
POV AUTHOR
" kenapa tidak bilang kepada ibu kalau wanita itu mendatangimu?" Ujar ibu saat mereka sudah berada didalam mobil milik Ega.
" Maaf bu, Ega takut ibu akan menyerahkan Ega untuk wanita itu." Ucap Ega sembari menunduk, dia tidak mampu menatap wajah ibunya.
" Kamu itu anak ibu, putra kebanggaan ibu, bagaiamana bisa kamu berfikir demikian, sampai kapanpun kamu tetap anak ibu!" Kini ibu mempertegas kalimatnya, dia mengelus punggung Ega dengan lembut.
" Terimakasih bu, maaf karena Ega menutupi semuanya." Ega merasa menyesal karena tidak berterus terang kepada ibunya, harusnya dia menuruti apa kata Indhi untuk memberi tahu ibu mereka tentang kehadiran ibu kandungnya.
" Ibu juga minta maaf karena ibu terlalu sibuk dengan dunia ibu, sampai-sampai ibu tidak memperhatikan kalian lagi, terutama adikmu, dia pasti sangat kesepian selama ini."
" Pulanglah saat adikmu sudah sehat." Ucap ibu memohon pada Ega.
" Tapi bu, Ega takut wanita itu akan mengganggu kalian jika dia tau tempat tinggal kita."
" Kita itu keluarga, sudah selayaknya tinggal bersama, masalah wanita itu kamu tidak perlu khawatir, dia tidak akan mengganggu kita karena ibu tidak akan membiarkannya."
Ega hanya mengangguk mengiyakan permintaan ibunya untuk pulang, meskipun bayang-bayang wanita itu masih mengganggu fikirannya.
Ega segera melajukan mobilnya menuju rumahsakit, sudah satu jam lebih sejak kepergiannya, dia harus segera kembali dan menemani adiknya yang sedang berjuang diruang operasi.
Sesampainya di rumahsakit Ega dan ibunya bergegas menuju ruang operasi, disana masih ada Zean, Arum dan Dita yang menunggu dengan setia.
Ega menatap lekat wajah Zean yang nampak begitu lesu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis, Ega merasakan sedikit kelegaan dihatinya karena adiknya memiliki seseorang yang mencintainya, sama seperti dirinya yang begitu menyayangi dan mencintai adiknya sepenuh hati, namun perasaan itu dengan perlahan harus dia kubur dalam-dalam. Bagi Ega kebahagiaan Indhi adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
" Bagaimana kak?" Arum berdiri dan menghampiri Ega dan ibunya.
" Kakak akan melaporkan kasus ini ke polisi, mereka tidak ada itikat baik untuk meminta maaf." Jelas Ega.
" Baguslah kak, biar Naura kapok." Ujar Arum mendukung keputusan Ega.
Ega menepuk pundak Arum dan duduk disebelah Zean yang terus saja menundukkan kepalanya.
" Makanlah sesuatu, wajahmu sangat pucat."
" Aku tidak lapar kak."
" Setidaknya minumlah, kamu bisa pingsan nanti."
" Hem." Jawab Zean singkat namun dia tidak beranjak dari duduknya.
" Arum tolong belikan air dan sesuatu yang bisa dimakan, kalian juga makanlah." Kak Ega menyodorkan sebuah kartu dan dengan ragu-ragu Arum menerima kartu itu.
" Ibu mau dibelikan apa?" Tanya Arum sopan.
__ADS_1
" Air saja Rum, ibu haus." Jawab ibu pelan.
Arum dan Dita berlalu meninggalkan mereka dan segera keluar untuk mencari makanan. Dita yang biasanya sangat cerewet tiba-tiba menjadi pendiam dan membuat Arum penasaran.
" Kamu kenapa jadi pendiam begini." Tanya Arum saat mereka tengah berjalan keluar rumahsakit.
" Aku takut Rum, gimana kalau Indhi nggak bisa bertahan, darahnya begitu banyak yang keluar, aku sangat takut Rum." Ungkap Dita dengan mata berkaca-kaca.
" Indhi pasti kuat, kita berdoa saja untuk kesembuhannya." Ucap Arum mencoba menenangkan Dita.
" Harusnya aku tadi menjambak rambutnya juga." Celetuk Arum.
" Haruskah kita menemuinya dan menjambak rambutnya sampai lepas dari kepalanya?"Imbuh Arum yang akhirnya berhasil membuat Dita tersenyum.
" Nah begitu dong, ini baru Dita yang kukenal, jangan sedih lagi, Indhi pasti tidak suka melihat kita sedih."
" Indhi juga pasti akan melarang kita menjambak rambut Naura kan?" Ucap Dita dengan senyum di wajahnya.
" Tentu saja, dia itu seperti ibu peri, hatinya begitu baik. Lihat saja setelah sadar nanti dia pasti tidak akan setuju dengan keputusan kak Ega yang melaporkan Naura kepolisi." Tebak Arum penuh keyakinan.
" Tidak mungkin, kali ini Naura pasti tidak akan mendapat maaf dari Indhi." Protes Dita yang tidak setuju dengan tebakan Arum.
" Lihat saja nanti." Ucap Arum lalu dia berlari meninggalkan Dita.
