Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 103 Bertemu Zean lagi


__ADS_3

6 bulan kemudian..


Aku masih menikmati sibuknya menjadi mahasisi kedokteran, hari ini diawal semester baru aku berangkat ke kampus dengan mengendarai motor sport kak Ega yang kini sudah resmi menjadi milikku, entah kenapa aku lebih suka mengendarai motor dari pada mobil.


Pagi ini sebelum ke kampus aku berencana untuk sarapan bersama kedua sahabatku, sudah lama sekali rasanya kami tidak bertemu, aku dan Arum kuliah dikamus yang sama namun karena berbeda jurusan kami juga jarang bertemu, sedangkan Dita dia kuliah dikampus lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampusku.


"Disini." Pangil Arum seraya melambaikan tangannya saat melihatku celingukan mencari mereka. Aku tersenyum dan menghampiri mereka yang tengaj duduk, hari ini kami sarapan dikantin depan kampus.


"Bu dokter makin cantik aja." Goda Dita setelah aku bergabung bersama mereka.


Aku tersenyum dan mengibaskan rambut dengan tangan kiriku. "Tentu, Indhi." Jawabku yang membuat mereka tertawa.


"Ibu pengacara kenapa matanya kaya panda gini?" Ucapku sambil menyentuh bagian bawah mata Arum yang menghitam.


"Sepertinya aku salah ambil jurusan, setiap hari hanya ada hafalan, setiap malam aku begadang untuk menghafal, kalian tau kan kalau otakku itu begitu imut, aku mau pindah jurusan aja." Jawab Arum dengan wajah murungnya.


"Yakin mau pindah, jangan buru-buru ambil keputusan. Aku pas pertama kali masuk langsung say hello sama mayat juga pernah berfikir mau pindah jurusan aja, tapi aku ingat lagi perjuangan ketika daftar kuliah dulu, pelan-pelan aku belajar buat terbiasa melihat mayat dan sekarang aku malah menikmatinya." Ucapku mencoba menghibur Arum.


"Dengerin tuh kata Indhi, sabar aja, namanya juga lagi belajar, pasti banyak cobaannya." Imbuh Dita dengan bijak.


Tak selang lama nasi uduk pesanan kami datang, kami menikmati makanan masih-masing tanpa bicara, hanya terdengar suara dentingan sendok dan juga piring.


"Ah kenyang."Ucap Dita sambil mengelus perutnya. "Kok nggak diabisin Ndi?"Tanyanya setelah melihat aku tak menghabiskan makananku


"Kenyang banget, takut nanti ngantuk."


Setelah sarapan aku kami berpisah di depan kantin, Dita pergi sendiri menuju kampusnya, sementara aku dan Arum masih memandangi punggung sahabat kami yang mulai jauh. Aku dan Arum berboncengan masuk kedalam kampus, aku mengantar Arum terlebih dahulu meskipun jarak gedung Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran lumayan jauh.


Setelah mengantar Arum aku buru-buru untuk pergi, namun saat melewati gedung Fakultas Tekhnik mataku tak sengaja menangkap sosok yang sepertinya tidak asing bagiku. Aku menarik rem secara mendadak sehingga menimbulkan bunyi karena gesekan roda motorku dengan aspal, karena berhenti mendadak, tubuhku tidak seimbang sehingga aku jatuh dan tertimpa oleh motor besarku.


Aku tak luput dari perhatian mahasiswa yang tengah lewat disekitarku, beberapa diantara mereka bahkan berlari untuk menolongku.

__ADS_1


"Are you okay." Ucap seseorang dengan nada penuh kekhawatiran.


Aku berusaha berdiri setelah beberapa orang membantu mengangkat motorku, aku membersihkan celana jeansku yang kotor. "Ya aku baik....." Aku tak melanjutkan kalimatku, mataku membola saat melihat sosok yang sangat aku rindukan tengah menatapku dengan sorot mata khawatir, mataku mulai berkaca-kaca dan sebulir air mata menetes tanpa seizinku. "Aku baik-baik saja, terimakasih bantuannya." Ucapku melanjutkan kalimat yang terpotong. Aku menuduk, mencoba menyembunyikan air mata kerinduanku.


