Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 54 Rahasia besar kak Ega


__ADS_3

" Kebenaran mana yang ibu maksud?" Suara kak Ega berhasil membuat aku dan ibu terkejut.


" Duduklah." Perintah ibu kepada kak Ega.


Kak Ega menurut dan duduk di di sebelah ibu sementara aku berada di sisi yang lain.


" Dari mana kamu mendapatkan ini?" Tanya ibu kepada kak Ega.


" Dari rumah." Jawab kak Ega singkat.


" Kapan Ega menemukannya?"


" Setelah hari kelulusan Indhi. Ega pulang waktu itu karena ingin bertanya kepada ibu, kenapa ibu tidak datang di acara kelulusan Indhi."


" Ega sudah membacanya?" Suara ibu benar-benar sangat lembut sekarang.


" Hmmm." Jawab kak ega sambil mengangguk.


" Jadi apa benar yang di maksud dalam surat itu adalah Ega?" Tanya kak Ega.


Ibu meraih kedua tangan kak Ega dan menggenggamnya, sedetik kemudian ibu terisak lalu memeluk kak Ega dengan erat.


Aku masih menunggu jawaban dari ibu, aku masih berharap jawaban ibu adalah bukan, aku terus berdoa dalam hati jika ini semua tidak benar dan bukan kak Ega yang di maksud dalam surat itu.


" Apa Ega mengingat sesuatu setelah membaca surat ini?"


" Jauh sebelum ini Ega selalu bermimpi, Ega melihat seorang anak lelaki sedang menangis di pinggir jalan sambil berteriak memanggil ibunya."


" Lalu?"

__ADS_1


" Hanya itu bu. Bisa ibu ceritakan sekarang."


" Ega tidak akan marah kepada ibu?" Tanya ibu.


Kak Ega menggelengkan kepalanya.


" Kejadiannya sekitar 20 tahun yang lalu, ayah dan ibu baru saja pulang dari kantor. Hari itu kami sengaja pulang lebih awal karena ingin makan malam bersama. Ketika kami pulang dari restoran kami melihat seorang anak sedang duduk di tepi jalan dan sepertinya dia sedang kebingungan. Ayah kalian menghentikan mobilnya dan menghampiri anak itu dan kemudian ibu menyusul di belakangnya. Ketika kami menghampirinya, dia sedang menangis sambil memeluk sebuah tas dan terus memanggil ibunya. Kami terus bertanya kepada anak itu, tapi dia tidak mengatakan apapun sampai akhirnya anak itu tidak sadarkan diri dan kami membawanya ke rumahsakit terdekat."


Ibu menjeda kalimat panjangnya, mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan karena menahan gejolak emosi di dadanya.


" Setelah anak itu sadar kami kembali bertanya padanya dan kami semua terkejut saat anak itu malah bertanya kepada kami siapa dia. Dokter mengira anak itu mengalami amnesia sesaat karena terlalu syok. Kami belum menyerah dan membawa anak itu ke kantor polisi. Kami sedikit lega saat menemukan beberapa petunjuk dari dalam tas yang di bawa anak itu. Di Dalam tas itu ada Akta kelahiran dan sebuah kotak kayu yang isinya beberapa lembar foto serta sepucuk surat dan di salah satu foto itu ada sebuah alamat di baliknya. Karena sudah malam petugas polisi di sana menyuruh ibu dan ayah untuk pulang sementara anak itu akan di titipkan di panti asuhan sampai polisi menemukan orangtua anak itu."


" Ibu keberatan dengan usulan petugas polisi dan ibu meminta izin utuk membawanya pulang bersama kami. Setelah beberapa waktu berunding akhirnya kami di izinkan untuk membawa anak itu pulang dengan syarat kami harus meninggalkan kartu identitas kami. Kami membawanya pulang malam itu. Dia benar-benar kehilangan semua memorinya, bahkan dia tidak mengingat namanya sendiri."


