoleh sebentar dan melihat wajahnya di penuhi gurat kecemburuan.
" Kakak hanya takut lukannya semakin parah." Jelas kak Ega, namun sejurus kemudian dia sudah menggendongku ala bridal style, karena takut jatuh mau tidak mau aku akhirnya melingkarkan tanganku di leher kak Ega.
Kak Zean menatap kami lekat, wajahnya mulai memerah, aku menatapnya dari balik gendongan kak Ega dan mengucapkan maaf meskipun tak bersuara, dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil kepadaku.
Setelah sampai di parkiran, kak Ega segera memasukkanku ke dalam mobilnya, dia berjalan memutari mobil dan masuk kedalamnya. Aku menurunkan kaca mobil dan kak Zean menundukkan tubuhnya mendekatiku.
__ADS_1
" Segera temui aku setelah pulang sekolah nanti." Ucapku lirih.
" Tentu saja, semoga kakimu baik-baik saja, terus beri kabar padaku ya." Balas kak Zean, dia mengelus rambutku dan tersenyum, mata birunya di penuhi kesedihan.
" Iya kak."
Kak Ega melajukan mobilnya meninggalkan sekolah dan menuju ke rumah sakit. Sepanjang jalan kami hanya terdiam, kak Ega fokus pada jalanan di depannya sementara aku hanya mengamati jalanan yang lengang dari balik kaca.
Kak Ega kembali menggendongku masuk ke dalam rumahsakit dan membuat perhatian orang-orang di sekitar rumahsakit tertuju kepada kami, bahkan beberapa staf dan perawat saling berbisik melihat kak Ega yang tengah menggendongku.
Seorang perawat menghampiri kami, dia membawakan kursi roda untukku dan kak Ega dengan hati-hati mendudukanku diatasnya.
" Terimakasih sus." Ucap kak Ega.
" Sama-dama dok. Oh ya dokter Kevin bisa segera ke ruang X-Ray, saya sudah mendaftarkannya tadi." Ucap si perawat yang terlihat sudah senior, sepertinya dia hampir seumuran dengan ibu.
Kak Ega mendorongku menuju ruang X-Ray, sesampainya di sana kami sudah di tunggu oleh seorang dokter laki-laki.
" Jadi seleramu yang masih fresh begini Vin?" Tanya dokter itu setelah kami masuk ke dalam ruangannya.
" Dia adikku." Jawab kak Ega singkat.
" Adik, sungguh. Kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku mempunyai adik secantik ini." Goda dokter Aditya, aku melihat name plate di jas dokternya.
" Cepat periksa dia, kakinya pernah terkilir setahun lalu dan dia terkikir lagi di bagian yang sama aku khawatir ada sendinya yang bergeser."
" Iya baiklah, aku akan segera memeriksanya."
Kak Ega membantuku naik ke atas tempat tidur, sementara dokter Aditya mempersiakan peralatan yang akan dia gunakan untuk memeriksa kakiku, dia mengarahkan sebuah alat di atas kakiku.
" Bagiamana hasilnya?" Tanya kak Ega.
" Lihatlah." Ucap dokter Aditya, dia mengarahkan tangannya pada sebuah layar.
" Ada pergeseran sendi di sini, untung saja tidak terlalu parah."
Setelah selesai memeriksa kakiku dokter Aditya kembali duduk di kursinya dan kak Ega membantuku kembali ke kursi roda.
" Kamu yakin tidak terlalu parah?" Tanya kak Ega ragu.
" Kamu meragukan kinerjaku, aku sungguh kecewa padamu dokter Kevin?" Balas dokter Aditya dengan candanya.
" Bukan begitu, aku hanya mengkhawatirkan kondisi adikku."
" Tenang saja, dia tidak apa-apa, aku akan memberinya pereda nyeri."
" Jangan dulu beraktivitas yang berlebihan ya, kamu harus menjaga kakimu agar dia cepat pulih." Jelas dokter Aditya kepadaku, aku hanya menggangguk mengiyakan perintahnya.
" Tapi apakah kalian benar-benar saudara kandung, wajah kalian tidak mirip sama sekali?"
Bersambung....
__ADS_1