" Tunggu." Teriak Dita, lalu dia mengejar Arum yang sudah berada jauh di depannya.
3jam kemudian
Semua orang masih duduk didepan ruang operasi dengan perasaan cemas. Arum dan Dita membeli beberapa makanan namun tidak satupun dari mereka yang menyentuhnya, ibu hanya mengambil air minum, sementara Zean dan Ega tak sedikitpun melirik makanan dan minuman yang dibeli oleh Arum.
Sudah hampir empat jam berlalu tapi operasi belum juga selesai, padahal menurut Ega operasi itu biasanya hanya memakan waktu sekitar tiga jam saja.
Ega beberapa kali berdiri dan mondar-mandir didepan pintu operasi, wajahnya mulai panik lagi, dia takut operasinya tidak berjalan dengan lancar.
Ditengah kekhawatirannya, pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dan Ega segera menghampiri dokter itu disusul oleh Zean dan ketiga orang lainnya.
" Bagaimana keadaan adik saya prof?" Ega segera menodong dokter itu dengan pertanyaannya.
" Tenanglah adikmu baik-baik saja, operasinya berjalan lancar, dia sudah melewati masa kritisnya, dia sangat tangguh, dia mampu melawan rasa sakitnya." Terang Profesor Hilman, dokter bedah saraf senior di rumahsakit tempat Ega bekerja.
" Terimakasih prof, terimakasih banyak karena sudah menolong adik saya." Ungkap Ega penuh syukur.
Profesor Hilman menepuk bahu Ega lalu meninggalkan mereka, selepas kepergian Profesor Hilman, tiga orang perawat keluar mendorong tempat tidur Indhi, mereka akan memindahkannya ke ruang perawatan.
Sudah dua jam setelah Indhi di pindahkan ke ruang perawatan namun belum ada tanda-tanda dia akan sadar.
__ADS_1
" Bu, pulanglah dulu, ibu perlu istirahat." Ega menghampiri ibunya yang duduk disofa beserta Arum dan Dita.
" Ibu akan tetap disini. Kalian pulanglah dulu, orangtua kalian pasti khawatir." Ibu menolak saran Ega, dia justru menyuruh Arum dan Dita untuk pulang.
" Kami juga mau disini menemani Indhi bu." Ucap Arum lemah.
" Benar kata ibu, kalian pulanglah, ini sudah sore, kakak akan mengabari kalian kalau Indhi sudah sadar." Kini giliran Ega yang menyuruh kedua anak itu untuk pulang, Ega tidak tega melihat mereka berdua yang juga nampak kelelahan.
" Kabari kami segera setelah Indhi sadar ya kak." Rajuk Arum yang masih keberatan untuk pulang.
" Ya segera." Jawab Ega dengan senyum dipaksakan.
Arum dan Dita akhirnya mengalah dan menuruti Ega untuk pulang, setelah berpamitan mereka berdua meninggalkan kamar perawatan Indhi.
" Nak Zean juga pulanglah dulu, kamu pasti lelah seharian disini." Ibu berdiri menghampiri Zean yang duduk disebelah ranjang Indhi.
" Tidak bu, Zean tidak akan kemana-mana sebelum Indhi membuka matanya." Tolak Zean.
" Setidaknya makan atau minumlah sesuatu, ibu lihat kamu belum makan apa-apa sejak tadi."
" Zean tidak lapar bu." Jawab Zean lemah, matanya tak pernah lepas dari wajah Indhi.
Ibu yang mengerti dengan perasaan Zean memilih untuk kembali duduk di sofa bersama Ega.
****
Sudah hampir tengah malam, ibu yang kelelahan sudah tertidur si sofa, sementara Zean tak beranjak sekalipun dari kursinya, dia dengan setia menemani Indhi yang masih belum juga sadarkan diri.
Ega beberapa kali keluar untuk menanyakan tentang kondisi Indhi yang tak juga sadar, padahal dia juga seorang dokter, harusnya dia sudah faham betul butuh waktu dua sampai enam jam untuk seorang pasien sadar setelah melakukan operasi dikepala.
" Kak, kemari. Lihatlah jarinya bergerak." Teriak Zean setelah melihat pergerakan ditangan Indhi. Ega segera menghapiri ranjang Indhi, ibu yang semula terlelap, segera membuka matanya dan mengampiri putri kecilnya.
" Kamu sudah sadar?" Tanya Ega setelah Indhi membuka matanya perlahan.
" Kakak." Ucap Indhi begitu lirih.
" Ya ini kakak." Ega bisa bernafas lega akhirnya Indhi sadar dan masih mengenalinya.
" Ibu." Panggil Indhi dengan suara yang begitu lemah.
" Iya sayang ini ibu, syukurlah kamu sudah sadar, ibu sangat khawatir." Ucap ibu penuh rasa syukur.
Indhi menoleh ke arah Zean, dia menatap wajah laki-laki yang tengah tersenyum kepadanya dengan mata berkaca-kaca. Lama Indhi terdiam dan memperhatikan Zean, lalu dia menarik pandangannya dari Zean dan beralih menatap wajah kakaknya.
" Dia siapa kak?"
__ADS_1
^^^Bersambung.........^^^