Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 33 Happy New Years


__ADS_3

Setelah pertemuan tak sengaja di restoran beberapa hari yang lalu, kak Zean sempat mengirim beberapa pesan kepada-ku namun aku tak pernah membalasnya.


Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini, dan di penghujung tahun ini hujan masih setia menamani setiap harinya.


Aku masih menikmati suasana libur semester, sebelum besok setelah tahun baru aku akan masuk kembali dan di sibukkan dengan persiapan ujian. Setelah ujian selesai mungkin aku juga masih akan di sibukkan mencari sekolah.


Aku juga masih di sibuk-kan dengan les di luar sekolah dan privat Bahasa Inggris bersama kak Dion di rumah. Entah kenapa aku begitu bersemangat belajar Bahasa Inggris bersama kak Dion, mungkin karena aku sudah memutuskan untuk kuliah kedokteran seperti yang ibu inginkan jadi aku memutuskan untuk menyiapkan semuanya dari sekarang. Keputusan-ku kali ini bukan hanya karena tekanan dari ibu, semenjak kejadian di pantai beberapa waktu yang lalu aku mulai tertarik untuk belajar kedokteran, di tambah lagi ketika di rumah aku menyempatkan membaca buku kedokteran milik kak Ega yang isinya menarik perhatianku.


Sampai hari ini, hampir sebulan setelah aku dan kak Ega pulang ke rumah, kami masih belum mendengar kabar dari ibu, aku dan kak Ega juga belum berencana untuk mengunjungi ibu. Apa yang kami lakukan ini sebenarnya salah, tapi kata kak Ega ada benarnya juga, mungkin ibu perlu ruang untuk sendiri, untuk merenungi apa yang telah ibu lakukan kepada kami. Tapi sungguh jauh di lubuk hatiku, aku tak pernah membenci ibu, mungkin benar kata ibu, semua yang ibu lakukan adalah demi kebaikanku, ibu sangat menyayangiku hanya saja cara ibu menyampaikannya sedikit melukaiku.


Malam tahun baru kali ini aku memutuskan untuk pergi bersama kak Dion ke rumah Arum karena kak Ega akan merayakan tahun baru bersama teman-teman seprofesinya di rumahsakit atau lebih tepatnya kak Ega akan melakukan operasi bersama tim-nya di malam tahun baru. Tapi kami sudah berencana untuk jalan-jalan keesokan harinya , hari pertama di tahun baru tentunya.


Jangan tanya apa alasanku setuju untuk pergi ke tempat Arum, tentunya karena aku tak ingin melewati malam tahun baru sendirian atau mungkin aku merindukan seseorang yang mungkin akan ku temui di tempat Arum. Sampai sejauh ini, detik ini entah kenapa aku masih tak bisa melupakan dirinya, entah besok atau lusa mungkin aku bisa melupakannya, tapi aku memutuskan untuk menikmati momen cinta pertamaku, cinta tak terbalasku.


Aku bangun lumayan pagi hari ini, aku segera mandi dan turun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Seperti biasa kak Ega sudah menyiapkan sarapan untuk-ku sebelum berangkat kerja dan tidak ketinggalan sebuah note yang selalu kak Ega tulis untuk-ku.


Nasi goreng ayam pedas, kalau sudah dingin angetin lagi, telurnya cuma satu, kita kehabisan telur rupanya, nanti sempatkan beli sebelum pergi , sampai ketemu satu tahun kemudian 😊


Aku tersenyum membaca pesan dari kak Ega, lalu aku duduk di meja makan menikmati sarapan seorang diri.


Aku menghabiskan waktu-ku hanya di dalam kamar, menonton drama korea sampai lupa waktu. Aku merenggangkan otot-ku yang kaku karena seharian hanya berbaring saja. Saat hendak mandi terdengar suara bel berbunyi, aku turun dan membuka pintu.


" Belum siap?" Tanya kak Dion saat pintu terbuka dan melihatku masih berantakan.


" Baru mau mandi kak, masuk dulu."


"Tunggu bentar ya kak, aku siap-siap dulu, kalau mau minum ambil aja sendiri."


Kak Dion hanya mengangguk dan tersenyum kepadaku, aku meninggalkan kak Dion di ruang keluarga sementara aku buru-buru naik ke kamar untuk siap-siap.


Setelah hampir setengah jam aku keluar kamar dan turun. Aku memakai t-shirt  warna peach dan aku padukan dengan midi skirt berwarna putih lalu sepatu kets berwarna senada dengan midi skirt-ku. Aku menghampiri kak Dion yang masih duduk di sofa ruang keluarga.


