Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 30 Happy Birthday


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan aku dan kak Ega tinggal di rumah baru kami, tapi aku tak kunjung mendapat telefon dari ibu sekedar untuk menanyakan keadaanku dan kak Ega. Apa ibu tidak merindukan kami, atau justru ibu lebih senang tak ada kami di rumahnya.


Meskipun demikian aku cukup bahagia di rumah ini, aku tak perlu mendengar tekanan demi tekanan dari ibu, kak Ega juga selalu meluangkan waktunya untuk mengantarku berangkat sekolah, dan di rumah aku punya kak Dion yang selama sebulan ini menjadi lebih akrab denganku. Kak Dion memang lebih banyak di rumah karena dia masih menunggu masuk ke perguruan tinggi melanjutkan jenjang Master. Sedangkan om Fajar, kabarnya dia sudah bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi bersama dengan kak Natasha. Dan kak Zean, apa yang dia lakukan akhir-akhir ini, aku tak berani menanyakannya kepada kak Dion, sedang kang Dion sendiripun tak pernah membicarakan kak Zean sama sekali. Dan satu hal lagi mereka semua belum tahu tentang kepindahanku, termasuk Arum sahabatku.


Pagi ini matahari tertutup awan yang cukup tebal, sedari dini hari tadi hujan sudah menunjukan eksistensinya dan sampai detik ini masih enggan menghentikan rintikannya.


Penghujung tahun yang dingin ini aku masih sibuk dengan aktivitasku, sekolah, sekolah dan sekolah. Rasanya aku ingin segera lulus dan ingin segera tumbuh dewasa.


Aku masih meringkuk di bawah selimut tebal-ku saat kak Ega masuk membawa nampan berisi sebuah mangkuk dan segelas jus jeruk.


" Bawa apaan kak?"Tanyaku penasaran. kini aku mulai terbiasa berbicara seperti dulu kepada kak Ega, menggunakan bahasa yang lebih santai.


" Mie kuah pake telur setengah mateng." Kak Ega duduk di meja belajarku dan meletakan nampan di atas meja.


" Siapa yang makan mie instan pagi-pagi gini kak?"Aku meledek kak Ega.


" Ini udah siang non, udah jam 11."


Aku tak percaya dengan ucapan kak Ega, aku mengambil ponselku dan benar saja ternyata sudah siang dan aku masih nyaman di balik selimutku.


" Bagi dong kak!" Aku menghampiri kak Ega dan berniat merampas mie instan miliknya.


" Bikin sendiri lah.! Kak Ega menggeser nampan-nya.


" Pelit." Aku mendegus kesal dan meninggalkan kak Ega yang masih memamerkan mie instannya.


Aku masuk ke kamar mandi, karena sudah siang aku memutuskan untuk mandi sekalian. Hampir setengah jam sibuk dengan urusan kamar mandi aku akhirnya menyelesaikan ritualku di kamar mandi. Aku membuka pintu dan..


" Surprice." Ucap Kak Ega dan kak Dion serempak sambil memegang sebuah kue ulangtahun di tangan mereka masing-masing.


" Kita nggak nyanyi kak?" Celoteh kak Dion.


" Kamu aja, aku fals suaranya." Tolak kak Ega.


" Apalagi aku kak, yang ada nanti Indhi sedih kalau denger aku nyanyi."


" Sudah sudah, kalian apa-apaan sih bikin kejutan kaya gini." Aku merasa malu tapi juga sangat senang mendapat kejuatan dari mereka.


" Selamat ulang tahun adikku sayang, segala doa terbaik buat kamu." Ucap kak Ega sambil memelukku tanpa meletakan kue di tangannya.


" Selamat ulang tahun anak kecil, semoga makin tua ya, Hahaha. Semoga apa yang kamu harapkan terwujudkan." Kak Dion ikut menyelamatiku.


" Makasih banyak kak Dion untuk doanya." Jawabku sambil melepaskan diri dari pelukan kak Ega.

__ADS_1


" Tiup lilin dulu donk?" Sambung kak Dion.


Aku memejamkan mataku berdoa kepada Tuhan semoga sikap ibu bisa berubah lembut seperti dulu lagi, semoga kak Ega selalu bahagia, aku bisa masuk SMA favorit dan semoga kak Zean selalu baik baik saja. Aku membuka mata dan meniup satu persatu lilin yang menghiasi kue tart yang di bawa kak Ega dan kak Dion.


" Hadiahnya, buka nanti aja kalau udah nggak ada orang!"Kak Ega memberikan sebuah kotak berukuran kecil dengan pita di atasnya.


" Ini dari aku." Kak Dion juga memberiku sebuah kado.


" Makasih kak Ega, kak Dion."


