
" Indhi akan menginap di sini kak."
" Jangan bercanda kamu, tolong segera antarkan dia pulang!" Seru kak Ega.
" Aku sudah menyuruhnya untuk pulang kak, tapi dia tidak mau, katanya mau sendiri dulu. Dia malah memintaku untuk mengantarnya ke hotel, karena khawatir dia di hotel sendiri dan juga karna kakinya terluka makannya aku bawa ke rumahku, aku juga sudah menawarkan untuk mengantarnya ke rumah Arum tapi dia menolak. Kakak tidak perlu khawatir di sini ada asisten rumah tanggaku yang akan merawat Indhi, kalau kakak masih khawatir kakak bisa ke sini nanti aku kirim alamatnya."
Kak Ega diam sesaat, mungkin sedang memikirkan sesuatu.
" Hmm baiklah kalau memang begitu, titip dia sama kamu ya, tapi awas jangan macem-macem kamu sama Indhi ya."
" Iya kak, ada Indhi kak sudah dulu, selamat malam." Aku mematikan ponselku karena Indhi sudah selesai mandi.
Aku mengatupkan kedua bibirku berusaha menahan tawa melihat dia memakai baju dan celanaku yang kebesaran. Dia melotot ke arahku karena mentertawakan penampilannya, bukannya takut, kelakuannya malah membuatku semakin gemas.
" Kok cepet banget mandinya, nggak jadi berendam air hangat?" Tanyaku penasaran karena baru beberapa menit dia masuk kamar mandi.
" Bilangin maaf ke mbok Yem kak, aku nggak suka mandi sama air hangat, jadi airnya masih utuh."
Lagi lagi dia menunduk, entah kenapa dia suka sekali menunduk setiap kali berbicara denganku. Aku sedikit kaget mendengar ucapannya, dia benar-benar gadis yang unik, tidak suka susu dan tidak suka mandi air hangat pula.
" Hmm. Ya sudah kamu istrahat dulu kalau ada apa-apa panggil aja, aku di kamar sebelah!"
" Kak....." Dia menggantung kalimatnya.
" Kenapa?"
" Soal tadi siang mmmm, aku.. mmm.."
Aku mendekat ke arahnya dan menempelkan telunjuk-ku di bibirnya sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
" Ssttt, tidak usah di lanjutkan, kita bahas lagi besok kalau kamu sudah lebih tenang, sekarang istirahat dulu, kamu pasti capek!"
Aku berganti mengelus rambutnya yang basah dan meninggalkannya di dalam kamar.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam kamar orangtuaku yang berada persis di sebelah kamarku. Aku melepas jam tangan dan meletakannya di atas meja. Bandanku sangat lengket dan berasa sakit semua, aku memutuskan untuk segera mandi dan istirahat setelahnya.
Setelah mandi badanku menjadi lebih segar, aku merebahkan tubuhku di atas kasur, mataku menerawang langit-langit kamar dan pikiranku tertuju pada gadis yang kini tengah berada di kamarku. Gadis yang selalu ingin aku hindari dan gadis yang mampu menarikku kemanapun dia pergi.
Aku meraih laptopku dan memeriksa sebuah e-mail yang baru saja masuk. Aku bingung ketika membuka e-mail tersebut, aku merasa bahagia namun juga sedih ketika mendapat pemberitahuan dari salah satu Universitas terbaik California bahwa aku di terima dikampus tersebut untuk mengambil gelar Master. Aku bahagia karena bisa masuk di Universitas terbaik di California, tapi di sisi lain aku juga sedih karena harus berpisah dengan teman-temannku dan dengan gadis kecil itu tentunya.
Bagus Ze, mungkin ini adalah jawaban dari semua kegundahan yang beberapa hari ini aku rasakan. Pergi dari sini adalah hal yang tepat untuk menghindari gadis itu, tapi untuk sekarang, untuk hari ini, untuk sehari lagi, ya hanya sehari lagi, bolehkah aku menjadi egois karena ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu.
Getar ponselku akhirnya mengakhiri renunganku, aku memeriksa siapa yang menelfonku malam-malam begini dan ternyata kak Ega yang menghubungiku.
" Halo." Aku membuka percakapan.
" Iya halo Zean, bisa kamu keluar sebentar, saya di depan rumah kamu, tapi jangan sampai Indhi tau!"
Panggilan berakhir aku bergegas turun dan keluar dari rumah menghampiri mobil kak Ega yang terparkir di halaman. Kak Ega membuka kaca mobilnya dan menyuruhku untuk masuk.
" Maaf mengganggu malam-malam begini Zean, saya cuma khawatir sama Indhi." Ucapnya setelah aku duduk di sebelahnya.
" Indhi bilang ingin sendiri kan, saya sangat mengenal dia, jika dia berkata demikian artinya dia benar-benar tidak ingin bertemu siapapun termasuk saya."
" Gimana kondisi kakinya, apa parah?" Ucap kak Ega penuh kekhawatiran.
" Tadi sudah aku kompres kak, aku ajakin ke rumahsakit tapi dia menolak."
" Hmm, ya sudah lah biarkan saja. Maaf merepotkanmu ya, saya titip Indhi malam ini, kalau ada apa-apa segera kabarin saya!".
Setelah mobil kak Ega pergi aku masuk lagi dan mendapati Indhi tengah menuruni tangga. Aku reflek berlari ke arahnya.
" Mau kemana, butuh sesuatu?"
" Aku pengin minum kak, tadi lupa bawa air."
" Ya sudah biar aku ambilin, kamu tunggu aja di kamar!" Perintahku sambil menuntunnya kembali ke kamar.
__ADS_1
Aku segera turun dan mengambil air mineral serta beberapa keripik kentang lalu membawanya ke kamar Indhi.
" Ini airnya." Aku meletakan nampan berisi air dan keripik di atas meja.
" Makasih kak."
" Ya."
" Kak....."
" Ya, kamu butuh sesuatu?"
" Bisa kita bicara sebentar!"
" Tentu." Aku mendekat ke arahnya dan duduk di sebelahnya
" Soal tadi siang......
" Aku minta maaf soal tadi siang, aku cuma..... cuma asal ngomong aja. Kakak nggak marah kan?."
Aku masih terdiam mencoba mencerna perkataan Indhi yang membuatku sedikit bingung. Dia bilang, dia hanya asal bicara saja, tapi bagian yang mana yang asal bicara. Saat dia bilang menyukaiku atau saat dia menyuruhku untuk tidak menemuinya lagi, atau semua ucapannya kemarin.
" It's okay. Aku juga minta maaf karena nggak pernah bales pesan kamu, aku benar-benar sibuk."
"Hemm."
" Aku ke kamar ya, kamu istirahat. Good night." Aku segera keluar dari kamar Indhi sebelum aku kembali melewati batasanku.
Aku sedikit menyesal membawanya pulang ke rumah, harusnya aku mengantarnya ke hotel seperti keinginannya saja. Jika terus berada di dekatnya aku benar-benar ragu untuk tidak mengatakan kalau aku menyukainya, aku tidak yakin aku bisa membuat batasan kepadanya, aku terus saja melewati batasannku, hati ku terus saja menghianati pikiranku. Ah bagaimana ini sepertinya aku sangat menyukai gadis itu.
Aku kembali ke kamar, merebahkan tubuhku di atas kasur, sangat nyaman rasanya, ototku yang sedari tadi tegang rasanya satu persatu mulai mengendur. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tidur tapi aku malah kembali memikirkan gadis itu. Harus ku apakan kepala ini, agar bayang-bayang gadis itu keluar dari pikiranku. Jatuh cinta sungguh merepotkan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1