Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 38 Jadilah kekasihku


__ADS_3

Aku berbaring di atas rerumputan, mataku terpejam karena menghalau hujan masuk ke dalam mataku, aku berdoa dalam hati setidaknya biarkan aku melihatnya untuk terakhir kalinya.


" Romantis banget ya kita, tiduran sambil ujan-ujanan."


Aku membuka mataku dan menoleh ke arah sumber suara. Aku melihat kak Zean sudah berada di sebelahku, kepala kami sejajar dengan posisi tubuh saling berlawanan. Aku mengedipkan mataku beberapa kali, memastikan apakah yang ada di samping-ku ini nyata atau hanya khayalan-ku saja.


" Ze."


" Ya."


" Benar ini kamu."


" Hmm."


" Sejak kapan kamu di sini?"


" Dari sebelum kamu berteriak."


Aku reflek membuang muka, menghindari tatapan penuh kemenangan dari kak Zean, rasanya aku ingin menghilang saat ini juga, sungguh memalukan.


" Kamu nggak kedinginan?" Tanya kak Zean yang kini posisi kepalanya berada di atas kepalaku.


Aku mendongak-kan kepala ku dan manatapnya tajam. Mata birunya ikut membalas tatapan-ku dan membuatku salah tingkah. Aku segera bangun dan duduk sebelum kak Zean menyadari kegugupanku.


Kak Zean ikut merubah posisinya dan duduk di sebelahku. Hujan mulai reda, tapi langit masih di selimuti awan hitam.


" Kapan kakak berangkat?"Tanyaku pada akhirnya.


" Lusa."


" Kapan pulang lagi kesini?"


" Aku akan menetap di sana, mungkin nggak akan pulang kesini, kecuali ada sesuatu yang membuatku ingin pulang."


" Hmmmm. Kenapa memberiku tanaman lavender, aku nggak tau gimana cara merawatnya."


" Bukankah sudah aku tulis cara merawatnya."


" Aku nggak punya waktu kak, aku sibuk menyiapkan ujian."


" Ya sudah, biarkan saja. Biarkan layu lalu mati." Ucap kak Zean seakan menyiratkan sesuatu.

__ADS_1


" Boleh aku memelukmu?"


Mataku membelalak mendengar permintaan kak Zean, namun kak Zean malah menatapku dengan sendu.


" Anggap saja salam perpisahan dari seorang teman." Suara kak Zean terdengar sedih.


Aku menghela nafas lalu merentangkan kedua tanganku, kak Zean menatapku seolah tak percaya dengan apa yang sedang aku lakukan, namun sedetik kemudian dia menarik tubuhku dan lagi lagi aku jatuh ke dalam pelukan-nya.


" Terimakasih sudah hadir di hidupku dan maaf karena menyakitimu, jaga dirimu baik-baik ya. Aku mencintaimu, bunga matahariku." Bisik kak Zean.


Kak Zean beberapa kali mengusap punggungku lalu berpindah mengelus rambutku dan di akhiri dengan mengecup pucuk kepalaku, setelah itu kak Zean melepas pelukannya dan berdiri beranjak meninggalkanku.


Aku masih duduk terpaku, dadaku terasa sesak, lidahku kelu, rasanya aku tak sanggup mengucapkan salam perpisahan kepadanya.


Apakah aku yakin akan melepaskannya begitu saja. Lalu apa alasanku berkeliaran seperti orang gila untuk mencari keberadaannya. Apakah aku akan baik-baik saja setelah kepergiannya, sungguh aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku hanya tak ingin di tinggalkan.


Aku berdiri menatap punggung kak Zean yang mulai menjauh dari jangkauanku, mataku nanar menyaksikan langkahnya menjauhiku.


Aku mencoba untuk memberanikan diri, membuang semua ketakutan yang ada dalam pikiranku, dengan setengah berlari aku menuruni bukit yang licin karena guyuran air hujan. Kak Zean berhenti, memutar tubuhnya dan melihatku berlari menuruni bukit.


Jarakku semakin dekat dengan kak Zean, aku begitu bersemangat hingga tiba-tiba kakiku tergelincir, badanku terayun karena kehilangan keseimbangan dan bruuukk aku menabrak kak Zean. Kak Zean memeluk pinggang-ku erat, memastikan agar aku tak terjatuh. Karena jalan yang licin kak Zean juga kehilangan keseimbangannya dan kami jatuh dalam keadaan saling memeluk satu sama lain. Untung saja kami sudah hampir sampai di kaki bukit sehingga kami tidak mengalami cedera yang serius.


