Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 46 Penawar kesedihan


__ADS_3

Tiga minggu telah berlalu, kak Zean benar-benar memberiku ruang untuk sendiri, meskipun kadang dia masih mengirimiku pesan, sekedar mengingatkanku untuk makan.


Dan untuk ibu, kak Ega pernah beberapa kali mengunjungi rumah ibu, tapi kak Ega tak pernah bertemu dengan beliau, kata asisten rumah tangga kami,ibu sedang ada pekerjaan di luar kota selama beberapa bulan.


Tiga minggu rasanya sudah cukup untukku melepas semua kekecewaanku kepada kak Zean. Besok adalah hari pertamaku di bangku SMA dan hari ini aku berniat untuk mengunjungi kak Zean di rumahnya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku di terima di salah satu SMA terbaik di kota kami, kak Zean pasti akan bangga padaku. Aku sudah tidak sabar melihat wajahnya, baru tiga minggu saja aku sudah sangat merindukannya. Sepertinya aku sangat menyukainya.


Sekitar jam tiga sore aku sampai di depan rumah kak Zean, aku memang sengaja datang sore karena aku ingin mengajaknya nonton dan makan malam bersama.


Sebelumnya aku sudah izin kak Ega dan dia menyetujuinya, lebih tepatnya terpaksa menyetujuinya. Kalian masih ingat daftar keinginan yang semuanya akan di kabulkan oleh kak Ega. Ya inilah salah satu dari daftar itu, pergi keluar sendiri tanpa pengawasan kak Ega. Rasanya aku ingin segera tumbuh dewasa agar aku bisa pergi kemanapun tanpa pengawasan dari kak Ega.


Aku mengetuk pintu kak Zean dengan senyum merekah di wajahku. Aku sudah tak sabar melihat ekspresi terkejutnya ketika melihatku di sini.


Ceklek, suara pintu terbuka dan yang ku lihat di balik pintu bukanlah seseorang yang aku harapkan.


" Non Indhi, nyari den Zean ya?"Tanya mbok Yem setelah melihatku di depan pintu.


" Iya mbok. Mbok Yem kapan datang?"


" Udah seminggu Non, simbok ndak betah di luar negeri. Oh iya den Zean-nya lagi pergi, katanya ada urusan sebentar. Tunggu di dalam saja non, sebentar lagi pasti den Zean pulang. Mari silahkan masuk non."


Aku mengikuti mbok Yem setelah beliau mempersilahkanku untuk masuk.


" Duduk dulu non, biar simbok ambilkan minum." Tawar mbok Yem.


Aku mengangguk dan duduk di sofa ruang keluarga. Aku tersenyum mengingat kejadian di sofa beberapa waktu yang lalu.


Mbok Yem datang dengan segelas orange jus dan meletakannya di atas meja.


" Silahkan di minum non, simbok tinggal dulu ya masih banyak pekerjaan."


Aku mengangguk lalu mbok Yem meninggalkanku sendirian.


Sudah setengah jam berlalu tapi kak Zean belum juga pulang. Saat aku hendak pamit pulang kepada mbok Yem tiba-tiba terdengar suara mobil kak Zean. Aku berdiri merapikan rambut dan bajuku, aku mengeluarkan lipstik dari dalam tasku dan mengolesnya di bibirku, aku sengaja berdandan hari ini, aku ingin terlihat cantik didepan kak Zean.


Terdengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki kak Zean semakin mendekat.


" Sur.....price." Suaraku yang semula sangat bersemangat tiba-tiba melemah saat aku melihat kak Zean datang bersama dengan kak Natasha.


"Sweety, kapan datang, kenapa nggak ngabarin.?"Kak Zean mendekat lalu memelukku, aku tak membalas pelukan kak Zean, mataku menatap kak Natasha yang berdiri di belakang kak Zean dengan wajah menyebalkannya.


" Sepertinya aku datang di waktu yang nggak tepat. Lebih baik aku pulang sekarang." Aku melepaskan pelukan kak Zean secara paksa.

__ADS_1


" Jangan salah paham dulu Pril. Rumah Natasha kebanjiran karena saluran airnya bocor dan dia bingung mau minta tolong sama siapa, kebetulan aku sedang tidak sibuk makannya aku pergi ke sana untuk melihat keadaan rumahnya. Tukang reparasi bilang butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya, untuk itu aku mengajaknya ke sini."


Penjelasan kak Zean malah membuatku semakin kesal. Bagaimana bisa kak Zean begitu tidak peka dengan tujuan kak Natasha, jelas-jelas dia hanya ingin dekat dengan kak Zean. Dia bilang bingung mau minta tolong siapa, heh apa dia tidak punya teman lain selain kak Zean. Bukannya kak Dion juga kerabatnya, kenapa tidak minta tolong kepadanya saja , terlebih lagi jarak rumah kak Dion lebih dekat dengan rumah kak Natasha. Dasar licik.


" Maaf permisi non, taxinya sudah datang."


Sebelum kak Zean datang tadi aku memang sudah sempat memesan taxi dan aku lupa untuk membatalkannya. Untung saja aku belum membatalkannya jadi aku bisa segera pergi dari sini.


" Sweety tunggu, tunggu sebentar, aku minta maaf aku bener-bener nggak ada maksud lain selain mau nolong dia."Ucap Kak Zean sambil mengejarku.


" Aku yang minta maaf karena sudah mengganggu niat baik kakak untuk menolong orang." Jawabku ketus.


