
" Kamu mau menikahi kakak?" Kata kak Ega dengan wajah seriusnya.
" Kamu bilang akan menikahi kakak jika kakak bukanlah kakak kandungmu."
" Kakak sudah tidak menganggapku adik lagi hanya karena tak ada ikatan darah di antara kita?" Ucapku dengan air mata yang mulai menetes di pipiku.
"Kakak hanya bercanda, kenapa kamu begitu serius dan menangis. Kakak tidak suka melihatmu menangis." Kata kak Ega sambil mengusap air mata di wajahku.
" Kamu akan selalu jadi gadis kecil kakak, kesayangan kakak."
Kami saling diam, larut dalam fikiran masing-masing. Aku masih terus menyesali dengan ucapanku dulu tentang menikahi kak Ega jika dia bukan kakaaku. Sedangkan kak Ega, aku tidak tau apa yang ada di kepalanya saat ini.
Tak terasa kami sudah sampai di bawah dan kami segera turun. Kak Ega terus menggandeng tanganku tanpa canggung sama sekali. Sementara aku sebisa mungkin untuk menahan ini. Sebenarnya mendapati fakta jika kak Ega bukanlah kakak kandunggu membuatku takut dan khawatir.
Matahari mulai meninggi dan pengunjung semakin ramai. Aku dan kak Ega masih berkeliling dan memilih akan menaiki wahana mana lagi.
" Kenapa berhenti?" Tanya kak Ega heran karena aku tiba-tiba menghentikan langkahku.
" Mau itu." Aku menunjuk stand penjual ice cream.
" Tunggu di sini, biar kakak belikan." Kak Ega melepas pautan tangannya dan berjalan ke arah penjual ice cream.
Tanpa kak Ega sadari aku membuntutinya dari belakang karena aku penasaran dengan stand penjual ice cream yang bentuknya unik, mereka berjualan dengan menggunakan mobil truck, sungguh sebuah inovasi yang baru dalam dunia per ice creaman.
" Mau yang rasa apa mas?" Tanya si penjual saat kak Ega sudah berdiri di depan ice cream truck itu.
" Rasa cokelat dua." Imbuh kak Ega tanpa menyadari aku sudah berada di belakangnya.
Aku mengamati kak Ega yang sedang mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang, saat kak Ega membuka dompetnya perhatianku tertuju pada sebuah foto yang terpasang di dalam dompet kak Ega. Bukankah itu aku? Gumamku dalam hati, meskipun hanya melihat sekilas tapi aku yakin foto itu adalah potret diriku yang kak Ega ambil saat kami pergi ke pantai setahun lalu.
" Pacarnya cantik sekali mas" Puji penjual ice cream setelah memberikan dua cone ice cream kepada kak Ega.
" Pacar?" Tanya kak Ega karena masih belum menyadari kehadiranku di belakangnya.
" Terimakasih, dia memang sangat cantik." Kata kak Ega setelah dia menyadari jika yang di maksud penjual ice cream adalah aku.
Aku yang masih bingung setelah melihat fotoku di dalam dompet kak Ega hanya diam pasrah mendengar percakapan kak Ega dan penjual ice cream itu.
" Ini ice creamnya." Ucap kak Ega.
__ADS_1
" Terimakasih." Kataku lalu meraih ice cream cokelat dari tangan kak Ega.
Kami berjalan beriringan sambil menikmati ice cream kami masing-masing. Aku mengamati kak Ega yang tengah menikmati ice cream cokelat miliknya dan tersadar jika selama ini selera kami selalu sama dalam segala hal.
" Mau naik itu?" Tanya kak Ega sambil menunjuk roller coaster.
" Kakak nggak takut?"
" Kakak takut? hahahah." Ucap kak Ega dengan sombongnya.
Aku dan kak Ega mengantri untuk bisa naik ke wahana yang kak Ega inginkan. Setelah hampir lima menit mengantri akhirnya kami sudah bisa masuk ke dalam wahana. Kami di bantu oleh operator roller coaster untuk memakai sabuk pengaman.