"Are you okay?"


" Ada yang sakit , ada yang luka nggak?"


" Nggak kak, aku baik-baik aja."


" Ah syukurlah, lagian kamu ngapain sih lari dari atas, bahaya tau nggak, dasar ceroboh." Kak Zean memarahiku, sama persis seperti kak Ega saat sedang memarahiku.


Aku hanya tersenyum mendengar ocehan kak Zean. Melihat senyumku Kak Zean membuang nafas dengan kasar, kedua tangannya berkacak di pinggangnya dan terlihat sedang menahan marah.


" Kakak marah?"


" Kamu sadar nggak si, apa yang kamu lakuin barusan itu bahaya Pril, kalau kamu kenapa-napa gimana."


" Maaf." Aku menunduk dan menyesali perbuatanku.


" Kak."


" Apa?" Jawab kak Zean setengah membentak.

__ADS_1


" Bisakah kakak tetap tinggal di sini." Tanyaku sedikit ragu.


Kak Zean hanya menggelengkan kepalanya.


" Jadi kakak akan meninggalkanku."


" Bukannya itu yang kamu mau."


Aku terdiam, menyesali semua kata yang telah aku ucapkan kepada kak Zean waktu itu. Entah mendapat keberanian dari mana tiba-tiba tanganku meraih leher kak Zean, menariknya agar mendekat ke arahku.


" Aku sangat sangat menyukaimu. Bisakah kamu tetap tinggal dan menjadi kekasihku?" Aku berbisik di telinga kak Zean.


Aku melepaskan leher kak Zean, menunduk malu dengan apa yang barusan aku ucapkan. Berani sekali aku mengajaknya untuk berpacaran, bukankah segarusnya dia yang berkata begitu padaku.


Beberapa menit berlalu aku tak juga mendengar tanggapan dari kak Zean. Akhirnya aku memutuskan untuk mundur , menjaga jarak dengan kak Zean lalu melangkahkan kaki meninggalkannya.


" Maukah kamu menjadi kekasihku Prilatia." Teriak kak Zean dari kejauhan.


Aku mengehentikan langkahku, senyum bahagia mengembang di wajahku. Aku masih dalam posisiku membelakangi kak Zean, lalu aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jari jempolku tanda aku menyetujui ajakannya.


Terdengar suara tawa kak Zean dari kejauhan lalu dia berlari menghampiriku, aku berbalik dah Hap kak Zean menangkap tubuhku, membawaku ke dalam pelukannya, dengan bahagia akupun membalas pelukan kak Zean.


Lama saling memeluk, kak Zean akhirnya melepaskan pelukannya, tangannya menangkup kedua pipiku dan cup sebuah kecupan mendarat di bibirku. Aku menahan kak Zean saat dia mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.


" Bisakah kakak menunggunya sampai aku siap?"


Aku menolak ciuman bibir dari kak Zean. Bukan karena aku tak menyukainya tapi aku ingin mempunyai hubungan yang sehat dengan kak Zean, apalagi mengingat usiaku yang baru 15 tahun, jadi aku harus benar-benar bisa menjaga diriku sendiri.


" Tentu."


Kak Zean tersenyum lebar, sangat jarang bisa melihat kak Zean tersenyum begitu lebar. Kak Zean menggenggam tanganku, menuntunku melewati ladang ilalang sebelum kami sampai di pemukiman penduduk.


" Kak, bisakah nanti kita mampir ke toko baju dulu."


" Tentu. Lihat, aku juga sudah tidak nyaman dengan pakaianku." Jawab kak Zean sambil memperlihatkan bajunya yang kotor karena terjatuh bersamaku tadi.


Kami berjalan sambil bergandengan tangan, rasanya enggan untuk melepaskan tangan kak Zean. Hari ini dengan keberanianku akhirnya aku bisa menggenggam tangan kak Zean. Di tengah hamparan padang ilalang dan di bawah rintikan sang hujan akhirnya aku menemukan kekasih pertamaku.


Zean, Arzean Wijaya dari sinilah hubungan kami di mulai, dengan kenaifan seorang gadis remaja, aku berharap hubungan ini akan abadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2