" Oh ya aku datang kesini cuma mau ngasih tau kakak kalau aku sudah mulai sekolah besok, jadi mungkin aku sudah tidak punya waktu untuk berpacaran."


Astaga apa yang aku bicarakan, apa maksudnya tidak punya waktu untuk pacaran, bagaimana kalau kak Zean salah paham dan menganggap aku ingin putus darinya.


" Apa maksud kamu, kenapa bilang begitu, kamu nggak akan minta putus kan?"


" Jawab Pril."


" Apa itu yang kakak inginkan, putus dariku?" Aku bertanya balik.


" Astaga Pril, kamu tau jika aku memang ingin putus darimu sudah aku lakukan jauh-jauh hari saat kamu nggak pernah memberiku kabar sama sekali. Ayolah Pril, aku sangat merindukanmu, jangan pergi ya, aku akan menyuruh Natasha untuk pergi jika perlu."


Aku segera masuk ke dalam taxi dan pergi dari rumah kak Zean. Apa yang aku harapkan dari hubungan ini, benar apa kata kak Dion, kak Zean belum bisa lepas dari masa lalunya, aku merasa seperti menjadi orang ketiga di antara mereka. Ayolah Ndi sadar diri, kak Zean lebih cocok bersama kak Natasha. Kamu akan semakin terluka jika memaksakan diri hadir di antara mereka.


Karena bingung akan kemana aku memutuskan pergi ke rumahsakit kak Ega. Jam segini pasti kak Ega belum pulang, biar nanti sekalian aku menunggunya pulang dan makan malam bersama.


Aku turun tepat di lobby rumahsakit, aku takjub melihat rumahsakit tempat kak Ega bekerja. Besar sekali rumahsakit ini, gumamku dalam hati. Aku semakin takjub saat masuk ke dalamnya, pantas saja dijadikan rumahsakit terbaik di kota ini. lihatlah ini lebih seperti hotel dari pada sebuah rumahsakit. Pasti menyenangkan bisa bekerja di sini bersama kak Ega suatu hari nanti.


" Pemisi ada yang bisa saya bantu?"Tanya salah seorang resepsionis.


" Maaf mba, apa dokter Eganya sudah pulang?"


" Dokter Ega?" Jawabnya bingung.


" Maksud saya dokter Kevin, spesialis bedah umum."


Aku lupa jika di luar rumah hanya segelintir orang yang mengenal nama Ega.


" Mohon tunggu sebentar, biar saya sambungkan ke bedah umum".

__ADS_1


" Dokter Kevinnya sedang ada visit pasien. Apa anda ada janji konsultasi dengan dokter kevin?"


" Nggak mbak. Terimakasih informasinya."


Aku meninggalkan meja resepsionis dan duduk di bangku yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja resepsionis.


Aku merasa canggung saat beberapa staf rumahsakit diam-diam mengamatiku kemudian mereka saling berbisik. Mungkin mereka pikir aku kekasih kak Ega, baiklah mari kita buat pertunjukan seru di rumahsakit.


15 menit kemudian terlihat kak Ega berjalan menghampiriku, dari kejauhan dia sudah mengembangkan senyumnya. Lihat,lihat betapa tampannya kakakku dengan setelan jas kebesarannya, sebuah jas putih khas seorang dokter membuatnya nampak lebih tampan dan berwibawa.


Baiklah mari mulai pertunjukannya. Aku berdiri dari kursiku lalu berlari menghampiri kak Ega dan aku masuk ke dalam pelukan kak Ega yang membuat semua mata tertuju kepada kami.


" Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya kak Ega sambil mengusap kepalaku.


" Aku merindukan kakak." Ucapku di barengi dengan senyuman licik.


" Bukannya hari ini kamu ingin bebas dari kakak?"


"Kakak tidak suka aku datang kesini, pergi sendirian ternyata membosankan kak. Aku mau makan malam bereng kakak."


"Tunggu di sini sebentar kakak ambil tas kakak dulu, lalu kita pulang dan pergi makan"


Sepeninggal kak Ega aku masih menjadi sorotan mata para staf dan perawat rumahsakit. Aku tersenyum penuh kemenangan, setelah ini pasti kak Ega akan menjadi topik hangat di rumahsakit ini.


" Kenapa senyum-senyum sendiri?" Suara kak Ega mengagetkanku.


" Ayo pulang." Ajak kak Ega lalu dia meraih tanganku dan menggandengnya sehingga membuat semua orang yang melihat kami menganga, seperti tak percaya dengan apa yang mereka saksikan hari ini.


" Kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya." Perintah kak Ega kepada resepsionis.


Kak Ega kembali meraih tanganku dan menggandengnya sampai di tempat parkir rumahskakit tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya dari rekan-rekannya.


Untung saja wajahku terlihat lebih dewasa dari umurku, jika mereka tau aku masih di bawah umur, mereka pasti akan mengira kak Ega sebagai seorang pedofil.


Dan sekali lagi, kak Ega adalah penawar dari segala kesedihanku.


Bersambung..


Hay semuanya, gimana menurut kalian ttg sikap kak Zean, aku sendiri sedikit kesal dengan sikap Zean yang tidak tegas ..


Oh ya siapa yang mau punya kakak seperti kak Ega?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya, biar aku makin semangat lagi melanjutkan kisah Indi dan Zean.


Salam sayang dari aku ❤❤❤❤❤


__ADS_2