
" Ze." Nama itu spontan keluar dari mulutku lagi.
Aku melihat bibir kak Zean sedikit terangkat mendengarku memanggil namanya lagi.
" Ada apa?" Tanyaku sambil berusaha melepaskan diri dari kak Zean.
" Aku akan mengantarmu!"Kak Zean menarik tanganku lalu berjalan ke arah mobilnya.
Aku yang masih sedikit kaget dengan sikap kak Zean menurut begitu saja dan mengekor di belakangnya.
" Lepas!"Ucapku saat mulai menguasai keadaan.
" Kenapa?" Kak Zean bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Excuse me. Anda mengenal saya?"
" Pril, aku hanya ingin mengantarmu pulang, aku khawatir kamu pulang sendirian."
" Dari mana anda tau nama saya?"Aku semakin jengkel dengan sikap kak Zean.
" Ayolah Pril, jangan kaya gini." Kak Zean mulai frustasi dengan kebohonganku yang pura pura tidak mengenalnya.
" Kalau begitu saya permisi." Aku meninggalkan kak Zean yang masih berdiri di dekat mobilnya.Aku sudah benar benar jengkel dan ingin segera pulang.
" Pril, kamu kenapa si. Niatku baik, aku cuma ingin mengantarmu pulang." Suara kak Zean mulai meninggi, mungkin karena jarak kami sudah lumayan jauh.
Aku menghentikan langkahku, berbalik dan berjalan kembali mendekat ke arah kak zean.
" Aku kenapa. Bukannya seharusnya aku yang nanya kaya gitu ke kamu. Kamu kenapa, kenapa tiba-tiba ngilang nggak jelas, nggak ada kabar sama sekali. Aku beberapa kali mengirim pesan dan kamu selalu mengacuhkannya. Terakhir kali, kamu menawarkan sebuah pertemanan, meberiku gelang, mengajakku ke tempat rahasimu, dan tanpa aku tau salahku di mana kamu tiba-tiba menghindariku. Dan lagi, tadi saat di restoran, apa kamu ada sedikit niat untuk menyapaku. Tidak kan. Tentu saja tidak karena ada pacar kamu di sana kan. Lalu sekarang apa, kamu bertanya aku kenapa?"
__ADS_1
Aku berteriak mengeluarkan semua isi hatiku, mengutarakan semua pertanyaan yang selama ini aku simpan.
" Sorry!" Ucapnya sambil menunduk.
" Sorry? Untuk apa, untuk bagian yang mana? Rasanya kita tak punya sesuatu untuk saling memaafkan!"
" Pril, aku tau aku salah. Aku sibuk waktu itu, aku nggak ada waktu buat bales pesan dari kamu." Kak Zean menarik kedua tanganku dan menggenggamnya.
" Nggak ada waktu, heh?" Aku tersenyum sinis dan melepas tanganku dari genggamannya.
" Udahlah. Udah nggak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Mulai sekarang, bersikaplah seperti kita tidak saling kenal, jangan pernah saling menyapa jika kebetulan berpapasan di jalan!"
" Dan ini." Aku melepas gelang pemberian kak Zean dan mengembalikan kepadanya.
" Kamu sudah tak ingin berteman denganku lagi?" Kak Zean meremas gelang itu.
" Pakai lagi ya, aku sengaja membuatkannya untukmu. Jangan seperti ini Pril, aku nggak suka kamu kaya gini, aku mohon."
" Lalu kamu menyukaiku yang seperti apa?" Tanyaku kembali terpancing emosi.
" Kamu yang seperti waktu itu, beberapa bulan yang lalu."
" Apa hak kamu mengatur aku untuk jadi seperti dulu, memangnya kamu siapa? Apa kamu menyukaiku?" Aku menyesal mengucapkan kalimat terakhir.
Kak Zean hanya terdiam, matanya memerah, dia seperti sedang menahan air matanya.
" Tidak kan, jelas kamu tidak akan menyukaiku. karena aku bukan siapa-siapa, jadi aku mohon kak, jangan ganggu aku lagi, mari hidup dengan tenang, tanpa mengenal satu sama lain."
" Tapi apa alasannya, kenapa kita harus pura-pura tidak saling kenal?"Tanyanya dengan sok lugu, atau mungkin dia benar benar tidak tau dengan maksud kemarahanku.
