Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 62 Tunggu 10 tahun lagi


__ADS_3

" Berjanjilah tidak akan memaksanya lagi. Suatu saat nanti, saat aku siap aku akan memberikannya tanpa harus di paksa."


" Hm aku janji."


Beberapa saat kami saling diam, kami larut dalam fikiran kami masing-masing. Aku menatap kak Zean yang masih berlutut didepanku, gurat penyesalan belum hilang dari wajahnya, aku bahkan bisa melihat dengan jelas bendungan air di matanya. Aku menarik tangannya agar dia bangun, dia menurut dan kini duduk di sebelahku.


" Mau turun sekarang?" Ucap kak Zean memecah keheningan.


" Hmmm. Boleh aku numpang ke kamar mandi sebentar?"


" Tentu."


"Aku akan memesan sesuatu untuk di makan, kamu pasti lapar kan, apa yang ingin kamu makan?"


" Humburger." Jawabku sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.


Aku membasuh wajahku dan berusaha untuk menghilangkan ketakutanku. Aku tidak boleh menunjukan rasa takut ini di depan kak Zean, dia pasti akan terus menyalahkan dirinya sendiri.


Aku menatap cermin dan memiringkan kepalaku, aku menyentuh sebuah tanda berwarna merah gelap di leherku, aku menggigit bibir bawahku saat mengingat kejadian tadi, aku merasa begitu munafik, aku merasa takut dan sedih dengan perbuatan kak Zean tetapi di sisi lain aku juga menikmatinya.


Aku keluar dari kamar mandi dan melihat kak Zean masih duduk di tepi tempat tidurnya.


" Kak, boleh aku meminjam sesuatu untuk menutupi ini?" Aku menunjuk tanda di leherku.


Kak Zean berdiri dan memeriksa leherku, dia menyibakkan rambutku lalu mengusap tanda merah itu.


" Maaf."


" It's okay. Bisa pinjamkan jaket atau apapun untuk menutupinya?"


Kak Zean berjalan menuju lemari bajunya dan mengambil sesuatu.


" Ini milikmu." Dia menyerahkan sebuah celana jeans dan hoodie.


" Kenapa pakaianku ada di sini kak?"


" Kamu meninggalkan baju kotormu di butik waktu itu."


" Kapan?"


" Sepertinya kamu benar-benar pelupa ya. Saat hari pertama kita pacaran, kamu ingat, kita terjatuh di bukit."


" Ah, aku ingat sekarang. Aku ganti baju sebentar kak." Aku meraih pakaianku dari tangan kak Zean lalu pergi ke kamar mandi lagi.


Saat keluar kamar mandi aku sudah tak melihat kak Zean di kamar lagi, mungkin dia sudah turun. Aku melipat baju seragamku , memasukannya ke dalam tas lalu keluar dari kamar untuk mencari kak Zean.


Aku menuruni tangga dan melihat kak Zean sedang berada di dapur.


" Sudah selesai?" Tanya kak Zean saat melihatku mendekat.


" Sudah. Kakak lagi ngapain?"


" Memindahkan kentang goreng ke piring. Ini burger mikikmu." Kak Zean menunjuk burger yang berada di atas meja.


" Makasih." Ucapku lalu menarik kursi dan duduk.


" Kok mamy belum pulang kak?"


" Macet mungkin."


" kenapa kalau makan suka belepotan gini si?" Ucap kak Zean sambil mengelap noda saos di pojok bibirku.

__ADS_1


" Hehe, makasih kak." Aku kembali mengusap bibirku.


" Kentangnya enak kak?"


" Kamu mau?" Kak Zean menyodorkan kentang gorengnya ke depanku.


" Burgernya enak?" Tanya kak Zean sambil menatap burgerku.


Belum sempat menjawab kak Zean sudah menarik tanganku yang memegang burger lalu menggigitnya. Aku hanya tersenyum melihat kak Zean yang tengah mengunyah makanannya. Setahun bersama membuat kami terbiasa untuk berbagi makanan, sepertinya kata jijik atau risih sudah tidak ada lagi di antara kami.


" Duh, yang makin lengket." Ucap mamy yang baru saja datang.


" Mamy, kok kita nggak denger mamy buka pintu?." Tanyaku penasaran.


" Kalian lagi asyik makannya nggak denger kalau ada yang masuk." Goda mamy.


Aku tersenyum dan segera mencuci tanganku lalu menyalami mamy.


" Sudah lama Ndi?" Tanya mamy.


" Lumayan mi, oh ya Sam mana?" Aku celingukan karena tidak melihat baby Sam.


" Sama mbok Yem di luar. Itu dia." Mamy menunjuk Sam yang berada di gendongan mbok Yem.


