
"Hampir 7 bulan aku menggila karena merindukanmu, sekarang sudah cukup, aku mohon kembalilah padaku." Iba kak Zean dengan wajah sendunya.
Aku menarik nafas pelan lalu menatapnya. "Apa kamu yakin tidak akan membuatku sakit hati lagi?"
"Aku janji, aku juga janji tidak akan berhubungan dengan Natasha lagi."
Aku mengulum senyum tipis. "Dulu juga kamu pernah berjanji begitu, nyatanya kalian masih tetap berhubungan."
"Kali ini aku bersungguh-sungguh, aku menyesal karena tidak tegas kepadanya waktu itu, aku fikir dia tulus mengajakku berteman."
"Oh ya?"
"Hem, jadi kamu mau kan kembali lagi bersamaku."
"Tidak."
Kak Zean terkejut mendengar penolakanku, dia menatapku tak mengerti kenapa aku menolaknya. "Apa alasannya?"
"Aku ingin melihat seberapa keras usaha kamu."
Setelah menantang kak Zean akupun keluar dari mobilnya karena kebetulan Arum sudah datang untuk menjemputku. Jangan tanya tentang perasaanku, aku sungguh sudah memaafkannya tapi entah karena apa aku ingin sekali memberinya pelajaran, aku tidak ingin sakit hatiku terulang lagi dan lagi, aku akan memberinya kesempatan, tapi setelah aku melihat seberapa keras usahanya untuk kembali padaku. Bukan sok jual mahal, aku hanya sedang berusaha melindungi hatiku dari rasa sakit.
"Siapa?"Tanya Arum penasaran.
"Kak Zean." Pekikku sambil memakai helm.
"Oh."
"Hanya oh?" Aku terheran mendengar respon Arum, biasanya dia akan cerewet sekali bertanya ini dan itu.
"Aku sudah tau kalau dia pulang ke Indonesia, maaf aku sengaja tidak memberitahumu, aku takut kamu masih sakit hati padanya." Jelas Arum meredakan rasa penasaranku.
Aku tersenyum dan memeluk sahabatku itu. "Terimakasih sudah memikirkan tentang perasaanku." Aku melepaskan pelukanku. "Apa kamu tau kenapa dia ada di kampus kita, aku melihatnya beberapa hari yang lalu." Imbuhku lagi.
"Dia mengajar di Fakultas Tekhnik dan Ilmu Komputer."
Aku menganguk-anggukan kepalaku, terjawab sudah rasa penasaranku, jadi sekarang kak Zean memilih menjadi dosen dari pada meneruskan bisnis kedua orangtuanya.
****
Aku tidur begitu nyenyak, sehingga saat bangun pagi hari badanku terasa begitu ringan. Aku masih tergetelak diatas tempat tidurku, tanpa kusadari kedua sudut bibirku terangkat saat mengingat ajakan kak Zean kemarin.
__ADS_1
Aku merenggangkan otot-otot tubuhku dan bersiap untuk pergi kekampus. Hari ini aku mengenakan celana chino berwarna hitam dengan atasan kaos putih polos yang aku padukan dengan blezer berwarna hitam, tak ketinggalan dengan sepatu sneakers berwarna putih yang membuat penampilanku tidak terlalu formal.
"Bu Indhi berangkat." Pamitku pada ibu yang masih sibuk didapur.
"Nggak sarapan dulu."
"Nanti aja bu, aku bernagkat ya." Aku meraih tangan ibu dan mengecup punggung tangannya.
"Ibu sudah masak untuk makan siang, jangan jajan diluar terus."
Aku hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempolku kepada ibu.
Bibirku kembali menunggingkan senyum saat mekihat kak Zean sudah berada dihalaman rumah ibu, aku berusaha menahan senyumku dan menghampirinya. "Ada apa?" Tanyaku sok ketus, padahal bunga-bunga sedang bermekaran didalam hatiku.
"Menjemputmu."
"Aku bisa berangkat sendiri."
"Naik apa?"
"Motor."
"Ah sial aku lupa kalau aku baru akan mengambil motorku siang ini." Gerutuku didalam hati. "Ah maksudku aku akan bawa mobil." Kilahku menahan malu.
Kak Zean menatapku dan mengulum senyumnya sehingga lagi-lagi aku dibuat salah tinggak olehnya.
