Lara Cintaku

Lara Cintaku
EXTRA PART


__ADS_3

Malamnya Indhi memilih merayakan ulang tahun dengan makan malam bersama ibu dan Ega dirumah, mereka sudah jarang makan malam bersama karena kesibukan masing-masing.


Saat Indhi turun dari kamarnya, ibu dan Ega sudah menunggu dimeja makan, Indhi tersenyum dan segera bergabung bersama ibu dan kakaknya, dia lalu menarik kursi dan duduk disebelah Ega. Lalu mereka menikmati makan malam yang sudah jarang mereka lakukan bersama.


"Bagaimana pekerjaanmu Ndi?" Tanya ibu begitu selesai makan.


"Ya begitulah bu."


"Kamu yakin belum mau belajar spesialis?" Imbuh ibu seraya menatap putrinya.


"Belum bu, otak Indhi belum siap untuk belajar spesialis."


"Ya sudah terserah kamu saja." Ucap ibu, dia meraih gelas yang berada didepannya lalu menghabiskan air didalamnya, kini perhatiannya beralih kepada putra sulungnya.


"Ega." Seru ibu.


"Hem." Jawab Ega singkat, dia masih sibuk mengunyah buah jeruk dimulutnya.


"Umurmu sudah 40 tahun sekarang, kau tidak ingin menikah, ibu sudah ingin menimang cucu."


"Uhuk uhuk." Ega tersedak, untung saja semua isi mulutnya tidak keluar. Indhi hanya tersenyum dan menepuk punggung kakaknya.


"Kenapa ibu tiba-tiba bertanya begitu?" Tanya Ega begitu batuknya mereda.


"Ibu sudah tua, ibu takut tidak sempat menimang cucu. Kalian berdua sudah dewasa, apa salah satu dari kalian tidak ingin menikah."


Ega dan Indhi hanya diam, mereka tidak mungkin menjanjikan sebuah pernikahan karena mereka belum mempunyai pasangan. Indhi masih menutup erat hatinya sementara Ega masih bergelut dengan cinta sepihaknya.


Tok,tok,tok


Suara ketukan sepertinya menyelamatkan kedua kakak beradik itu dari pertanyaan ibu, Indhi segera berdiri dan berlari kearah pintu, lalu gadis itu membuka pintu untuk tamunya.


"Dokter Ilham." Seru Indhi begitu melihat dokter Ilham berada didepan pintu rumahnya .


"Selamat ulang tahun." Ucap dokter Ilham dengan senyum diwajahnya, dia memberikan buket bunga mawar merah kepada Indhi.


"Terimakasih, silahkan masuk dok."


Indhi mempersilahkan tamunya masuk, dokter Ilham tersenyum karena setelah sekian tahun mengejarnya baru kali ini dia diperbolehkan masuk oleh Indhi, biasanya dia hanya berakhir didepan rumah Indhi dengan penolakan, malam ini dia berharap tidak lagi mendapat penolakan.


"Silahkan duduk dok, saya ambilkan minum sebentar."


Dokter Ilham hanya mengangguk, dia duduk disofa yang berada diruang tamu, lalu Indhi kembali kedapur dan membuat teh untuk dokter Ilham.


"Siapa yang datang?" Tanya Ega.


"Dokter Ilham kak." Jawab Indhi dengan senyum diwajahnya.


"Apa adikmu baru saja tersenyum saat menyebut nama dokter itu?"


"Mungkin."


Ega tersenyum getir, dia bahagia karena setelah 4 tahun kepergian Zean baru malam ini dia melihat Indhi tersenyum selebar itu, namun Ega juga sedih karena lagi-lagi bukan dia yang membuat adiknya tersenyum bahagia seperti itu, mungkin kali ini Ega harus benar-benar melupakan perasaannya kepada Indhi, perasaan yang sudah dipendamnya dari beberapa tahun yang lalu.


"Tehnya dok." Ucap Indhi hangat. Setelah menaruh cangkir berisi teh hangat, dia duduk disisi lain sofa.


" Terimakasih."


Lama mereka saling diam, dokter Ilham terlihat gugup, dia beberapa kali menyesap tehnya. Indhi hanya tersenyum melihat kegugupan dokter Ilham.


"Ndi."


"Ya."


"Kau yakin tidak akan memberiku kesempatan? Sudah hampir 4 tahun aku menunggumu dan selama itu pula hanya penolakan yang aku dapatkan."


Dokter Ilham menatap lekat gadis yang selalu menolaknya, dia merogoh saku celanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, dia membuka kotak yang berisikan cincin itu dan mengarahkannya tepat didepan wajah Indhi.