Setelah semua kursi di wahana ini penuh, sang operator memberikan isyarat jika sebebentar lagi wahana yang berbentuk seperti kereta ini akan segera berjalan.
Kak Ega tersenyum saat roller coaster mulai berjalan. Awalnya masih pelan namun lama-lama roller coaster yang kami naiki melesat dengan kecepatan penuh yang membuat para penumpangnya berteriak histeris, termasuk aku dan kak Ega tentunya.
Tepat setelah roller coaster berhenti, kak ega langsung melepas sabuk pengamannya dan belari menuju toilet yang jaraknya tidak terlalu jauh dari wahana. Aku ikut berlari dan mengikuti kak Ega.
Hoek, hoek, terdengar suara kak Ega dari dalam kamar mandi. Karena merasa khawatir aku terpaksa menerobos masuk ke dalam toilet pria, untung saja tidak ada orang lain di dalamnya. Aku mengetuk salah satu pintu toilet yang aku yakini kak Ega berada di dalamnya dan pintunya terbuka karena ternyata kak Ega tidak menguncinya.
" Kakak nggak papa?" Tanyaku setelah melihat kak Ega yang tengah duduk di atas toilet.
" Kakak yakin? wajah kakak pucat sekali."
Belum menjawab ertanyaanku kak Ega berdiri dan membuka closet, dia kembali memuntahkan semua isi di perutnya. Aku mendekati kak Ega dan memijat tengkuknya.
" Sudah baikan?" Tanyaku lagi saat kak Ega sudah tidak muntah lagi.
" Hmmmm."
" Ayo keluar." Ajakku setelah merasa kak Ega sudah membaik.
Aku dan kak Ega keluar bersamaan, tepat di depan toilet ada beberapa orang dan mereka menatap kami seolah kami adalah penjahat.
Aku hanya melewatkan mereka dan mengajak kak Ega untuk mencari tempat duduk.
" Katanya nggak takut, kok malah muntah si?" Ledekku saat kami sudah duduk.
" Kakak emang nggak takut, mungkin karena kakak belum terlalu sehat, makannya kakak muntah." Elak kak Ega.
__ADS_1
" Oh ya. Terus mau naik yang mana lagi?"
" Kamu aja yang naik, kakak sudah tidak punya tenaga untuk naik apa-apa lagi!"
" Bilang aja takut." Ejekku sambil berlari.
" Kakak nggak takut." Teriak kak Ega lalu dia berlari mengejarku.
Karena matahari sangat terik dan kak Ega sudah tidak mau naik wahana lagi, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
Selama perjalanan aku terus meledek kak Ega dan kak Ega terlihat sangat kesal karena aku tak henti-hentinya membahas tentang muntahan .
" Kok ke sini?" Tanyaku setelah melihat kak Ega masuk ke area Mall.
" Mau makan dulu, kakak Laper."
" Oh. Pasti laper lah, tadi keluar semua isinya."
" Puas- puasin deh ngeledek kakak." Ucap kak Ega sambil mengusap kepalaku.
Aku dan kak Ega masuk ke dalam mall dan menuju area food court.
" Mau makan apa kak?"
" Terserah kamu aja, kakak ngikut?"
" Ya udah kakak tunggu aja disana?" Ucapku sambil menunjuk meja kosong.
Aku memesan beberapa makanan sementara kak Ega menuruti perintahku dan duduk menungguku. Wajahnya masih sedikit pucat, dia juga masih terlihat lemas setelah kebahisan semua bahan bakar di tubuhnya.
Aku menghampiri kak Ega dan duduk di depannya. Setelah beberapa saat pesanan kami akhirnya datang.
Aku sangat bersemangat karena aku juga sangat kelaparan. Baru akan menyuapkan makanan ke mulutku, tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
" Katanya flu, kok malah disini?" Ucap seseorang dengan sinis.
Aku menoleh ke arah sumber suara dan terkejut dengan apa yang aku lihat.
" Kak Zean." Ucapku setengah berteriak.
__ADS_1
BERSAMBUNG...