" Seminggu kemudian 2 orang petugas polisi datang ke rumah kami dengan membawa tas dan kotak kayu milik anak itu, mereka bilang mereka tidak bisa menemukan kedua orangtua anak itu dan meminta izin kepada kami untuk membawanya ke panti asuhan seperti rencana awal mereka. Seminggu merawat anak itu membuat ibu enggan melepaskannya, apalagi waktu itu kami belum mempunyai anak meskipun sudah 10 tahun menikah. Akhirnya ibu meminta izin kepada ayah kalian untuk mengadopsi anak itu dan ayah kalian langsung setuju. Kami sepakat untuk mengadopsi anak itu. Mungkin Tuhan memberi kami anak dengan cara ini, meskipun tidak keluar dari rahim ibu tapi ibu berjanji akan merawat dan menyayangi anak itu seperti anak kami sendiri. Besoknya kami segera mengurus segala keperluan untuk mengadopsi anak itu. Setelah perjalanan yang panjang akhirnya anak itu sah menjadi anak kami. Kami memberi identitas baru untuk anak itu, termasuk nama dan tahun kelahirannya. Ayah kalian sangat bahagia waktu itu dan dia dengan bangganya menamai anak itu dengan nama Kevin Ega Irvantara."


Aku menangis mendengar nama kak Ega keluar dari mulut ibu, aku menolak untuk percaya dengan semua cerita ibu. Bagaiamana mungkin kak Ega bukan kakak kandungku, aku sungguh tidak ingin percaya dengan ini semua.


" Ibu tidak merubah tanggal kelahiranmu, kami hanya merubah tahunnya saja karena waktu itu kami ingin menyekolahkanmu di sekolah dasar. Jadi ibu memajukannya setahun lebih muda dari usiamu yang sebenarnya agar kamu lebih mudah bergaul dengan teman-temanmu nantinya."


" Maafkan ibu Ega. Maafkan ibu yang terlalu egois dan merahasiakan ini semua dari kamu. Ibu terlalu bahagia saat memiliki kamu, apalagi setelah ibu melahirkan adikmu, ibu semakin egois dan memutuskan untuk menutup rapat rahasia ini. Ibu tidak ingin kehilangan anak ibu, anak laki-laki kebanggaan ibu."


" Terimakasih bu." Ucap kak Ega lalu memeluk ibu dengan erat.


" Terimaksih telah berbesar hati merawat Ega dan memberikan semua yang terbaik untuk Ega, maafkan Ega karena belum bisa jadi anak yang berbakti kepada ibu."


" Apa sejak awal Ega sudah tau tentang ini?"


" Hmm, hanya saja Ega tidak berani bertanya kepada ibu, Ega memilih diam dan merahasiakannya. Maafin Ega bu."

__ADS_1


" Kalau begitu pulanglah, ibu sangat merindukan kalian."


" Beri Ega sedikit waktu lagi bu, Ega akan pulang setelah menenangkan hati dan fikiran Ega. Ibu bisa membawa Indhi pulang lebih dulu."


" Tapi kak, aku mau di sini sama kakak."


Kak Ega berdiri dan mendekatiku lalu dia berlutut di depanku.


" Beri kakak waktu untuk sendiri ya, kakak janji akan menyusul Indhi pulang setelah kak Ega tenang." Ucapnya sambil mengusap air mata di wajahku.


" Kakak tidak akan meninggalkan kami kan? Kakak tetap menjadi kakak Indhi kan?"


" Dasar bodoh, tentu saja aku tetap kakakmu. Kakak tidak akan pergi kemanapun karena yang kakak punya hanya kalian."


Kak Ega memelukku dengan erat. Aku menangis di pelukan kak Ega, aku masih tidak percaya dengan semua ini, aku masih berharap semuanya hanya kebohongan.


" Tidurlah, besok kakak antarkan kalian pulang."


" Berjanjilah untuk segera pulang. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama."


" Kakak janji akan pulang secepatnya." Ucap kak Ega sambil mengelus kepalaku.


Aku kembali memeluk kak Ega. Aku ingin melepaskan semua kekhawatiran yang aku rasakan. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi karena selamanya kak Ega adalah kakakku, kakak tersayangku.


BERSAMBUNG...


Hye semua apa kabar hari ini, semoga kalian semua selalu sehat ya..


Jadi apakah kalian bisa menebak siapa perempuan yang kak Ega sukai?

__ADS_1


🤫🤫🤫


Tulis jawaban kalian di komentar ya..


__ADS_2