__ADS_1
" Karena aku tak pernah menganggap kakak sebagai teman, aku melihat kakak sebagai seorang pria. Karena aku menyukaimu kak, dan kakak sama sekali tidak menyukaiku bahkan mungkin kakak tidak menyadari keberadaanku. Dan aku benci kenyataan itu. Jadi aku mohon, biarkan aku melupakan perasaan ini dengan tidak menemuiku lagi."
Entah kegilaan macam apa, aku mengutarakan perasaanku kepada kak Zean. Dia hanya terdiam mendengar pernyataan cinta dari gadis kecil sepertiku. Tak mendapat respon dari kak Zean, aku berlari meninggalkan kak Zean sebelum aku bertambah malu karena mendapat penolakan nantinya. Kak Zean masih terpaku di tempatnya berdiri dan sudah tak berusaha untuk mengejarku lagi.
Tubuhku bergetar, aku duduk di kursi yang tersedia di trotoar jalan, aku sudah tidak sanggup berjalan lagi. Aku mengatur nafasku perlahan dan tak terasa butiran bening berhasil lolos dari mataku. Aku mengusapnya dengan kasar.
" Dasar bodoh, untuk apa aku menangisi dia. Bagus Ndi, bagus, setidaknya kamu sudah berani mengungkapkan perasaan yang selama ini kamu pendam, sudah tak ada beban lagi kan? sekarang mari fokus pada sekolahmu Ndi, lupakan kak Zean, anggap dia tak pernah ada dan kamu tak pernah mengenalnya. Benar apa kata orang cinta pertama tak akan pernah berhasil." Aku mencoba menguatkan diriku sendiri.
Setelah merasa sedikit tenang, aku memutuskan untuk pulang. Aku tersenyum simpul mengenang kisahku yang begitu menyedihkan. Kisah yang aku selesaikan bahkan sebelum aku memulainya. Betapa menyedihkannya kisah cinta pertamaku.
POV ZEAN
Aku masih mematung di tempatku berdiri, masih tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Gadis itu dengan berani mengutarakan perasaannya kepadaku, sedangkan aku hanya diam dan membiarkannya pergi begitu saja.
Aku mengamati gelang yang di kembalikan olehnya, aku kembali merutuki diriku sendiri, kenapa aku tak memiliki keberanian saat dia bertanya apa aku menyukainya. Seharusnya aku berteriak waktu itu, seharusnya aku bilang, Ya aku menyukaimu, sangat sangat menyukaimu, sampai aku tak tau harus bersikap seperti apa terhadapmu, sampai aku takut akan melukaimu. Aku tertarik kepadamu saat pertama bertemu denganmu, lalu di pertemuan selanjutnya aku semakin ingin mengenalmu dan lebih dekat denganmu. Aku sangat bahagia saat sedang bersamamu, detak jangtungku selalu menggebu saat aku berdekatan denganmu, aku kesal dan marah saat melihatmu dekat dengan laki laki lain, bahkan aku sampai cemburu melihat kedekatanmu dengan kakakmu. Aku sebegitu menyukaimu. Aku tak bisa menahan perasaanku, tapi aku juga tidak berani mengutarakannya kepadamu. Aku takut akan menyakitimu suatu hari nanti. Maaf, maafkan aku yang begitu pengecut dan tak berani jujur kepadamu.
Aku melajukan mobilku kembali, menyusuri jalan dan berharap akan melihatnya lagi.
" Ketemu". Ucapku saat melihat dia sedang duduk di trotoar.
Aku menghentikan mobilku, aku mengumpulkan keberanian dan ingin menghampirinya, mengutarakan semua yang aku rasakan kepadanya. Aku menurunkan kaca mobilku dan mengamatinya dari seberang jalan.
Aku mengurungkan niatku, aku tak seberani itu untuk menemuinya, aku membeku saat melihat dia sedang mengusap air matanya.
Apa yang sudah aku lakukan pada gadis itu, aku bahkan sudah menyakitinya sekarang, aku sudah membuatnya menangis. Mungkin benar apa yang dia katakan, aku harus menjauh dari hidupnya, membiarkannya bahagia denga hari harinya tanpa diriku. Aku memang sangat menyukaimu tapi aku tak suka melihatmu menangis karenaku.
Berbahagialah, my sweety girl.
Bersambung.....
__ADS_1