"Baguslah." Jawabnya singkat , lalu aku melihat sepasang kaki itu melangkah menjauhiku.


Ada perasaan aneh saat dia pergi, rasanya seperti dia mengabaikanku. Apa dia sudah melupakanku, secepat itu? Gumamku dalam hati.


***


Setelah pertemuan tak sengaja itu, hampir setiap hari aku mengantar Arum, dengan dalih kasihan padanya, padahal aku hanya ingin bertemu dengan kak Zean dan berharap bisa melihatnya lagi. Aku hanya penasaran dan ingin bertanya kenapa waktu itu dia ada disini.


Sore ini sepulang kuliah aku mampir ke toko bunga, membeli pupuk untuk untuk tanaman lavenderku, setelah putus dari kak Zean aku membeli bibit bunga lavender dan menanamnya dirumah.


Diperjalan pulang tiba-tiba motorku berkelok kehilangan keseimbangan, aku segera menepikan metorku dan turun. "Ah sial, pakai acara bocor lagi." Gerutuku sambil menendang ban belakang motorku. "Aku mana sanggup mendorong motor besar ini mencari bengkel." Imbuhku bermonolog.


Aku duduk ditepi jalan raya, menunggu kendaraan yang lewat, siapa tau saja ada yang mau menolongku. Lama menunggu tidak ada satupun kendaraan mau berhenti untuk membantuku, aku pasrah dan kembali duduk, aku mengirim pesan kepada Arum agar dia menjemputku .


Sipemilik mobil keluar dan menghampiriku yang masih duduk ditepi jalan. Sepertinya akhir-akhir ini Tuhan sering mengabulkan doaku, seseorang yang begitu ingin aku temui kini berada dihadapanku. Zean oh Zean setelah beberapa hari mencarimu, akhirnya kamu yang menghampiriku .


"Kenapa berhenti dipinggir jalan?" Tanyanya lembut.


Aku berdiri dan menepuk-nepuk bokongku yang kotor. "Bannya bocor."Jawabku.


"Sudah menelfon benkel?"


Aku hanya menggeleng.


"Pulang denganku, biar aku telfonkan bengkel langgananku untuk mengambil motormu."


"Tidak perlu, Arum akan menjemputku, terimakasih tawarannya." Tolakku secara halus.

__ADS_1


" Kalau begitu tunggu dimobilku sampai Arum datang, disini sangat panas."


Aku hanya menurut dan mengikuti kak Zean masuk kedalam mobilnya, lagipula ini memang yang aku harapkan, bisa berbicara dengannya.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya kak Zean setelah aku masuk dan duduk si sebelahnya.


"Aku baik, bagaimana denganmu?


"Baik." Jawabnya singkat.


Lama kami saling diam, sibuk dengan isi kepala masing-masing. "Sejak kapan kamu disini?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana.


"Dua bulan yang lalu."


Aku hanya menganguk mendengar jawabannya, lalu kami saling diam lagi. Aku memeriksa ponselku berulang kali dan mengirim pesan kepada Arum supaya dia cepat datang, aku tindak ingin pingsan dimobil kak Zean karena canggung.


"Arum sudah dekat, kamu bisa pergi sekarang, maaf merepotkanmu lagi." Ucapku berbohong, padahal Arum belum membalas pesanku sama sekali. Aku membuka pintu dan akan turun dari mobil kak Zean namun tanganku sudah lebih dulu dicekal olehnya. Aku mengurungkan niatku dan kembali duduk diposisi awalku.


"Ada apa?" Tanyaku pelan, padahal didalam sana jantungku seperti sedang berdisko.


Kak Zean tak menjawabku, dia menatapku secara intens, lalu dia menarik tanganku dengan keras sehingga tubuhku mendarat didalam pelukannya. Aku mencoba mendorong tubuhnya, namun kak Zean malah semakin mempererat pelukannya.


"Aku tak bisa bernafas." Ucapku seraya menepuk lengan kak Zean.


Kak Zean buru-buru melepas pelukannya ketika mendengar keluahanku. "Maaf?"


"Sifat suka memaksamu tidak berubah sama sekali." Gerutuku.


"Hampir 7 bulan aku menggila karena merindukanmu, sekarang sudah cukup, aku mohon kembalilah padaku."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2