" Indhi boleh gendong nggak mi?" Tanyaku ragu.


"Boleh dong."


Mendengar jawaban mamy aku segera menghampiri mbok Yem, beliau membantuku memindahkan baby Sam ke dalam gendonganku.


" Udah pantes." Goda kak Zean dengan wajah nakalnya.


" Aku baru 16 tahun kak."


" Dengerin tu kak apa yang mamy bilang, kerja dulu yang rajin buat nafkahin anak orang." Aku balas meledek kak Zean.


" Jadi kamu mau di nafkahin?." Sambung kak Zean.


" Ya mau, tapi entar?"


" Kapan?


" Aku sekarang baru kelas 1 SMA, dua tahun lagi baru lulus, empat tahun kuliah kedokteran, dua tahun untuk Co-*** dan satu tahun Internship, jadi sekitar 9 atau 10 tahun lagi kak."


" Sampai aku tua dong?"


" Ya udah nyari yang lain aja kalau nggak mau nungguin." Gerutuku.


" Aku akan nungguin kamu sampai kapanpun sweety."


" Sejak kapan kamu jadi tukang gombal Ze?"


"Sejak menemukan bidadari yang jatuh dari angkot my."


" Kakaaakk."


Kak Zean tertawa lalu di ikuti oleh mamy dan juga mbok Yem. Kak Zean benar-benar menceritakan semuanya kepada mamy, termasuk kejadian jatuh dari angkot. Kata kak Zean, kejadian itu adalah awal dari kebersamaan kami jadi kami harus selalu mengingatnya.


**


Hari sudah mulai gelap, setelah berpamitan dengan mamy aku segera pulang. Awalnya mamy menyuruhku untuk menginap tapi aku menolaknya. Aku takut kejadian siang tadi akan terulang kembali.

__ADS_1


" Kak naik motor aja ya nganterinnya!"


" Kamu nggak takut dingin?"


" Enggak."


Kak Zean setuju untuk mengantarku menggunakan motor sportnya. Sepanjang perjalanan tanganku terus saja melingkar di pinggang kak Zean dan sesekali kak Zean mengelus punggung tanganku.


" Terus bonekanya gimana?" Tanya kak Zean setelah kami sampai di depan rumah kak Ega.


" Besok aku ambil sepulang sekolah."


" Udah gelap, kakak pulang gih."


" Kamu ngusir aku?"


" Bukan ngusir Ze, aku nggak mau kamu sakit kalau kemaleman pulangnya."


" Kalau kak Ega nggak di rumah gimana?"


" Mobilnya ada, berarti orangnya juga ada."


" Ya udah, kalau gitu aku pulang ya. Kabarin kalau ada apa-apa."


Kak Zean mengecup dahiku sebelum dia pergi. Aku tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.


Aku masuk ke dalam rumah saat kak Zean sudah tidak terlihat lagi. Beberapa kali aku mengetuk pintu rumah tapi kak Ega tak kunjung membukanya. Aku mendorong pintu dan terbuka, rupanya pintunya tidak terkunci.


Aku segera masuk dan mendapati rumah nampak sepi. Aku menyalakan lampu ruang keluarga lalu naik ke atas.


" Kak, kakak nggak di rumah ya?"


" Kak Ega..."


" Kak." Panggilku lagi sambil mengetuk kamar kak Ega.


" Aku masuk ya?"


Aku menunggu sesaat tapi tak juga mendapat jawaban dari kak Ega. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka kamar kak Ega yang tak terkunci.


" Kak." Panggilku lagi sambil memasukkan kepalaku diri balik pintu.


Aku mengamati sekekiling dan melihat kak Ega berada di atas tempat tidur dengan selimut hampir menutup sebagian tubuhnya.


Aku mendekatinya dan merasa heran karena tak biasanya kak Ega tidur di jam-jam ini.


" Kak." Aku mengguncah tubuh kak Ega.


" Kakak." Aku panik mulai panik karena kak Ega tak kunjung bangun.


Aku menempelkan tanganku di dahinya dan terkejut karena badan kak Ega sangat panas, dia demam.


" Kak, kakak, buka matamu. Kakak bisa dengar aku." Aku kembali mengguncang tubuh kak Ega.


" Kak jangan menakutiku, bangun." Aku semakin panik karena kak Ega tak kunjung membuka matanya.


" Kak bangun, jangan bikin aku takut, aku nggak mau kehilangan kakak , aku menyayangi kakak." Aku mulai merancau sambil menangis.


" Indhi." Ucap kak Ega lirih tanpa membuka matanya.


" Aku mencintaimu, sangat."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2