"Menikahlah denganku." Ucap dokter Ilham lantang dan tanpa keraguan sedikitpun.


"Dok." Indhi tertegun, dia memang sudah memutuskan untuk membuka hatinya, namun dia tidak menyangka dokter Ilham akan melamarnya secepat ini.


"Jangan tolak aku lagi." Ucap dokter Ilham mengiba, dia sudah lelah mendengar kalimat penolakan dari Indhi.


"Tapi saya...


"Alasan apa lagi yang akan kamu berikan? kau akan belajar spesialis, kau akan fokus menjadi dokter, atau kau masih belum bisa melupakan seseorang dari masa lalumu."


Deg, Indhi kembali tertegun, dia tidak menyangka dokter Ilham akan menyinggung tentang masalalunya.

__ADS_1


"Dari mana anda tau?"


"4 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenal semua hal tentang dirimu, termasuk masa lalumu. Ndi, hidup terus berjalan, kita tidak bisa terus terpaku oleh masa lalu."


"Anda sudah tau alasan saya menolak, tapi kenapa anda masih belum menyerah?"


"Karena aku mencintaimu. Aku akan menunggumu sampai kau mencintaiku, jadi aku mohon raih tanganku, aku akan membantumu keluar dari belenggu masa lalumu."


Indhi diam sejenak, selama ini dia selalu menolak dokter Ilham, namun dokter itu tak lelah mengejarnya, malam ini dia bahkan berani melamar Indhi dan membuat hati gadis itu tersentuh.


"Anda yakin akan menunggu?"


"Ya."


"Baiklah, kalau begitu mari menikah."


Indhi meraih cincin itu dan memakainya dijari manisnya. Malam ini dia sudah memutuskan untuk melangkah maju, namun bukan berarti dia telah melupakan Zean, Indhi telah menyimpan Zean dibagian hatinya yang lain, dan malam ini dia akan membuka sisi lain dari hatinya untuk dokter Ilham, seseorang yang tidak pernah lelah mengejarnya.


Dokter Ilham sangat bahagia, matanya berbinar begitu mendengar Indhi setuju untuk menikah dengannya. Dokter Ilham turun dari tempat duduknya dan bersimpun didepan Indhi, dia meraih tangan Indhi dan mengecup punggung tangannya.


Indhi tersenyum, mulai dari sekarang dia akan berusaha untuk mencintai dokter Ilham.


Indhi memeluk dokter Ilham yang masih bersimpuh didepannyaa. "Terimakasih dok, karena tidak lelah untuk menunggu saya selama ini." Bisik Indhi, lalu dokter Ilham membalas pelukan pujaan hatinya.


Ega yang berada dibalik tembok, mendengar dan menyaksikan semuanya, dadanya sesak dan matanya mulai berkaca-kaca. Malam ini, untuk kedua kalinya, dia harus melepaskan Indhi bersama dengan laki-laki pilihannya.


*****


"Apa, menikah?" Teriak Arum, dia begitu terkejut mendengar sahabatnya memutuskan untuk menikah. Namun Arum juga sangat bahagian, akhirnya sahabatnya bisa melanjutkan hidupnya, Arum sempat takut jika Indhi akan menutup hati untuk selamanya.


"Selamat Ndi, aku sangat bahagia mendengarnya." Ucap Dita tulus, gadis itu memeluk Indhi lalu disusul oleh Arum, ketiganya saling memeluk dengan rasa haru.


"Besok dokter Ilham akan kerumah untuk melamarku secara resmi, aku harap kalian bisa datang ya."


"Tentu saja." Jawab Dita dan Arum bersamaan.


****


Paginya Indhi masih harus bekerja, begitupun dengan dokter Ilham. Pagi ini dokter Ilham menjemput Indhi dan keduanya berangkat bersama menuju rumahsakit. Dokter Ilham tak henti-hentinya mengulum senyum, dia sangat bahagia.


"Jam berapa anda pulang?" Tanya Indhi begitu mereka tiba diparkiran rumahsakit.


Indhi tersenyum, lalu dia menatap dokter Ilham yang juga tengah menatapnya. "Lalu, saya harus bagaimana?"


"Aku, kamu. Jangan lagi sebut anda dan juga saya saat kita sedang bersama."


"Ya, ya, jadi kamu pulang jam berapa?"


"Aku pulang jam 4, malamnya aku langsung kerumah bersama papa dan adikku."


"Hanya dengan papa dan adik, lalu bagaimana dengan mama dokter Ilham?"