"Ayolah, berangkat bersamaku."
"Nggak, apa kata orang-orang nanti kalau mereka melihatku diantar pak dosen."
"Tidak ada yang mengenaliku di Fakultas Kedokteran, ayo masuk, nanti kita terlambat." Kak Zean meraih tanganku dan menuntuntku untuk masuk kedalam mobilnya, lagi-lagi aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menurut sekali aku padanya, susah payah berusaha sok jual mahal, ujung-ujungnya aku tunduk juga dengan sikapnya.
Kak Zean memutari mobil dan masuk kedalam, dia sedikit memutar tubuhnya dan mengambil sesuatu dari kursi belakang sehingga mengikis jarak diantara kami, aku bisa mencium aroma vanila dari bajunya, aroma yang begitu aku rindukan, rasanya aku ingin sekali memeluknya.
"Tahan Indhi, tahan, tarik nafa, hembuskan perlahan." Gumamku didalam hati.
"Untukmu." Kak Zean memberiku buket bunga matahari, bunga yang selalu dia kirim saat dia mengutarakan perasaannya kepadaku empat tahun lalu.
"Terimakasih." Aku meraih bunga itu dan menciumnya, meskipun tidak seharum bunga yang lain, namun tetaplah bunga matahari memiliki makna penting dalam hubungan kami, hubungan yang pernah kami mulai dengan disaksikan ribuan bunga matahari yang terhampar luas dibukit itu, bukit bunga matahari. Entah seperti apa tempat itu sekarang, sudah sangat lama aku tidak pernah kesana.
Kak Zean melajukan mobilnya dan membelah kepadatan lalu lintas pagi ini, sepanjang jalan kami saling diam, hanya alunan musik yang menemani perjalanan kami kali ini.
__ADS_1
" Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa?" Ucap kak Zean memecah keheningan.
"luar biasa."
"Oh ya."
"Hemm, kau tau saat hari terakhir ospek aku langsung dihadapkan oleh Kadaver, aku gemeratan Zee saat disuruh membuka kain penutupnya, saat keluar dari ruangan itu aku langsung menangis." Tanpa sadar aku terpancing oleh pertanyaannya dan mulai menceritakan banyak hal kepadanya, sekuat apapun aku menjaga jarak darinya, namun hatiku tak bisa berbohong bahwa aku masih sangat mengharapkannya.
"Kamu menangis?" Tanyanya seraya melirikku sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Ya, bukan karena takut, aku hanya terharu melihat kadaver itu."
"Kau senang kuliah kedokteran."
"Sangat senang, kau tau Zee awalnya aku ingin menyerah saat pertama kali bertemu kadaver, aku tidak menyukai bau formalin yang begitu menyengat, tapi sekarang aku malah bersemangat saat belajar Anatomy dan dihadapkan dengan kadaver."
" Aku senang kamu bisa menikmati kuliahmu, aku bangga padamu." Ucap kak Zean, tangan kirinya mengelus rambutku yang terurai panjang.
"Dasar bodoh, bisa-bisanya aku bersemangat sekali bercerita kepadanya." Lagi-lagi aku bergumam dalam hati dan merutuki kebodohanku.
Kak Zean benar-benar mengantarku sampai didepan gedung fakuktasku. " Terimakasih tumpangannya pak dosen."
"Kenapa tak memanggil namaku lagi, tadi kamu terus mengucap namaku." Goda kak Zean dengan senyum kemenangan diwajahnya.
"Aku." Menunjuk diriku sendiri. "Memanggil namamu, jangan harap, mungkin kamu salah dengar." Imbuhku mengelak perkataan kak Zean.
"Sudah ah aku telat nanti, makasih tumpangannya." Ulangku lagi lalu aku keluar dari dalam mobil kak Zean dan berlari masuk kedalam gedung. Malu sekali rasanya, kenapa aku harus memanggil namanya si, dasar bodoh-bodoh-bodoh.
BERSAMBUNG..
Note:
Kadaver(Mayat yang diawetkan)
Hye apa kabar semuanya, semoga kalian dalam keadaan sehat ya..
Maaf hari ini aku hanya up 1 eps, dikarenakan kesibukan di RL yang tidak bisa aku tinggalkan..
Happy weekend untuk semuanya..
Salam sayang dariku ya ❤❤❤
__ADS_1