" Ayo kak, belum kemaleman kan?"

__ADS_1


" Waow".


" Kenapa kak, aneh ya penampilanku."


" Cantik." Jawab kak Dion singkat.


Setelah cukup mendengar pujian dari kak Dion, kami akhirnya berangkat ke rumah Arum, untung saja malam ini tidak hujan sepeti biasanya.


Ketika sampai di tempat Arum, ternyata semua orang sudah berkumpul di sana, termasuk seseorang yang sangat aku rindukan namun tidak aku ungkapkan.


" Kenapa lama banget si datengnya Ndi." Protes Arum ketika melihat kedatangku di tengah-tengah mereka.


" Maaf, tadi aku lupa, untung aja kak Dion nyamperin aku ke rumah." Jelasku.


" Oh ya." Suara Arum terdengar tak semangat seperti tadi.


Aku dan kak Dion bergabung dengan yang lainnya yang tengah sibuk mempersiapkan bahan bahan yang akan kita bakar malam ini. Rasanya seperti kembali ke momen saat kami semua menginap di Villa waktu itu.


Aku duduk bersama Arum mengamati para bujangan yang tengah sibuk dengan jagung bakar mereka.


" Hmmm.."


" Hmmm." Arum menirukan jawabanku tapi dengan suara yang lebih keras.


" Kamu yakin mau nyerah sama kak Zean?" Tanya Arum lagi.


" Iya."


" Kenapa?"


" Capek aja Rum. Kalau dia memang suka padaku rasanya aku tidak harus jatuh bangun mengejarnya kan, harusnya dia datang sendiri padaku. Lagi pula mungkin ini hanya cinta monyet."


Arum menepuk bahuku, mengangguk lalu tersenyum mendengar jawaban dariku. Obrolan kami terhenti karena om Fajar memanggil Arum dan dia pergi meninggalkanku sendirian lagi. Aku tersenyum melihat kak Dion menghampiriku membawa dua jagung bakar di tangannya. Kak Dion duduk di sebelahku dan memberiku jagung bakar yang di bawanya. Saat kami tengah asik menikmati jagung bakar tiba-tiba ponsel kak Dion berbunyi.

__ADS_1


" Ah sial, kenapa harus sekarang sih." Kak Dion terlihat kesal setelah membuka pesan di ponselnya.


" Kenapa kak?"


" E-mail dari pihak kampus, katanya ada beberapa data yang perlu di verifikasi."


" Malam-malam begini kak?"


" Di London mungkin masih siang sekarang."


Kak Dion memang berencana mengambil S2 di salah satu Universitas terbaik dunia yang berada di London, Inggris.


" Mau pulang sekarang?"


" Gimana kalau aku pulang dulu, nanti setelah semuanya beres aku jemput kamu lagi kesini, sayangkan kamu udah keluar malah nggak liat pesta kembang api."


Aku menyetujui saran dari kak Dion, dia kemudian berpamitan kepada teman-temannya dan pergi meninggalkan kami.


Selepas kepergian kak Dion, kak Zean datang menghampiriku yang tengah duduk dengan melipat tangan di dada.


" Kalau gampang kedinginan kenapa suka banget nggak bawa jaket sih." Ucap kak Zean sambil memakaikan jaketnya di badanku lalu duduk di sebelahku.


" Lupa." Jawabku singkat.


Hening, kami saling diam, hanya suara nafas kami yang terdengar saling bertautan, beberapa kali kak Zean menatap ke arahku tapi aku pura-pura tak menyadarinya.


Aku juga beberapa kali mendapati kak Natasha menatap kami dengan tatapan sinisnya, entah dimana salahku tapi semenjak pertama bertemu, kak Natasha sudah menabuh gendang perang kepadaku. Bukankah aneh seorang wanita dewasa memusuhi gadis kecil sepertiku.


Waktu terus berganti, sudah kampir lewat tengah malam tapi kak Dion belum kembali juga.


Duarr.. Duaar.. Gemuruh suara kembang api menandakan tahun telah berganti. Aku memandangi langit yang kali ini di hujani oleh ribuan kembang api yang berpendar penuh warna, menghiasi gelapnya malam dengan keindahan. Kak Zean meraih tanganku dan menggenggamnya dengan Erat, aku menoleh ke arahnya, dia tengah mendongakan kepalanya sambil memejamkan mata, seakan-akan dia tengah berdoa di malam yang penuh warna ini.


Tuhan, jika memang ini hanya perasaan sesaat mohon segera hapuskan rasa ini, namun jika Engkau memiliki rencana indah terhadap perasaanku maka biarkan dia bermekaran di hatiku.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2