"Kedua orangtuaku sudah bercerai, aku tidak berharap mama akan datang, semoga kamu maklum ya."


"Maaf aku tidak tau."


"It's okay. Turunlah, kita harus segera bekerja." Ucap dokter Ilham seraya mengelus rambut Indhi, lalu dia mengecup kening Indhi penuh kasih sayang.


*****


Malamnya dokter Ilham datang bersama papa dan adik serta beberapa keluarganya, Ega dan ibu menyambut kedatangan calon besannya, dirumah itu juga sudah ada Arum dan Dita, Dion dan juga Fajar, mereka akan menjadi saksi bahwa Indhi telah mantap untuk mengubur kesakitan masa lalunya.


Acara lamaran itu berjalan dengan lancar, haru biru mewarnai acara pertukaran cincin antara Indhi dan dokter Ilham dan setelah berunding, mereka memutuskan akan menikah sebulan lagi.


Arum tak henti-hentinya menangis, dia begitu bahagia, 14 tahun sejak mereka bersahabat, suka dan duka telah mereka lalui bersama, malam ini Arumlah yang menangis paling kencang, dia menangis bahagia untuk sahabatnya.


"Kau brisik sekali." Ucap Dion seraya memberikan tisu kepada Arum.


"Aku sangat bahagaia kak. Apa kakak akan melamarku juga malam ini."


"Kamu itu keponakan sahabatku, dan aku sudah menganggapmu sebagai keponakanku juga, jadi aku tidak mungkin menikahi keponakanku sendiri."


Acara lamaran telah usai, dokter Ilham dan keluarganya juga pulang, namun Arum dan Dita masih berada dirumah Indhi, mereka berkumpul diruang keluarga bersama ibu dan juga Ega.


"Ndi, calon adik iparmu kenapa mirip denganmu ya, apa itu hanya perasaanku saja." Ujar Arum, sejak awal kedatangan keluarga dokter Ilham, perhatiannya tertuju pada adik perempuan dokter Ilham yang menurutnya sangat mirip dengan Indhi.


"Menurutku juga begitu, hanga saja kulitnya lebih putih." Imbuh Dita.


"Oh ya, aku bahkan tidak meperhatikannya." Jawab Indhi apa adanya, dia memang tidak sempat memperhatikan siapapun yang datang, dia sangat gugup tadi.

__ADS_1


Ega memilih untuk keluar dari rumah, dia duduk dikursi yang berada diteras, matanya menerawang jauh, kekecewaan jelas tergambar dimatanya


"Kakak menagis." Seru Dita, gadis itu menyusul Ega keluar rumah.


"Tidak."


Dita duduk disebelah Ega dan menatap wajah laki-laki yang masih sangat disukainya. "Indhi bahkan sudah melangkah maju, apa kakak akan terjebak dengan perasaan kakak.? Seperti Indhi yang memberikan kesempatan kepada dokter Ilham, apa kakak tidak akan memberikan kesempatan untukku."


Ega hanya diam, semua yang dikatakan Dita benar adanya, sampai kapan dia akan begini, bertahan dengan cinta sepihaknya.


"Entah."


"Fikirkan dulu kak, aku akan menunggu jawaban kakak."


*****


Hari demi hari terlewati, satu minggu lagi Indhi dan dokter Ilham akan menikah, semuanya persiapan sudah hampir selesai, namun kedua calon penagantin itu masih sibuk bekerja dirumah sakit.


Hari ini Indhi libur, dia berencana datang kerumah calon suaminya dan mengajaknya untuk memeriksa gedung dan fiting baju pengantin.


Indhi sengaja tidak mengabari dokter Ilham akan kedatangannya, dia melihat pintu terbuka dan masuk dengan hati-hati, dia ingin memberi kejutan untum calon suaminya.


Langkah Indhi terhenti saat melihat dokter Ilham tengah berbincang dengan papa dan adiknya, Indhi berniat keluar dan akan mengetuk pintu.


"Kau tidak akan memberi tau calon istrimu tentang ibumu?" Ucap lelaki paruh baya yang duduk disebelah dokter Ilham.


Indhi mengurungkan niatnya, dia berhenti, dia penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan karena papa dokter Ilham menyinggungnya tadi.


"Tidak pa, biarkan saja. Aku tidak mau kehilangan Indhi."


"Tapi kak, kak Indhi harus tau, sebelum dia tau dari orang lain, lebih baik kakak memberitahunya sekarang " Imbuh Adik dokter Ilham.