Kak Ega keluar dari kamarku di ikuti kak Dion di belakangnya. Aku akan menyusul mereka setelah aku mengeringkan rambutku terlebih dahulu.


" Kamu dimana, aku ke rumah kok nggak ada orang." Aku mendapat pesan singkat dari Arum.


" Aku di rumah kak Ega." Aku membalas pesan Arum lalu mengirim alamat kepadanya.


Aku turun dari kamar dan menghampiri kak Ega dan kak Dion yang sudah duduk di meja makan dan sedang menikmati sepotong kue tart beserta teh sebagai pelengkapnya.


" Kak, kan belom aku potong kuenya, kok udah di makan sih." Protesku melihat mereka tengah asik dengan kue mereka.


" Habis kamu kelamaan, kasian Dion udah kelaparan." Jawab kak Ega santai.


Aku melirik ke arah kak Dion dan dia hanya tersenyum lebar ke arahku. Aku menarik kursi disebelah kak Ega, lalu ikut menikmati kue tart yang sudah di potong oleh kak Ega.


Masih sibuk dengan percakapan kami tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, aku berdiri dan segera membukanya.


" Surprice. Happy Birthday Prilatia Lhindiani sayangku cintaku." Arum berada di balik pintu dengan topi kerucut di kepalanya dan kue tart black fores di tangannya.


Aku tersenyum lebar kepada Arum, tapi seketika senyumku memudar saat aku melihat om Fajar dan kak Zean masuk melewati pagar rumahku.


Apa yang dia lakukan di sini. Aku menatap Arum dan kemudian melirik kak Zean seakan sedang bertanya kenapa dia bisa ada di sini. Arum hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


" Ayo masuk."


Arum masuk terlebih dahulu lalu di ikuti om Fajar dan kak Zean di belakangnya. Mereka bertiga terkejut melihat keberadaan kak Dion di rumahku yang tengah duduk manis di sofa ruang tengah dan tengah berbincang dengan kak Ega.


" Oh jadi ini tetangga cantik yang kamu maksud Yon." Celetuk om Fajar karena dia tahu kak Dion pemilik rumah sebelah.


Kami semua menoleh ke arah kak Dion dan kak Dion hanya tertawa melihat kami.


" Hahah, kan emang cantik tetangga baru aku, iya kan Zean?"Ucapak kak Dion membuat kami semua canggung.


" Silahkan duduk." Tawar kak Ega kepada tamu kami.

__ADS_1


" Kamu kapan pindah sih, kok nggak ngabarin aku, aku tadi ke rumah tapi nggak ada orang sama sekali." Oceh Arum karena kesal aku tak memberi tahu tentang kepindahanku.


" Oh ya, aku di sini udah sebelun Rum. Maaf ya, aku sengaja nggak kasih tau kamu, takut nanti ibu tanya ke kamu sekarang aku tinggal di mana."


" What. Kamu masih belum akur sama ibu kamu."


Aku menggeleng lemah lalu Arum langsung memelukku. Mungkin dia prihatin dengan hubunganku dan ibu yang semakin memburuk.


Aku melepas pelukan Arum. Kak Ega membawakan beberapa kaleng soda dan piring kecil yang akan di gunakan untuk menaruh potongan kue. Kak Ega dengan telatennya memotong kue yang di bawa oleh Arun dan membagikannya kepada mereka bertiga.


Setelelah makan kue kami berbincang satu sama lain, beberapa kali aku melihat ke arah kak Zean yang hanya diam sedari tadi.


Karena sudah sore Arum pamit untuk pulang. Aku mengantar mereka samapai di depan rumah.


" Aku pulang dulu ya, Happy birhday sekali lagi heheh." Pamit Arum


" Makasih Rum."


" Aku juga pulang dulu ya, entar malem kesini lagi, kak Ega mau main PS bareng." Ucap kak Dion kemudian pergi.


Arum dan Om Fajar sudah masuk ke dalam mobil, sedangkan kak Zean masih berdiri di hadapanku.


" Ini buat kamu, happy birthday." Ucapnya sambil menyodorkan kotak hadiah.


" Terimakasih kak, merepotkan."


" Buang saja kalau kamu nggak suka." Nadanya terdengar sinis.


Kak Zean pergi begitu saja tanpa berpamitan kepadaku, aku tersenyum getir memandangi punggung kak Zean yang menjauh.


Percakapam di dalam mobil antara om dan keponakannya.


" Kak Zean nyebelin banget si om, orang suka sama Indhi kok pake acara sok jual mahal segala."


" Bukan gitu, Zean cuma takut nyakitin Indhi aja, mungkin dia masih trauma dengan masa lalunya."


" Maksudnya gimana om, trauma gimana?"


" Sudahlah bukan urusan kita juga. Jangan di bahas lagi, Zean udah lagi ke sini.


**


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2