"Apa yang harus kakak katakan padanya, apa kakak harus bilang bahwa ibulah yang sudah menghancurkan keluarganya, bahwa ibu juga yang sudah membuatnya menderita, apa kakak harus bilang bahwa kamu adik tirinya dan ibu kita yang sudah membunuh kekasihnya? Kamu yakin Indhi akan memaafkan kakak?"


"Kau tau 4 tahun lamanya kakak berusaha untuk dekat dengan Indhi, kakak ingin menebus kesalahan yang telah ibu kita lakukan kepadanya, kakak tidak tega melihatnya menderita, karena itulah kakak memutuskan untuk mendekatinya, dan akhirnya kakak jatuh cinta kepadanya."


Indhi tak bisa berkata-kata, gadis itu bahkan kesusahan menelan salivanya, ingatannya kembali pada kejadian 4 tahun silam, dimana dia hampir saja membunuh seseorang yang telah menghancurkan hidupnya, dia masih ingat betul seringai menjijikan diwajah wanita yang telah menabrak kekasihnya. Mata Indhi mulai berkaca-kaca, dengan sisa kekuatan dia berjalan keluar dari rumah itu tanpa dokter Ilham sadari kedatangannya.


Didalam mobil Indhi menatap sendu cincin yang melingkar dijarinya, sisa-sisa undangan tergeletak dikursi yang berada sisebelahnya, pernikahan yang tinggal menghitung hari dan kasih sayang dokter Ilham padanya ternyata hanya semu belaka.


Indhi tersenyum getir meratapi nasib cintanya yang begitu memilukan, setelah ditinggal Zean untuk selamanya kini dia harus kembali menelan pil pahit jika calon suaminya adalah anak dari wanita yang paling dibenci olehnya.


Indhi pulang kerumah dengan perasaan yang tak bisa digambarkan, dia hancur, bukan karena pernikahannya yang mungkin gagal, namun karena dia kembali teringat akan Zean, luka yang hampir mengering kini basah kembali, mungkin saja bernanah atau membusuk didalam sana.


Indhi mematikan ponselnya seharian, dia bahkan mengunci rapat kamarnya, dia kembali seperti Indhi yang dulu, 4 tahun lalu.


****


Hari ini Indhi bekerja seperti biasa, hanya saja senyumnya kembali hilang. Saat jam istirahat dokter Ilham menghampirinya yang sedang makan dikantin.


"Sayang, kau kemana saja, kemarin aku tak bisa menghubungimu, aku kerumahmu juga sepi, kata bi Sumi kamu pergi."


"Aku sibuk." Jawab Indhi singkat. "Aku permisi dok, ada pekerjaan yang harus aku lakukan."


Indhi segera pergi meninggalkan dokter Ilham, laki-laki itu menatap kepergian calon istrinya, dia bingung, kenapa Indhi begitu dingin padanya.


Sore hari Indhi akan pulang dan dokter Ilham mengejarnya hingga lobby rumahsakit.


"Sayang, tunggu."


"Kita harus fiting baju sekarang, kita berangkat bersama saja ya."


"Maaf dok, aku sibuk."


"Tapi pernikahan kita sebentar lagi."


"Maaf dok, aku tidak bisa menikah." Ucap Indhi datar.


"Apa maksudmu?"


Ditengah perbincangan serius mereka Ega dan Dita keluar dari rumahsakit, Ega melambai kearah adiknya, dia berjalan mendekati Indhi dan calon suaminya..


Indhi menatap kakaknya yang tengah tersenyum, lalu dia kembali menatap dokter Ilham. "Aku tidak bisa menikah denganmu, karena aku mencintai orang lain." Seru Indhi dengan tangan yang gemetaran.


Kali ini dia tidak akan menangisi nasibnya, dia akan membalas perlakuan dokter Ilham kepadanya. "Beraninya kamu mengasihaniku, kamu fikir aku tidak bisa menyakitimu." Batin Indhi, dia menatap nanar calon suaminya.


"Apa maksudmu." Dokter Ilham kembali bertanya begitu Ega berada disebelah mereka.


"Aku tidak akan menikah denganmu karena aku mencintai orang lain."

__ADS_1


Dokter Ilham, Ega dan juga Dita terkejut dengan penuturan Indhi. Ditengah keterkejutan mereka, Indhi berbalik menatap Ega, dia menarik kerah Ega sehingga tubuh Ega membungkuk, lalu Indhi mengecup bibir Ega. "Nikahi aku kak." Ucap Indhi mantap, lalu dia kembali mengecup bibir Ega, kali ini bukan hanya kecupan, Indhi ******* habis bibir Ega. Dokter Ilham dan Dita tertegun menyaksikan itu semua.


__ADS_2